shitlicious

Rabu, Juli 20, 2016

Jangan Memilih Pasangan yang Pengangguran
"Aku akan meninggalkan segala urusan di dunia, untuk membahagiakanmu saja."

"Aku cuma ingin selalu bersamamu, bukan bersama siapa-siapa."

"Cuma kamu yang ada di hati dan pikiranku."

Mungkin kalimat itu terdengar sangat manis, hingga orang yang diberi kalimat seperti ini harus segera disuntik insulin. Tapi kalo sudut pandangnya kita ubah, dengan membayangkan bahwa apa yang dia katakan benar-benar dilakukan, that's creepy.

Pasangan yang rela meninggalkan segala urusannya, yang selalu ingin bersamamu, yang selalu memikirkanmu, bukanlah pasangan yang romantis. Justru itu adalah pasangan gila. Ujung-ujungnya dia akan jadi overly-attached lover, alias Posesif parah. Yang mungkin malah akan membuat kita risih. Memiliki pasangan yang perhatian, selalu ada saat dibutuhkan, selalu peduli saat kita dalam masalah, memang menyenangkan, namun apapun yang berlebihan, akan menghilangkan kesenangan.

Gue abis nemu sesuatu yang hits akhir-akhir ini. Buat yang sering mantengin IG maupun Youtube, pasti nggak bakal asing sama yang namanya Awkarin. Seorang cewek yang mengumbar percintaannya di Media Sosial. Dia punya gimmick yang unik sama pacarnya, seperti cupang, cium kecil, cium sedang, dan cium besar. (Oh God.. Why did I watch it?!) Buat sebagian remaja, cara pacaran Awkarin dianggap sweet. Namun bagi orang dewasa yang udah bisa mikirin realita, mereka ini menjalani hubungan secara lebay. Tapi, pola pikir remaja dan orang dewasa emang nggak bakal bisa sejalan. Jadi, ya biarin aja mereka menikmati moment sweet mereka itu. Lima tahun dari sekarang, kalo mereka inget atau liat videonya, paling juga muntah tai kuda.


Yang mau gue highlight adalah, kemarin gue nonton video Awkarin yang curhat karena abis diputusin pacarnya, Gaga. Di video itu, dia menunjukkan bahwa dia udah ngasih segalanya ke Gaga, bahkan dia rela meninggalkan cita-citanya agar selalu bisa menemani Gaga. God.. That's a sweet thing (if it's a movie, and if Gaga is paralyzed).

Tapi, buat gue, mungkin keputusan Karin itu yang membuat Gaga ingin hengkang dari dia. Kenapa? Di usia Gaga yang masih muda, dia masih ingin bergaul dan nongkrong di sana-sini. Dan kegiatan semacam itu nggak bakalan nyaman dijalani kalo si pacar selalu mengikuti. Manusia itu makhluk sosial, manusia memang tak bisa hidup sendiri, namun manusia juga tak bisa selalu berduaan ke mana-mana. Karena kadang, manusia juga butuh me-time. Hanya untuk sekedar menikmati, bebasnya hidup sendiri.

Jadi, di postingan ini, gue mau ngejelasin bahwa kita sebaiknya tidak memilih pasangan pengangguran. Here's why:

Dia Sering Kesepian
Pasangan yang nganggur, akan sering kesepian. Efeknya, dia bakal sering ngehubungin lo, ngajak ketemu lo, dan sering ngajakin ngobrol elo. Untuk orang yang sama-sama sedang dimabuk cinta, hal itu akan terasa menyenangkan. Namun saat pikiran sudah terbagi fokusnya dengan pekerjaan, pasangan yang selalu ngehubungin, bisa aja malah terasa mengganggu. Bayangkan, lo lagi meeting, lo ditelponin mulu? Bayangkan, lo lagi kerja, si dia ngajak chat melulu? Produktivitas lo bakal jeblok. Kerjaan lo bakal kacau.

Sedangkan kalo lo nggak ngerespon dia saat lo lagi sibuk kerja, dia bakal ngerasa hidupnya hampa. Dia bisa ngambek ke elo juga. Soalnya dia juga berharap lo selalu ada buat dia.

Dia Selalu Mikirin Lo
Karena dia nggak punya kesibukan lain, dia bakal selalu mikirin pasangannya. Kalo pasangan nggak bisa dihubungi karena sibuk, dia akan mencari-cari informasi sendiri. Dia bakal kepoin sosmed lo, dia bakal merhatiin apapun kegiatan lo, dan dia akan terlalu mikirin hal-hal kecil yang tidak dia suka dari hubungan lo dan dia. Kenapa? Karena dia punya banyak waktu untuk hal itu. Ujung-ujungnya, masalah-masalah kecil itu bisa jadi topik buat ngajak berantem elo.

Lo Bakal Cepet Bosen Sama dia
Futsal, ditemenin. Jalan ke mall, ditemenin. Jumatan, ditemenin. Hampir setiap hari dia selalu ada di samping lo, bukanlah hal yang bakal bikin lo bahagia. Ada kalanya kita juga ingin bergaul dengan teman-teman kita, ngomongin apa aja, tanpa ada si dia. Iya, privasi juga masih berlaku bahkan untuk pasangan yang sudah menikah.

Dengan frekuensi bertemu sesering itu (karena dia selalu bisa nemenin lo), nggak menutup kemungkinan lo bakal cepet bosen sama dia. Kenapa? Karena lo nggak pernah ngerasa kangen sama dia. Karena lo nggak pernah semenitpun kehilangan dia, sehingga lo nggak nyadar lagi bahwa dia berharga. Dengan frekuensi bertemu sesering itu, nggak menutup kemungkinan lo yang bakal risih karena dia selalu nempel melulu.

Itulah kenapa, kalo lo tipe orang yang sibuk (punya kerjaan atau kegiatan rutin), carilah pasangan yang sibuk juga. Soalnya, pasangan yang sama-sama sibuk, cenderung tak akan mempermasalahkan masalah-masalah kecil, karena pikirannya nggak cuma fokus ke hubungan, melainkan kepada kerjaan juga. Pasangan yang sama-sama sibuk, akan menghargai setiap moment mereka bisa bertemu, karena moment-moment itu langka.

Dengan kesibukan masing-masing, tentunya untuk menemukan jadwal yang pas buat ketemu itu nggak mudah. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali. Dengan frekuensi ketemu sejarang itu, maka akan tercipta rasa rindu, sehingga muncul kebahagiaan setiap kali bisa ketemu. Yep.. That's called quality-time! Beda sama orang yang tiap hari ketemu, ya paling ngerasa gitu-gitu melulu. Jadinya, setiap pertemuan, tak lagi ada keistimewaan. Inget.. Kualitas dan kuantitas itu susah untuk selalu berjalan secara beriringan. Bila kuantitasnya dominan, kualitasnya pasti terkorbankan. Begitu pula sebaliknya.

Kalo lo yang nganggur, terus pacar lo nganggur juga, ya sono cari kerja. Apa sih bangganya ngebahagiain anak orang dengan subsidi dari orang tua? Kalo lo masih pelajar, ya pacaran sewajarnya. Nggak perlu ikut-ikutan Awkarin lah. Romantis itu nggak selalu tentang ciuman dan cupang-cupangan. Romantisme itu adalah lo berdua MERASA BAHAGIA, bukan TERLIHAT BAHAGIA.

So, in the end of the post, gue cuma mau nyaranin. Carilah pasangan yang bisa membahagiakan dirinya sendiri juga. Jangan sampai punya pasangan yang menggantungkan kebahagiaannya di diri lo. Jangan sampai dia menjadikan lo sebagai pusat dunia. Karena kalo sampe itu terjadi, lo bakal repot sendiri. Bahkan misalpun kelak lo nggak kuat untuk berhubungan lagi, dia bisa aja mikir buat bunuh diri. Karena dia merasa hidupnya tak ada tujuan lagi. Makanya, cari pasangan yang sama-sama sibuk mengejar cita-cita. Jadikan cinta sebagai motivasi untuk saling mendukung pasangan. Jangan cuma jadi orang yang melengkapi hidup pasangan. Berikan hidup lo sendiri sebuah arti. Jangan hanya menumpang kebahagiaan di kehidupan orang lain.

Lo pernah pacaran sama pengangguran? Ceritain di kolom komen dong.
Read More 52
Selasa, Juli 12, 2016

Cara Main Pokemon Go Buat Pemula Banget
Jadi, sejak minggu kemarin, gue heran ngeliat banyak orang-orang udah tua bangka pada megangin hape, jalan kaki ke trotoar, ngumpul di masjid, dan tiba-tiba berenti ngubek-ngubek tempat sampah sambil liatin layar hape. Gue penasaran dong, mereka lagi ngapain, gue kira mereka sudah terkena hipnotis yang dipancarkan oleh sinyal hape yang disebarkan oleh Megatron. Ternyata.. Mereka main game Pokemon Go.

Denger kata Pokemon, pikiran gue langsung melanglang buana, bernostalgia mengingat-ingat di zaman gue SD, gue suka mainin game ini di Gameboy Advance yang disewain sama mas-mas di sekolah gue. Game yang bikin uang jajan gue ludes dan bikin lambung gue terserang maag ini emang seru gila. Gamenya simpel, intinya gue jadi seorang bocah yang punya keahlian melatih monster-monster kecil yang gue temuin di alam bebas. Abis itu, gue adu tuh monster dengan monster lain.


Nah, game Pokemon ini direproduce berpuluh-puluh kali dalam berbagai judul. Dan yang terakhir gue mainin adalah game Pokemon X & Y di konsol Nintendo 3DS. Gameplaynya sama persis, di mana gue harus berpetualang dari kota ke kota mencari monster-monster mini buat gue piara, latih, dan adu. Seru parah.


Setahun kemudian, gue mendengar desas-desus bahwa game Pokemon yang legendaris itu bakal rilis di smartphone. Awalnya gue skeptis, karena gue nggak gitu suka main game di touch screen. You know, nothing is better than joystick for gaming. Tapi ternyata, apa yang gue duga salah total! Game Pokemon Go yang rilis di Android dan iOS ini interfacenya beda total dari yang gue duga. Gue nggak lagi mengendalikan seorang bocah pelatih monster, tapi, gue jadi bocah itu sendiri di dunia nyata! Iya! Pokemon Go, bukanlah game untuk orang-orang yang suka ngegame sambil duduk atau tiduran di sofa, tapi buat lo yang mau pergi keluar rumah dan melihat dunia!


Nih game menggunakan teknologi GPS di hape lo, buat nunjukin maps, menggunakan kamera hape lo buat menggabungkan animasi Monster yang lo tangkap dan lokasi lo nemu monsternya, serta menggunakan internet untuk menyambungkan ke servernya.


Oke.. Itu aja dulu perkenalan buat lo yang penasaran sama game ngehits ini. Kalo lo mau kenal lebih jauh mengenai Pokemon, gue rekomendasiin banget lo buat main game Pokemon di GBA atau Nintendo 2DS, atau 3DS. Dari situ bakal ketauan lo demen game ini atau nggak, dan lo bakal ngerti sejarahnya kenapa game ini segitu hebohnya bagi anak 90'an yang sudah mulai renta sekarang.

Sekarang gue mau ngejelasin tentang panduan game Pokemon Go bagi pemula banget. Jadi, yang udah jago, mending gak usah baca, atau syukur-syukur mau nambahin tips & trick di kolom komen, monggo.

Tutorial ini bakal gue bagi jadi 3 bagian:

1. Installing
2. Gameplay
3. Features

Yuk, kita mulai!

Installing
FYI, Pokemon Go untuk saat ini (Juli 2016), masih belum rilis di Indonesia. Baru rilis di US, Australia, New Zealand, dan beberapa negara lain akan menyusul. Oleh karena itu, kalo lo nyari Pokemon Go di Google Playstore maupun Appstore ampe jenggot lo gimbal, juga nggak bakal nemu. 

Cara pertama adalah dengan membuat akun Apple ID atau Google Playstore US, di mana kadang itu ribet. Dan gue terlalu males jelasin caranya di sini, googling aja.

Jadinya, gue bakal ngasih cara lain untuk install Pokemon Go di hape lo yang lebih praktis dibanding bikin akun-akunan. Tapi, gue nggak bilang ini cara yang aman, karena cara yang paling aman adalah menunggu Pokemon Go rilis secara resmi di Indonesia.

Gue kasih tau dulu resikonya kalo lo donlot aplikasi di luar Playstore ataupun Appstore. Aplikasinya bisa aja mengandung spyware ataupun malware. Jadi, kalo lo insecure, mending lo nunggu versi resminya. Tapi kalo lo udah nggak sabar buat ikut seru-seruan main, silakan ikuti step berikut ini. Ingat! Segala resiko dalam menginstall aplikasi ini, ditanggung sendiri, ya!

Yuk ah, kita mulai..

Untuk menginstall aplikasi Pokemon Go di iOS maupun di Android, silakan download dulu aplikasi Hipstore di:
- iOS (buka pake safari, bukan browser lain)
Khusus pengguna iOS, karena masalah security iOS sangat rapat, ada step lanjutan yang harus lo jalanin setelah app Hipstore terinstall. Yaitu, buka settings -> General -> Device Management.



Lalu lo klik dah certificatenya Hipstore, dan trust.


Kalo udah keinstall, silakan cari aplikasi Pokemon Go dari Hipstore market. Lalu install deh! Untuk pengguna iPhone, silakan "Trust" developer Pokemon Go dari settings -> General -> Device Management, seperti pas lo install aplikasi Hipstore tadi.


Setelah selesai install, buka deh aplikasinya! Voila! Aplikasinya pun udah bisa dijalankan! Gampang to~

Gameplay
Cara main nih game kalo dari awal, lo harus login dulu pake Google account, alias email lo yang gmail. Bukan buat apa-apa, tapi buat nge-save profile dan progress game lo di cloud. Abis itu, lo bakal diajak ngobrol ama profesor yang ngenalin lo ke Pokemon. Tapi sebelumnya, lo disuruh dandan. Yak.. Tinggal pilih gaya avatar Pokemon Trainer yang sesuai selera lo.


Setelah itu, lo bakal diajarin buat nangkap monster. Biasanya bakal nongol monster di sekitar lo, dan lo cuma tinggal milih salah satu monster yang nongol itu untuk ditangkap. 


Cara nangkapnya gimana? Tinggal "lempar" Pokeball (bola merah putih) dari ujung bawah layar hape lo ke arah monsternya. Scroll aja dengan cepat bolanya ke arah monsternnya. Untuk akurasi yang oke, tekan tahan dulu bolanya, tunggu sampai lingkaran hijau di monsternya mengecil, baru deh dilempar bolanya. Nah, itu basic dari cara menangkap Pokemon.

Pokemonnya buat apa, Litt?

Yang jelas, bukan buat dijadiin hewan qurban. Tuh monster bakal kita piara, kita gedein, sampai berevolusi jadi bentuk paling sangar. Endingnya? Ya bakal kita adu. Di mana? Di Gym. Ntar gue jelasin lagi di bagian features.


Abis lo nangkep Pokemon pertama lo, lo bakal disuruh profesor buat mencari PokeStop. PokeStop adalah lokasi yang ditandai dengan kubus biru di map lo. Mapnya bisa lo liat di layar hape. Cara mendekati PokeStop-nya gimana? Ya lo harus jalan ke sana. IYA, JALAN KAKI. Udah dibilang, nih game nggak bisa lo mainin sambil tiduran di kasur, atau di pangkuan pacar. Lo harus keliling kampung, komplek, ataupun kota.


Setelah sampai di PokeStop, lo nggak harus duduk di tempat yang ada di PokeStop itu sih, lo bisa berdiri di deket-deket situ aja, yang penting jaraknya nggak lebih dari 5 meter. Nah, di situ, silakan liat layar hape, terus lo scroll lingkaran PokeStop itu ke samping dengan cepat, logonya bakal muter. Ntar dari situ bakal nongol beberapa item bonus seperti PokeBall, Potion, dll. PokeStop bisa lo scroll setiap +/- 5 menit sekali. Jadi, baiknya kalo lo abis ngambil bonus di satu PokeStop, mending lo keliling cari PokeStop lain di area situ buat dapetin bonus lain dulu sembari nunggu PokeStop yang sebelumnya pulih kembali.


Di sepanjang perjalanan lo nyari PokeStop lain, lo bakal nemuin monster-monster yang bisa lo tangkep-tangkepin tuh. Dan monster-monster di berbagai wilayah bakal beda-beda jenisnya. Misal wilayah yang banyak pepohonan, monsternya bakal berbentuk ulat, ataupun burung. Wilayah yang dekat sungai, monsternya bakal berbentuk ikan, dsb.


Intinya, nih game mengharuskan lo nyari monster sebanyak-banyaknya, biar level lo naik terus. Jadi, kalo nemu monster di jalan, tangkep aja dulu. Kalo nemu monster yang jenisnya sama dengan yang pernah ditangkep? Ya nggak apa-apa, itu ntar berguna buat evolve. Ntar gue jelasin lagi.

Untuk sekarang, yang penting lo coba mainin aja dulu gamenya dengan cara di atas. Dan gue bakal ngejelasin beberapa fitur dasar yang perlu lo tau biar nggak bingung pas main.

Features
Di sesi ini, gue bakal ngejelasin beberapa fitur yang ada di game ini, biar lo paham fungsi dari setiap item yang ada.

Pokeball:


Bola berwarna merah, hitam, dan putih. Gunanya buat nangkepin Pokemon yang lo temuin di jalan. Kalo abis, lo bisa dapet gratis di PokeStop, atau beli pake Gold Coin.

PokeStop:


Seperti yang gue jelasin di atas, ini adalah tempat yang ditandai dengan simbol kubus berwarna biru di map lo. Gunanya untuk mencari bonusan Pokeball, potion, dll. Selain itu, bisa juga buat mengaktifkan Lure Module.


Gym:


Ini adalah tempat di mana lo bisa ngadu maupun ngelatih Pokemon koleksi lo. Biasanya, Gym ini dikuasai oleh tim yang punya Pokemon dengan CP (Combat Power) tinggi. Tapi kalo lo bisa ngalahin Pokemon mereka, Gym ini bisa lo kuasai juga. Yah, gym ini semacam kayak singgasana yang diperebutkan gitu lah. Untuk bisa mengakses dan bertarung di Gym, minimal lo harus ada di level 5.

Lure Module:


Gunanya untuk memancing para Pokemon liar di sekitar daerah situ buat mendekat ke PokeStop. Dengan begitu, Pokemon-pokemon bakal berdatangan ke PokeStop, terus lo bisa tangkep-tangkepin deh. Kalo pake Lure Module, semua pemain yang lagi nongkrong di deket PokeStop, bakal bisa ngeliat monster-monster yang datang juga, jadinya mereka juga bisa nangkepin monster-monster itu. Lure Module bertahan selama 30 menit di PokeStop.

Incence:


Fungsinya mirip sama Lure Module, tapi ini semacam parfum yang lo semprotin di tubuh lo sendiri. Jadi, Pokemon-pokemonnya bakal mendekati lo, bukan mendekati PokeStop lagi. Jadi, ke mana pun lo pergi, selama Incence ini aktif, Monster-monster liar bakal mendekati lo, dan bisa lo tangkep. Selain itu, kalo lo pake Incence, pemain lain yang di deket lo, nggak bakal kena efek apa-apa. Mereka nggak bakal ngelihat monster yang datang juga. Incence ini, sekali diaktifkan, bakal bertahan selama 30 menit.

Potion:

Ini semacam ramuan yang gunanya buat ngobatin Pokemon lo yang cidera setelah berantem. 


Revive:

Kalo Pokemon lo pingsan karena KO dibantai lawan, nih ramuan yang bisa bikin dia siuman.

Razz Berry:
Pernah nyoba nangkep monster yang CP tinggi, udah masuk Pokeball tapi bisa kabur lagi? Nah, sebelum lo lempar PokeBall, lempar dulu Razz Berry, biar monsternya sibuk makan Razz Berry, baru deh lo tangkep pake PokeBall. Dijamin nggak ngabur lagi.

Eggs:
Inih adalah telor Pokemon yang bisa menetas. Isinya random, kadang Pokemon yang langka, kadang Pokemon yang biasa aja.

Egg Incubator:
Ini adalah alat buat menetaskan telor Pokemon lo. Caranya simpel, klik telor yang mau lo inkubasi, terus klik gambar tabung inkubator. Telor akan menetas sesuai dari keterangan yang ada di bawah logo telurnya. Misal keterangannya 5.0 KM, maka telur itu akan menetas setelah lo berjalan 5 KM jauhnya sejak si telur masuk inkubator.

Gold Coin:
Intinya ini duit di dunia Pokemon. Gunanya buat beli Razz Berry, Egg Incubator, Pokeball, Insence, Lure Modul, dll. Beli Gold Coin kalo di android bisa pake pulsa, disetting dari payment setting goggle playstore. Kalo di iOS, ya harus pakai kartu kredit. Tapi, nih game bukan tipe pay to win kok. Selama lo rajin keliling nangkepin monster dan mampir ke PokeStop, semua items yang lo butuhin bakal terpenuhi tanpa perlu beli Gold Coin.

Q & A
Ini game bisa diinstall di hape apa aja?
Untuk android, minimal OS Kitkat ke atas. Untuk iOS, kayaknya iphone 5 ke atas lancar jaya.

Kok di daerahku nggak ada PokeStop dan Gym kak?
Nih developer game Pokemon Go adalah developer dari aplikasi INGRESS, yang dulu fungsinya adalah nge-tag lokasi-lokasi gitu. Nah, Pokemon Go menggunakan portal-portal checkpoint INGRESS untuk penempatan PokeStop dan Gym. Kalo daerah lo nggak pernah ada yang main INGRESS, ya PokeStop dan Gym-nya juga nggak ada. Tapi, monsternya tetep bakal ada di sekitar lo kok. Biasanya, untuk daerah-daerah terpencil emang susah nyari PokeStop maupun Gym.

Kok di Hapeku nggak bisa pake fitur AR kak?
Biasanya itu karena hape lo nggak support gyro-nya. So, matiin aja fitur AR-nya. Malah gampang buat nangkepin monsternya. Nggak goyang-goyang. Hehe..

GPS Signal Not Found. What the hell?
Sering kejadian kayak gini gara-gara lo pernah pake aplikasi Fake GPS, yang mengharuskan lo untuk Allow Mock Location. So, harus lo balikin ke settingan standar. Karena game Pokemon Go, nggak bisa dicurangin pake Fake GPS. Kalo udah lo balikin ke settingan standar, dan masih GPS Not Found, mungkin koneksi di daerah lo emang terkutuk.

Apa itu Evolve?
Evolve adalah sebuah proses di mana monster lo bakal menjadi lebih sangar, dan lebih kuat. Biasanya untuk melakukan Evolve, lo perlu item bernama candy. Candy didapat dari mana? Dari monster-monster yang lo transfer ke profesor. Setiap satu monster yang lo transfer ke profesor, bakal ditukar sama satu candy.

Cara Transfer Monster ke Profesor gimana, Kak?
Klik menu utama di bagian bawah tengah layar yang berlogo Pokeball, terus klik menu Pokemon, lalu pilih monster mana yang mau lo transfer, terus scroll ke bawah mentok, nanti ada tombol Transfer. Klik deh!

So.. That's all I can say untuk perkenalan game ini. Semoga bisa membantu kalian untuk lebih mengerti dalam memainkan game Pokemon Go. Nih game emang dinanti-nanti oleh para pecinta Pokemon jadul. Buat adik-adik yang nyoba main, stay safe ya. Jangan motoran sambil megang hape, jangan masuk pekarangan rumah orang tanpa izin, dan jangan ngebobol kartu kredit ortu buat beli Gold Coin. 

Yap.. Sampe sini dulu postingan gue kali ini. Udah capek 2 jam ngetik beginian. Sudah waktunya jari gue direbonding. Besok-besok kalo ada yang perlu ditambahin, bakal gue update nih postingan. Dan kalo ada pertanyaan, silakan tulis di kolom komentar, ya! Ciao!


Read More 55
Jumat, Juli 01, 2016

Gue Pernah Dipukul Guru
"MAU JADI APA KALIAN?!" Teriak Pak Slamet, guru berbadan tegap dan suara menggelegar itu kepada kami, 6 siswa STM yang ketauan judi kartu di WC sekolah.

Kami semua terdiam, badan bergetar, keringat menetes-netes. Pak Slamet kembali berteriak, "TARUH TANGAN KALIAN DI MEJA SAYA! SEKARANG!"

Kami hanya bisa mengikuti perintah beliau. Kami takut, kalo kami nggak nurut, Pak Slamet berubah jadi Megatron. Kami pun meletakkan tangan kami di meja guru kelas secara sejajar dengan perasaan was-was. Semua anak-anak di kelas baca Surat Yasin secara berjamaah.

Pak Slamet kemudian mengambil sebuah penggaris kayu sepanjang satu meter yang biasa dipakai untuk mengajar. Tak memberi aba-aba, beliau langsung memukulkan kayu itu ke tangan kami yang tergeletak di meja itu. Kami berteriak kesakitan dan memohon ampun. Singkat cerita, pulang sekolah, gue dan 5 teman lain kesulitan untuk naik sepeda motor karena jari tangan kami memar semua.


Kejadian seperti di atas, bukanlah hal yang asing lagi buat gue. Hukuman fisik seperti lari keliling lapangan, push up, dan dicukur pake pisau sama guru ampe pitak-pitak kayak anjing jamuran pun udah pernah gue alamin. Memang, gue ada sebalnya juga kalo abis kena hukum. Pengin rasanya ngebales kelakuan guru itu. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, gue juga nggak bakal dihukum kalo gue nggak salah. Ya kali, gue lagi enak-enak boker di toilet sekolah, tau-tau disuruh push-up, ntar berceceran dong.

Zaman muda, saat darah masih bergelora, gue kadang pengin ngadu ke orang tua. Tapi jangankan nyamperin guru yang ngehukum gue, ortu gue aja nggak pernah ngambilin rapor gue. Jadi, gue pikir keputusan itu nggak bakal berpengaruh.

Nah, abis kejadian jari digebuk pake mistar kayu itu, Supri, salah satu temen gue judi, ngaduin ke ortunya. Dia berharap agar ortunya datang ke sekolah, lalu memarahi guru yang melukainya. Gue tau, karena waktu dia ngaduin ke ortunya, persis pasca kejadian, gue lagi mampir di rumahnya.

"Loh? Tanganmu ngopo?" Tanya Bokap Supri.

"Anu Pak.. Tadi digebuk pak guru, kejam banget dia Pak.. Suka semena-mena sama murid." Jawab Supri provokatif.

Bokap Supri mengecek tangan anaknya, "Wah?! Ampe biru gini.. Digebuk atau diinjak?"

"Digebuk pake mistar kayu, Pak.. Kejam banget to?" Supri menjawab dengan nada memelas.

"Lha kok bisa? Kamu salah apa?" Bokap Supri kaget mendengar anaknya dianiaya.

"Nganu Pak.. Ketauan judi di sekolah."

"...."

Bokap Supri menghela nafas sebentar, lalu, "PLAK!"

Terdengar suara tamparan nan perih yang mendarat di pipi Supri. "LHA KOK TADI CUMA DIGEBUK PAKE MISTAR KAYU? KAMU DIGILES PAKE MOBIL JUGA BAPAK TERIMA!"

Bokap Supri mendadak jadi bengis. Dia berdiri, dan kembali memukuli Supri. "BIKIN MALU! UDAH BISA NYARI DUIT SENDIRI KAMU?! DUIT YANG KAMU MAKAN TIAP HARI ITU MASIH HASIL KERINGATKU! SEMENA-MENA!" "PLAK! PLAK! PLAK!"

Suasana semakin awkward, gue sembunyiin tangan gue yang juga membiru, lalu buru-buru pamit pulang.

Iya, itulah cerminan pendidikan yang gue dapat waktu itu. Guru killer, selalu gue temui sejak zaman SD, SMP, STM, dan bahkan, kuliah pun gue ketemu dosen killer. Tapi apakah guru-guru semacam itu membuat gue membenci figur pendidik? Tidak sama sekali. Bahkan sampe sekarang gue masih respect sama mereka berkat segala ilmu yang diberikannya.

Momen itu gue sadari waktu gue perpisahan zaman STM. Waktu itu sudah waktunya kami bersalaman dengan para guru. Pak Slamet memeluk gue, sambil... nangis. Iya, dia nangis sambil meminta maaf atas segala hukuman yang pernah dia lakukan kepada gue. Waktu itu gue ikut nangis, dan minta maaf karena sudah membuat beliau terpaksa menyakiti gue gara-gara kenakalan gue. Tangannya yang harusnya digunakan untuk mendidik, jadi digunakan untuk menghajar gara-gara kenakalan gue yang nggak wajar. Gue yakin, setelah ngehukum gue, sebagai pendidik, beliau juga guilty karena profesinya jadi ternodai. Itulah salah satu wujud dari cinta, diikuti penyesalan setiap kali orang yang dicintai tersakiti.

Sejak saat itu, gue jadi nyadar bahwa kita sebenarnya nggak takut kepada guru killer. Kita hanya takut kepada ketidakdisiplinan diri kita sendiri di sekolah. Kalo kita tidak melanggar peraturan apapun, ya kita nggak akan dihukum. Guru nggak akan punya alasan untuk menghukum kita. Segalak apapun dia.

Ditambah lagi, saat semester akhir kuliah gue, karena gue kuliah di FKIP, gue ada PPL. Di mana, gue harus ngajar di sebuah SMK selama beberapa bulan. Di SMK itu, murid gue bandel-bandel. Bahkan, gue pernah ngalamin pas pulang ngajar, motor gue digembosin murid cuma gara-gara dia dapet nilai jelek pas test. Gue jadi ngerti gimana rasanya jadi guru yang punya murid bengal.

Jadi, dari pengalaman masa lalu, buat gue, hukuman fisik (cubit, sit-up, push-up) di sekolah itu masih wajar dilakukan oleh guru, untuk anak yang sudah mulai remaja. Itu pun kalo si anak keterlaluan kelakuannya. Untuk bocah yang masih TK atau SD, kalo bisa cukup teguran halus secara lisan saja, biar gak trauma atau malah takut bersekolah. Hukuman fisik bagi remaja, menurut gue boleh, asal tidak berlebihan, dan tidak memakai kata-kata kotor sebagai makian. Karena luka fisik bisa sembuh sendiri, tapi luka hati kadang kebawa mati. Gue tau, ada juga anak yang tumbuh bersama orang tua, dan tak pernah merasakan hukuman fisik dari ortunya. Jadi, ketika bertemu dengan guru yang memberi hukuman fisik, mereka bisa trauma.

Tapi, sepengalaman gue, gue BELUM PERNAH nemu guru yang ngegampar, apabila kesalahan yang dilakukan murid tidak fatal. Kalo cuma karena lupa ngerjain PR, biasanya ya hukumannya cuma disuruh lari keliling lapangan. Biasanya, murid yang digampar itu ya level kurang ajarnya udah nggak wajar. 

Untuk orang tua, sudah sepantasnya saat menitipkan anak di sekolah, artinya sudah memindahkan tugas mendidik anak selama di sekolah kepada guru. Apabila tidak mau gurunya mendidik anaknya dengan caranya, ya sekolahkan secara private saja. Di mana selalu bisa diawasi cara mendidiknya. Atau, setidaknya ciptakan perjanjian dulu antara ortu dan guru, hal-hal apa saja yang tak boleh dilakukan kepada si anak. Orang tua berhak protes kepada sekolah, apabila hukuman yang diterima si murid sudah tidak wajar. Misal, digampar sampe ompong, atau dipukul hingga hidung patah, nah, itu sudah masuk pasal penganiayaan. 

Jadi, buat gue kalo cubitan, sentilan, atau lari di lapangan, itu hukuman yang masih wajar dilakukan guru kepada murid, di zaman gue. Kadang, anak-anak harus mengerti bahwa hidup itu keras. Jadi, mendidik jangan selalu lembek. Baru dicubit aja udah ngadu orang tua, apa kabar nanti kalo ditinggalkan kekasih saat sedang cinta-cintanya? Tapi guru juga jangan lupa, kalo berani ngasih punishment, mereka juga harus bisa ngasih reward kepada murid-murid yang baik. Sehingga hal itu bisa jadi motivasi, bukan rajin belajar cuma karena ditakut-takuti. Mendidik memang tak harus keras, tapi harus tegas. Tegas dalam menghadapi kesalahan murid, dan juga tegas menghargai usaha keras murid.

Tapi semua yang gue sebutin di atas kan "buat gue", atau mungkin buat anak-anak generasi gue, di mana gue lahir, tumbuh di zaman yang berbeda. Cara bergaul gue dulu dan anak-anak sekarang udah beda. Jadinya, kualitas mental dan psikologis pun beda. Untuk anak-anak zaman sekarang, akan lebih baik lagi kalo mereka mendapatkan sistem pendidikan yang tanpa kekerasan. Misal, memberlakukan sistem poin di sekolah. Jadi, setiap pelanggaran yang dilakukan murid, akan berbuah poin. Besarnya poin juga diatur sesuai dengan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan. Di mana, poin-poin itu berpengaruh dalam proses kenaikan kelas si murid. Hal seperti itu wajib disosialisasikan ke ortu murid saat daftar ulang. Sehingga ortu juga bisa ikut mengawasi sistem ini dan mengingatkan anak-anak mereka. Di zaman ini, tindakan kekerasan fisik sudah tidak relevan. Gue gak kebayang aja, kalo kelak anak-anak yang gue sayang, jaga, dan besarkan, disakiti orang saat mereka jauh dari orang tuanya. It's sad.

Bagaimanapun juga, menghasilkan generasi baru yang lebih baik, adalah kewajiban bagi ortu maupun guru. Jadi, lebih baik guru dan ortu selalu bekerjasama. Tidak asal menyerahkan tanggungjawabnya. 

Oke.. This is the end of this post. Gue cuma mau berbagi opini gue tentang guru killer yang menghukum murid. Semoga bisa menambah sudut pandang baru dalam melihat masalah ini. Thanks for reading!

Oiyah.. Lo pernah dihukum guru di sekolah? Dihukum apa? Jangan lupa share ceritanya di kolom komen, ya! :D
Read More 69
Senin, Juni 20, 2016

Youtube Lebih dari TV?
As a man who has been living long enough to see the evolution of social life.. Halah... Gak perlu pake bahasa Inggris. Gak nambah ganteng juga.

Jadi gini, kemarin gue kaget liat keponakan, masih TK, tiba-tiba nyeletuk, "I don't give a f*ck, Bi*ch!", sebagai seorang Om yang budiman, gue shock mendengar kalimat itu keluar dari bibir bocah yang makan bubur aja kadang ngunyahnya belum halus. Gue pun nasihatin dia,

"Dek.. Gak boleh ngomong gitu. Gak baik." Ucap gue sambil mengelus kepalanya pake tongkat baseball.

Lalu dia melompat-lompat sambil menjawab, "I d*nt give a f*ck, bi*ch! I don't-I don't give a f*ck! Boom!"



Sesaat kemudian tongkat baseball yang tadi gue pegang retak, dan kepala tuh bocah keluar darah.

Becanda ding...

Yep.. Seperti yang gue pelajari, gak ada anak nakal, yang ada adalah anak yang meniru. Begitu juga dengan keponakan gue itu. Dia tidak berniat untuk berbuat hal yang tidak baik di mata kita. Dia hanya meniru hal-hal menarik dan keren di matanya. Dan benar saja, ternyata dia meniru apa yang sering dia lihat di Youtube. Gue yakin, sebagian besar dari kalian ngerti video macam apa yang ditonton dan ditiru sama keponakan gue itu.

Gue jadi nyadar, dulu zaman muda, gue suka bikin tulisan-tulisan yang cenderung joke-nya jorok. Sering juga ditegur sama sohib gue Benakribo. Tapi waktu itu gak gue gubris. Karena gue belum liat efek nyatanya. Melihat apa yang terjadi ama keponakan gue itu, gue jadi nyadar, ternyata karya seorang idola bisa sebegitu mempengaruhinya.

Memang, zaman sudah berbeda, anak-anak sekarang banyak yang tidak lagi mengikuti anime, lagu anak, maupun sinetron lagi. Banyak yang menghabiskan waktu dan kuotanya untuk nonton Youtube. Sehingga, sifat anak-anak zaman sekarang jelas berbeda dengan sifat anak-anak generasi sebelumnya.

Bagi anak 90an, mereka bangga dengan masa kecilnya yang indah, penuh dengan lagu anak-anak dan acara anak-anak di TV. Bagi generasi 2000an, sudah banyak dipergunjingkan karena sifat mereka yang mengikuti sinetron-sinetron dan acara musik yang hostnya ngondek dan konon "tidak mendidik".


Hingga akhirnya, di 2010 ke atas, beberapa orang mulai melakukan gerakan perlawanan atas acara-acara TV yang kurang mendidik dengan cara membuat konten sendiri via Youtube, yang konon lebih mendidik.

Pada awalnya, Youtube dan Vimeo memang sebuah media yang sangat menghibur dan mendidik di mata gue sebagai user biasa. Namun dengan naiknya popularitas Youtube karena mulai lancarnya internet Indonesia dan Smartphone yang bisa mengakses Youtube semakin terjangkau harganya, akhirnya Youtube menjadi pisau bermata dua.

Youtube bisa menjadi platform yang penuh ilmu, namun juga bisa menjadi platform yang penuh dengan penyakit. Tergantung konten macam apa yang sering dinikmati oleh penontonnya. Dari video-video kucing giting, sampe tutorial menciptakan bom pun ada di sana. Nah, kalo yang nonton orang yang sudah dewasa pola pikirnya, dia kemungkinan besar bisa menyaring isinya. Kalo yang nonton anak-anak? Mereka tidak akan bisa menyaring apa yang mereka lihat, tanpa peran orang tua.

Youtube lebih dari TV?

Makes sense... Tapi hal itu berlaku untuk segmen A & B, dan mungkin sebagian segmen C+. Di mana segmen-segmen itu cukup mampu untuk memiliki gadget yang support Youtube & beli kuota internet yang cukup gendut dan biasanya tinggal di daerah perkotaan atau suburban yang jaringan internetnya nggak mengenaskan. Tapi bagi sebagian segmen C & D, terutama di daerah-daerah yang jaringan internetnya masih GPRS, mereka masih menikmati acara-acara TV.

Dan inget, manula, ibu-ibu, bapak-bapak, masih lebih suka nonton Tukang Bubur Masuk ISIS dibanding nonton web-series. Jadi, kalo dibilang Youtube lebih dari TV sih, gue pikir belum. Segmen penonton TV masih lebih luas dibanding pengguna Youtube di Indonesia, mengingat jumlah rakyat miskin di negeri ini masih luar biasa. Yah, memang tak menutup kemungkinan, Penonton Youtube semakin bertambah, dan penikmat TV semakin berkurang di masa depan.

Menurut survey yang pernah gue baca, tahun 2013, Indonesia termasuk dalam sekitar 20% pengguna Youtube dunia. Gak heran, kita emang udah masuk ke taraf kecanduan internet. Berbagai sosial media kita coba. Gak percaya? Gue yakin ada yang punya ID Path, Facebook, Twitter, IG, Line, secara bersama-sama. Tenang.. Gue juga. Dan angka 20% ini gue yakin akan membesar terus ke depannya. Betapa mengerikan kalau nantinya Youtube benar-benar lebih dari TV, namun kualitas kontennya lebih rusak dari TV? Kebayang gak, kalau sampai smartphone kelak jatuh di tangan orang-orang yang tidak smart? Ditambah lagi, penonton Youtube Indonesia mayoritas adalah ABG dan remaja. Gak percaya? Liat aja Youtube Fan Fest taun kemarin. Banyakan yang dateng anak SMP dan SMA. Ngeri loh anak-anak usia mencari jati diri ini kalo sampe tersesat oleh info yang salah.

Oke.. Udah ngalor ngidul gak jelas, sebenernya gue mau ngomongin apa?

Gini.. Gue cuma mau mengajak semua pihak, baik itu content creator di Youtube ataupun penikmat Youtube untuk menyiapkan diri atas migrasi pengguna TV ke Youtube di masa depan.

Bagi para creator, marilah kita pahami bahwa Youtube adalah platform yang sangat mudah diakses oleh siapapun dengan gadget mereka. Untuk itu, mari kita ciptakan konten yang proper agar bisa dinikmati oleh segmen yang tepat sasarannya. I know, sebagian dari creators mungkin mikir, "Gue bebas berekspresi di akun gue sendiri dong! Kenapa diatur-atur?"

Oke.. Setuju, tapi tolong kembali diingat, kita main Youtube itu berawal dari keresahan kita akan acara-acara di TV yang tak mendidik, kan? Jangan sampai kita mengulangi kekurangan TV yang pernah kita sebalkan ini di Youtube. Yang artinya, kita gagal memperbaiki apa-apa. Kalopun mau mengupload konten-konten yang vulgar, tolong.. Tolong banget seenggaknya kasih Warning bahwa konten itu bukan buat bocah. Lebih baik lagi, kalo lo set video itu dengan fitur "age-restriction". Sehingga video itu gak bisa ditonton bocah-bocah yang belum cukup umur. Ada kok menunya di Advanced setting Video Manager Youtube.

Fitur itu akan memaksa orang yang mau nonton video vulgar untuk login dan diverifikasi usianya. Kalo gak cukup umur, display ini bakal nongol.

 

I know, bocah-bocah itu bisa memalsukan usianya untuk tetap menikmati video itu. Tapi, at least, kita udah menunjukkan bahwa kita tidak berusaha menyesatkan mereka dengan konten yang tak sesuai dengan usianya. Sisanya, adalah tanggung jawab orang tua. 

Jadi, marilah kita kembali ke semangat awal kita, 

"Acara TV gak ada yang mendidik? Lalu, sudahkan konten Youtube kita mendidik?"

Yah.. Gue tau, mendidik anak orang bukanlah kewajiban kita. Tapi gue sangat berharap, kalopun kita gak bisa mendidik, setidaknya janganlah merusak anak orang deh. Apa kita siap, jika suatu saat anak kita yang masih balita, kalimat pertamanya adalah "I don't give a f*ck, b*tch"?

Untuk para orang tua, gue lihat banyak yang bebasin anak main gadget, nonton Youtube, yang penting gak rewel. Please. Jangan secuek itu. Orang tua harus memperhatikan dan mendampingi anak-anak saat menikmati konten apapun di dunia internet. Jangan sampai anak-anak menikmati konten yang tidak tepat usia.



Gue sarankan, bagi para orang tua untuk menginstall Youtube Kids/Kids Videos for Youtube di mana isinya adalah konten-konten pilihan dari Youtube yang memang untuk anak-anak. Sehingga, anak-anak bisa tumbuh dengan wajar, tanpa mengikuti hal-hal kurang baik yang mereka anggap keren. Gue yakin, gak ada orang tua yang mau anaknya bikin bom sendiri dan meledakkan kandang ayam tetangga.

Atau, kalo masih tetep mau pake aplikasi native Youtube, pakai cara lain untuk mengarahkan konten-konten yang layak ditonton anak-anak. Dalam waktu senggang orang tua, pilihlah konten-konten anak-anak di Youtube, lalu klik menu Safe Offline. Lalu, saat anak-anak memegang gadget, pastikan gadget itu berada di Airplane Mode, sehingga mereka hanya bisa mengakses video-video yang sudah anda pilihkan sebelumnya, tanpa bisa nyasar ke video-video orang dewasa.

Gue ngomong gini karena resah banget. Beberapa minggu yang lalu, ada beberapa video film dewasa Korea yang isinya semi bokep di halaman "Trending" Youtube. Di mana, siapapun bisa nonton, tanpa perlu login. Termasuk adik lo, anak lo, ponakan lo, bisa ngebokep semua. Ini creator yang upload videonya terkutuk! Mau banget Youtube beneran diblock dari Indonesia karena meresahkan? Lalu kita terpaksa nonton acara-acara yang dipilih pemerintah doang?

Yap.. That's all I can say on this post. Maaf, jempol udah pegal ngetik. Soalnya ini gue ngepost dari hape. Semoga postingan ini bermanfaat dan bisa membuat kita semua sadar, bahwa teknologi gak cuma harus diikuti, tapi juga diwaspadai. Ingat, tulisan ini adalah sebuah ajakan, bukan pemaksaan, maupun perlawanan. The choice is yours. I ain't a saint. I did mistakes as well. Yet at least I try to make things better than yesterday. Would you do it too?

Buat yang mau liat konten-konten Youtube gue, silakan subscribe channel gue yah! Isinya webseries belajar bahasa Inggris, MotoVLog tentang sepeda motor custom, gadget/apps review, cerita bergambar yang inspiratif, dan DIY mainan-mainan hobby:


*tetep promo* *fakir subscribers*

Oiyah.. Lo ada pengalaman efek Youtube buat anak-anak kecil di sekitar lo? Tulis di kolom komentar ya! :)
Read More 95
Senin, Mei 30, 2016

Tipe-tipe Teman Yang Pasti Akan Pernah Kamu Temui Dalam Hidup
 


Eyang gue pernah bilang,

"Di belakang orang sukses, akan selalu ada tiga pihak: Pembenci, Pendukung, dan Penjilat."

Dulu gue nggak  ngerti maksud eyang gue itu apa, tapi setelah gue berkarier, akhirnya gue mampu memahaminya.

Selama 17 tahun gue hidup di dunia, dari zaman masih orok hingga jadi pria tampan nan dewasa seperti sekarang, gue sudah menemukan berbagai bentuk karakter manusia. Tak bisa dipungkiri, mereka juga turut andil dalam membentuk karakter gue hingga jadi kayak begini. Nah, setelah gue analisa secara lebih mendalam, akhirnya gue bisa mengklasifikasikan beberapa tipe teman yang pernah sekedar mampir dalam hidup, atau masih eksis mengisi hidup gue.

Pembenci (Hater)
Buat sebagian orang, haters itu akan dianggep sebagai musuh. Tapi buat gue, haters itu tetep masuk ke dalam daftar teman. Teman yang cukup penting, malah. Kenapa? Karena haters adalah orang yang tak lelah mencari-cari kekurangan gue untuk dijadikan bahan hujatan. Nah, kalo dalam proses pembuatan website atau aplikasi developer aja harus bayar orang buat nyari "bugs" (masalah dalam coding web/aplikasinya), ini gue punya orang-orang yang dengan suka rela mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikirannya cuma buat nyari "bugs" di diri gue. Hal itu membuat gue berkesimpulan bahwa, haters adalah teman yang paling tulus.

Namun, ada haters yang gue kurang suka. Yaitu haters yang nggak ngasih tau kekurangan gue apa, tapi cuma ngata-ngatain aja. Biasanya haters semacam ini, gue temuin tiap pagi lagi ngaduk-ngaduk tempat sampah, atau nguras septic-tank.


Pendukung
Ini adalah tipe teman yang mungkin paling gue butuhin. Soalnya, gue adalah tipikal orang yang nggak bisa ditinggalin sendiri. Soalnya gue suka ngobrol. Apapun masalah yang gue hadapi, bisa tuntas atau minimal berkurang bebannya kalo udah ngobrol.

Teman yang supportif, bukan sportif, adalah tipe teman yang dibutuhkan oleh siapa saja. Dia bisa menemani kita, menjadi winger kita, membantu memecahkan masalah kita, atau setidaknya selalu siap minjemin telinga.

Namun, gue juga nggak suka teman yang terlalu supportif, di mana dia bakal selalu bela gue, gak peduli gue bener atau salah. Membela seseorang cuma dengan alasan solidaritas itu kadang tidak tepat. Kita tidak perlu memusuhi orang, cuma karena teman kita memusuhinya. Kita gak perlu membela teman, di saat teman kita yang membuat kesalahan. Solidaritas yang kebablasan itu adalah dorongan bagi orang-orang pengecut yang suka membuat masalah, untuk diselesaikan secara keroyokan.

Penjilat
Ini adalah tipe teman paling menakutkan. Tipe penjilat atau orang bermuka dua ini sebaiknya berteman dengan orang yang suka cari muka. Biar imbang jadinya.

Kenapa gue bilang teman penjilat itu paling menakutkan? Soalnya, teman yang suka menjilat kadang membuat kita terlena dengan segala kata dan sikap baiknya. Sehingga kita menjadi sangat percaya kepadanya. Lalu kita menitipkan masalah-masalah pribadi kepadanya. Namun endingnya masalah itu menyebar ke mana-mana.

Teman penjilat, selalu bermotivasi untuk membuat hidup kita tak lagi menyenangkan, dan mengambil sebanyak mungkin keuntungan. Di depan kita, dia akan ngomong dengan segala kelembutan, di belakang kita dia akan menyebarkan kebencian.

Teman Sekedar Kenal
Ini adalah tipe teman yang sekarang paling banyak jumlahnya. Di dunia internet ini, kita sering balapan jumlah friendlist maupun followers di sosmed. Sehingga kita merasa punya banyak teman, padahal itu semua cuma angka.

Teman ala kadarnya di sosial media ini tak akan memberikan banyak efek di kehidupan nyata. Tak akan menjenguk kita saat sedang diopname. Tak akan datang ke rumah saat kita merayakan ulang tahun. Tak akan melayat saat keluarga kita berkabung. Karena semua mereka wakilkan dengan komentar "GWS, HBD, dan Emoticon Frowned."

Teman yang seperti ini, membuat kehidupan tak bisa lepas dari belenggu sepi. Tak ada ikatan empati, maupun ikatan hati. Makanya, nggak perlu banyak-banyakan teman yang tak bisa benar-benar diajak silaturahmi. Mereka ada atau gak ada, hidup kita nggak akan terlalu terpengaruhi.

Yak.. Itu sedikit curahan hati gue mengenai pertemanan. Semoga bisa mewakili isi hati kalian juga. This is the end of the post. Thanks for reading.

Btw, lo paling banyak punya tipe teman yang kayak apa?
Read More 62