shitlicious

Senin, November 24, 2014

Tanda-tanda Bahwa Ortu Pacar Tidak Suka Sama Elo Pas Ngapel
Sejak pukul 4 sore di hari sabtu yang cerah, Supri sudah mencuci motornya. Setelah dia mencuci motornya, dia pun mengelapnya dengan sabun pencuci piring. Motor Jepang produksi tahun 1975 itu pun terlihat mirip seperti baru. Supri terlihat puas sama penampilan motornya. Dia pun bergegas pergi masuk ke dalam rumah dan menuju kamar mandi. Supri mandi dan keramas, lalu dilanjutkan dengan memakai parfum yang terbuat dari perasan kembang desa.

Supri memilih-milih koleksi bajunya yang ada di lemari. Lima belas menit berlalu, Supri masih bingung mau pake baju yang mana. Dia sudah mengeluarkan semua bajunya dari lemari. Padahal, pakaian Supri sama semua, seperti Nobita. Setelah Sholat istiqarah, Supri pun mendapatkan petunjuk, baju mana yang bakal dia pake malam itu. Dan setelah ganti baju, Supri pun terlihat tampan seperti biasanya. Rambut disisir belah tiga. 

Setelah sholat maghrib, Supri segera menyalakan motor bututnya. Supri segera meluncur ke rumah Ningsih, pacarnya. Satu jam perjalanan, dia tempuh untuk mencapai rumah Ningsih yang berjarak 500 meter dari rumahnya. Tubuhnya yang tadinya wangi parfum, berubah menjadi wangi bensin. Supri memarkirkan motor bututnya di halaman rumah Ningsih. Dia pasang gembok di jeruji motornya, dikunci stangnya, dan dia copot busi serta piston motor itu untuk dikantongi, agar motornya tidak dicuri orang.

Halaman rumah Ningsih, tidak begitu luas, namun tampak sangat gelap karena di sana ada banyak pohon jati dan pohon-pohon lain yang usianya sudah ratusan tahun. Supri melewati pepohonan itu dengan lincah sambil beberapa kali terpaksa bertarung dengan cheetah, lalu Supri menyeberangi sungai kecil di depan teras rumah Ningsih. Terlihat di sungai itu ada beberapa buaya yang sedang menunggu korbannya. Selepas menyeberangi sungai, Supri pun tiba juga di teras rumah Ningsih.

"Tok! Tok! Tok!" Supri memukul-mukul pintu rumah Ningsih menggunakan kaki.

Beberapa saat kemudian, terdengar langkah yang berat mendekat dan pintu rumah itu dibuka. Muncul sebuah sosok hitam, besar dan berbulu. Supri terdiam sesaat, namun saat menyadari itu adalah ayah Ningsih, Supri pun angkat bicara.

"Mmm.. Maaf pak.. Ningsihnya ada?"

"Ada. Kamu siapa?" Suara serak dan berat terdengar dari mulut bapak Ningsih yang letaknya di bawah dadanya.

"Sa.. Saya Supri.. Pacarnya Ningsih.. Boleh saya ketemu?"

"Tidak! Kamu tau ini jam berapa?" Nada bicara bapak Ningsih mulai tidak bersahabat.

"Ba-baru pukul 7:30 pak.."

"NAH! Itu jam belajarnya Ningsih. Jangan diganggu. Emang kamu nggak belajar juga? Kamu nggak sekolah? Kamu pasti pengangguran ya?" Mata ayah Ningsih menatap tajam ke arah Supri. Air liur menetes dari mulutnya dan meluncur ke kakinya sendiri.

"Ti-tidak pak.. Saya satu sekolah sama Ningsih kok." Supri mulai ketakutan karena mata ayah Ningsih terlihat merah menyala.

"Ya sudah! Sana! Pulang. Belajar! Masih kecil kok udah pacaran!"

"Tap-tapi pak.. Ini kan malam minggu.." Supri memberanikan diri untuk menolak pulang.

"Belajar itu nggak ada jadwalnya! Selama ada waktu, bagusnya dipake untuk belajar!" Suara ayah Ningsih mulai mirip knalpot Harley Davidson. Membuat dada Supri bergetar-getar.

"Tap..."

"PULANG SANA!" Ayah Ningsih mulai mengamuk. Dia mencabut sebuah pohon besar dari depan terasnya, lalu dia kibas-kibaskan ke arah Supri. Supri pun ketakutan dan lari tunggang-langgang.

Malam itu, Supri gagal ngapelin pacarnya karena orang tua sang pacar tidak setuju dengan hubungan mereka. Supri tampak sedih, namun dia bersyukur setidaknya dia masih bisa pulang tanpa kehilangan satupun organ tubuhnya.

Yap! Mungkin sebagian dari kalian udah pernah ngalamin kejadian semacam itu. Gue sendiri juga pernah kok ngalamin hal yang lebih ekstrim daripada yang dialami Supri. Pas STM, gue dateng ke rumah pacar di malam minggu dan disambut ayah pacar di depan pintu. Ayahnya tidak melarang kami bertemu, tapi dia ngetes gue dulu. Gue disuruh baca sebuah surat di Al-qur'an.. Kalo gak bisa baca ampe habis, gue nggak boleh ketemu. Akhirnya, sebagai jebolan santri, gue terima tantangan itu. Dan lima menit kemudian, gue nangis sesenggukan karena gue salah paham. Gue kira, gue cuma disuruh baca Al-fatihah, tapi ternyata gue disuruh baca surat Al-baqarah, di mana mungkin kelar bacanya bakal besok lusa. Gue pun pulang dan nggak mau ngapelin pacar gue lagi.

Buat gue, mending sih ketemu orang tua yang to-the-point kalo gak suka gitu. Daripada sok ramah, tapi aslinya nggak suka sama gue. Nah, gue yakin, di luar sana banyak banget orang tua yang nggak suka kalo anaknya diapelin. Mungkin lo belum nyadar kalo ortu pacar lo itu nggak suka setiap kali lo ngapelin anaknya. So, kode-kode macam apa sih yang suka mereka lakukan buat nunjukin kalo mereka nggak suka sama lo? Let's cekidot!


Pic by: @olderplus - nyunyu.com

1. Pacar disuruh-suruh
"Kamu tahu nggak, siapa pria yang paling beruntung di dunia?" Supri mengucapkan kalimat itu sambil menggenggam tangan Ningsih. Mereka sedang duduk di sofa teras rumah.

"Siapa emang?" Ningsih tersenyum najis sambil berharap dia bakal digombalin.

"Aku.."

"Kamu? Kok bisa?" Ningsih mengernyitkan dahi.

"Soalnya, aku punya segalanya. Karena buat aku, kamulah segalanya. Hihihihi!" Supri menggenggam tangan Ningsih lebih erat, lalu mendekatkan bibirnya ke arah dada Ningsih. Saat bibir Supri hampir bersentuhan dengan tubuh Ningsih, terdengar suara kencang dari dalam rumah.

"NINGSIH!! SINI!!" Suara ayah Ningsih memanggil-manggil dengan penuh semangat. Supri dan Ningsih panik, Supri segera memakai celananya, dan Ningsih segera memakai kostum astronot.

Ningsih pun segera masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, Ningsih keluar rumah lagi sambil menggenggam duit sepuluh ribu.

"Maaf, aku tinggal bentar ya.. Disuruh beli obat nyamuk.. Hehe" Ningsih pamit ke Supri.

"I-iya.."

Lima belas menit kemudian, Ningsih sudah kembali ke rumah. Mereka kembali duduk bersama. Dan siklusnya terulang lagi. Setiap kali Supri dan Ningsih hampir bersentuhan, Ningsih disuruh keluar untuk beli gula, cabe, sayur, sampe disuruh jihad di Palestina.

Dengan siklus yang seperti itu, Supri pun tidak nyaman sama kondisi apel dia. Menyadari Ningsih yang sangat sibuk, Supri pun berpamitan untuk pulang. Misi ortu Ningsih buat bubarin apel itu pun sukses!

2. Disuruh masuk
Di minggu berikutnya, Supri kembali ke rumah Ningsih. Kali ini dia punya strategi baru, yaitu setiap kali Ningsih disuruh belanja keluar, Supri mau nemenin. Jadinya, malam minggu mereka malah lebih seru. Namun ortu Ningsih tidak kehabisan ide. Di saat mereka sudah merasa malam mulai larut, Ningsih dipanggil masuk ke dalam rumah dan disuruh tidur. Supri? Disuruh pulang dengan dalih bahwa sudah terlalu malam untuk bertamu. Padahal, jam baru menunjukkan pukul 19:45. Supri pun pulang dan merasa tak berdaya.

3. Lampu dimatiin
Di minggu berikutnya, Supri datang lagi dengan strategi baru. Supri sengaja datang dari pukul 5 sore, sehingga setidaknya dia bisa ngobrol sama Ningsih lebih dari dua jam. Namun, di saat mereka baru asik-asiknya ngobrol, dan jam baru menunjukkan pukul 6:30, lampu teras sudah dimatikan oleh ortu Ningsih. Karena keadaan sangat gelap dan mereka tak bisa melihat wajah masing-masing, Supri dan Ningsih pun merasa tak nyaman. Supri pun pulang lagi dengan luka di hati.

4. Disindir-sindir
Lagi-lagi Supri tak menyerah. Di minggu berikutnya, Supri membawa nasi bungkus dan lilin. Jadi saat ortu Ningsih mematikan lampu teras, Supri langsung menyalakan lilin yang dia bawa. Akhirnya dia malah bisa melakukan candle light dinner bareng Ningsih di teras rumah.

Baru juga mereka mau suap-suapan, terdengar obrolan kencang dari ruang tamu. Obrolan itu dilakukan oleh Ayah dan Ibu Ningsih.

"Anak jaman sekarang kok ndak ada sopan-sopannya ya pak! Jaman kita dulu, kalo mau nemuin anak perawan, pria itu ya harus kenalan dan izin ke orang tuanya dulu." Suara ibu Ningsih terdengar sengaja dibuat kencang agar terdengar hingga teras.

"Iyo.. Aku dulu mau kenalan sama kamu aja disuruh bantuin bapakmu garap sawah dulu. Anak sekarang mana mau kayak gitu. Mereka nggak ada yang mutu!" Ayah Ningsih menjawab pertanyaan ibu Ningsih dengan suara yang tak kalah lantang.

Obrolan lantang itu berlanjut dan berisi sindiran-sindiran yang membuat Supri merasa semakin tidak nyaman. Supri pun pamit pulang sambil berharap di jalan dia ditabrak oleh Boeing 737.

5. Gangguin obrolan
Tak mau kehilangan Ningsih, kali ini Supri menjalankan strategi baru. Dia membawa beberapa hasil kebun seperti singkong, jagung, dan emas batangan ke rumah Ningsih. Begitu tiba di rumah Ningsih, dia serahkan semua barang-barang yang dia bawa itu kepada ortu Ningsih sambil bilang kalo itu titipan dari ortu Supri. Akhirnya, sikap ortu Ningsih pun berubah. Mereka tidak menyindir-nyindir Supri lagi. Justru, ayah Ningsih malah mau mengakrabkan diri.

Tapi, jadinya saat Supri ngapel, Ayah dan Ibu Ningsih malah menemani mereka berdua ngobrol di teras. Ibunya Ningsih duduk di sebelah Ningsih sambil menonton sinetron di hapenya. Sedangkan ayah Ningsih sibuk membajak tanah di depan teras rumah memakai traktor diesel yang berisik.

Dengan keadaan yang seperti itu, Supri tak bisa menggombali Ningsih. Keadaan canggung terjadi. Supri pun tidak tahan lagi. Supri pulang dan berjanji bahwa dia tak akan pernah kembali. Yap.. Akhirnya ortu Ningsih menang lagi.

Okay.. Kayaknya itu aja dulu yang bisa gue bahas mengenai ortu pacar yang rese. Lo pernah ngalamin yang poin mana? Atau, lo pernah ngalamin poin lain yang nggak gue sebut di atas? Share di comment box yah.. Biar temen-temen yang belum nyadar jadi lebih peka. Ciao! :D
Read More 15
Minggu, November 09, 2014

The New Me
Bulan Februari 2014, gue balik ke Jakarta buat nyari masalah. Iya, tahun 2012 gue tinggalin Jakarta dan pindah ke Jogja demi menikmati hidup. Tapi ternyata, segala kenyamanan Jogja malah menumpulkan kreativitas gue. Karena gue nggak punya keresahan, nggak punya ketakutan, dan nggak punya masalah. Gue sadar, nggak ada karya indah yang tercipta dari hidup yang nyaman-nyaman aja. Setiap pelajaran yang bisa kita petik dari kehidupan, biasanya datang bersama permasalahan. Cerita selengkapnya, bisa lo baca di SINI.

Nah, setelah gue pindah ke Jakarta, praktis jadwal hidup gue berubah. Di Jogja biasanya bangun pukul 12 atau pukul 1 siang karena malamnya begadang. Iya, di Jogja gue jarang lihat matahari pagi. Sarapan pukul 3 sore. Di Jakarta, gue kudu bangun pagi, ngantor setiap Senin sampai Jumat. Sabtu dan Minggu kadang harus ke luar kota buat ngisi seminar menulis atau promo buku. Sehingga, kadang gue malah kurang tidur dan kurang istirahat. Tapi setidaknya, dengan pola hidup semacam itu, gue jadi lebih produktif. Tiga bulan gue tinggal di Jakarta, buku ketiga gue (RELATIONSHIT) berhasil gue selesaiin dan terbit. Satu setengah tahun di Jogja? Nggak bikin apa-apa.

Dengan kesibukan semacam itu, tubuh gue yang sudah terbiasa malas, akhirnya sering banget tumbang. Pernah gue ngeluhin dalam dua bulan gue kena demam, radang tenggorokan, dan pilek tiga kali. Sampai akhirnya, sahabat gue @aMrazing bilang, "Mungkin elo kurang olahraga."

Kalimat itu menyadarkan gue bahwa gue udah memforsir tubuh gue buat bekerja, tapi gue lupa untuk merawatnya. Ditambah lagi, suatu hari gue shock pas gue nggak bisa liat titit sendiri karena ketutup sama perut.


Tenang, perut gue gitu bukan karena busung lapar atau lagi mengandung janin burung unta kok. Itu adalah efek dari penyakit gue yang udah menahun, Gastritis. Penyakit Gastritis ini adalah penyakit lambung yang bisa mudah kambuh kalo gue: Telat makan, kecepetan makan, kurang makan, kebanyakan makan, kebanyakan ngerokok, stress, dan inget mantan.

Kalo kambuh, gue bakal guling-gulingan di kamar karena jantung dan punggung nyeri. Rasanya itu kayak lambung berisi gas berlebihan membengkak dan menekan seluruh organ-organ lain yang ada di dalam perut gue. Biasanya kalo kambuh pukul 11 malam, dan baru hilang sakitnya pukul 4 pagi. Yap, jam segitu gue baru bisa tidur dan harus bangun pagi buat bekerja lagi. Seru kan?

Titit gue ilang

Gue biasanya nggak mau nemuin dokter karena gue takut sama diagnosa. Dan gue bakal bertahan selama gue merasa masih mampu buat nahan. Tapi, bulan April kemarin gue dapet tamparan kencang. Bokap gue, yang usianya baru 40an dipanggil Yang Maha Kuasa karena sakit stroke. Iya, almarhum bokap dulu gaya hidupnya tidak sehat. Minuman keras sudah membunuhnya. Sepeninggalan beliau, nyokap sering stress karena terpukul. Di keluarga gue udah nggak ada kepala rumah tangga lagi. Dan mau gak mau, gue sebagai anak pertama harus menggantikan beliau.

Gue nggak kebayang kalo aja gue meninggal di usia muda, gimana hidup nyokap dan adek gue. Gue tau, penyakit lambung kronis udah banyak memakan korban hingga meninggal. Orang yang gue kenal meninggal karena maag doang udah tiga orang. Itu yang bikin gue parno. Dulu gue sering nulis di buku gue kalo tujuan hidup gue adalah membalas segala jasa nyokap dan membahagiakan nyokap. Makanya gue udah siapin semua jenis tabungan dan asuransi selama gue mampu buat mengantisipasi hal terburuk yang mungkin saja terjadi. Tapi kalo dipikir-pikir, misal gue nggak ada, duit berapapun pastinya nggak bakal bisa menggantikan tanggung jawab gue buat keluarga.

So, sebulan setelah bokap meninggal, gue membuat sebuah keputusan besar. Gue mau hidup, gue mau sehat. Gue konsultasi sama dokter mengenai penyakit lambung gue. Gue langsung ke rumah sakit setiap kali kambuh. Dan gue nggak peduli sama diagnosa. Lebih baik tau kenyataan buruk, dibanding hidup sok normal tapi penyakit menggerogoti. Dan alhamdulillah, dokter bilang gue masih punya kesempatan buat memperbaiki tubuh gue. PR gue yang pertama adalah memperbaiki gaya hidup.

Terhitung sejak Mei 2014, gue berhenti merokok tembakau. Kenapa? Karena merokok bikin Gastritis gue sering kambuh, selain itu paru-paru gue sering nyeri karena ada flek dan iritasi. Kebiasaan yang udah sepuluh tahun gue lakuin itu emang susah buat dihentikan. Tapi bukan hal yang mustahil buat dihentikan. Bulan pertama nyoba lepas dari rokok itu emang nggak mudah. Mulut sering kecut, dan tangan selalu otomatis ngambil sesuatu buat diemut. Tapi kata Sigmund Freud, yang bikin susah untuk berhenti merokok itu bukan nikotinnya, melainkan oral-habits-nya. Yap, sepuluh tahun gue hidup dengan rokok, dua bungkus sehari, bikin gue merasa rokok adalah kebutuhan primer yang lebih penting dari makan. Yang kadang bikin gue nggak bisa mikir atau nulis tanpa ngerokok. Tapi berkat teori om Freud itu, gue jadi tau bahwa gue harus nyari benda lain buat gue emut sebagai penyuplai oral-habits gue. Dan yap, gue pun membeli Vaporizer.


Googling ajah apa itu Vaporizer, gue nggak mau dikira ngiklan.

Sebulan make vaporizer, gue bisa bener-bener lepas dari rokok. Dan bahkan, di bulan ke enam gue berhenti ngerokok tembakau ini, kebutuhan vaporizer gue juga makin berkurang. Gue udah nggak begitu punya oral-habits lagi. Paru-paru gue? Udah nggak nyeri lagi. Dan yang paling menyenangkan dari berhenti merokok adalah daya penciuman gue jadi lebih baik. Gue jadi nggak nyaman dengan bau rokok, bahkan pas masuk kamar teman yang perokok berat, gue ngerasa nggak betah. Gue jadi nyadar, kenapa dulu mantan-mantan gue ngajak putus gara-gara gue nggak mau berhenti merokok.

Gue anggep gue udah sukses berhenti ngerokok. Gue pun lanjut ke program perbaikan gaya hidup berikutnya. Yaitu, olahraga. Kenapa? Karena gue nemu foto gue yang jadul, di mana badan gue masih oke. Nggak buncit.


Dan gue pengin kayak gitu lagi.



Diawali dengan membeli suplemen dan alat olahraga, gue pun komit buat memulai kebiasaan baru gue, fitness. Kenapa gue langsung beli? Biar kalo ntar gue mau berhenti, gue inget semua barang-barang itu gue beli pake duit yang nggak sedikit. Nggak boleh sia-sia.

Gue pun rutin berolahraga. Enam hari per minggu, atau kadang setiap hari, dan satu jam perhari gue lakuin. Awalnya emang berat. Bangun pagi, harus menyiksa tubuh, bahkan di minggu-minggu awal, gue muntah-muntah mulu karena terlalu memforsir tubuh. Tapi justru itu yang bikin gue sadar bahwa gue adalah manusia lemah, wajar kalo sakit-sakit mulu.


"If it ain't hurting, it ain't working"

Dua minggu pertama nyoba rutin fitness emang berat. Selalu ada excuse semacam, "Capek! Ngantuk! Ntar deh." Tapi gue lawan terus setiap pagi, karena gue tau, semua excuse itu tercipta gara-gara tubuh gue belum terbiasa ajah.

Gue milih fitness di rumah biar gue nggak nambah excuse "Males ke gym". Tapi tenang, gue pelajari dulu program olahraga macam apa yang mau gue lakuin. Biar gue nggak clueless dan nggak salah. So, hasil browsing sana-sini dan nanya sana-sini, gue pun ngejalanin program Muscle Isolate di mana setiap hari bagian tubuh yang dilatih beda-beda.

Berikut ini jadwal gue:


Senin: Dada dan Punggung. (Video: INI)

Selasa: Plyometrics (Video: INI)

Rabu: Pundak dan lengan (Video: INI)


Kamis: Yoga


Jumat: Kaki dan Punggung (Video: INI)


Sabtu: Kenpo (Video: INI)

Minggu: Break atau kalo gak males, Yoga, atau core synergetics.

Selain olahraga rutin, gue juga ngatur pola makan biar nutrisi yang dibutuhin tubuh karena kegiatan ekstrem ini nggak kurang. Selain ngonsumsi suplemen, gue selalu makan Pisang dan Putih telur. Untuk pola diet, pernah gue bahas di SINI.



Dan sekarang, masuk bulan ketiga program fitness rumah, gue udah ngerasain hasilnya. Badan lebih fit, udah biasa bangun pagi tanpa alarm, nggak susah tidur lagi karena pukul 10 malem udah nguap-nguap ngantuk, dan Gastritis jarang banget kambuh kecuali kalo gue bandel makan keripik super pedas. :p



Pacar yang lo percayai, bisa saja mengkhianati. Tapi tubuh yang lo rawat, nggak bakal berkhianat.

Sebelum mulai program, BB gue 55 Kg, sekarang, BB gue 67 Kg.

Oiyah, gue sengaja sering update poto tiap kali gue fitness ke social media. Buat pamer? Bukan. Buat komitmen ajah. Jadi gini, kalo gue mulai melakukan sesuatu, gue suka ngomong ke banyak orang. Biar apa? Biar kalo kelak gue berhenti melakukan hal itu, banyak yang ngingetin maupun nanyain "Kenapa berhenti?". Kalo udah gitu, gue bakal malu, dan ngelakuin lagi.

With @ikramarki si manusia tulang.

With @BentaraBumi @TidvrBerjalan dan @Egiiy

Nah, berkat gue sering update ke social media ini, malah jadi banyak temen yang mau gabung gue olahraga tiap pagi.


Ada kepuasan tersendiri saat gue bisa mengajak orang lain melakukan hal positif dalam hidup juga, ternyata.


So, ini gue dan hidup baru gue. Lo udah berani berubah jadi lebih baik belum? ;)


Okay, segini aja gue nulisnya ya. Mungkin kelak, kalo kalian minat, gue bakal sharing program fitness gue di blog. Untuk sementara, kalo ada pertanyaan soal fitness, silakan tulis di comment box. Ntar gue bantu jawab-jawabin semampu gue. Ciao!

"Today, I do what people don't do. Tomorrow, I can do what people can't do."
"Today, I do what people don't do. Tomorrow, I can have what people don't have."
Read More 87
Senin, Oktober 27, 2014

Ngomongin Ibu-ibu Sosialita
Kemarin gue lagi duduk sendirian di sebuah cafe yang berada di dalam Mall Grand Indonesia sambil ngetik skenario calon film layar lebar gue sendiri, Relationshit yang bakal rilis taun depan.

Saat gue konsen nulis dialog antara Supri dan Ningsih, konsentrasi gue terpecahkan oleh suara gelak tawa ibu-ibu yang berkumpul di belakang gue. Gue sempet nengok ke belakang, mata gue langsung berkunang-kunang karena silau melihat perhiasan di sekujur tubuh ibu-ibu itu. Gue sempet mikir, tiap hari mereka memakai gelang, kalung dan cincin yang bahannya entah emas, timah atau porselen yang gue taksir seberat 20 kiloan itu. Dengan beban segitu di sekujur tubuh, harusnya badan mereka bisa lebih sangar dari Lisa Rumbewas.

Cewek legenda olahraga angkat besi Indonesia.

Gue nyoba konsen ngetik lagi, tapi lagi-lagi konsentrasi gue dipecahkan oleh kedatangan seorang ibu-ibu yang dateng membawa sebuah tas impor baru. Ibu-ibu lain heboh banget ngeliat tasnya. Terus ibu-ibu yang baru dateng itu bilang, "Eh jengg... Saya dapet tas LV ini dari diskonan di Paris loh.. Cuma 55 juta.."

Beberapa saat kemudian, ibu-ibu lain langsung teriak dengan suara ala paduan suara sekte sesat dengan ekspresi takjub, "AAAKKK!! KOK MURAH JENG?!"

"Anjir.. Tas harganya 55 juta dibilang murah. Ini ibu-ibu suka makan pake lauk nuklir kah?" Gumam gue waktu itu.

Tapi dari obrolan soal tas itu, gue malah mikir, "Tas doang harganya Rp. 55 juta? Itu tas apaan? Kalo dijambret di jalan, tasnya bisa pulang sendiri apah?"

Kehebohan mereka masih berlanjut dan bikin gue bener-bener nggak bisa konsen nulis skenario gue lagi. Gue pun cabut, pulang dengan keadaan hati yang jengkel. Sesampainya di rumah, gue googling dan nyari-nyari info, sebenernya pada ngapain ibu-ibu itu berkumpul. Dan setelah beberapa saat, gue pun nemuin istilah "Ibu-ibu Sosialita" yang cukup menggambarkan kegiatan ibu-ibu yang gue temuin sebelumnya itu.

Nah, di sini gue bakal ngeshare tentang beberapa ciri ibu-ibu sosialita sesuai hasil riset gue. Semoga bisa menambah pengetahuan kalian.

Suka Arisan
Kegiatan rutin ibu-ibu sosialita adalah arisan. Tapi arisannya bukan sembarang arisan kayak ibu-ibu PKK. Yap, iuran arisannya itu bisa sampe berjuta-juta. Tapi biasanya, iuran arisannya masih kalah gede dibanding duit yang harus mereka keluarin buat persiapan arisannya seperti: Make-up, Perhiasan, Pakaian, dan Gadis perawan buat persembahan dewa.

Hedon
Seperti yang gue bilang di atas, barang-barang yang dimiliki oleh ibu-ibu sosialita itu nggak ada yang murah. Tas doang bisa ampe puluhan juta harganya. Bahkan, ada juga tas mereka yang harganya sampai ratusan juta. Gue penasaran, kayak apa sih bentuk tas yang harganya ratusan juta itu? Apa di dalam tas itu ada TV, home theater, dapur, kamar mandi dan garasi? Atau, apa tas itu tahan api, peluru dan bencana alam? Atau jangan-jangan tas itu bisa berubah jadi jet-pack dalam keadaan darurat?

Make Up W.O.W
Ibu-ibu sosialita yang gue temuin kemarin, dandanannya nggak ada yang biasa. Ada yang make sanggul tinggi banget. Gue curiga itu sanggul juga bisa dipakai buat alat penguat sinyal handphone. Selain sanggul, make-up yang nempel di wajah mereka juga nggak wajar. Yang paling mencolok adalah bulu mata. Tebal dan panjang banget. Dengan bulu mata sepanjang itu, kalo mereka ngedipin mata dengan kecepatan tinggi secara rame-rame, mungkin mereka bisa menciptakan angin topan.

Narsis
Kalo udah dandan heboh dan punya aksesoris mahal, tentunya bakal mubadzir kalo nggak dipamerin kepada dunia. So, sering-sering selfie atau foto-foto sendiri dan di-share ke social media adalah kegiatan wajib.

Tapi biasanya nggak cuma wajah, barang-barang branded yang mereka beli juga mereka pamerin ke social media. Misal, upload foto lagi makan steak. Gambar steaknya cuma menghabiskan 25% dari frame foto. Sisanya? Gambar sepatu baru yang ditaroh di sebelah steak itu. Ntah mereka make tuh sepatu buat ngalusin daging steaknya atau gimana.

Kembali ke soal selfie-nya ibu-ibu sosialita. Seru sih ngeliat ibu-ibu berumur yang masih segar dan enerjik berpose menggemaskan. Tapi yang jadi masalah, sebagian dari ibu-ibu sosialita ini nggak sadar diri kalo mereka sudah terlalu tua untuk berpose dengan gaya tertentu. Misal gaya "Chibi", terakhir liat temen nyokap yang usianya udah 50an nge-upload foto gaya chibi di Facebook, gue kehilangan semangat hidup selama seminggu. Rasanya kayak abis liat berhala yang sedang puber.

Suka Nyumbang
Tapi di samping segala kebiasaan-kebiasaan 'wah' mereka, ibu-ibu sosialita itu juga terkenal dermawan. Mereka suka menyumbangkan sebagian dari harta mereka untuk orang-orang kurang mampu. Mereka juga suka melakukan kegiatan-kegiatan sosial secara rame-rame untuk mendukung orang-orang yang membutuhkan. So, mungkin di titik ini gue setuju mereka disebut ibu-ibu sosialita, karena kesadaran mereka akan kehidupan sosial ternyata tinggi juga.

So, kesimpulan yang bisa gue ambil dari ibu-ibu sosialita ini, mereka adalah sekumpulan orang yang bingung cara ngabisin duit gimana. Mungkin suaminya kalo pilek, ingusnya berbentuk duit. Nah, syukurlah mereka menghabiskan duitnya dengan cara yang positif. Yap.. Gue tetep bilang gaya hidup hedonis mereka positif selama tidak merugikan orang. Duit juga duit mereka sendiri ini. Dan hobi mereka nyumbangin sebagian harta mereka adalah hal yang sangat layak diacungin jempol. Gue sebel sama orang yang suka pamer, tapi pelit.

Yap.. Kayaknya itu aja dulu beberapa ciri ibu-ibu sosialita yang bisa gue share di sini. Semoga info ini bisa nambahin pengetahuan kalian semua. Maaf-maaf kalo ada bagian dari tulisan gue ini yang kurang berkenan di hati. Kalo lo tau ada ciri-ciri lain dari ibu-ibu sosialita yang belum gue sebutin di atas, silakan share di comment box ya!

Oiyah! Selamat hari blogger nasional! Semoga kita semakin semangat buat berbagi info dan ilmu! Ciao!
Read More 45
Senin, Oktober 20, 2014

Tanda-tanda Bahwa Lo Perlu Liburan
Kemarin gue baru aja balik dari Bali. Itu adalah pertama kalinya gue ngerasain piknik di Bali. Sumpah. Sebenarnya, gue udah tiga kali ke Bali, tapi untuk urusan kerja. Sore datang, pagi pulang. Tenang.. Kerjaan gue bukan nemenin om-om hidung belang kok. Gue adalah gembong mafia pengedar bubuk Abate. Dengan rutinitas seperti itu, gue pun gatel banget pengin ke Bali tanpa mikirin kerjaan sama sekali.

Nah, minggu kemarin gue ngalamin beberapa hal yang bikin gue nyadar kalo gue perlu liburan. Dan akhirnya, gue bisa menikmati Sunset Jimbaran sambil makan. Di sana, gue suap-suapan sama diri sendiri.


Di sana, gue nyewa Villa yang ada kolam renangnya. Akhirnya, 4 dari 5 hari gue di Bali, gue habisin di Villa buat renang dan nonton sinetron. 1 hari sisanya, gue abisin buat tidur seharian di hotel.


Dan foto seindah ini, kemarin diedit secara brutal oleh temen-temen di twitter, jadi gini:


Dan gini:


Dan yang paling biadab, GUE DIJADIIN TUYULNYA @IMANDITA! :(


Pengalaman ini mengajarkan bahwa jangan suka upload foto aneh-aneh di internet kalo gak mau diedit jadi foto-foto yang keji. 

Tapi semua pengalaman liburan itu bener-bener bikin otak gue fresh lagi dan siap buat bertarung sama ibu kota lagi. So, di sini bakal gue share beberapa tanda orang perlu take a break dan liburan, sehingga lo yang mungkin mengalami gejala-gejala ini, bisa nyadar dan langsung mutusin buat liburan. Here they are:

1. Gak fokus
Tubuhnya lagi meeting sama klien, tapi jiwanya lagi rebahan di kasur. Ya, kira-kira hal semacam inilah yang terjadi pada orang yang sudah muak dengan rutinitas pekerjaannya. Dan kehilangan fokus, bisa berdampak buruk bagi karier orang itu. Karena tanpa bisa fokus, orang itu bisa saja mengambil keputusan yang salah. Misal,

"Jadi menurut anda, bagaimana presentasi saya tadi?" Tanya seorang klien.

"ZzzZz.."

"Membosankan ya?" Klien itu mulai ragu.

"ZzzZz.."

"Pak?! Pak?! Bagaimana? Kita batal kerjasama aja yah?" Klien mengguncang-guncang tubuh Supri.

"Eh.. Iya! Iya! Silakan." Ucap Supri yang sedari tadi melamunkan liburan di Eropa. Kliennya pun segera pergi dari kantornya. Hilang sudah kesempatan kerjasama mereka.

So, kalo mulai nggak fokus, take a break dulu lah!

2. Mudah stress
Rutinitas dan jadwal kerja yang kadang tidak mengenal waktu, bisa memicu tingkat stress yang tinggi juga. Orang yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan sering melupakan istirahat, biasanya akan menjadi tempramental. Contoh:

"Mbak udah makan?" Tanya seorang Office Boy

"Nggak laper." Jawab si karyawati ketus

"Oh. Ya udah."

"OH. Gitu doang? Lo gak bener-bener peduli sama gue?" Si karyawati kembali menjawab.

"Yah.. Tadi saya mau nawarin makan, tapi mbak bilang nggak laper." Si Office boy salah tingkah.

"Lo tuh emang nggak peka ya! Kalo orang belum makan tapi nggak laper, pasti dia punya alasan! TANYA KEK!"

"Err.. I.. Iya mbak.. Maaf.. Mbak punya masalah apa?"

"BASI!" Si karyawati melengos pergi. Si Office boy mencelupkan kepalanya sendiri ke dalam jamban.

Iya, tempramental adalah salah satu ciri orang yang stress. Selain tempramental, orang yang stress juga bisa jadi melankolis. Masak mie instant terlalu matang pun bisa membuat dia menangis.

Makanya, sebelum kena stress, take a break dulu guys!

3. Gak bisa tidur
Baru aja tidur 10 menit, tiba-tiba kebangun dan nggak bisa tidur lagi sampai pagi tiba. Insomnia adalah salah satu penyakit yang diciptakan oleh keadaan pikiran yang terlalu tegang, terlalu banyak tekanan, dan terlalu banyak pikiran. Kalo udah kena insomnia, mukanya bakal terlihat pucat, otaknya nggak fokus, dan tubuhnya bakal lesu. Mirip kayak karakter di game Plants Vs Zombie. Tentunya, orang-orang yang insomnia ini perlu banget yang namanya liburan dan hiburan. So, take a break dulu, man!

4. Tak bersemangat
Saat sudah terlalu capek dalam melakukan sesuatu, sudah sewajarnya orang itu bakal kehilangan semangatnya. Contohnya, orang yang kerja kantoran, di tanggal muda setelah gajian dan semangatnya masih membara, mungkin dia bisa mengerjakan 25 lembar itung-itungan di Microsoft Excell. Tapi di tanggal tua, di saat semangat hampir binasa, orang itu bakal ngebiarin kerjaannya menumpuk di atas meja.

Tak bersemangat karena kecapekan, nggak cuma terjadi sama dunia karier doang loh! Dalam dunia asmara juga sama aja. Saat terlalu lama menjalani hubungan yang gitu-gitu aja, atau saat terlalu capek mengikuti permintaan pacar yang banyak maunya, tentunya orang itu bakal malas-malasan untuk menjalani hubungannya. So, kalo keadaan udah kayak gitu, Take a break dulu!

Oke.. Gue nggak mungkin ngasih tau masalah, tanpa ngasih tau solusi. Kalo lo ngerasain salah satu atau semua point di atas, silakan siapkan diri buat liburan demi kewarasan pikiran.

Tapi Litt, gue mau liburan gimana? Duit aja nggak ada!

Tenang.. Gue kasih satu cara biar lo bisa liburan ke Eropa dan GRATIS!

Serius lo, Litt?!

Iya.. Caranya gampang pula! Lo tinggal beli KitKat seharga minimal 20 ribu Rupiah. Lalu registrasiin diri lo di SINI.



Abis itu, pilih destinasi atau kota mana yang mau lo tuju kalo lo bisa ke Eropa nanti. Setelah itu, pilih challenge buat nge-upload foto sesuai dengan tantangan yang lo pilih. Simpel kan?!


Oiyah.. Kalo menang, yang berangkat ke Eropa bukan cuma lo sendiri kok. Lo boleh ngajak teman, sahabat, atau sodara lo buat nemenin ke Eropa. Asik ya!

Kitkat nyediain 6 paket wisata ke Eropa buat 3 pemenang kontes ini. Dan jangan khawatir, misalpun lo minder buat menangin paket wisata ke Eropa ini, KitKat udah nyediain hadiah hiburan lain yang nggak kalah menggiurkan.

Hape Nexus 5, Camera tahan banting Go Pro, iPod Shufle ama Hape keren Swatch bakal dibagi-bagi buat lo!

Selain hadiah hiburan, lo yang berpartisipasi di kontes ini juga berkesempatan buat menangin hadiah mingguan. Yap.. Setiap 2 minggu bakal dipilih pemenang mingguan yang berhak mendapatkan Samsung Galaxy V!


Tuh.. Peluang menangnya kurang banyak apa lagi?!

Untuk info lebih lengkap mengenai kompetisi ini, silakan kunjungi LINK INI!

Dengan segala kesempatan yang udah dikasih KitKat Breakaway ini, gue yakin tingkat stress lo bakal berkurang. Dan hari-hari lo bakal kembali gemilang! Ayo gabung, dan ajak temen-temen lo buat bersaing di kompetisi ini! Kalo lo menang, bagi-bagi pulsa buat gue ya~ :D

Btw, kapan terakhir lo liburan? Liburan ke mana? Share pengalaman lo di comment box dong! Thanks for reading!
Read More 35
Jumat, September 19, 2014

Hal-hal Tak Terlupakan Dari Zaman Sekolah

Ini anak siapa yang abis over-dosis esterogen?

Buat gue, masa paling indah dan cerah semasa hidup adalah zaman masih sekolah. Soalnya, tujuan hidup gue cuma makan, tidur, main, dan (kadang belajar). Waktu gue kecil, tiap hari kerjaan gue itu cuma sekolah naik T-rex. Pulang sekolah berburu Brontosaurus pake kapak batu. Atau, kalo lagi mau ujian, gue bakal baca-baca prasasti.

Intinya, di zaman sekolah itu, gue nggak perlu mikirin besok makan apa, besok harus ngerjain apa, dan gue nggak bakal kepikiran kurs dollar jadi berapa. Nah, sekarang gue kepikiran buat nulisin hal-hal di masa sekolah  yang bener-bener masih nempel di kepala gue. Apa aja itu? Apakah mungkin kalian juga nggak bisa ngelupain hal-hal itu juga? Yuk, cekidot!

1. Guru Killer
Telat masuk kelas, disuruh push up. Lupa ngerjain PR, dijemur di lapangan. Ngumpat ke guru, ditampar pake gergaji mesin. Itu hal-hal yang hampir tiap hari gue alamin selama gue sekolah. Punya guru killer itu emang bikin hidup gue kerasa tidak aman dan tidak nyaman. Seakan-akan yang gue lakuin itu salah semua di mata beliau.

Di setiap sekolah, gue yakin spesies bernama guru killer itu pasti selalu ada. Biasanya, guru killer ini hobby ngasih hukuman. Tapi di zaman gue sekolah, zaman KOMNAS ANAK belum populer, guru killer di sekolah gue itu nggak cuma suka ngehukum. Tapi suka mukul, jewer, atau ngehajar pake kayu penggaris yang meteran. Gue dulu dendam banget sama guru yang itu. Sampe-sampe gue sempet mikir, "Awas aja lo.. Kalo gue udah gede, bakal gue bales lo!"

Apa dendam itu akhirnya kebalas? Enggak. Setelah gue lulus sekolah, dan ngerasain betapa lega dan bahagia gue bisa lulus sekolah, rasa dendam itu pun ikut luntur. Gue malah berterima kasih sama beliau yang udah membantu gue belajar, meski badan ampe memar-memar. Tapi gue juga nyadar kok, sekiller apapun seorang guru, dia nggak bakal punya alasan buat ngehukum kalo muridnya emang tertib. So, kalo murid dihukum, pastinya karena muridnya bersalah. Introspeksi ajah..

2. Temen Caper
Bel pulang sekolah 5 menit lagi bunyi. Guru sudah mulai menutup buku paketnya. Kalian pun udah mulai masukin buku-buku kalian ke dalam tas. Di saat kalian sudah siap mau pulang, tiba-tiba guru nanya, "Sudah cukup jelas?"

"Sudah!" Tentu semua kompak ngejawab gitu demi bisa pulang cepet.

Tapi.....

"Pak.. Saya mau nanya~" Supri mengangkat tangannya sambil membetulkan posisi kacamata.

Ya.. Di setiap kelas, akan selalu ada spesies yang kayak gini. Berkat pertanyaan Supri, akhirnya guru pun kembali buka buku paketnya, terus ngulang ngejelasin materinya dari awal. Pulang cepet pun gagal, justru jam pulangnya malah molor. Anak-anak sekelas, emosinya udah sepanas kompor.

3. Deadline PR
Dulu, gue suka sengaja dateng lebih pagi ke sekolah. Bukan karena gue rajin, tapi biar bisa nyontek PR milik teman yang dianggep paling pinter di kelas. Kadang, misi itu sukses karena banyak temen lain yang belum ngerjain, jadinya malak PR teman yang pinter itu rame-rame. Tapi kadang, misi itu gagal. Suatu hari, si pinter ini bilang belum ngerjain PR juga karena ketiduran. Kita pun sepakat bareng-bareng buat nggak ngerjain PR itu.

Beberapa saat kemudian, guru masuk kelas. Pelajaran berjalan sesuai jadwal. Hingga jam pelajaran mau abis, guru itu belum menanyakan soal PR. Kita semua bernafas lega. Di saat guru menutup pertemuan hari itu, tiba-tiba si pinter ngangkat tangan, "Pak.. Saya mau mengumpulkan PR yang sudah saya kerjakan."

Yap.. Guru pun jadi inget kalo kita punya PR yang harus dikerjain. Kebetulan, guru ini adalah guru killer. So, dia bikin peraturan, siapapun yang nggak ngerjain PR, bakal digoreng pake oli bekas. Iya, si Pintar itu adalah si Supri. Biasanya, kalo abis kejadian gitu, jasad Supri kita kibarkan di tiang bendera.
 
4. Cabut ke Toilet

Di saat pelajaran mulai membosankan, dan rasa ngantuk tak tertahankan, di titik itu pula kita akan kehilangan iman. Ujung-ujungnya, demi mencari hiburan, gue izin buat ke toilet sekolah dengan alasan kebelet pipis. Biasanya di toilet gue ngobrol-ngobrol, main domino atau main PS sama temen-temen sampe jam pelajaran selesai. 

Tapi ada kalanya trik itu gagal. Jadi ceritanya, suatu hari pas gue bosen sama pelajaran hari itu karena gurunya ngejelasin sambil males-malesan juga, dia ngomongnya kayak bergumam. Akhirnya gue izin ke toilet dengan alasan perut mules. Beberapa saat berselang, ada beberapa teman menyusul ke toilet. Lima menit kemudian, beberapa teman sekelas juga menyusul ke toilet. Endingnya, sejam kemudian guru gue ikut nyusul ke toilet. Dia ngamuk-ngamuk dan bilang,

"APA DI KELAS KALIAN CUMA SUPRI DOANG YANG NGGAK MENCRET?!"

Kami terdiam, beberapa di antara temen gue ada yang spontan nelan puntung rokok karena ketakutan.

Hari itu, kami semua dihukum buat bersihin toilet pake tangan kosong dan lidah. Sejak hari itu, gue trauma sama toilet sekolah.

5. Razia Sekolah
Setiap hari Senin, di sekolah gue dulu selalu ada upacara bendera. Nah, yang paling nggak ngenakin dari upacara bendera bukanlah berdiri selama satu jam di bawah terik matahari pagi. Tapi, razia rambut, dasi dan topi. Iya, dulu biasanya kalo lagi upacara gitu, guru suka tiba-tiba nongol sambil ngejambak satu-satu siswa yang rambutnya dianggap gondrong. Guru juga narik siswa-siswa yang lupa nggak make dasi dan topi. Yang lupa nggak make dasi dan topi, biasanya dijemur di lapangan upacara sampe jam kedua. Yang rambutnya gondrong, biasanya dicukur pake pisau dapur.

Dengan peraturan sekolah semacam itu, dulu gue sempat kaya karena setiap senin gue bikin bisnis rental dasi dan topi setiap kali menjelang upacara bendera. Alhamdulillah..

Yup.. Kayaknya itu aja dulu yang bisa gue bahas sekarang. Semoga hal-hal yang gue tulis di atas bisa membangkitkan nostalgia kalian. Mau dianggap itu semua adalah perbuatan yang salah, nggak apa-apa. Saat kita muda, kita masih boleh ngelakuin hal-hal yang salah. Biar pas tua ntar, udah ngerti mana yang benar dan salah. Kadang kita emang menyesali perbuatan-perbuatan kita semasa muda. Tapi yakin aja, kita akan lebih menyesali hal-hal yang belum sempat kita coba saat raga udah terlanjur tua.

Oke.. Kalo kalian pernah punya cerita senasib, atau ada poin tambahan tentang hal-hal tak terlupakan selama masa sekolah, silakan share di comment box ya! Terima kasih untuk waktu dan tenaga yang kalian abisin buat baca postingan ini. Ciao!
Read More 80