Tampilkan postingan dengan label info gratisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info gratisan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, Juni 17, 2017

Berbagi Buku itu Seru
Para penulis buku, pastinya berawal dari suka membaca. Begitu juga gue. Sejak SD, gue udah suka baca. Mulai dari buku pelajaran, sampai kamus bahasa Inggris gue lahap kalo udah kehabisan bahan bacaan. Waktu kecil, gue tinggal di daerah yang terpencil. Sebuah desa di kabupaten Sragen namanya. Akses buku di sana sangat terbatas. Makanya, untuk mendukung minat baca gue, setiap kali mama pulang merantau di kota besar, beliau membawakan bundle majalah Bobo beberapa edisi. Dan itu adalah oleh-oleh favorit gue dibanding makanan maupun mainan. Karena berkat majalah itu, gue jadi ngerti betapa menariknya hal-hal di dunia. Yang nggak dijelasin di buku-buku paket sekolah.

===================

Udah hampir 2 tahun terakhir, gue sibuk menekuni hobi lama gue, yaitu main motor. Gue mulai rutin bikin konten video di Youtube yang bahas motor-motor custom. Dan berkat konsisten upload 2 video per minggu, 2 bulan yang lalu channel Youtube gue udah menyentuh angka 100 ribu subscribers. Di mana itu berdampak pada banyaknya teman-teman baru buat main motor.

Dari hobi ini, akhirnya gue ngelihat fenomena di mana anak motor sering dicap sebagai orang-orang yang berandal dan suka kebut-kebutan di jalan. Padahal, gue sadar, nggak semua anak motor seperti itu. Mungkin hanya sedikit oknum yang begitu. Nah, untuk itu, gue berusaha mengubah image kurang menyenangkan itu. Dua minggu yang lalu, gue riding ke Jogja bareng temen gue, Dimas. Kami mengajak anak-anak motor di Jogja buat motoran bareng menuju Gunung Kidul. Ngapain? Balapan? Enggak.


Gue dan temen gue ngajakin rider-rider Jogja buat riding dengan syarat membawa buku bekas mereka untuk disumbangkan ke Perpustakaan daerah. Awalnya ekspektasi kami, bakal ada 20-an rider yang bergabung. Tapi ternyata, ada hampir 200 rider yang bergabung bareng kami pagi itu. Gue cukup kaget dengan fakta bahwa masih banyak rider baik yang mau bantuin kami dalam movement ini.

Sesampainya di Gunung Kidul, kami tiba di desa Semin. Sebuah desa yang letaknya 50 kilometer jauhnya dari kota. Di sana, kami ketemu Bapak Sukino, sang pendiri perpustakaan daerah itu. Beliau menangis terharu saat melihat ada ratusan orang mendatangi perpustakaan sekecil itu, lalu menyumbangkan ratusan buku.


“Ini adalah pertama kali dalam sejarah perpustakaan ini, dikunjungi oleh orang sebanyak ini. Saya terharu, masih ada generasi muda yang peduli terhadap sesama, dan ingin mencerdaskan bangsa”. Cetus beliau saat gue tanya gimana kesan beliau melihat kedatangan kami.

Buku, sebuah benda yang sudah membawakan banyak hal dalam hidup. Membawakan sejarah, membawakan ilmu, dan bahkan membawakan cerita-cerita seru. Kami sengaja memilih untuk menyumbangkan buku, karena kami sadar, akses ilmu pengetahuan via buku masih cukup susah di daerah-daerah terpencil. Berdasarkan pengalaman gue di masa kecil. Jadi, gue bisa bayangin gimana senengnya pak Sukino, saat dapat sumbangan ratusan buku itu dari kami.


Dengan buku, orang-orang di daerah bisa belajar hal-hal baru. Contohnya, masyarakat di desa Semin, Gunung Kidul tadi. Mereka bisa belajar tentang tanaman hydroponic dari Buku, mereka bisa belajar tentang berbagai kerajinan tangan dari buku, mereka bisa belajar mengakses computer juga dari buku. Dan gue, mungkin sekarang nggak jadi penulis, kalo dari kecil gue nggak punya akses buku-buku menarik dan bermanfaat. Bayangkan, betapa banyak manfaat buku bagi masyarakat Indonesia.

Nah, lo semua bisa melakukan hal yang sama kayak yang gue lakukan ini. Kabar baiknya, lo nggak perlu datang langsung ke daerah-daerah terpencil untuk menyumbangkan bukunya. Jadi, sekarang ada gerakan yang namanya #BukuUntukIndonesia yang dipelopori oleh Bank BCA. Gerakan ini bertujuan untuk menyiapkan generasi yang #LebihBaik agar seluruh lapisan masyarakat Indonesia lebih terdidik.

Caranya cukup sederhana dan praktis. Buka aja http://bit.ly/2rvlxpr, lalu pilih menu “Berbagi”. Abis itu lo bakal dialihkan ke halaman Blibli.com, karena gerakan ini juga bekerjasama dengan blibli.com. Di situ akan muncul menu pilihan paket buku yang mau lo sumbangin. Mulai dari Rp.100.000 sampai Rp.1.000.000. Lalu klik beli sekarang, dan bayar deh. Oiyah..ada Kaos Apresiasi berbahan dry-fit gratis bagi para donator yang sudah menyumbang buku melalui gerakan ini.

Oiyah.. Kalo lo mau nyumbang, gue punya kabar baik. Di mana lo bakal dapet potongan nominal sumbangan dan dapet hadiah spesial dari gue. Iya, lo nanti nggak perlu bayar nominal sepenuhnya, namun tetep diitung nominal yang lo pilih, karena dapet diskon dengan kode voucher gue. Lumayan kan? Jadi, silakan gunakan kode voucher “shitlicious” saat lo nyumbang, ya! Buruan nyumbang sekarang, hadiahnya terbatas loh!

Tuh.. Cara bikin orang bahagia, segitu mudahnya kan? So, tunggu apa lagi? Yuk kita dukung gerakan ini, biar saudara-saudara kita bisa dapet ilmu yang lebih banyak lagi.

Okay.. That’s all for today.. Makasih udah baca postingan ini. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa.

Read More
Jumat, Juni 09, 2017

Tulang Punggung Keluarga, Harus Kuat Tulangnya
Sejak kecil, gue udah terbiasa hidup penuh perjuangan. Gue kepisah dari ortu gue sejak gue Balita. Sejak saat itulah, gue hidup sama eyang gue. Hidup bareng eyang, tentunya tidak senyaman hidup bareng ortu. Gue nggak kenal dengan yang namanya uang jajan. Sejak SD, gue udah terbiasa dididik eyang dengan aturan: “Kalo mau punya sesuatu, harus ngelakuin sesuatu juga dulu”. Jadi, kalo gue mau suatu hal, misal sepatu baru, gue harus nyabutin singkong eyang, lalu dijual ke pasar. Atau, eyang nggak bakal ngasih uang saku sekolah, kalo bangun tidur gue nggak ngurusin kambing beliau dulu.

Waktu kecil, gue sempet mikir cara itu nggak adil buat gue. Di mana anak-anak lain bisa seenaknya minta ini-itu lalu dikasih, sedangkan gue harus kerja keras buat minta uang jajan doang. Kadang gue iri kepada teman-teman gue, yang seakan ortunya lebih peduli dan sayang kepada mereka. Sedangkan gue, selalu berat hidupnya.

Namun ternyata, background semacam itu membuat gue tumbuh menjadi cowok yang lebih tangguh. Faktanya, di antara temen-temen masa kecil gue yang sekarang juga udah seusia gue, gue termasuk yang paling maju. Bukan bermaksud pamer, cuma gue mau ngasih bukti aja bahwa didikan masa kecil sangat berpengaruh kepada sifat orang saat dewasa. Gimana tidak, teman-teman yang semasa kecilnya dimanja, selalu dikasih apa yang dia minta, akhirnya sampe gede dia selalu jadi ngandelin orang tua. Sehingga, saat dia diminta berdiri sendiri, dia tak cukup tangguh untuk melawan dunia.

Contoh sederhananya, 4 dari 5 temen gue sekarang udah nikah dengan status pengangguran dan kerja serabutan. Kenapa? Karena mereka mudah bosan untuk bekerja di tempat yang sama secara terus menerus. Kenapa mereka betah nganggur? Karena dari kecil, dia tak belajar tentang tanggung jawab. Semua tinggal minta orang tua.

Sedangkan gue, pilihan gue cuma 2:

- Berjuang sampai survive, atau
- Diem ampe mati sendiri.

Iya, eyang gue dulu setegas itu. Saat kecil, gue merasa itu semua nggak adil. Namun setelah dewasa, gue nyadar itu gede banget gunanya.

Ajaran eyang itu gue aplikasikan di dunia kerja, saat gue mulai pindah ke Jakarta. Dulu gue pindah ke Jakarta tanpa ada sanak-saudara, dan bekal duit seadanya. Sebagai anak daerah, gue cukup shock dengan harga makanan, kosan, dan gaya hidup Jakarta. Uang jajan gue sebulan di Jogja, abis dalam seminggu di Jakarta. Apakah itu membuat gue gentar dan pengin pulang lagi ke Jogja? Sempat terpikir begitu, namun akhirnya gue renungin, setiap naik kelas, pelajarannya pasti lebih susah. Begitu juga hidup. Kalo mau hidup yang lebih baik, ya harus berjuang lebih keras. Nggak boleh menikmati comfort-zone dan selalu "tinggal kelas". 


Akhirnya gue berjuang keras di Jakarta buat nyari kerja, memperbesar link, dan setelah perjalanan panjang, dari sehari-hari ngantor naik sepeda yang dipinjemin sama Bena, sekarang gue bisa pergi pake mobil atau moge milik gue sendiri. Itu semua berawal dari impian dan rasa kepepet "kalo nggak kerja, gue nggak makan". Iya, kadang potensi manusia itu baru bener-bener keluar kalo udah "kepepet". Makanya, untuk yang hidupnya santai mulu, saran gue, cobalah untuk menciptakan kondisi "kepepet", biar lo berani nekat.

Sekarang gue udah jadi tulang punggung keluarga, karena Bokap udah nggak ada, dan Nyokap sedang cidera patah tulang kakinya. Gue harus menanggung kebutuhan hidup keluarga gue. Kerja siang-malam di dunia kreatif, tak ada batas waktunya. Itu semua gue lakuin demi keluarga. Dan jangan pikir, kerja di dunia kreatif nggak membutuhkan usaha yang lebih besar. Justru, kerjaan gue mewajibkan gue untuk melakukan berbagai hal. Mulai dari kerja di depan komputer untuk nulis naskah selama berjam-jam, sampai harus mondar-mandir dari pagi sampe malem buat shooting video, atau malah harus sering pergi ke luar kota untuk mengisi seminar dan talkshow.

Dengan gaya hidup semacam itu, berbagai penyakit bisa berdatangan. Dan penyakit yang kadang kita sepelekan karena jarang kita kenali, adalah Osteoarthritis. Tuh, denger namanya aja lo udah bingung kan? Osteoarthritis adalah peradangan sendi yang bersifat kronis dan progresif disertai kerusakan tulang rawan sendi berupa disintegrasi (pecah). Simpelnya sih, itu akibat dari penipisan tulang rawan sendi yang efeknya membuat kita menderita nyeri-nyeri di persendian. Mungkin lo sekarang belum nyadar saat persendian tulang terasa nyeri-nyeri. Mungkin lo sekarang menyepelekannya karena masih belum kena. Tapi yang namanya penyesalan, selalu datang terlambat. Makanya, gue nggak mau merasakan penyesalan juga. Gue harus cukupin Nutrisi sendi, biar bebas gerak, dan tanpa kaku.

Sekarang, kalo abis shooting, atau abis duduk seharian di depan computer, gue sering ngerasa nyeri di lutut, dan pundak. Dan karena gue nggak mau kena penyakit yang aneh-aneh, gue pun mempersiapkan diri dengan Viostin DS, Nutrisi Sendi yang efektif banget. Kalo lo belom tau, Viostin DS adalah nutrisi sendi dengan kekuatan ganda. Viostin DS sangat ngebantu gue buat mengatasi rasa kaku dan nyeri sendi karena lapisan tulang rawan sendi yang menipis atau keropos. Soalnya, lapisan tulang rawan sendi ini fungsinya layaknya shock-breaker pada kendaraan. Yang membuat benturan antara tulang saat beraktivitas, jadi lebih lembut. Kalo lapisan ini rusak, tulang kita bisa langsung berbenturan, dan itu tidak sehat, dan bahkan bisa berbahaya efeknya.

Viostin DS mengandung kombinasi Glukosamin dan Kondroitin yang lebih besar, sehingga lebih cepat dan efektif dalam menstimulasi pembentukan tulang rawan sendi. Dengan rutin mengonsumsi Viostin DS, semua keluhan nyeri sendi gue lama-lama berkurang. Ngerti kan, sebalnya pulang kerja, capek banget, mau tidur, tapi nggak bisa tidur karena nyeri sendi yang berlebihan? Viostin DS lah solusinya. Pokoknya, Viostin DS ini bikin gue bisa gerak tanpa kaku, dan gue bisa lemesin tubuh sesuka gue.

Cara kerja si Viostin DS ini sangat-sangat makes sense. Kandungan glukosamin dan kondroitin dari Viostin DS bereaksi menciptakan cairan synovial yang fungsinya adalah melumasi sendi yang aus, membentuk tulang rawan baru, dan mengatasi rasa nyeri. Serunya lagi, Viostin DS ini aman dikonsumsi bahkan untuk penderita diabetes, karena tidak meningkatkan kadar gula darah bagi orang yang mengonsumsinya. Tapi, harus diinget juga, nggak boleh berlebihan dalam segala hal. Viostin DS aman dikonsumsi 3 kali per hari maksimum selama 3 bulan untuk hasil yang optimal.


Nah, dengan Viostin DS, gue sebagai tulang punggung keluarga, lebih percaya diri dengan kondisi tulang tubuh gue yang nggak digerogoti penyakit. Saran gue, kalo pun elo belum tertarik buat nyobain Viostin DS, coba deh lo beli buat orang tua atau keluarga lo. Nyeri sendi adalah keluhan berjuta-juta manusia berusia paruh baya. Dengan ngasih Viostin DS, seenggak itu itu bisa mengurangi derita mereka. Tuh, jadi anak berbakti pun bisa semudah ngasih Viostin DS ke orang yang tersayang.

Hidup cuma sekali, mending selalu jaga kesehatan diri. Oiyah, kalo lo mau tau lebih mengenai Osteoarthritis, dan minat buat beli Viostin DS, cek: http://www.solusisendi.com/I/r/shitlicious deh.

Okay.. This is the end of the post. Semoga tulisan kali ini bermanfaat buat lo. Ciao!
Read More
Jumat, Mei 19, 2017

Traveling Bareng Mama
Beberapa bulan yang lalu, gue traveling ke Tanjung Pinang, tepatnya di Pulau Bintan. Waktu itu gue pergi ke sana selain traveling, gue juga nemenin beberapa teman gue dari luar negeri. Mereka pengin ngelihat indahnya Indonesia, makanya gue ajak mereka ke pulau-pulau, bukan gue ajak ke Mall Senayan City.

Nah, menyadari destinasi gue adalah Tanjung Pinang, gue pun minta mama gue nyusulin gue dari tempat beliau berdomisili, yaitu Pulau Batam. Di mana, cuma perlu naik kapal feri selama kurang lebih 40 menit untuk nyusulin gue. Dan mama pun bersedia menyusul, dengan mengajak sepupu gue buat nemenin beliau sepanjang trip. Kami pun bersama-sama lagi di Bintan.














Ada satu masalah yang lupa gue perhitungkan, waktu itu gue nginep di Bintan Lagoon Resort. Nah, gue lupa belum mesenin kamar buat mama. Gue sempet panik karena waktu itu gue lagi hunting sunset di luar, dan di Bintan Lagoon Resort ini selalu ramai, gue takut nggak tersedia kamar lagi buat beliau. Terus gue iseng mesen kamar buat mama via aplikasi Traveloka. Syukurlah, mama masih kebagian kamar dan gue dapet diskon yang lumayan. Mama pun bisa beristirahat, dan gue bisa bernafas lega.

Hari kedua gue di Bintan, gue pergi menyusuri sungai Sebung untuk mengikuti tour mangrove. Gue dan mama duduk di perahu yang sama, dan kami pun memulai petualangannya. Setelah kurang lebih 20 menit kami menyusuri sungai, mama mulai berkomentar dengan menggunakan bahasa Jawa,

“Mas.. Iki jane meh nendi to? Kok isine wit-witan tok ngene? Lha iki mburi omah yo ono to. Gak perlu neng Bintan”. (Mas.. Ini sebenarnya mau ke mana sih? Kok isinya pepohonan doang gini? Ginian doang di belakang rumah sih ada, nggak perlu ke Bintan).

Dengan sabar gue jelasin ke beliau bahwa kita memang cuma ngeliat hutan konservasi Bakau. Di mana, itu gunanya untuk menjaga kestabilan air dan tanah, untuk mencegah banjir, dan bisa jadi tempat berbagai macam binatang untuk berhabitat.

Beberapa saat kemudian, mama nanya, “Emang binatang apa yang hidup di tempat kayak gini?”

Gue pun nunjuk ke arah atas beliau, dan dalam waktu kurang dari 2 detik, beliau berteriak. “Aaaa!! Ular!! PAKKK!! MAJUIN PERAHUNYA!! ULARNYA DI ATAS SAYA!! NANTI JATUH KE SAYA!! AAAA!!” 


Beliau melompat-lompat di atas perahu karena ketakutan. Perahu mulai bergoyang, semua orang ikut panik. Kang Perahu pun memajukan perahu sebelum mama gue kabur pake pelampung.

Setelah puas menyusuri Sungai Sebung, kami pun kembali ke resort. Di dekat resort, ada pantai yang panjang banget. Gue lupa namanya, tapi nggak bakal lupa indahnya.


Di pantai, gue milih buat main Kayak, beberapa temen gue milih buat main ATV, sedangkan mama gue lebih milih tiduran di ayunan sambil menikmati semilir angin pantai. Gue ajakin mama mandi di pantai, tapi mama cuma jawab, “Nggak mau!! Nggak bisa renang. Nanti tenggelam!" 



Gue pun biarin nyokap buat menikmati liburan dengan caranya sendiri. Buat beliau, tiduran di pinggir pantai adalah sebuah kemewahan. Karena sehari-hari, beliau sibuk berjualan. Jangan anggep gue sebagai anak durhaka, yang membiarkan ibunya kerja keras. Gue sudah pernah maksa beliau berhenti berjualan jamu, namun beliau menolak. Karena bukan uang yang beliau cari, melainkan kesibukan dan teman-teman ngerumpi. Ya, di usia yang mulai menua, manusia biasanya sudah tak punya banyak hal yang dimau, mereka lebih menghargai kebahagiaan-kebahagiaan yang bisa didapatkan secara sederhana.

Setelah puas main di Pantai, kami pun pergi menyusuri Tanjung Pinang untuk melihat hal yang menjadi ciri khas pulau itu. Yaitu, Vihara. Iya, Tanjung Pinang, menurut gue adalah kota dengan 1000 Vihara. Bahkan, di sana ada sebuah Vihara terbesar di Asia Tenggara.

Iya, kami berkunjung ke Vihara Avalokitesvara Graha untuk melihat megahnya tempat ibadah saudara-saudara kita yang menganut ajaran Buddha. Vihara ini ternyata luar biasa gedenya. Di halaman depan, ada ribuan meter persegi kebun Buah Naga. Di depan Vihara persis, ada patung Dewi dan Dewa yang disembah oleh penganut ajaran Buddha.


Masuk ke bagian dalam Vihara, gue langsung mangap. Ternyata bagian dalam Vihara, luar biasa megah dan menakjubkan isinya. Ada patung Buddha gede banget, semacam berlapiskan emas yang mengkilap, ada juga banyak patung-patung dewa lainnya. Bahkan, gue juga ngelihat patung menyerupai Sun Go Kong si Kera Sakti. Semua pemandangan itu membuat gue berdecak kagum, bahwa ternyata di setiap Agama, memiliki kemewahan masing-masing.

Setelah lelah berpetualang, kami pun kembali ke resort. Gue segera menuju kamar gue buat mandi dang anti baju. Namun, belum juga gue masuk kamar mandi, Mama nelpon gue.

“Ya, Ma?”

“Tolong mas..”

“Hah?! Mama kenapa?” Gue segera memakai sandal gue dan bergegas keluar kamar.

“Mama nggak bisa buka pintu kamar. Soalnya ini nggak dikasih kunci, malah dikasih kartu ATM”.

Mendengar jawaban Mama, gue lompat dari lantai 3 dan berniat untuk pingsan dulu 10 menit.

Iya, mama gue memang segitu polosnya. Dari dulu, beliau belum pernah tidur di hotel. Karena setiap kali gue ajak piknik, mama selalu nolak. Beliau berpikir, daripada piknik, mending duitnya ditabung. Namun saat itu beliau mau menyusul ke Bintan karena beliau rindu sama gue, bukan karena beliau pengin piknik. Kenapa gue bisa bilang begitu? Karena menjelang pulang ke Batam, gue sempet Tanya mama.

“Mama suka nggak, piknik ke Bintan?”

“Yah.. Suka deh.. kan ketemu Mas Alit” Jawab mama dengan nada datar.

“Loh? Nggak suka sama pikniknya?” Gue mengernyitkan dahi.

“Mama kan nggak suka piknik, Mas. Kalopun Piknik, mama cuma mau pergi ke satu tempat”.

“Ke mana, Ma?”

“Mekkah”. Nyokap tersenyum sambil menatap mata gue dalam-dalam.

Gue tertampar dengan kata beliau itu. Selama ini gue sering nyoba nyenengin beliau dengan ini-itu. Namun gue lupa, dari kecil, mama selalu bilang, beliau pengin naik haji.

Yah.. Traveling ke Tanjung Pinang kemarin, gue dapet pengalaman, keseruan, dan pelajaran. Namun yang terpenting, gue jadi termotivasi buat nabung biar mama bisa naik haji.

Okay.. This is the end of the post. Semoga apa yang gue sampaikan ini bermanfaat buat lo semua. Oiyah.. kalo lo pengin traveling juga, gue saranin lo pesan tiket pesawat maupun booking hotel jauh-jauh hari. Biar dapet harga lebih murah, dan bisa dapet harga promo juga, apalagi kalo lo pesen tiket pesawat, sepaket sama booking hotel. Makin murah deh! Coba deh, cek: http://traveloka.com/packages biar lo tau murahnya traveling bersama Traveloka.

I’ll see you around! Ciao!
Read More
Kamis, Februari 23, 2017

Tips Agar Terlihat Menarik di Sosial Media
Gue kemarin ketemu temen lama yang dulu pas SMA, sebut saja namanya Supri. Supri tuh sering banget diejekin karena nggak pernah punya pacar. Namun, saat kemarin ketemu gue, dia pamer ke gue kalo dia sekarang punya banyak gebetan. Gue sempat kaget, apakah Supri belajar ilmu pelet Afrika?

Namun gue nyoba positive thinking, melihat penampilan Supri yang sekarang udah berbeda dibanding saat dia SMA. Supri yang dulu, adalah anak yang cuek banget terhadap penampilannya. Jarang gosok gigi, baju ganti 3 hari sekali, dan ketiak bau sapi. Namun Supri yang sekarang, penampilannya jauh lebih rapi. Pakaiannya ala eksmud, rambutnya klimis, dan wangi tubuhnya layaknya makam yang baru dibuat tadi pagi.

“Lo masih jomblo aja nih, Lit?” Supri bertanya sambil menyeruput secangkir kopi yang dihidangkan di hadapan kami.

“Ya gitu deh..” Jawab gue males-malesan dan main hape, karena gue pasti bakal disindir-sindir.

“Ya elah.. Nyari jodoh zaman sekarang mah nggak susah, cuy! Modal ini doang!” Ucap Supri sambil menunjukkan smartphone-nya.

Gue ngeletakin hape gue. “Ha? Maksudnya ngasih cewek handphone biar mau dipacarin? Ogah.. Bangkrut yang ada.”

“Nggak gitu.. Nyari cewek tuh sekarang bisa via internet. Nggak kayak zaman kita remaja dulu, kudu nyamperin ke rumahnya.”

“Hmm.. Udah pernah nyobain aplikasi-aplikasi pencari jodoh gitu sih, tapi nggak pernah ada yang interested ke gue.”

“Masa? Gak pernah nemu yang matched?”

“Nggak.”

“Emang lo majang foto apaan di profile lo?” Tanya Supri sambil mengernyitkan dahi.

“Naruto..”

“Yee.. jamblang.. Ya iyalah! Ampe Pulau Kalimantan nyambung sama California juga lo nggak bakal dapet-dapet yang matched!”

Setelah obrolan itu, gue dapet beberapa tips dari Supri, agar terlihat menarik di social media. Dan karena gue baik, gue bakal share ke elo semua tips-tips itu:

1. Think Before Posting


Kalo di dunia nyata, apapun yang dilakukan oleh kita itu bisa membuat orang lain menilai kita, sedangkan di internet, apapun postingan status update kita lah yang membuat orang menilai kita. Kalo kita rajin update marah-marah, ngomel-ngomel, maka orang akan berpikir kita aslinya pemarah. Dan sebagai catatan, sangat jarang orang yang menyukai sosok pemarah.

So, sebelum posting, pastiin kita pikirin dampak apa yang akan muncul di kepala orang lain saat membaca kumpulan status update kita di sosmed setiap hari. Kata Supri, kalo kita nggak bisa jadi orang cakep, seenggaknya jadilah orang yang kharismatik. Di social media, attitude kita harus bisa membuat orang tidak berpikiran buruk tentang kepribadian kita.

Satu lagi, kata Supri. Postingan kita di sosmed, ternyata bisa mempengaruhi karier kita. HRD-HRD perusahaan zaman sekarang udah nggak gitu percaya dengan CV yang kita ketik sendiri. Mereka bakal ngepoin sosmed para calon karyawan dan karyawan untuk memastikan tidak ada yang suka ngomong jelek di belakang. So, please behave.

2. Pakai Foto Profile yang Flawless
First impression itu penting. Kalo di dunia nyata, penampilan dan attitude saat pertama kali ketemu itu yang menentukan penilaian orang lain ke kita. Nah, kalo di internet, foto profile kita lah yang menjadi salah satu penentunya.

Itulah kenapa, Supri bilang gue harus ganti foto profile yang keren. Nggak boleh ngaco-ngaco lagi. Gue harus keliatan rapih, keren, dan professional. Sehingga orang yang ngeliat foto-foto profile gue, nggak langsung ngeremehin gue.

Gue pun Nyoba edit-edit muka gue pake fitur Beauty di hape Advan I5E biar flek-flek hitam di wajah gue hilang.


Sehingga wajah gue keliatan putih bersih.



Dengan wajah yang keliatan bersih gini, gue makin pede mamerin foto di sosmed. Dan orang yang nemu foto gue di sosmed, pasti bakal mikir gue rajin mandi.

3. Spread Positive Vibe
Doa yang baik atau motivasi yang positif di pagi hari, bisa mengubah mood orang seharian penuh. Kalo lo rajin berbagi motivasi positif di social media lo, besar kemungkinan bakal banyak orang yang tertarik untuk mengikuti setiap update status lo. Dengan begitu, artinya lo sudah terbukti menjadi orang yang menarik di social media.

Nah, itu beberapa hal yang harus kita lakuin agar kita bisa jadi pribadi yang menarik di Sosial media menurut sahabat gue, Supri. Gue udah mraktekin semua saran itu, dan Alhamdulillah, gue sekarang punya banyak teman dari internet.

Oiyah.. Untuk memperlancar lo dalam menjalani tips-tips di atas, gue ada info menarik nih. Jadi, kemarin gue abis nyobain hape Advan i5E yang fitur-fiturnya sangat-sangat berguna buat lo yang suka main sosmed.



Spek dari hape ini, menurut gue cukup "wah" untuk harga sejutaan. Bisa buat ngegame 3D lah..

Spek:


Ini beberapa fitur yang udah gue cobain:

Active Camera
Kamera depan Advan i5E ini adalah kamera andalan. Resolusinya 8 megapixel, ada flash di depan, pula. Kamera belakang 5 megapixel dan dibekali flash juga. Jadi, selfie dan foto-foto lo nggak bakal gelap hasilnya. Terus fitur Active Camera ini dengan canggihnya mampu mendeteksi warna kulit kita, sehingga nantinya dia bisa memproses foto yang paling maksimal hasilnya berdasarkan data itu. Gue udah nyoba compare selfie pake fitur ini, dan selfie pake kamera tanpa fitur apa-apa. Beda banget dong hasilnya!



Fashion Look
Selain fitur Active Camera, ada lagi fitur Beauty yang bakal bikin lo bisa ngedit foto lo sehingga lo bisa mempercakep diri. Dalam fitur ini, ada aplikasi Make Up yang gunanya adalah untuk dandan secara digital.



Mau merahin bibir, pasang blush on, atau benerin alis? Tinggal klik. Nih hasil foto gue yang udah gue aplikasiin make-upnya.


Dijamin liat gue tampil cantik gini, lo langsung sayang.

Selain Make up, ada juga filter Decors dan Scenery yang gunanya buat bikin foto kita makin meriah karena dengan aplikasi ini, kita bisa nambahin frame, teks dan ilustrasi di foto kita. Bikin foto romantis sama pacar semakin romantis pun, tinggal klik!


Terus kalo lo ngerti fotografi, kamera di hape Advan i5E ini mendukung settingan manual.


Jadinya, lo bisa ngatur ISO, White Balance, dan resolusi kamera itu sendiri, sehingga hasilnya bisa lebih maksimal.

Seperti yang gue bilang tadi, nih handphone nggak cuma oke di kamera, melainkan sangat mendukung aktivitas social media lo. Advan i5E ini sudah mendukung koneksi 4G yang super ngebut. Jadinya, main sosmed sampai streaming video pun nggak ada mandeg-mandegnya.



Selain itu, ada fitur yang gue demen dari Advan i5E, yaitu Multi-tasking. Dengan fitur ini, lo bisa “multi-tasking” di hape lo. Misal lo lagi nonton Youtube, tapi cewek lo ngajak ngobrol via chat. Bisa banget dilakuin secara bersamaan. Lo tetep bisa buka Youtube barengan sama aplikasi chat. Belum banyak smartphone sekarang yang bisa multi-tasking.

Selain fitur-fitur keren di atas, masih ada fitur lain seperti Wireless Display, Super WiFi Grabber, dan audio amplifier buat lo yang audiophile sejati.

So, I hope what I’ve written here could make you understand more about social media and Advan i5E. This is the end of this post. Kalo ada pertanyaan mengenai topic yang sekarang gue bahas ini, silakan tulis di kolom komentar, ya! Thanks for reading. Ciao!

Read More
Jumat, November 18, 2016

Beberapa Kerepotan Yang Hilang Berkat Teknologi
Ah.. Akhirnya ngeblog lagi.. *Fyuh! Fyuh!* *niupin sarang laba-laba di Blog*

Maaf akhir-akhir ini jadi blogger murtad karena gue sibuk parah nyiapin film baru buat awal taun depan. Tapi gue nggak bakal berenti nulis. Gue sering-sering sempetin buat update blog deh nanti. Oke.. Hari ini gue kepikiran sebuah ide buat ditulis karena tadi gue nemu bapak-bapak yang jualan jasa foto, tapi masih make kamera analog. Iya, bukan digital.

Karena hal itu, gue langsung kepikiran tentang hal-hal jadul. Sebagai orang yang sudah tumbuh berkembang sejak zaman belum ada jaringan listrik di kampung, hingga akhirnya internet masuk kampung, gue mengalami evolusi cara manusia hidup yang cukup besar. Orang sekarang mah enak, mau berkabar tinggal kirim teks via chat. Zaman dulu, gue mau nembak cewek, harus gue tulis di batu kali. Yang sekarang dikenal dengan sebutan prasasti.

Zaman gue SD kelas 1, kampung gue belum ada jaringan listrik. Jadi, zaman itu, cewek-cewek belum bisa ngecatok rambut. Kebayang nggak, gimana bentuknya? Dan saat itu di kampung gue cuma ada satu keluarga yang punya TV. Nah, pasti lo penasaran, gimana caranya bisa ada TV, tapi nggak ada listrik? Apakah TV itu dinyalakan dengan bantuan tenaga dalam? Tidak. Orang-orang di kampung gue patungan buat beli aki, dan nge-charge akinya setiap dua hari sekali. Soalnya, TV saat itu benar-benar menjadi satu-satunya hiburan yang “berbeda” bagi orang-orang kampung selain ngelihat bintang, nangkepin kunang-kunang, dan ngomongin orang. Kami semua berkumpul di rumah orang yang punya TV itu setiap selesai sholat maghrib untuk nonton dunia dalam berita, dan pulang ke rumah jam 9 malam untuk tidur.

Dengan masuknya jaringan listrik ke kampung, kebiasaan itu pelan-pelan memudar. Orang-orang jadi nggak ngumpul di satu rumah untuk nonton TV. Ada yang beli TV sendiri, ada juga yang di rumah aja nontonin lampu bohlam menyala sepanjang malam hari.

Nah, di postingan ini, gue mau ngajak nostalgia tentang beberapa kerepotan yang sudah hilang karena dimudahkan oleh teknologi.

1. Remot TV



Zaman gue kecil, TV bentuknya belum kayak sekarang. Bentuknya masih kayak lemari kotak kecil, di mana untuk nyalain, harus dibuka dulu raknya. TV-nya juga belum berwarna. Jadi acara apapun, walaupun hostnya bilang pemandangan di acara itu indah, gue cuma bias ngeliat warna hitam putih doang. Selain itu, zaman dulu kalo mau mindahin channel, gue harus nyamperin TV-nya, terus muterin tombol analog buat nyari frekuensi yang pas untuk tiap channel. Mirip-mirip sama cara lo sekarang mindahin channel radio gitu. Jadi, jaman dulu kalo lagi nonton TV, gak ada istilah males gerak. Kita harus gerak buat mindahin channel. Buat orang yang hobi mindahin channel saat iklan nongol, dijamin betisnya bakal six-packs karena sering terpaksa mondar-mandir.
Zaman sekarang, kebiasaan seperti itu sudah hilang. Semua bisa dilakukan dengan remot TV, sambil tiduran, atau gegoleran.

2. Foto
Untuk yang usianya di bawah 20 tahun dan bukan seorang hipster, mungkin bakal nggak ngerti negative film itu apa. Nih gue jelasin, negative film adalah semacam alat untuk menyimpan data gambar yang lo ambil pake kamera analog. Nah, dari negative film ini, nantinya dicuci cetak/afdruk menjadi foto yang bisa dipajang di pigura. Semua prosesnya, dari pengambilan gambar sampai ngelihat hasilnya, bisa makan waktu berjam-jam bahkan beberapa hari. Dengan segala kerepotan itu, zaman dulu orang nggak ada yang bisa komen, “Ulang dong..Pipiku keliatan cabi!”



Namun di abad 21 ini, fotografi sudah sangat dimudahkan oleh teknologi. Kamera digital, membuat proses fotografi jauhhhh lebih mudah. Tanpa perlu menunggu semenit pun, setelah foto diambil, kita bisa langsung liat hasilnya, lalu dipilih-pilih mana yang mau dicetak atau dipost di social media. Kalo zaman dulu, boro-boro bisa milih foto yang mana yang mau dicetak. Muka kita semua keliatan cemong di negative film.

3. Transaksi Keuangan
Gue jadi inget, zaman gue SMA, buat bayar listrik, gue harus datang ke kantor PLN dan ngantre beberapa jam. Buat beli pulsa hape, gue harus cabut ke kampung sebelah. Buat transfer duit, gue harus pergi ke ATM dan kadang ngantre lama di belakang ibu-ibu yang curhat ke mesin ATM karena anaknya minta duit LKS mulu.
Lagi-lagi teknologi mampu menghapus kerepotan ini.Dengan adanya aplikasi m-Banking maupun internet banking, gue bisa melakukan segala kegiatan di atas sambil tiduran, maupun kayang.
Ngomongin soal m-Banking, gue pernah mengalami sedikit kendala di mana tiba-tiba aplikasi M-BCA gue error, dan tak bisa digunakan lagi. Gue nggak deg-degan dan berprasangka buruk ada yang ngehack rekening gue, karena gue yakin, BCA adalah perusahaan besar yang sangat melindungi semua nasabahnya. Lalu, dengan santainya gue kirim tweet..iya, tweet ke customer service @HaloBCA begini:


Dan dalam waktu singkat, tuh CS bales keluhan gue:


Gue ikutin instruksi dia, dan problem solved! Aha! Gue suka CS yang gak bales keluhan customer pake jawaban template, dan benar-benar menguasai permasalahan yang dihadapi customer. Good point, BCA!

So, selain via telpon, atau hape ke 1500888 untuk nyampein keluhan, lo bisa langsung nyampein keluhan perbankan lo via social medianya BCA. Here is the further info: BCA

4. Telepon
Zaman gue SMA, kampong gue belum ada jaringan telepon. Sedangkan nyokap gue hidup di Batam yang nun jauh dari kampung gue di Jawa tengah.Nah, telepon adalah salah satu cara efektif buat mengobati kerinduan kepada nyokap. Untuk ngelakuin itu, gue harus naik motor sekitar 10 KM jauhnya buat nelpon nyokap via Wartel (WarungTelepon). Wartel adalah semacam tempat penyewaan telpon untuk umum, di mana kita nantinya akan membayar biaya telpon sesuai billing telpon yang nongol di display. Dulu sih, duit 25 ribu, Cuma bisa gue pake nelpon 15 menit. Tapi sudah cukup worth it.

Dengan meluasnya jaringan selular, akhirnya hampir setiap orang sekarang punya handphone. Jadinya, kita bisa kontek-kontekan kapan dan di mana aja. I love this era!

5. Surat-menyurat
Zaman dulu, belum ada social media, kalo kita mau temenan dengan orang jauh, istilahnya adalah “Sahabat Pena”. Di mana kita akan berkomunikasi dengan pasangan LDR kita itu via surat. Biasanya kita akan mendapat balasan seminggu kemudian, dan hubungan itu akan berlanjut bertahun-tahun, sampai pasangan kita itu sudah mendapatkan orang yang lebih peduli kepadanya nggak cuma sekedar tulisan aja.

Tapi memang, hubungan yang dilakuin via surat menyurat itu nggak bakal efektif. Mengingat butuh waktu cukup lama untuk proses pengiriman pesannya, jadinya, kita nggak akan bias nulis surat yang isinya “Udah makan, belum?” Karena jawabannya pasti akan, “Udah makan, udah minum, dan udah jadian sama orang lain”. Kelamaan sih nyampenya.

Berkat jaringan internet, komunikasi tertulis jadi makin cepat dan mudah. Kita semua bias saling berkirim kabar dan langsung bias dibalas dalam hitungan detik sekalipun. So, kerepotan surat menyurat pun selesai sudah!

Okay.. This is the end of the post. Semoga postingan ini bisa bermanfaat dan menghibur buat lo semua. Kalo lo punya pengalaman soal hal-hal yang berhubungan dengan yang gue tulisini, tulis di kolom komen, ya! Biar gue bisa baca-baca pengalaman lo juga. ☺


Read More
Sabtu, Mei 07, 2016

Musim Libur, Ke Bali Gratis yuk!
Bentar lagi musim libur panjang dateng. Udah ada rencana buat jalan-jalan belum? Kalo belum, gue mau ngajakin lo liburan ke bali gratis. Siapa tau, lo tertarik buat ikutan. Wahai para banci kuis, mana suaranyaaaaa? Uuuuuww.. Bali!!


Background story dulu nih, jadi ceritanya, Huawei abis ngerilis gadget baru. Namanya adalah Huawei Y6 4G, generasi baru dari Huawei Y6 sebelumnya. Nih gadget adalah smartphone dengan harga yang terjangkau buat kantong kita, para fakir warteg ini, namun support koneksi 4G. Bayangin, hape dengan harga di bawah 2 juta, bisa buat streaming Youtube HD tanpa buffering.

Koneksi 4G itu udah jadi kebutuhan vital untuk smartphone zaman sekarang. Soalnya, jaringan 3G udah penuh sesak, jadinya, speed upto 7,2 Mbps yang ditawarin oleh provider di jaringan 3G pun udah overload. Ditambah lagi, dengan kualitas multimedia contents yang semakin oke, pastinya makan bandwidth internet semakin gede juga. Bisa dibilang, jaringan 3G sudah nggak kuat melayani hasrat internetan kita di zaman sekarang.

Dengan alasan itu, Huawei Y6 4G datang dan mencoba untuk menyadarkan kita bahwa koneksi 4G adalah fitur yang wajib untuk disematkan di smartphone zaman sekarang.


Ditambah lagi, dengan harga segitu, Huawei Y6 4G udah didukung kamera yang jernih, resolusi 8 Mega-pixel dan f/2.0. Selain itu, kameranya juga udah canggih! Ada fitur face detection, panorama photo, panorama selfie, dan touch focus. Bayangkan, kurang worth it apa?!

Buat lo yang pengin ngerasain semua fitur itu sambil liburan ke Bali gratis, yuk ikutan kompetisi Huawei Y6 4Gent (baca: Huawei Y6 4G Agent). Bakal dipilih 5 orang peserta yang akan dikirim ke Bali buat liburan dan ngetest semua fitur canggih Huawei Y6 4G. Selain itu, selama 3 hari di Bali, peserta nggak perlu mikirin soal penginapan, transportasi dan makanan. Semua ditanggung Huawei plus uang sakunya loh! Terus, buat tim yang performanya paling oke sepanjang menjalani challenge-challenge seru di Bali, bakal dapet duit 10 juta/orang. Asik parah kan?

Caranya gimana, Litt?

GAMPANG BANGET! Cek aja blog temen-temen gue: Alex, ArievRahman, Ary, dan Falla, mereka nulis postingan soal Huawei Y6 4G. Di mana, ada keyword yang mereka sembunyikan dalam postingan mereka itu. Tugas lo adalah, nyari 1 keyword dalam setiap postingan. Jadi, totalnya ada 4 keyword yang harus lo temuin dalam postingan-postingan itu. Kalo bingung soal clue, boleh colek mereka di twitter. :p

Kalo udah nemu, susun dan submit keempat keyword itu ke web: http://weipossible.com


Begitu lo udah bener nyusun dan submit semua keywordnya (urutkan biar jadi frase yang masuk akal ya), lo tinggal nunggu aja pengumuman siapa aja peserta yang bakal dipilih buat diajakin main ke Bali. Simpel kan? Yuk lah, ikutan!
Read More
Selasa, Januari 26, 2016

Sejarah TV Jadul Sampai Saat ini

Gue pernah hidup di zaman jaringan listrik belum masuk ke kampung gue. Waktu gue kecil, hiburan orang-orang di kampung gue kalo udah malem, cuma gelar tikar di halaman depan, melihat bintang. Tanpa polusi cahaya, dulu langit itu benar-benar kelihatan bintangnya. Zaman sekarang, pemandangan seperti itu sudah langka.

Sampai akhirnya, di kampung gue ada satu orang yang punya TV. Nama pemilik TV itu adalah pak Supri. Setelah Pak Supri punya TV, segala kegiatan melihat langit pun berubah. Setiap malam, orang-orang sekampung pada kumpul di rumah Pak Supri untuk menonton TV. Waktu itu channel TV cuma ada TVRI dengan segala acaranya yang mungkin bagi anak-anak muda zaman sekarang membosankan. Ada ketoprak, ludruk, dan berita yang selalu tayang pukul 7 malam. Beda sama sekarang, isinya kalo nggak sinetron tentang ababil yang cinta-cintaan, ya berita-berita infotainment hoax.

Listrik belum masuk kampung gue, tapi kok udah ada TV?

Percayalah, zaman itu, TV itu belum pake listrik dari PLN kayak zaman sekarang. TV yang kami tonton masih menggunakan aki.



Nah, karena TV-nya masih menggunakan aki, Pak Supri harus nge-charge tuh aki setiap hari ke kota. Untuk maintenance semacam itu, warga dengan kesadaran diri patungan dan memberikan uangnya kepada Pak Supri untuk membayar biaya charge aki. Bayangkan betapa ribetnya zaman itu.

Ngomongin TV, gue jadi penasaran untuk mengulik sejarah TV itu sendiri. Soalnya, melihat TV yang sekarang, sudah sangat jauh berbeda bentuk, fitur, maupun fungsinya. Yuk kita simak sejarahnya!

Sebelum kita bahas mengenai sejarahnya, kita pahami dulu apa itu arti kata Televisi. Televisi adalah nama hasil penggabungan dari kata Tele yang berarti jauh, Visi (vision) yang berarti penglihatan. Televisi, berarti penglihatan jarak jauh.

TV ditemukan oleh John Logie Baird pada tahun 1920-an. Baird mendemonstrasikan Televisi pertama di depan umum di Royal Institute di London. Namun, apakah TV bisa berjalan tanpa siaran? Tentunya tidak. Hingga akhirnya BBC melakukan siaran televisi pertama kali di tahun 1929. Dan sejak saat itu, TV menjadi perangkat hiburan dan informasi populer bagi setiap keluarga.

Evolusi TV


TV jadul, masih menggunakan sistem analog untuk penggantian channelnya. Tidak seperti sekarang, TV jadul menggunakan semacam tombol pemutar untuk mencari saluran TV yang mau ditonton. Jadi, pengguna harus memutar-mutar panel itu dan mencari freqwensi yang pas untuk menonton saluran tertentu. Mirip seperti saat kita mencari freqwensi radio.


TV jadul juga belum berwarna. Jadi, zaman yang gue alamin dulu, pas kecil, semua TV masih hitam-putih doang warnanya. Sampai-sampai waktu gue kecil, gue suka mikir, apakah zaman perang itu memang belum ada warna di bumi? Soalnya, setiap kali gue nonton film atau berita tentang perang di TV, cuma hitam-putih warnanya.


Lalu di akhir 1990-an, gue akhirnya bisa melihat TV berwarna. Gue inget banget waktu itu mama gue ngirimin TV dari Jakarta. Layarnya cembung, dan pas dinyalain, gue berasa melihat dunia yang berbeda. Seluruh acara yang gue tonton jadi berwarna. Sejak saat itu, gue jadi anak yang males keluar rumah, karena cinta mati sama TV.

Memasuki era 2000an, TV layar tabung sudah digantikan oleh TV layar datar. Tapi sampai sekarang gue masih belum paham apa bedanya layar cembung dan layar datar.

Tahun 2010, gue mulai menggunakan TV LCD. TV LCD ini gue demen karena tipis dan irit listrik. Gambarnya pun lebih baik dibanding TV tabung. Sayangnya, fiturnya masih sama aja kayak TV-TV sebelumnya. Cuma buat nonton TV. Udah, gitu aja.

Baru di tahun 2015 ini, gue ngerasain TV dengan fungsi yang sangat berbeda dari TV-TV yang pernah gue miliki. Jadi, kemarin gue baru nyobain Panasonic Viera Smart TV. Nggak tanggung-tanggung, ukurannya 49”. Kamar gue jadi berasa kayak bioskop pribadi.


Apa yang ngebedain Panasonic Viera Smart TV ini dengan TV biasa? BANYAK!

Resolusi dari Panasonic Viera ini adalah 4K, alias 4000an pixel. Dengan resolusi segede itu, nih TV bisa gue jadiin layar pengganti bagi laptop gue dan buat main game. Resolusi 4K adalah resolusi paling tinggi bagi gadget-gadget yang udah dijual secara umum saat ini. Nih.. Lihat betapa tajamnya resolusi 4K:



Bisa jadi pengganti monitor laptop loh! Resolusinya tinggi banget!

Gambar yang lo lihat itu udah hasil jepretan kamera, udah bening banget kan? Gue kasih tau. Aslinya jauh lebih bening. Setiap kali gue nonton resolusi 4K, gue berasa ngelihat penampakan aslinya. Kayak bukan di layar TV.

Panasonic Viera Smart TV ini juga dilengkapi dengan kacamata 3D. Yup! Dengan kacamata ini, gue bisa nonton konten video-video atau film-film yang 3D. Rasanya sama persis dengan nonton film di bioskop 3D. Bedanya, gue mau teriak-teriak pas nonton film menegangkan yang 3D pun, nggak perlu malu. Nggak kayak di bioskop.

Satu lagi fitur yang gue suka. Dulu gue kalo mau tidur suka nonton video-video di Youtube pake TV. Caranya ribet! Gue harus konekin laptop gue ke TV dulu, baru deh bisa nonton Youtube di TV. Tapi pake Panasonic Viera, kebiasaan ribet itu bisa gue tinggalin.

Soalnya, di dalam TV ini sudah ada fitur built-in apps. Di mana, kita tinggal konekin nih TV ke internet, lalu buka aplikasi Youtube yang udah ada di TV-nya, dan kita pun bisa langsung nonton Youtube di TV. Keren!!


Selain buat nonton TV dan Youtube, ada aplikasi web browser bawaan di Panasonic Viera. Jadinya, gue nggak perlu buka-buka laptop lagi buat browsing! Makin keren!!


Nah, melihat perkembangan TV yang segitu gilanya, gue merasa bersyukur pernah hidup cukup lama untuk menyaksikan evolusi teknologi. Dari zaman TV belum ada warnanya, sampai zaman TV udah bisa internetan kayak Panasonic Viera Smart TV ini!

Nah, lo pernah ngalamin nonton TV yang gimana aja? Share dong di kolom komentar.
Read More