shitlicious

Sabtu, Mei 26, 2018

Sebuah Pesan Untuk Adikku, Yang Gagal Jadi Polisi


Dek..
Di usiamu yang ke 2 taun, kamu pernah dilarikan ke UGD karena minum minyak tanah saat kami, orang-orang dewasa yang harusnya menjagamu, lengah. Saat itu bibirmu sudah membiru, kita semua kalut melihat keadaanmu. Lalu, setelah para dokter dan perawat mengeluarkan racun itu dari tubuhmu, esok harinya, kamu sudah bisa lari-larian di halaman rumah dengan ceria kembali. Sejak saat itu, kami semakin ketat menjagamu, layaknya cangkang kerang yang melindungi sang mutiara.

Dek..
Di usiamu yang ke 5 tahun, Mas Alitt melakukan sebuah kesalahan besar. Saat itu, Mase naik sepeda, kamu ngotot mau ikut. Mase udah ngelarang kamu, tapi kamu nekat bonceng saat mase sudah melaju. Lalu tanpa sengaja jari kelingking kakimu masuk ke rantai sepeda dan tergerus oleh gir sepeda itu. Kamu menjerit kesakitan, lalu mama membawamu ke dokter, sambil memelototi Mase dengan penuh kemarahan. Saat itu Mase sedih, bukan karena dimarahi oleh Mama, tapi Mase sedih karena Mase yang harusnya melindungimu, malah jadi melukaimu. Namun sejak saat itu, Mase semakin bertekat untuk tidak pernah membuatmu terluka lagi.

Dek..
Saat kamu mulai sekolah SD, kamu dititipin Mama untuk diurus sama Mase. Kita tinggal berdua saja di rumah yang setengah jadi itu. Setiap pagi, Mase bangunin kamu, ngajak kamu mandi, lalu sarapan bareng, dan Mase mengiringimu naik sepeda sampai sekolah, memastikan kamu selamat sepanjang perjalanan.

Dek..
Saat Mase mulai bisa nyari uang sendiri, Mase mencurahkan semua kasih sayang Mase kepadamu dalam bentuk uang. Mase tidak bisa menemanimu setiap hari, karena Mase merantau di kota orang. Namun ternyata, kasih sayang berbentuk uang yang berlebihan, malah membuat kamu terjerumus di lembah kenakalan. Drop out saat kelas 1 SMA, lalu uang yang mase kirim selalu habis untuk hura-hura, bukan untuk hal yang berguna. Mase ingat, bagaimana saat itu Mase marah kepadamu. Hingga Mase obrak-abrik tempat tongkronganmu dan teman-teman bejatmu. Tapi yang harus kamu ingat, saat itu Mase lebih marah kepada diri sendiri. Mase kecewa kepada diri sendiri, karena Mase tidak bisa menjaga dirimu hingga menjadi remaja yang lurus menjalani hidup. Sejak saat itu, Mase bertekad untuk membuatmu jadi anak yang mandiri dan kuat, tanpa perlu mase manja setiap saat.

Andi, adikku..
Kamu ingat beberapa tahun yang lalu, saat kamu ikut lomba videografi mewakili sekolahmu? Kamu dengan jujur mengatakan, bahwa kamu cuma gapai dalam eksekusi, namun kurang jago dalam membuat konsep kreatif. Saat itu Mase memancing kreativitasmu dengan melemparkan beberapa ide kreatif untuk kamu eksekusi. Dan Mase bangga, saat itu videomu bisa mengantarkanmu jadi juara. Bukan Mase bangga karena Mase yang bantuin bikin konsepnya, tapi Mase bangga bahwa ternyata kamu tahu di mana kelemahanmu, bisa mengakui kelemahanmu, lalu berani mengakui itu, untuk kemudian mampu kamu perbaiki kelemahan itu, sehingga kamu bisa menghasilkan karya terbaikmu.

Gantengku..
Mungkin akhir-akhir ini kamu berpikir, ke mana Mas Alitt? Kenapa Mas Alitt nggak mau bantuin kamu lagi? Apakah sudah tak ada rasa peduli?
Tidak, Le.. Masmu ini masih peduli.
Namun sekarang kamu sudah dewasa. Bahkan tinggi badanmu sudah membalap tinggi badanku. Mase berpikir, tak bisa selamanya Mase harus berada di belakangmu. Tak bisa terus-terusan Mase menarikmu dari jalan buntu. Ada sebuah proses bernama pendewasaan diri, di mana kamu harus temukan jalanmu sendiri. Di usiamu yang sekarang, kamu harus bisa membuat pilihan, lalu mempertanggungjawabkan pilihan. Pilihanmu tak akan pernah aku ganggu, aku bebaskan kamu memilih jalurmu. Namun kamu harus bisa mempertanggungjawabkan pilihan itu. Apapun hasil yang akan kamu tempuh. Masa-masa untukmu bermanja, sudah habis jatahnya. Sekarang waktunya kamu menempa mental dan jiwa agar lebih dewasa. Mase percaya, kalo Mase selalu ada untukmu, kamu tak akan pernah menemukan sisi terbaik dari dirimu. Karena itu cara Mase dulu menemukan jati diri. Mase harus berani berdiri sendiri, tanpa mengharapkan siapapun mengasihani.

Kegagalanmu adalah ilmu..
Itu yang bisa aku sampaikan kepadamu sekarang. Sesaat setelah mama mengabari Mase bahwa kamu gagal lagi menembus seleksi calon polisi untuk ke sekian kali. Jangan kamu sesali sebuah kegagalan, Dek.. Karena lebih banyak ilmu yang bisa kamu dapatkan dari kegagalan, dibanding dari keberhasilan.

Mase tau, gimana rasanya hidup di bawah bayang-bayangku..
Di mana kadang Mama khilaf membanding-bandingkan pencapaianmu dan aku. Di mana kadang akan muncul pertimbangan yang tak adil antara aku dan kamu. Namun aku mau kamu tahu, bahwa aku tak pernah membanding-bandingkanmu dengan aku. Aku mencoba mengerti bahwa kita punya kemampuan yang berbeda, tumbuh di zaman yang berbeda, dan karakter kita pun berbeda. Namun ada persamaan antara kita yang mampu aku lihat. Keuletanmu dalam mengejar cita-cita, membuat aku bangga, apapun hasilnya. Bahkan dari kegagalanmu kali ini pun, masih ada yang Mase banggakan. Di mana kamu masih mencoba berjuang mendaftar polisi untuk ke sekian kali melalui jalan yang penuh kejujuran, tanpa tergiur iming-iming “jalan pintas” yang diceritakan oleh teman-teman. Karena kalah dalam kejujuran, jauh lebih mulia dibanding menang dalam kecurangan.

Mase mau kamu terus maju. Buktikan kepadaku, bahwa kamu adalah pria yang bertanggungjawab, bahwa kamu sudah tumbuh menjadi pria yang dewasa, yang bisa memperjuangkan masa depannya, tanpa perlu merengek kepada saudara. Mase yakin kamu bisa, karena kamu masih punya banyak kelebihan yang Mase tak punya.

Dek..
Mase dulu memulai semua dari nol. Kamu tahu kan, gimana keadaan keluarga kita? Jangankan untuk berfoya-foya, buat sekolah aja kita harus sambil usaha. Mase percaya, kamu bisa jadi pria yang sukses dan membawa nama baik keluarga kita, asal kamu bisa konsisten berjuang tanpa kenal lelah. Karena kita berbagi semangat yang sama dalam aliran darah. Memang, ada beberapa kekuranganmu yang aku lihat, dan perlu kamu hapus agar masa depan cerah bisa kamu tebus. Singkirkan rasa malas, tunda segala kesenangan masa muda, jangan biarkan cinta-cintaan yang berdampak negatif menguasai kepala. Fokuslah dengan apapun yang kamu kejar. Kamu tak perlu berusaha menjadi yang terbaik, kamu cukup perlu berusaha untuk selalu konsisten. Karena sejujurnya, Mase ini bukanlah orang sepintar yang kamu bayangkan. Mase tidak bekerja sebaik yang kamu pikirkan. Mase cuma konsisten melakukan hal yang bisa Mase pegang untuk meraih masa depan.

Biarkan kegagalanmu ini menjadi pengingat, bahwa kesuksesan bukanlah untuk orang-orang yang lemah. Biarkan kegagalanmu ini menempamu hingga menjadi orang yang lebih kuat ke depannya. Kamu harus tahu, bahwa untuk bisa seperti sekarang, Mase pernah gagal ratusan kali, bahkan sampai kelaparan sendiri di kota orang. Mase mau kamu ingat, bahwa satu hal yang Mase pegang sejak dulu, saat Mase memperjuangkan karier ini:

Jangan takut gagal, karena kegagalan adalah tanda bahwa kita berani mencoba. Habiskan semua jatah gagal kita, maka aku yakin, kesuksesan menanti di depan sana.

Wis.. Ojo nangis meneh, yo.. Kalo cita-citamu ini tak bisa kamu raih, percayalah Tuhan sudah menyiapkan profesi yang lebih baik untukmu di depan. Yang penting, kamu gak menyerah berjuang dan memperbaiki diri. Karena nasib itu selalu akan mengikuti kepantasan diri. Hidup memang kadang seperti ini, kita tak diizinkan untuk menerima hal yang kita MAU, namun kita akan ditakdirkan untuk memiliki hal yang kita BUTUH.

Jangan terlalu kecewa dengan keadaanmu, ya.. Apapun dirimu, kamu masih tetap jagoanku.


Jakarta, 26 Mei 2018.


Dari Mas Alitt, untuk Andi di Batam.
Read More 62
Jumat, Mei 18, 2018

“Hai Reyna.. Hari ini kamu ada acara, nggak? Aku punya 2 tiket bioskop nih, nonton yuk!” Foto 2 tiket bioskop ku kirim bersamaan dengan chat itu kepada Reyna. 


Sembari menunggu balasan dari Reyna, aku kembali memasukkan 2 tiket bioskop untuk film berjudul SAW itu ke dalam kantung jaket army yang ku kenakan. Bukan, aku bukan bermaksud membuat Reyna ketakutan di dalam bioskop karena menonton film sadis, lalu berharap dia memelukku kencang-kencang. Tidak.. Aku tidak serendah itu. Aku tak pernah mengharapkan pelukan hasil keterpaksaan. Aku mengharapkan pelukan yang memang dengan ikhlas diberikan, karena pelukan yang seperti itulah yang mampu menciptakan kehangatan.


Aku memilih film SAW karena dari sosial medianya, Reyna suka membahas film-film thriller dan horror. Itulah kenapa, aku memilih film yang dia suka untuk kami tonton. Meskipun dalam sepanjang film itu, mungkin aku akan lebih sering menjerit dan berharap jantungku aku tinggalkan di rumah. Iya, aku tak pernah siap melihat adegan horor maupun sadis. Aku jadi ingat saat SD, ada teman sekelasku pertama kali mengalami menstruasi, rok dan kakinya berlumuran darah. Aku melihat darah menetes ke lantai kelas. Saat itu pula, aku pingsan hingga usai jam sekolah. Bisakah kamu bayangkan, pria seperti aku, harus menonton karakter film yang disiksa dan dipotong-potong anggota tubuhnya? Namun, itulah yang dinamakan pengorbanan, mengurangi sedikit kenyamanan kita, untuk kenyamanan orang lain yang kita cinta.


Beberapa kali notifikasi handphone-ku berbunyi, dan dengan sigap aku segera membukanya. Namun bukan balasan dari Reyna yang aku terima, melainkan penawaran pinjaman tanpa agunan yang ditawarkan secara acak oleh para pelaku telemarketing. Hingga sore menjelang, tak ada balasan dari Reyna. Aku pun memutuskan untuk tetap menonton film sadis itu tanpa Reyna.


Sesampainya aku di depan pintu teater, aku sempat berhenti sesaat, lalu menoleh ke arah pintu masuk bioskop. Berharap tiba-tiba muncul keajaiban, Reyna bersedia datang dan menonton film bersamaku. Namun aku harus menghadapi risiko terbesar dari harapan, yaitu kekecewaan. Aku tak melihat Reyna, hanya beberapa wajah asing yang terlihat mesra dan ceria bersama pasangan-pasangannya.


Dengan berat hati, aku melangkahkan kaki, maju memasuki ruang teater 2. Aku sudah berpikir di sepanjang film aku hanya akan menutup mata, menghindari adegan-adegan sadis yang dirancang sempurna oleh sang sutradara. Mungkin kamu akan mempertanyakan, kenapa aku tetap menonton film itu tanpa Reyna? Kenapa aku tetap bertahan sendirian menonton film yang aku tak kuat untuk melihatnya?


Jawabanku sederhana saja. Aku hanya ingin menjadi seorang pria yang punya komitmen kepada diri sendiri. Bahwa, apabila aku sudah memilih untuk menonton film hari itu, mengajak Reyna untuk duduk di sampingku, maka aku harus menyelesaikan rencana itu dengan maupun tanpa Reyna. Aku harus komit kepada pilihanku sendiri, kalo aku gagal dengan komitmen ini, bagaimana aku bisa menawarkan komitmenku kepada orang lain?


Oke.. Oke.. Kamu mau jawaban jujur tanpa gengsi dan sok keren dari aku? Jawaban dari hati kecilku untuk pertanyaan kenapa aku masih nekat nonton film itu adalah, aku masih berharap Reyna mengabari dan menyusulku ke bioskop, untuk kemudian duduk di sebelahku di sepanjang film berputar. Itu akan menjadi moment sempurna bagiku, karena aku hanya akan sibuk memandangi indah wajah Reyna, tanpa bisa terusik oleh apapun yang terjadi di cerita film itu.


Aku duduk di bagian tengah di deretan G kursi bioskop. Sengaja ku pilih tempat duduk yang tak begitu jauh dari layar bioskop, agar cahaya yang berpendar dari layar, mampu menyirat ke wajah Reyna, sehingga aku bisa dengan jelas menikmati setiap ekspresinya. Aku sudah memikirkan semua rencana itu sejak awal. Hey! Aku adalah seorang pria yang penuh dengan rencana. Karena aku tak mau hidupku berjalan tanpa jelas arahnya. Bahkan, aku pun sudah merencanakan untuk mencintai Reyna, meskipun dia belum begitu mengenalku sebaik aku mengenalnya.


Film sudah hampir mulai, lampu studio mulai padam. Aku menoleh ke sekitar, ruang video hampir penuh dengan muda-mudi berpasangan, bergandengan, dan berpelukan. Sedangkan tanganku? Hanya mampu menggenggam pahaku sendiri. Rasa tegang mulai menyeruak saat musik dengan nada-nada mencekam mulai berputar di studio.


“Aaaaaarrrggg!!!”


Iya, itu teriakan yang keluar dari mulutku. Aku menggelinjang dan berdiri dari kursi. Tampaknya orang-orang di sekitarku kebingungan melihatku yang histeris dan ketakutan, padahal di layar bioskop baru muncul judul filmnya.


Teriakanku tadi beralasan, saat kepalaku sedang kosong, handphone-ku bergetar di kantung celanaku. Aku kaget karena mengira ada binatang yang menggerayangi selangkanganku. Aku pun kembali duduk, dan memeriksa siapakah yang menggetarkan handphone-ku. Senyum lebar pun tergambar di mukaku. Reynata membalas chatku, sayang saat ku buka notifikasi itu, chat Reynata bukan mengiyakan ajakanku untuk nonton,


“Sorry.. Gue masih sibuk di kantor nih sampe malem. Jadi gue gak bisa nonton bareng lo deh.”


Aku tersenyum membaca chat dari Reyna.


“Oh.. Gapapa Rey.. Mungkin bisa lain kali. Selamat berak” Belum selesai aku menuliskan chat, jempol jahanamku memencet tombol send.


“Arrrrrggghhh!!” Spontan aku berteriak lagi karena kesalahan fatalku tadi. Orang-orang kembali melihatku dengan heran, karena adegan di filmnya sedang ada adegan bahagia si karakter dan masa lalunya.


Aku coba ketik ulang chatku ke Reyna, “Selamat beraktivitas kembali, maksudku.. maaf, kepencet send”


Sebelum aku mengirimkan chat itu, Reyna sudah membalas lagi chatku, “Kok berak? Btw, ini siapa, ya? Kayaknya gue belum save nomor lo di handphone gue. Terus, foto profile chat lo juga gambar helm.”


Aku revisi chat yang mau aku kirimkan ke Reyna, “Maaf.. maksudku ‘selamat beraktivitas kembali’. Tadi kepencet send sebelum selesai ngetik”.


“Oiyah.. Aku Arland, yang kemarin motret kamu dan teman-teman di kondangan si Dewa dan Dewi”. Aku kirimkan chat itu kepada Reyna, lalu ku ubah foto profile chatku dengan foto saat kondangan, berharap dia mengingatku.


“Oh.. Arland.. Sorry yah.. Gue gak sempat minta nomor lo kemarin”.


“Gapapa, Rey.. Selamat beraktivitas kembali. Aku lanjut nonton film SAW ya.. Lagi seru adegannya nih!”


Chatku itu pun tak dibalas lagi oleh Reyna hingga usai filmnya.


Mungkin kamu bingung, kenapa aku mengejar-ngejar wanita sedingin Reyna?


Karena aku percaya, Reyna bukan pribadi yang dingin. Reyna adalah pribadi yang ramah dan hangat, malah. Dia berbicara seadanya, karena dia belum mengenalku saja. Justru dengan fakta itu, aku semakin tertarik kepada Reyna. Dia tidak mudah menerima ajakan orang-orang yang belum bisa membuat dia nyaman. Kalau Reyna adalah sosok yang dingin seperti yang kamu pikirkan, dia tidak akan pernah tergerak untuk membalas chatku tadi. Karena itu adalah chat pertama yang aku kirimkan kepadanya. Itulah kenapa, aku percaya Reyna bukan sosok yang dingin, Reyna hanya belum mengenalku saja. Jadi.. Inilah usahaku, untuk membuat Reyna mengenalku.


=***=




Aku turun dari motor besar yang ku parkirkan di dekat lobby hotel. Ku lepaskan helm dan jaketku, dan mendapati tubuhku berkeringat luar biasa. Aku baru sadar, mengenakan jaket bersamaan dengan jas dan kemeja berdasi serta kaos singlet secara bersamaan untuk mengarungi macetnya jalan Jakarta, bukanlah ide yang cemerlang. Aku yang awalnya ingin berdandan layaknya seorang gentleman, malah terlihat kayak mas-mas eksmud yang abis mabuk di tempat karaoke.


Aku mencoba merapihkan kemeja dan jasku, lalu mengalungkan kamera di leherku sambil berjalan masuk ke hotel. Sesampainya di ballroom, aku mendapati sebuah pesta pernikahan yang megah. Tamu sudah mondar-mandir menyicipi menu resepsi yang terhidang di hampir semua sudut ruangan, kecuali panggung pelaminan.


“Arland!!” Tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang, aku menolehkan wajahku ke arah suara yang memanggil namaku.


“Oh.. David! Udah nyampe duluan ternyata!” Nanti akan ku ceritakan siapa si David ini. Atau mungkin nanti pelan-pelan kamu akan mengerti.


David merangkul pinggang seorang wanita yang sedang berdiri di sampingnya. Terlihat jelas, wanita itu adalah seorang keturunan Indonesia dan negara barat.


“Stevanny!” Wanita itu menyodorkan tangannya kepadaku.


“Arland..” Ku sambut jabatan tangannya dengan senyum ramah yang terbentang di wajah.


David menarik tangan Stevanny, “Udah.. Jangan lama-lama.. Ntar ketularan jomblo Arland, kita! Hahaha!”


Aku sudah tak bisa merasa kesal dengan celetukan David yang membahas tentang kesendirianku. Aku dan David memang berbeda. David bisa dengan mudah berganti pasangan karena wajahnya yang rupawan. Sedangkan aku, aku memiliki kekuatan super di mana wajah dan namaku mudah dilupakan oleh para wanita. Karena mungkin, penampilanku bisa membawa mimpi buruk di tidur mereka.


“Lo kondangan sendirian lagi nih?” David bertanya sambil menyodorkan minuman yang dia ambil dari nampan waiter yang lewat.


“Iya.. Emang mau sama siapa lagi?” Aku menyeruput minuman dari David tadi.


David meletakkan gelas kosongnya di meja, lalu merangkul pundakku, “Makanya bro.. Move on dong! Gagal setelah tunangan bukan berarti lo bakal gagal punya istri selamanya kan?”


“Udah nyoba.. Tapi gimana ya, Vid.. Nggak ada rasa lagi sama cewek!” Aku menenggak habis minuman di gelas, lalu ku letakkan gelas itu di meja.


“Oke.. Nggak ada rasa lagi sama cewek, ya? Udah nyoba daftar fitness belum lo?”


“Ha? Maksudnya?” Aku mengernyitkan dahi.


“Coba daftar fitness, lalu dateng ke tempat gym. Lo perhatiin deh mas-mas kekar di sana pas lagi squat. Siapa tau lo jadi ada rasa pas liat bokong mereka menutup dan membuka. Hahahaha!” David menepuk pundakku sambil tertawa puas.


“Ngaco! Nggak ada rasa lagi sama cewek, maksudnya belum ada lagi cewek yang bisa menggetarkan hatiku, Vid”.


David mendekat, lalu berbisik di telingaku, “Halah.. Nggak perlu nunggu hati bergetar.. Yang penting kan selangkangan lo masih bisa getar. Lo pikir, gue ama Stevanny baper-baperan? Enggak!”


Aku melirik ke arah Stevanny, dia menggigit-gigit bibirnya sendiri sambil mengedipkan sebelah mata ke arahku. Aku pun menundukkan kepala.


“Itu kamu nemu di Tinder lagi, Vid?”


“Iya lah.. Mana lagi?! Udahlah.. Soal hati, nggak usah lo bawa ribet. Kalo belum bisa dapetin pasangan jiwa, seenggaknya dapetin dulu pasangan biologis, bro!” David menepuk punggungku pelan-pelan.


“Hmm.. Nggak deh.. Aku percaya, sendirian itu lebih baik dibanding menjalani hubungan tanpa perasaan”.


“Ahelaaah.. Umur lo berapa sih? 25 kan? Masih muda! Masih bisa hura-hura!” David kembali menyodorkan minuman yang dia ambil dari waitress.


“Ya udah.. Kalo itu cara kamu.. Tapi caramu itu nggak selalu bisa dijalani orang lain juga, Vid. Aku nggak bisa nyentuh cewek yang nggak bisa menggetarkan hatiku. Lebih parahnya lagi, udah sekian tahun ini, nggak ada cewek yang bisa membuat hatiku deg-degan, atau setidaknya kangen setelah kenalan”.


“Lo trauma, Land.. Itu yang bikin lo takut memulai hubungan. Dan lo nggak sadar kalo lo punya ketakutan itu”


“Ah.. Nggak kok.. Aku nggak takut sama cewek” Jawabku sambil membuang muka.


“Emang lo nggak bakal ngerasa, tapi alam bawah sadar lo yang ngerasa! Alam bawah sadar lo yang matiin bibit-bibit perasaan lo ke cewek-cewek yang lo kenal”. David mencolek ulu hatiku dengan telunjuknya.


“Ntahlah Vid.. Aku sih masih santai aja.. Hidup sendiri, bisa memenuhi segala kebutuhan, bisa mengejar semua kesenangan, tanpa ada yang ngatur, tanpa ada yang ganggu. Mungkin aku akan nyaman dengan hidup semacam ini. Ntah sampai kapan..”


“Yakin lo?” David tersenyum mengejek, sambil mengelus rambut Stevanny. Mata Stevanny berputar, seakan-akan terangsang atas sentuhan David. 


“Yakin! Lebih baik sendirian, dibanding berhubungan dengan keterpaksaan!” Aku tenggak minuman di gelas sampai habis dalam sekali teguk.


David memegang daguku dengan kedua tangannya, lalu mengarahkan pandanganku kepada seorang wanita yang sedang mengobrol bersama beberapa temannya di salah satu sudut ruangan ballroom. Wanita itu terlihat amat sempurna. Mancung hidungnya, lurus dan panjang rambutnya, merah bibirnya meskipun tak memakai lipstik, melainkan hanya lip-balm. Jantungku bergetar hebat, keringat dingin mulai menyeruak, dan aku pun menelan ludah.


“Siapa dia, Vid?” Tanyaku sambil tetap terpaku kepada wanita itu.


“Yeee!! Katanya yakin nyaman dengan kesendirian?! Hahahaha!!”


Selama ini aku merasa, aku sudah terbiasa dengan kesendirian ini. Kalau kamu berpikir aku tak pernah mencoba, itu salah. Aku sudah mencoba berkali-kali untuk menyayangi dan mencintai wanita lain setelah aku bubar dengan tunanganku. Namun, yang aku rasakan hanyalah sebuah kehambaran. Tak ada hal yang aku bisa kenang dari wanita-wanita itu. Tak ada perlakuan menyentuh dari mereka yang mampu menggerakkan hatiku. Sehingga, saat aku mencoba jujur mengatakan aku tak bisa menyayangi mereka, aku hanya mendapatkan cap pria brengsek. Namun, wanita ini.. Berbeda. Dia mampu menyentuh hatiku tanpa perlu berinteraksi langsung. Dia mampu membuatku terpana, tanpa perlu bertatapan mata. Dia bisa membuatku ingin mendekat, tanpa perlu memanggil. Apakah ini cinta yang kembali setelah selama ini absen dari kehidupanku? Iya.. Hatiku tak tercuri, dia jatuh sendiri.


“Sana.. Ajak kenalan, lah!” David mendorongku untuk berjalan mendekati wanita itu.


Aku rebut minuman dari tangan David, lalu ku tenggak habis, sambil berjalan ke arah gerombolan wanita itu.


Aku perhatikan mereka sedang asyik berfoto bersama dengan handphone.


“Kok fotonya agak gelap-gelap siluet semua, ya?” Wanita yang mempesonaku itu berkata kepada teman-temannya.


Aku tarik nafas dalam-dalam, lalu aku mencoba nimbrung, “Itu karena kalian membelakangi cahaya. Makanya kamera handphone tidak akan cukup untuk mengambil gambar yang tajam di kondisi seperti ini”.


Wanita itu menoleh ke arahku sambil mengernyitkan dahi.


“Hai! Namaku Arland” Aku menyodorkan tanganku ke arah wanita itu.


“Reyna” dia menyambut jabatan tanganku dengan ramah. Lalu aku juga menyodorkan tanganku ke arah teman-teman Reyna. Kami semua berkenalan, namun aku hanya akan mengingat nama Reyna saja.


“Um.. Aku perhatikan, kalian nyoba foto dari tadi. Boleh aku bantu fotoin kalian?” Aku menawarkan diri sambil menyodorkan kameraku ke arah Reyna.


“Boleh dong!! Ayo fotoin kita!!” Salah satu dari teman Reyna menyambar, dan menarik Reyna untuk berdiri berjajar dan bersiap. Aku memandangi Reyna, seolah mata kami bicara. Reyna kemudian menganggukkan kepalanya.


Aku pun mulai menyalakan kamera, lalu mengatur pose Reyna dan gank-nya. Beberapa foto ku ambil, namun sebagian besar dari foto itu, diam-diam hanya ku ambil close-up Reyna saja. For research purpose, tho.


Setelah mengambil beberapa foto, aku tunjukkan beberapa foto yang berisi mereka bersama-sama.


“Waaah.. Bagus ya!!”


“Aaah.. Akhirnya pipiku terlihat tirus!!”


“Wah.. Lenganku nggak sebesar betis sapi lagi!!”


Beberapa celetukan dari teman-teman Reyna, menunjukkan kalau mereka menyukai hasil fotoku. Aku pun mendekat ke arah Reyna.


“Umm.. ini nanti fotonya aku kirim via Whatsapp ke kamu, ya?”


Reyna sempat mengernyitkan dahi, lalu menjawab, “Eh? Okay.. Makasih ya!”


“So.. What’s your number?” Aku menyodorkan handphone-ku ke Reyna. Kemudian Reyna mengetikkan nomornya di handphone-ku, lalu dia save nomor itu atas namanya.


“Terima kasih.. Reyna”. Ucapku sambil menerima kembali handphone-ku darinya. “Oiyah.. Kalo foto dikirim via WA, nanti akan kekompres, jadi gak tajam.. Aku email aja ya!” Mendengar tawaranku itu, Reyna menjawab, “Mau alamat emailku juga?”


“If you don’t mind..” Aku kembali menyodorkan hapeku kepada Reyna. Aku sengaja meminta alamat emailnya, untuk menemukan akun-akun sosial medianya. Agar aku bisa mengenal lebih jauh tentang dia, nggak cuma sekedar mengagumi indah wajahnya saja.


“Nih..” Reyna mengembalikan hapeku setelah dia mengetikkan alamat email. 


“Terima kasih, dan tunggu emailku ya!” Reyna mengangguk, tersenyum sambil melihatku, lalu kembali mengobrol dengan teman-temannya. Aku pun bergegas pergi meninggalkan Reyna dan teman-temannya. David mengangkat gelasnya dari kejauhan sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Aku tersenyum ke arah David, penuh ceria.


=== 


Bersambung..

Read More 49
Senin, Oktober 23, 2017

Menyelimuti Rasa Iri Dengan Benci

“Siapa sih ini? Nggak jelas banget, cuma beli mobil doang ditaruh sosmed!”
“Banyak banget sih fans nih orang? Padahal kontennya alay!”
“Yang follow nih orang pasti goblog semua. Gue nggak bakal mau jadi bagian dari mereka!”

Itu adalah komentar yang sering gue denger dari temen gue, sebut saja Supri. Dia adalah orang yang seneng banget main sosmed. Bukan untuk mencari hiburan, melainkan untuk melampiaskan semua isi kepala yang disiksa oleh persoalan. Setiap kali Supri nunjukin gue sebuah akun sosmed dan berkomentar negatif seperti di atas, gue cuma jawab, “Emang lo kenal sama dia?”

Dan pertanyaan gue itu akan dia jawab dengan, “Males banget kenal sama orang kayak begini!”

Dengan santai, gue menjawab lagi, “Kalo lo nggak kenal, kenapa lo bisa benci banget sama tuh orang?”

“Soalnya di video-videonya, dia tengil banget! Jadi pengin nabok!” Timpal Supri.

“Tengilnya gimana?” Gue tanya lagi sambil berpangku dagu.

“Ya.. Masa beli mobil doang dibikin video, terus diupload!” Supri menjelaskan sambil menunjukkan video orang yang dia maksud. Gue lalu melihat isi video yang Supri maksud. Selesai menonton video itu, gue menghela nafas, dan bertanya, “Apa yang lo komplain dari video ini? Dia cuma nunjukin setelah kerja keras dan nabung selama 3 tahun, akhirnya dia bisa beli mobil sendiri.”

Supri gantian menghela nafas, “Ya menurut gue nggak penting aja mamerin hal-hal sok mewah gini ke depan umum. Kesombongan yang terselubung. Ngabisin kuota orang buat hal yang nggak penting, tau!”

Gue tepuk pundak Supri, lalu gue tanya, “Kalo menurut lo nggak penting, ngapain lo tonton?”
Supri mencoba untuk mengelak, “Nongol di halaman rekomendasi. Ya gue tonton lah!”

“Lo nggak perlu nonton kalo nggak tertarik sih. Nggak perlu komplain sambil lanjut nonton ampe kelar, kan?” Gue lirik mata Supri.

“Arrrghh.. Lo nggak bakal ngerti deh!” Supri pun segera cebok, dan meninggalkan gue yang masih duduk jongkok di atas kloset yang separuhnya tadi dia dudukin.

Hari gini, gue sering banget nemu orang-orang kayak Supri. Tipe orang yang akan komplain tentang apapun hal baik yang diterima orang. Pemenang olimpiade renang, dikomplain karena nggak pake hijab pas renang. Lulusan Harvard, dikritik karena kuliah di negara kafir. Atau juara taekwondo mewakili negara, dikomenin ‘apalah arti juara di dunia, tapi di akhirat belum tentu masuk surga’. Gue sebenarnya eneg dengan manusia-manusia semacam ini. Yang menganggap apapun pencapaian orang lain itu rendah, atau mencari kekurangan orang lain di saat dia melihat kelebihan orang itu. Gue curiga, orang-orang ini hanya dengki saja. Buat orang dengki, apapun yang positif akan terlihat negatif. Apapun yang membuatnya merasa kecil, akan dia benci.

Gue juga sebel sama orang yang bisa ngebenci banget orang terkenal yang belum pernah berinteraksi langsung dengan mereka. Sampe-sampe, tiap hari meluangkan waktu untuk menghinanya. Kalo gue tanya, kenapa mereka melakukan itu, jawabannya template banget. “Kalo nggak mau ada yang benci ya nggak usah jadi orang terkenal. Punya fans itu pasti juga bakal punya haters!”

Dengan alasan seperti itu, kenapa logikanya nggak diubah begini, “Kalo nggak suka, kenapa nggak cuek dan fokus ke artis yang disuka aja? Kenapa harus terus menerus memperhatikan artis itu dan meluangkan waktu setiap hari untuk menyerangnya?”

Gue sadar, kadang orang main internet emang buat nyari hiburan. Namun ada juga yang main internet untuk nyari pelampiasan. Hiburan buat orang normal, adalah video atau foto lucu yang bikin mereka lupa masalah sesaat. Namun hiburan bagi orang yang sudah cacat jiwa, adalah dengan cara membenci dan mencela. Hanya itu yang bisa membuat hati mereka lega. Jadi ya.. Bisa dibilang, mereka ini psikopat di dunia maya. Kalo kebablasan, bisa jadi psikopat di dunia nyata. Sudahlah ya.. Yang penting nggak ngajak gila aja.

Kembali ke topik, rasa iri memang sering dibiaskan dengan kebencian. “Gue harus benci sama orang keren itu biar gue keliatan lebih keren”. Padahal, orang iri atau dengki itu sebenarnya adalah orang-orang yang minderan. Dan sayangnya, selain minderan, mereka nggak bisa berjuang biar bisa lebih baik dari orang yang dia targetkan. Karena mereka nggak mampu berjuang untuk bersaing, akhirnya mereka memilih jalan pintas, yaitu membenci. Selain membenci, mereka akan mengajak orang lain untuk ikut membenci. Sehingga mereka nggak merasa kecil sendiri. Sehingga mereka bisa sedikit mengobati rasa iri.

Teman-teman, iri dengki adalah salah satu penyakit hati. Efek dari penyakit ini nggak cuma sekedar membuat lo jadi pembenci, melainkan juga akan membuat lo jadi orang yang selalu berdiam diri. Lo nggak akan pernah mau menganggap pencapaian orang lain sebagai motivasi. Lo pelan-pelan akan menganggap orang lain dengan berbagai kesuksesan mereka adalah hal yang harus dihindari. Lo nggak akan pernah mau mengikuti jejak orang sukses itu karena gengsi. Endingnya? Lo bakal selalu begini, nggak ngapa-ngapain, selain membenci dan membenci. Lo akan sibuk membenci, bukannya sibuk memperbaiki diri. Lo akan menghabiskan banyak waktu untuk melihat hidup orang dan mencari kekurangan mereka, sehingga lo lupa introspeksi. Dan kalo terus begitu, amit-amit lo akan mati dengan segala rasa benci kepada orang-orang yang lebih sukses, dan juga lo akan mati dalam kondisi membenci diri sendiri karena tak kunjung sukses.

Untuk itu, gue mengajak lo untuk lebih positive thinking. I do believe, positive life starts from positive thinking. Mari hindari hal yang merugikan diri maupun orang lain. Cuekin hal yang lo rasa nggak suka, tanpa perlu fokus menghina. Ikuti hal-hal yang kira-kira bisa menularkan kebaikan, lalu ikut praktekkan. Selain itu, jangan pelihara resistansi diri terhadap kebaikan-kebaikan orang lain. Jadikan pencapaian orang sebagai motivasi, “Dia bisa beli itu karena dia fokus dan tekun, gue juga bakal bisa beli itu karena gue fokus dan tekun”. 

Bayangkan, kalo seluruh waktu yang selama ini kita pakai untuk stalking akun orang yang kita benci, untuk mikirin makian yang paling sadis, untuk ghibah sama netizen, kita pakai untuk rajin bekerja atau setidaknya untuk merintis usaha, mungkin saat ini hidup kita akan jauh berbeda. Coba renungkan, dari semua komentar negatif yang sudah pernah kita lempar di internet, kita sudah dapat pencapaian apa? Bisakah itu semua kita banggakan kepada dunia? “Eh! Kemarin gue abis ngatain Mulan Jameela, dong! Yes!” Sakit.

Gue sangat yakin, kita bisa jadi apapun yang kita mau, selama kita mau belajar terus. Rasa iri dengki yang dipelihara adalah hambatan kita untuk belajar. Karena kita merasa sudah terpelajar, sehingga pencapaian orang lain kita anggap sebagai hal yang tidak wajar. So, mari hapus rasa iri dengki, dan mulai belajar untuk menghargai serta tak malu untuk mengakui bahwa ada kesuksesan orang lain yang membuat kita termotivasi untuk mengikuti. Berawal dari pengakuan, akan ada keinginan, dari keinginan, akan ada perjuangan, setelah ada perjuangan, barulah kita menerima pencapaian.

Silakan diingat saja bahwa, “Selama yang lo lakuin cuma itu-itu saja, hidup lo juga bakal selalu begitu-begitu saja”.

Read More 268
Selasa, Juli 04, 2017

Mudik ke Jogja Naik Motor Sendirian
Halo teman-teman..
Sebelumnya gue mau ngucapin minnal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir batin. Maafkan gue yang update blognya ngikutin mood doang ini. Padahal, bukan begitu, akhir-akhir ini gue lagi fokus nulis di platform lain, yaitu scenario. Tapi gue selalu mengusahakan untuk tetap mengupdate blog ini, biar nggak disebut sebagai blogger murtad.

Oke, lebaran 2017 ini nuansanya cukup berbeda dibanding lebaran-lebaran sebelumnya buat gue. Biasanya gue mudik naik pesawat terbang atau mobil. Namun lebaran kali ini, gue pengin nantang diri sendiri untuk mudik naik sepeda motor. Kenapa? Karena setahun terakhir gue kebanyakan ngabisin waktu di kantor, maupun di bengkel. Di mana, gue pengin nyari tantangan, dan cerita baru buat nambahin pengalaman.

Hari gini, melakukan sebuah perjalanan itu memang semakin praktis. Zaman gue kecil, dari kampung ke Jakarta naik bus perlu waktu 2 hari 1 malam. Zaman sekarang, naik pesawat cuma 1 jam doang. Hal itu memang bisa memberi keuntungan, yaitu memangkas banyak waktu dan menghemat tenaga kita. Namun, hal itu juga berdampak bagi kita yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan cerita-cerita menarik yang mungkin bisa didapatkan dari perjalanan darat. That’s why, musim mudik taun ini, gue milih buat jalan dari Jakarta ke Jogja naik motor. Dan gue mudik naik motor sendirian, karena teman-teman gue nggak mau ngikutin ide gila gue. Buat mereka, mudik bareng anak istri pake pesawat itu lebih menyenangkan dibanding mudik berdua sama gue motoran. Hih!


Gue mudik di H-4 lebaran, karena gue trauma, taun 2014 gue mudik H-2, ternyata gue malah ngabisin waktu 48 jam perjalanan darat pake mobil. Waktu itu tol Cipali belum aktif, terus jembatan comal pas putus. Jadinya, para pemudik jalurnya dipindahin ke jalur selatan Jawa semua. Efeknya, macet parah terjadi di sepanjang perjalanan mudik. Bahkan, gue sempat tidur di mobil semalam karena mobil-mobil sama sekali nggak bergerak di daerah Bumi Ayu. Keluar dari mobil, bau badan gue sama kayak bau pewangi mobil.

Gue berangkat dari Jakarta pukul 2 siang, karena gue harus ngelarin kerjaan dulu biar klien nggak minta revisi-revisi pas gue lagi jalan. Menurut GPS, diperkirakan perjalanan gue bakal menempuh waktu sekitar 13 jam. Itu kalo nggak istirahat makan, tidur, pipis. Endingnya, kalo gitu sesampainya di rumah, gue bakal kena tifus.


Makanya gue berkomitmen untuk berkendara secara santai aja selama mudik itu, sambil menikmati perjalanan. Jadi, kalo capek ya istirahat, nginep dulu di hotel. Yang penting selamat, karena tujuan mudik adalah bertemu keluarga. Seperti kata nyokap gue, “Saat Lebaran, orang tua itu bukan mengharapkan harta, tapi mengharapkan kehadiran anaknya”.


Sepanjang perjalanan, ada beberapa titik rute yang bikin gue cukup kelelahan. Yang pertama adalah jalanan Jakarta yang memang selalu macet, dan yang kedua adalah jalanan Bekasi yang nggak mau kalah prestasi macetnya sama jalanan Jakarta. Dari Jakarta, sampe keluar bekasi, yang sebenarnya cuma sekitar 30an KM itu, gue ngabisin waktu 5 jam. Di mana, kalo di jalanan Jogja, jarak 30 KM itu bisa ditempuh dalam waktu 1 jam saja. Sepanjang perjalanan Jakarta-Bekasi, gue nggak berasa naik motor, melainkan dorong motor, karena macet parah.

Keluar dari Bekasi, jalanan relatif lancar. Gue istirahat di Karawang buat makan malam dan meluruskan kaki. Lalu gue ngecek GPS, memperkirakan jam 11 malam, kira-kira gue sampai mana. Karena, gue udah berencana, jam 11 gue bakal istirahat untuk tidur, mengingat pagi sebelumnya gue masih sibuk kerja. Menurut GPS, jam 11 malam gue bakal sampai area Cirebon. Akhirnya, sejak dari Karawang, gue coba buat booking hotel, biar nanti sesampainya di Cirebon, gue tinggal check-in, tanpa takut kehabisan kamar, mengingat ini musim mudik.


Iya, gue selalu pake aplikasi Traveloka buat booking hotel maupun pesawat saat last minutes. Daripada harus nelponin satu-satu buat make sure hotelnya udah penuh atau belum, pake Traveloka jadi lebih praktis. Ini contoh pengalaman lain gue pake Traveloka. Akhirnya, pilihan gue jatuh pada hotel Swissbel-hotel Cirebon karena lokasinya cukup dekat dengan rute mudik gue.

Lalu gue melanjutkan perjalanan, dan tepat pukul 11 malam, gue sampai daerah Cirebon. GPS ini punya ilmu hitam macam apa sih? Pinter banget meramalkan masa depan. Sesampainya di Cirebon, gue pun langsung menuju ke hotel yang ternyata nempel sama Mall CSB. Di hotel, gue langsung tidur, dan menikmati istirahat setelah berjuang di jalan seharian.


Paginya, gue udah semangat lagi karena istirahat yang cukup dan sarapan yang nikmat di hotel. Gue pun melanjutkan perjalanan dengan santai di jalur Pantura. Di sepanjang perjalanan siang itu, gue istirahat beberapa kali di mini market untuk numpang buang air kecil dan beli minuman. Iya, gue nggak puasa karena kondisi sedang jadi musafir. Kalo dipaksain puasa, takutnya malah nggak fokus berkendara. Bahaya.

Di setiap perhentian, gue nemu orang-orang yang mudik juga, dan kami sempat berbagi cerita. Salah satu cerita menarik yang gue temukan adalah gue kenalan sama seorang biker bernama Bagus, dia adalah seorang karyawan di salah satu pabrik area Tangerang. Di musim mudik ini, dia naik motor dari Tangerang ke… LOMBOK. Iya, naik motor. Gue sempet kepikiran, apa bokongnya nggak kapalan, naik motor sejauh itu? Hal yang menarik dari cerita Bagus ini adalah, dia udah nggak mudik ke rumah kalo lebaran, gue nggak berani tanya kenapa, tapi yang jelas, kata dia yang gue kutip, begini, “Saya kerja di Pabrik, susah mas buat nyari waktu untuk liburan. Libur paling hari minggu, udah males ke mana-mana karena udah capek kerja seminggu. Momen cuti bersama lebaran gini deh yang bisa saya manfaatin untuk pergi liburan, bareng motor kesayangan. Kapan lagi? Ye gak? Hehe”

Jawaban Bagus ini bikin gue kembali bersyukur, bahwa selama ini gue kerja kantoran, masih bisa ngambil cuti buat liburan, tapi nggak pernah kepikiran buat liburan, malah terlalu fokus ngumpulin duit. Endingnya, kecapekan sendiri, stress sendiri. Jadi, berkat ketemu Bro Bagus itu, gue jadi sadar berharganya sebuah liburan.

Gue pun melanjutkan perjalanan lagi menuju Limpung, daerah kecil di kabupaten Batang, dekat Pekalongan. Gue berniat mau mampir ke rumah rekan kerja gue yang udah mudik duluan. Soalnya, cuaca hari itu random banget. Kadang hujan, kadang cerah. Sesampainya di Limpung, gue dijamu keluarga Seto, sahabat gue. Mereka juga menawarkan gue untuk menginap dulu semalam, biar besoknya fit melanjutkan perjalanan hingga ke Jogja. Namun, gue gemes ngebayangin jarak dari Batang ke Jogja itu udah deket banget. Jadi, dengan sopan gue menolak tawaran keluarga Seto dan memilih melanjutkan perjalanan gue malam itu juga, sambil diiringi doa mereka.

Pukul 11 malam, gue melanjutkan perjalanan dari Limpung ke Jogja. Awalnya gue pengin lewat Semarang, namun karena laporan GPS konon Semarang macet parah, gue milih jalur alternatif Limpung – Parakan – Temanggung – Magelang – Jogja. Di mana jalur itu lebih dekat 2 jam dibandingkan bila gue lewat Semarang. Tentunya jalur alternatif itu nggak semulus jalur Semarang-Jogja.


Jalur alternatif yang gue pilih ini adalah jalur membelah hutan. Di mana kanan-kiri jalanan cuma ada pepohonan, nggak ada lampu penerangan. Perkampungan juga sangat jarang ditemukan. Dan jalanan semacam itu, harus gue tempuh sepanjang 40 Kilometer jauhnya. Sepanjang jalan itu, gue berasa masuk ke masa lalu, di mana peradaban manusia belum secanggih sekarang. Gue khawatir, di ujung jalan, gue nemu Dinosaurus.

Gue nggak takut sama hal-hal mistis yang diceritakan oleh orang-orang yang sering lewat situ. Gue lebih takut sama begal yang bisa aja ngerampas motor dan segala barang yang gue bawa. Yang lebih menantang lagi, ternyata jalanan itu emang sepi banget. Gue naik motor sendirian, tanpa ada orang di belakang maupun depan gue. Sebalnya lagi, gue nggak bisa ngebut di jalanan itu karena jalanan sempit, serta kadang ada tikungan tajam serta jurang tanpa marka jalan. Dengan kondisi mata gue yang rabun senja ini, gue cuma bisa baca surat Al-baqarah di sepanjang perjalanan. Mungkin sesampainya Jogja, gue bakal khatam Al-qur’an.

Syukurlah, setelah kurang lebih 20 Kilometer gue berkendara, gue nemu seorang pengendara motor dengan plat nomor AB, yang artinya itu adalah kendaraan yang berasal dari area Jogja. Gue pun deketin pemotor itu, lalu minta izin buat bareng sampai Jogja. Kenapa gue minta izin? Soalnya kalo gue langsung ngikutin dia mulu, bisa-bisa dia ngira gue berniat jahat, dan dia bisa aja nendang motor gue dengan alasan membela diri. Gue nggak mau mengalami kecelakaan, dengan alasan “dikira begal”.

Sesampainya di Temanggung, kami ngisi bensin. Di sana, gue buka helm, dan uniknya, si pemotor yang bernama Sigit itu ternyata kenal gue. Dia ternyata suka nontonin video-video motor gue di Youtube. Dunia kecil sekali. Akhirnya kami pun barengan sampai ke Magelang, karena Sigit mudiknya cuma ke Magelang, nggak sampai Jogja.

Gue melanjutkan perjalanan sendirian dari Magelang ke Jogja. Syukurlah jalanan di sana sudah ramai orang mudik juga. Sehingga perjalanan gue lancar sampai rumah, tanpa kendala apa-apa.

Sesampainya di Jogja, gue buka masker untuk menghirup udara dini hari di sana. Banyak hal menyenangkan yang gue rasakan saat itu. Perasaan lega karena akhirnya gue sampai di Jogja, udara yang sejuk tanpa polusi layaknya ibu kota Jakarta, and the most important thing.. I’m home.

Hampir 3 hari perjalanan gue jalani, dan banyak hal yang gue dapetin. Mulai dari senangnya berkendara sepeda motor, senangnya ngebut di jalan antar provinsi, stressnya bensin tipis saat jauh dari SPBU, atau seramnya jalan sendirian di hutan belantara. Tapi ya itulah makna dari berpetualang. Merasakan banyak jenis sensasi, yang nggak bisa lo rasain di dalam rumah, atau di ruang kantor doang. Gue nggak bakal kapok untuk motoran ke mana-mana. Karena buat gue, motoran udah jadi bagian hidup gue. Karena setiap gue motoran, gue inget almarhum bokap yang dulu ngasih tau, jangan pernah takut jatuh. Nggak ada orang sukses tanpa terjatuh-jatuh lebih dahulu.

Itulah cerita gue sepanjang perjalanan mudik sendirian kemarin dari Jakarta ke Jogja naik motor. Semoga cerita ini bisa menginspirasi kalian yang pengin melakukan petualangan sederhana, namun besar dampaknya. Oiyah, kalo lo mau liat cerita ini versi video, gue udah bikin videonya juga. Check this out:



See you on another post! Ciao!
Read More 274