shitlicious

Selasa, Juli 04, 2017

Mudik ke Jogja Naik Motor Sendirian
Halo teman-teman..
Sebelumnya gue mau ngucapin minnal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir batin. Maafkan gue yang update blognya ngikutin mood doang ini. Padahal, bukan begitu, akhir-akhir ini gue lagi fokus nulis di platform lain, yaitu scenario. Tapi gue selalu mengusahakan untuk tetap mengupdate blog ini, biar nggak disebut sebagai blogger murtad.

Oke, lebaran 2017 ini nuansanya cukup berbeda dibanding lebaran-lebaran sebelumnya buat gue. Biasanya gue mudik naik pesawat terbang atau mobil. Namun lebaran kali ini, gue pengin nantang diri sendiri untuk mudik naik sepeda motor. Kenapa? Karena setahun terakhir gue kebanyakan ngabisin waktu di kantor, maupun di bengkel. Di mana, gue pengin nyari tantangan, dan cerita baru buat nambahin pengalaman.

Hari gini, melakukan sebuah perjalanan itu memang semakin praktis. Zaman gue kecil, dari kampung ke Jakarta naik bus perlu waktu 2 hari 1 malam. Zaman sekarang, naik pesawat cuma 1 jam doang. Hal itu memang bisa memberi keuntungan, yaitu memangkas banyak waktu dan menghemat tenaga kita. Namun, hal itu juga berdampak bagi kita yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan cerita-cerita menarik yang mungkin bisa didapatkan dari perjalanan darat. That’s why, musim mudik taun ini, gue milih buat jalan dari Jakarta ke Jogja naik motor. Dan gue mudik naik motor sendirian, karena teman-teman gue nggak mau ngikutin ide gila gue. Buat mereka, mudik bareng anak istri pake pesawat itu lebih menyenangkan dibanding mudik berdua sama gue motoran. Hih!


Gue mudik di H-4 lebaran, karena gue trauma, taun 2014 gue mudik H-2, ternyata gue malah ngabisin waktu 48 jam perjalanan darat pake mobil. Waktu itu tol Cipali belum aktif, terus jembatan comal pas putus. Jadinya, para pemudik jalurnya dipindahin ke jalur selatan Jawa semua. Efeknya, macet parah terjadi di sepanjang perjalanan mudik. Bahkan, gue sempat tidur di mobil semalam karena mobil-mobil sama sekali nggak bergerak di daerah Bumi Ayu. Keluar dari mobil, bau badan gue sama kayak bau pewangi mobil.

Gue berangkat dari Jakarta pukul 2 siang, karena gue harus ngelarin kerjaan dulu biar klien nggak minta revisi-revisi pas gue lagi jalan. Menurut GPS, diperkirakan perjalanan gue bakal menempuh waktu sekitar 13 jam. Itu kalo nggak istirahat makan, tidur, pipis. Endingnya, kalo gitu sesampainya di rumah, gue bakal kena tifus.


Makanya gue berkomitmen untuk berkendara secara santai aja selama mudik itu, sambil menikmati perjalanan. Jadi, kalo capek ya istirahat, nginep dulu di hotel. Yang penting selamat, karena tujuan mudik adalah bertemu keluarga. Seperti kata nyokap gue, “Saat Lebaran, orang tua itu bukan mengharapkan harta, tapi mengharapkan kehadiran anaknya”.


Sepanjang perjalanan, ada beberapa titik rute yang bikin gue cukup kelelahan. Yang pertama adalah jalanan Jakarta yang memang selalu macet, dan yang kedua adalah jalanan Bekasi yang nggak mau kalah prestasi macetnya sama jalanan Jakarta. Dari Jakarta, sampe keluar bekasi, yang sebenarnya cuma sekitar 30an KM itu, gue ngabisin waktu 5 jam. Di mana, kalo di jalanan Jogja, jarak 30 KM itu bisa ditempuh dalam waktu 1 jam saja. Sepanjang perjalanan Jakarta-Bekasi, gue nggak berasa naik motor, melainkan dorong motor, karena macet parah.

Keluar dari Bekasi, jalanan relatif lancar. Gue istirahat di Karawang buat makan malam dan meluruskan kaki. Lalu gue ngecek GPS, memperkirakan jam 11 malam, kira-kira gue sampai mana. Karena, gue udah berencana, jam 11 gue bakal istirahat untuk tidur, mengingat pagi sebelumnya gue masih sibuk kerja. Menurut GPS, jam 11 malam gue bakal sampai area Cirebon. Akhirnya, sejak dari Karawang, gue coba buat booking hotel, biar nanti sesampainya di Cirebon, gue tinggal check-in, tanpa takut kehabisan kamar, mengingat ini musim mudik.


Iya, gue selalu pake aplikasi Traveloka buat booking hotel maupun pesawat saat last minutes. Daripada harus nelponin satu-satu buat make sure hotelnya udah penuh atau belum, pake Traveloka jadi lebih praktis. Ini contoh pengalaman lain gue pake Traveloka. Akhirnya, pilihan gue jatuh pada hotel Swissbel-hotel Cirebon karena lokasinya cukup dekat dengan rute mudik gue.

Lalu gue melanjutkan perjalanan, dan tepat pukul 11 malam, gue sampai daerah Cirebon. GPS ini punya ilmu hitam macam apa sih? Pinter banget meramalkan masa depan. Sesampainya di Cirebon, gue pun langsung menuju ke hotel yang ternyata nempel sama Mall CSB. Di hotel, gue langsung tidur, dan menikmati istirahat setelah berjuang di jalan seharian.


Paginya, gue udah semangat lagi karena istirahat yang cukup dan sarapan yang nikmat di hotel. Gue pun melanjutkan perjalanan dengan santai di jalur Pantura. Di sepanjang perjalanan siang itu, gue istirahat beberapa kali di mini market untuk numpang buang air kecil dan beli minuman. Iya, gue nggak puasa karena kondisi sedang jadi musafir. Kalo dipaksain puasa, takutnya malah nggak fokus berkendara. Bahaya.

Di setiap perhentian, gue nemu orang-orang yang mudik juga, dan kami sempat berbagi cerita. Salah satu cerita menarik yang gue temukan adalah gue kenalan sama seorang biker bernama Bagus, dia adalah seorang karyawan di salah satu pabrik area Tangerang. Di musim mudik ini, dia naik motor dari Tangerang ke… LOMBOK. Iya, naik motor. Gue sempet kepikiran, apa bokongnya nggak kapalan, naik motor sejauh itu? Hal yang menarik dari cerita Bagus ini adalah, dia udah nggak mudik ke rumah kalo lebaran, gue nggak berani tanya kenapa, tapi yang jelas, kata dia yang gue kutip, begini, “Saya kerja di Pabrik, susah mas buat nyari waktu untuk liburan. Libur paling hari minggu, udah males ke mana-mana karena udah capek kerja seminggu. Momen cuti bersama lebaran gini deh yang bisa saya manfaatin untuk pergi liburan, bareng motor kesayangan. Kapan lagi? Ye gak? Hehe”

Jawaban Bagus ini bikin gue kembali bersyukur, bahwa selama ini gue kerja kantoran, masih bisa ngambil cuti buat liburan, tapi nggak pernah kepikiran buat liburan, malah terlalu fokus ngumpulin duit. Endingnya, kecapekan sendiri, stress sendiri. Jadi, berkat ketemu Bro Bagus itu, gue jadi sadar berharganya sebuah liburan.

Gue pun melanjutkan perjalanan lagi menuju Limpung, daerah kecil di kabupaten Batang, dekat Pekalongan. Gue berniat mau mampir ke rumah rekan kerja gue yang udah mudik duluan. Soalnya, cuaca hari itu random banget. Kadang hujan, kadang cerah. Sesampainya di Limpung, gue dijamu keluarga Seto, sahabat gue. Mereka juga menawarkan gue untuk menginap dulu semalam, biar besoknya fit melanjutkan perjalanan hingga ke Jogja. Namun, gue gemes ngebayangin jarak dari Batang ke Jogja itu udah deket banget. Jadi, dengan sopan gue menolak tawaran keluarga Seto dan memilih melanjutkan perjalanan gue malam itu juga, sambil diiringi doa mereka.

Pukul 11 malam, gue melanjutkan perjalanan dari Limpung ke Jogja. Awalnya gue pengin lewat Semarang, namun karena laporan GPS konon Semarang macet parah, gue milih jalur alternatif Limpung – Parakan – Temanggung – Magelang – Jogja. Di mana jalur itu lebih dekat 2 jam dibandingkan bila gue lewat Semarang. Tentunya jalur alternatif itu nggak semulus jalur Semarang-Jogja.


Jalur alternatif yang gue pilih ini adalah jalur membelah hutan. Di mana kanan-kiri jalanan cuma ada pepohonan, nggak ada lampu penerangan. Perkampungan juga sangat jarang ditemukan. Dan jalanan semacam itu, harus gue tempuh sepanjang 40 Kilometer jauhnya. Sepanjang jalan itu, gue berasa masuk ke masa lalu, di mana peradaban manusia belum secanggih sekarang. Gue khawatir, di ujung jalan, gue nemu Dinosaurus.

Gue nggak takut sama hal-hal mistis yang diceritakan oleh orang-orang yang sering lewat situ. Gue lebih takut sama begal yang bisa aja ngerampas motor dan segala barang yang gue bawa. Yang lebih menantang lagi, ternyata jalanan itu emang sepi banget. Gue naik motor sendirian, tanpa ada orang di belakang maupun depan gue. Sebalnya lagi, gue nggak bisa ngebut di jalanan itu karena jalanan sempit, serta kadang ada tikungan tajam serta jurang tanpa marka jalan. Dengan kondisi mata gue yang rabun senja ini, gue cuma bisa baca surat Al-baqarah di sepanjang perjalanan. Mungkin sesampainya Jogja, gue bakal khatam Al-qur’an.

Syukurlah, setelah kurang lebih 20 Kilometer gue berkendara, gue nemu seorang pengendara motor dengan plat nomor AB, yang artinya itu adalah kendaraan yang berasal dari area Jogja. Gue pun deketin pemotor itu, lalu minta izin buat bareng sampai Jogja. Kenapa gue minta izin? Soalnya kalo gue langsung ngikutin dia mulu, bisa-bisa dia ngira gue berniat jahat, dan dia bisa aja nendang motor gue dengan alasan membela diri. Gue nggak mau mengalami kecelakaan, dengan alasan “dikira begal”.

Sesampainya di Temanggung, kami ngisi bensin. Di sana, gue buka helm, dan uniknya, si pemotor yang bernama Sigit itu ternyata kenal gue. Dia ternyata suka nontonin video-video motor gue di Youtube. Dunia kecil sekali. Akhirnya kami pun barengan sampai ke Magelang, karena Sigit mudiknya cuma ke Magelang, nggak sampai Jogja.

Gue melanjutkan perjalanan sendirian dari Magelang ke Jogja. Syukurlah jalanan di sana sudah ramai orang mudik juga. Sehingga perjalanan gue lancar sampai rumah, tanpa kendala apa-apa.

Sesampainya di Jogja, gue buka masker untuk menghirup udara dini hari di sana. Banyak hal menyenangkan yang gue rasakan saat itu. Perasaan lega karena akhirnya gue sampai di Jogja, udara yang sejuk tanpa polusi layaknya ibu kota Jakarta, and the most important thing.. I’m home.

Hampir 3 hari perjalanan gue jalani, dan banyak hal yang gue dapetin. Mulai dari senangnya berkendara sepeda motor, senangnya ngebut di jalan antar provinsi, stressnya bensin tipis saat jauh dari SPBU, atau seramnya jalan sendirian di hutan belantara. Tapi ya itulah makna dari berpetualang. Merasakan banyak jenis sensasi, yang nggak bisa lo rasain di dalam rumah, atau di ruang kantor doang. Gue nggak bakal kapok untuk motoran ke mana-mana. Karena buat gue, motoran udah jadi bagian hidup gue. Karena setiap gue motoran, gue inget almarhum bokap yang dulu ngasih tau, jangan pernah takut jatuh. Nggak ada orang sukses tanpa terjatuh-jatuh lebih dahulu.

Itulah cerita gue sepanjang perjalanan mudik sendirian kemarin dari Jakarta ke Jogja naik motor. Semoga cerita ini bisa menginspirasi kalian yang pengin melakukan petualangan sederhana, namun besar dampaknya. Oiyah, kalo lo mau liat cerita ini versi video, gue udah bikin videonya juga. Check this out:



See you on another post! Ciao!
Read More 135
Sabtu, Juni 17, 2017

Berbagi Buku itu Seru
Para penulis buku, pastinya berawal dari suka membaca. Begitu juga gue. Sejak SD, gue udah suka baca. Mulai dari buku pelajaran, sampai kamus bahasa Inggris gue lahap kalo udah kehabisan bahan bacaan. Waktu kecil, gue tinggal di daerah yang terpencil. Sebuah desa di kabupaten Sragen namanya. Akses buku di sana sangat terbatas. Makanya, untuk mendukung minat baca gue, setiap kali mama pulang merantau di kota besar, beliau membawakan bundle majalah Bobo beberapa edisi. Dan itu adalah oleh-oleh favorit gue dibanding makanan maupun mainan. Karena berkat majalah itu, gue jadi ngerti betapa menariknya hal-hal di dunia. Yang nggak dijelasin di buku-buku paket sekolah.

===================

Udah hampir 2 tahun terakhir, gue sibuk menekuni hobi lama gue, yaitu main motor. Gue mulai rutin bikin konten video di Youtube yang bahas motor-motor custom. Dan berkat konsisten upload 2 video per minggu, 2 bulan yang lalu channel Youtube gue udah menyentuh angka 100 ribu subscribers. Di mana itu berdampak pada banyaknya teman-teman baru buat main motor.

Dari hobi ini, akhirnya gue ngelihat fenomena di mana anak motor sering dicap sebagai orang-orang yang berandal dan suka kebut-kebutan di jalan. Padahal, gue sadar, nggak semua anak motor seperti itu. Mungkin hanya sedikit oknum yang begitu. Nah, untuk itu, gue berusaha mengubah image kurang menyenangkan itu. Dua minggu yang lalu, gue riding ke Jogja bareng temen gue, Dimas. Kami mengajak anak-anak motor di Jogja buat motoran bareng menuju Gunung Kidul. Ngapain? Balapan? Enggak.


Gue dan temen gue ngajakin rider-rider Jogja buat riding dengan syarat membawa buku bekas mereka untuk disumbangkan ke Perpustakaan daerah. Awalnya ekspektasi kami, bakal ada 20-an rider yang bergabung. Tapi ternyata, ada hampir 200 rider yang bergabung bareng kami pagi itu. Gue cukup kaget dengan fakta bahwa masih banyak rider baik yang mau bantuin kami dalam movement ini.

Sesampainya di Gunung Kidul, kami tiba di desa Semin. Sebuah desa yang letaknya 50 kilometer jauhnya dari kota. Di sana, kami ketemu Bapak Sukino, sang pendiri perpustakaan daerah itu. Beliau menangis terharu saat melihat ada ratusan orang mendatangi perpustakaan sekecil itu, lalu menyumbangkan ratusan buku.


“Ini adalah pertama kali dalam sejarah perpustakaan ini, dikunjungi oleh orang sebanyak ini. Saya terharu, masih ada generasi muda yang peduli terhadap sesama, dan ingin mencerdaskan bangsa”. Cetus beliau saat gue tanya gimana kesan beliau melihat kedatangan kami.

Buku, sebuah benda yang sudah membawakan banyak hal dalam hidup. Membawakan sejarah, membawakan ilmu, dan bahkan membawakan cerita-cerita seru. Kami sengaja memilih untuk menyumbangkan buku, karena kami sadar, akses ilmu pengetahuan via buku masih cukup susah di daerah-daerah terpencil. Berdasarkan pengalaman gue di masa kecil. Jadi, gue bisa bayangin gimana senengnya pak Sukino, saat dapat sumbangan ratusan buku itu dari kami.


Dengan buku, orang-orang di daerah bisa belajar hal-hal baru. Contohnya, masyarakat di desa Semin, Gunung Kidul tadi. Mereka bisa belajar tentang tanaman hydroponic dari Buku, mereka bisa belajar tentang berbagai kerajinan tangan dari buku, mereka bisa belajar mengakses computer juga dari buku. Dan gue, mungkin sekarang nggak jadi penulis, kalo dari kecil gue nggak punya akses buku-buku menarik dan bermanfaat. Bayangkan, betapa banyak manfaat buku bagi masyarakat Indonesia.

Nah, lo semua bisa melakukan hal yang sama kayak yang gue lakukan ini. Kabar baiknya, lo nggak perlu datang langsung ke daerah-daerah terpencil untuk menyumbangkan bukunya. Jadi, sekarang ada gerakan yang namanya #BukuUntukIndonesia yang dipelopori oleh Bank BCA. Gerakan ini bertujuan untuk menyiapkan generasi yang #LebihBaik agar seluruh lapisan masyarakat Indonesia lebih terdidik.

Caranya cukup sederhana dan praktis. Buka aja http://bit.ly/2rvlxpr, lalu pilih menu “Berbagi”. Abis itu lo bakal dialihkan ke halaman Blibli.com, karena gerakan ini juga bekerjasama dengan blibli.com. Di situ akan muncul menu pilihan paket buku yang mau lo sumbangin. Mulai dari Rp.100.000 sampai Rp.1.000.000. Lalu klik beli sekarang, dan bayar deh. Oiyah..ada Kaos Apresiasi berbahan dry-fit gratis bagi para donator yang sudah menyumbang buku melalui gerakan ini.

Oiyah.. Kalo lo mau nyumbang, gue punya kabar baik. Di mana lo bakal dapet potongan nominal sumbangan dan dapet hadiah spesial dari gue. Iya, lo nanti nggak perlu bayar nominal sepenuhnya, namun tetep diitung nominal yang lo pilih, karena dapet diskon dengan kode voucher gue. Lumayan kan? Jadi, silakan gunakan kode voucher “shitlicious” saat lo nyumbang, ya! Buruan nyumbang sekarang, hadiahnya terbatas loh!

Tuh.. Cara bikin orang bahagia, segitu mudahnya kan? So, tunggu apa lagi? Yuk kita dukung gerakan ini, biar saudara-saudara kita bisa dapet ilmu yang lebih banyak lagi.

Okay.. That’s all for today.. Makasih udah baca postingan ini. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa.

Read More 75
Kamis, Juni 15, 2017

Lebaran Bukan Ajang Pamer Kesuksesan
Hati gue hancur kemarin waktu denger berita seorang mahasiswi ditembak oleh rampok yang berusaha merampas hartanya. Gimana enggak, gue kebayang jadi orang tua korban yang membesarkan anak itu dengan penuh kasih sayang. Waktu kecil dia ditimang-timang, dicariin duit dengan memeras keringat supaya dia bisa tumbuh dewasa. Selalu dijaga kesehatannya, dan diobati setiap dia sakit. Namun semua "investasi" orang tua itu terenggut begitu saja oleh tangan perampok yang mau merampas harta yang tak sebanding dengan segala pengorbanan orang tua korban untuk membesarkannya. Semoga korban diberi tempat terbaik di sisi Tuhan, dan semoga kerabat dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Dan untuk para perampok, semoga Tuhan segera membukakan pintu taubat.

 

Gue selalu perhatiin, menjelang lebaran tingkat kriminalitas semakin meningkat. Perampokan, begal, curanmor, menjadi semakin brutal jumlahnya. Bahkan, rumah-rumah kosong yang ditinggalkan mudik pemiliknya pun pada jadi incaran maling. Itu semua beralasan. Banyak orang pengin terlihat sukses di mata teman maupun keluarganya di hari raya. Seakan-akan, hari lebaran bagi mereka adalah deadline untuk menunjukkan hasil kerja kerasnya.

Ya, hari lebaran, di kampung gue biasanya dijadikan hari di mana para perantau menunjukkan pencapaian. Mereka biasanya beli motor baru, mobil baru, baju baru, atau beli perhiasan untuk dibawa silaturahmi keliling kampung. Dengan harapan, mereka akan dianggap sukses oleh keluarga. Padahal, kalo ditarik maknanya, hari lebaran adalah hari kemenangan. Kemenangan melawan hawa nafsu sepanjang bulan ramadhan. Bukan kemenangan melawan kemiskinan sepanjang tahun. Memang hal itu tidak salah, yang salah adalah ketika haris memaksakan diri hanya agar terlihat sukses. Yang dampaknya adalah melakukan hal yang merugikan diri sendiri, maupun orang lain.

Kadang gue suka miris ngeliat ibu-ibu yang dandan heboh di hari lebaran. Memakai perhiasan emas dari pergelangan tangan sampai ke lengan. Untuk menunjukkan bahwa keluarganya sukses mengumpulkan harta. Padahal, itu sangat melenceng dari makna lebaran yang sebenarnya.

Dulu, waktu SD sampai SMP, gue emang suka ngotot harus punya baju baru kalo lebaran hampir tiba. Itu semua berkat dorongan pergaulan di kampung, di mana teman-teman suka mengejek kalo lebaran gue pake baju lama. Namun, dengan bertambahnya usia kita, kebiasaan itu semakin menghilang. Gue semakin cuek dengan apa yang gue pakai saat lebaran tiba. Selama itu masih sopan, rapih, dan wangi, kenapa harus sungkan?

Tapi hal itu tidak berlaku di sebagian orang. Masih banyak orang yang berpikir, hari lebaran semua harus baru, semua harus mewah, semua harus wah. Mungkin orang-orang itu bukan merayakan lebaran, namun mencari kesempatan di hari lebaran untuk jadi ajang pameran. Mindset itu yang pengin banget gue hapus dari diri gue dan keluarga. Lebaran bukanlah momen untuk menunjukkan pencapaian. Lebaran bukanlah momen untuk membahagiakan orang tua. Lebaran bukanlah momen untuk berfoya-foya.

Lo mau bahagiain ortu dengan cara beli perhiasan untuk ibu? Kenapa nunggu lebaran? Lakukan setiap kali lo punya kesempatan dong. Apa ortu dulu juga nunggu anaknya laper dulu, baru dibeliin makan? Nggak kan? Lo mau menunjukkan pencapaian? Kenapa harus nunggu lebaran? Pencapaian nggak perlu ditunjukkan di hari raya. Tunjukkan dengan cara lo selalu care dan bisa mengurangi beban keluarga, setiap saat, itu baru pencapaian namanya. Lo mau berfoya-foya? Lakukan saja secukupnya, di saat otak lo lagi butuh dikendorin setelah melakukan tanggung jawab kerja. As I do, gue selalu komitmen ke diri sendiri, setiap abis ngelarin satu project, gue bakal liburan, mengendurkan pikiran. Nggak perlu nunggu lebaran.

Percuma apabila demi merayakan hari kemenangan, akhirnya orang harus nekat mencoreng sucinya bulan Ramadhan. Orang-orang yang nekat melakukan hal-hal di luar kapasitasnya, untuk menunjukkan pencapaian palsunya, menurut gue nggak pantes merayakan hari lebaran. Mereka yang sibuk untuk terlihat mewah di hari lebaran, gagal meneladani kesederhanaan Rasulullah.

"Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong walaupun sebesar biji zarah (atom)” (HR. Muslim 2/89 dan At Tirmidzi 3/243)

Jadi, gue harap kita nggak lagi heboh menyambut hari raya lebaran dengan bingung ngumpulin uang untuk dihabiskan bersama keluarga. Jangan stress karena di hari raya lebaran, bokek melanda. Jalani semua dengan ikhlas, karena justru pas lebaran itu banyak makanan gratisan. Jadi, ngapain stress karena nggak ada duit pas lebaran? Jangan malu karena belum terlihat sukses seperti teman seumuran lainnya. Malulah kalau kita belum bisa berpikir sedewasa orang-orang yang mampu berbahagia dengan segala kesederhanaannya.

Demikian uneg-uneg gue menjelang waktu buka puasa ini. Semoga bisa jadi bahan renungan kita semua. Kita masih muda, kita bisa menciptakan tradisi yang berbeda. Mari rayakan hari kemenangan dengan penuh suka cita, tanpa perlu menebus semua dengan harta. Bahagia itu sederhana, yang mahal itu gengsinya.

Selamat berpuasa!
Read More 53
Jumat, Juni 09, 2017

Tulang Punggung Keluarga, Harus Kuat Tulangnya
Sejak kecil, gue udah terbiasa hidup penuh perjuangan. Gue kepisah dari ortu gue sejak gue Balita. Sejak saat itulah, gue hidup sama eyang gue. Hidup bareng eyang, tentunya tidak senyaman hidup bareng ortu. Gue nggak kenal dengan yang namanya uang jajan. Sejak SD, gue udah terbiasa dididik eyang dengan aturan: “Kalo mau punya sesuatu, harus ngelakuin sesuatu juga dulu”. Jadi, kalo gue mau suatu hal, misal sepatu baru, gue harus nyabutin singkong eyang, lalu dijual ke pasar. Atau, eyang nggak bakal ngasih uang saku sekolah, kalo bangun tidur gue nggak ngurusin kambing beliau dulu.

Waktu kecil, gue sempet mikir cara itu nggak adil buat gue. Di mana anak-anak lain bisa seenaknya minta ini-itu lalu dikasih, sedangkan gue harus kerja keras buat minta uang jajan doang. Kadang gue iri kepada teman-teman gue, yang seakan ortunya lebih peduli dan sayang kepada mereka. Sedangkan gue, selalu berat hidupnya.

Namun ternyata, background semacam itu membuat gue tumbuh menjadi cowok yang lebih tangguh. Faktanya, di antara temen-temen masa kecil gue yang sekarang juga udah seusia gue, gue termasuk yang paling maju. Bukan bermaksud pamer, cuma gue mau ngasih bukti aja bahwa didikan masa kecil sangat berpengaruh kepada sifat orang saat dewasa. Gimana tidak, teman-teman yang semasa kecilnya dimanja, selalu dikasih apa yang dia minta, akhirnya sampe gede dia selalu jadi ngandelin orang tua. Sehingga, saat dia diminta berdiri sendiri, dia tak cukup tangguh untuk melawan dunia.

Contoh sederhananya, 4 dari 5 temen gue sekarang udah nikah dengan status pengangguran dan kerja serabutan. Kenapa? Karena mereka mudah bosan untuk bekerja di tempat yang sama secara terus menerus. Kenapa mereka betah nganggur? Karena dari kecil, dia tak belajar tentang tanggung jawab. Semua tinggal minta orang tua.

Sedangkan gue, pilihan gue cuma 2:

- Berjuang sampai survive, atau
- Diem ampe mati sendiri.

Iya, eyang gue dulu setegas itu. Saat kecil, gue merasa itu semua nggak adil. Namun setelah dewasa, gue nyadar itu gede banget gunanya.

Ajaran eyang itu gue aplikasikan di dunia kerja, saat gue mulai pindah ke Jakarta. Dulu gue pindah ke Jakarta tanpa ada sanak-saudara, dan bekal duit seadanya. Sebagai anak daerah, gue cukup shock dengan harga makanan, kosan, dan gaya hidup Jakarta. Uang jajan gue sebulan di Jogja, abis dalam seminggu di Jakarta. Apakah itu membuat gue gentar dan pengin pulang lagi ke Jogja? Sempat terpikir begitu, namun akhirnya gue renungin, setiap naik kelas, pelajarannya pasti lebih susah. Begitu juga hidup. Kalo mau hidup yang lebih baik, ya harus berjuang lebih keras. Nggak boleh menikmati comfort-zone dan selalu "tinggal kelas". 


Akhirnya gue berjuang keras di Jakarta buat nyari kerja, memperbesar link, dan setelah perjalanan panjang, dari sehari-hari ngantor naik sepeda yang dipinjemin sama Bena, sekarang gue bisa pergi pake mobil atau moge milik gue sendiri. Itu semua berawal dari impian dan rasa kepepet "kalo nggak kerja, gue nggak makan". Iya, kadang potensi manusia itu baru bener-bener keluar kalo udah "kepepet". Makanya, untuk yang hidupnya santai mulu, saran gue, cobalah untuk menciptakan kondisi "kepepet", biar lo berani nekat.

Sekarang gue udah jadi tulang punggung keluarga, karena Bokap udah nggak ada, dan Nyokap sedang cidera patah tulang kakinya. Gue harus menanggung kebutuhan hidup keluarga gue. Kerja siang-malam di dunia kreatif, tak ada batas waktunya. Itu semua gue lakuin demi keluarga. Dan jangan pikir, kerja di dunia kreatif nggak membutuhkan usaha yang lebih besar. Justru, kerjaan gue mewajibkan gue untuk melakukan berbagai hal. Mulai dari kerja di depan komputer untuk nulis naskah selama berjam-jam, sampai harus mondar-mandir dari pagi sampe malem buat shooting video, atau malah harus sering pergi ke luar kota untuk mengisi seminar dan talkshow.

Dengan gaya hidup semacam itu, berbagai penyakit bisa berdatangan. Dan penyakit yang kadang kita sepelekan karena jarang kita kenali, adalah Osteoarthritis. Tuh, denger namanya aja lo udah bingung kan? Osteoarthritis adalah peradangan sendi yang bersifat kronis dan progresif disertai kerusakan tulang rawan sendi berupa disintegrasi (pecah). Simpelnya sih, itu akibat dari penipisan tulang rawan sendi yang efeknya membuat kita menderita nyeri-nyeri di persendian. Mungkin lo sekarang belum nyadar saat persendian tulang terasa nyeri-nyeri. Mungkin lo sekarang menyepelekannya karena masih belum kena. Tapi yang namanya penyesalan, selalu datang terlambat. Makanya, gue nggak mau merasakan penyesalan juga. Gue harus cukupin Nutrisi sendi, biar bebas gerak, dan tanpa kaku.

Sekarang, kalo abis shooting, atau abis duduk seharian di depan computer, gue sering ngerasa nyeri di lutut, dan pundak. Dan karena gue nggak mau kena penyakit yang aneh-aneh, gue pun mempersiapkan diri dengan Viostin DS, Nutrisi Sendi yang efektif banget. Kalo lo belom tau, Viostin DS adalah nutrisi sendi dengan kekuatan ganda. Viostin DS sangat ngebantu gue buat mengatasi rasa kaku dan nyeri sendi karena lapisan tulang rawan sendi yang menipis atau keropos. Soalnya, lapisan tulang rawan sendi ini fungsinya layaknya shock-breaker pada kendaraan. Yang membuat benturan antara tulang saat beraktivitas, jadi lebih lembut. Kalo lapisan ini rusak, tulang kita bisa langsung berbenturan, dan itu tidak sehat, dan bahkan bisa berbahaya efeknya.

Viostin DS mengandung kombinasi Glukosamin dan Kondroitin yang lebih besar, sehingga lebih cepat dan efektif dalam menstimulasi pembentukan tulang rawan sendi. Dengan rutin mengonsumsi Viostin DS, semua keluhan nyeri sendi gue lama-lama berkurang. Ngerti kan, sebalnya pulang kerja, capek banget, mau tidur, tapi nggak bisa tidur karena nyeri sendi yang berlebihan? Viostin DS lah solusinya. Pokoknya, Viostin DS ini bikin gue bisa gerak tanpa kaku, dan gue bisa lemesin tubuh sesuka gue.

Cara kerja si Viostin DS ini sangat-sangat makes sense. Kandungan glukosamin dan kondroitin dari Viostin DS bereaksi menciptakan cairan synovial yang fungsinya adalah melumasi sendi yang aus, membentuk tulang rawan baru, dan mengatasi rasa nyeri. Serunya lagi, Viostin DS ini aman dikonsumsi bahkan untuk penderita diabetes, karena tidak meningkatkan kadar gula darah bagi orang yang mengonsumsinya. Tapi, harus diinget juga, nggak boleh berlebihan dalam segala hal. Viostin DS aman dikonsumsi 3 kali per hari maksimum selama 3 bulan untuk hasil yang optimal.


Nah, dengan Viostin DS, gue sebagai tulang punggung keluarga, lebih percaya diri dengan kondisi tulang tubuh gue yang nggak digerogoti penyakit. Saran gue, kalo pun elo belum tertarik buat nyobain Viostin DS, coba deh lo beli buat orang tua atau keluarga lo. Nyeri sendi adalah keluhan berjuta-juta manusia berusia paruh baya. Dengan ngasih Viostin DS, seenggak itu itu bisa mengurangi derita mereka. Tuh, jadi anak berbakti pun bisa semudah ngasih Viostin DS ke orang yang tersayang.

Hidup cuma sekali, mending selalu jaga kesehatan diri. Oiyah, kalo lo mau tau lebih mengenai Osteoarthritis, dan minat buat beli Viostin DS, cek: http://www.solusisendi.com/I/r/shitlicious deh.

Okay.. This is the end of the post. Semoga tulisan kali ini bermanfaat buat lo. Ciao!
Read More 49
Jumat, Mei 19, 2017

Traveling Bareng Mama
Beberapa bulan yang lalu, gue traveling ke Tanjung Pinang, tepatnya di Pulau Bintan. Waktu itu gue pergi ke sana selain traveling, gue juga nemenin beberapa teman gue dari luar negeri. Mereka pengin ngelihat indahnya Indonesia, makanya gue ajak mereka ke pulau-pulau, bukan gue ajak ke Mall Senayan City.

Nah, menyadari destinasi gue adalah Tanjung Pinang, gue pun minta mama gue nyusulin gue dari tempat beliau berdomisili, yaitu Pulau Batam. Di mana, cuma perlu naik kapal feri selama kurang lebih 40 menit untuk nyusulin gue. Dan mama pun bersedia menyusul, dengan mengajak sepupu gue buat nemenin beliau sepanjang trip. Kami pun bersama-sama lagi di Bintan.














Ada satu masalah yang lupa gue perhitungkan, waktu itu gue nginep di Bintan Lagoon Resort. Nah, gue lupa belum mesenin kamar buat mama. Gue sempet panik karena waktu itu gue lagi hunting sunset di luar, dan di Bintan Lagoon Resort ini selalu ramai, gue takut nggak tersedia kamar lagi buat beliau. Terus gue iseng mesen kamar buat mama via aplikasi Traveloka. Syukurlah, mama masih kebagian kamar dan gue dapet diskon yang lumayan. Mama pun bisa beristirahat, dan gue bisa bernafas lega.

Hari kedua gue di Bintan, gue pergi menyusuri sungai Sebung untuk mengikuti tour mangrove. Gue dan mama duduk di perahu yang sama, dan kami pun memulai petualangannya. Setelah kurang lebih 20 menit kami menyusuri sungai, mama mulai berkomentar dengan menggunakan bahasa Jawa,

“Mas.. Iki jane meh nendi to? Kok isine wit-witan tok ngene? Lha iki mburi omah yo ono to. Gak perlu neng Bintan”. (Mas.. Ini sebenarnya mau ke mana sih? Kok isinya pepohonan doang gini? Ginian doang di belakang rumah sih ada, nggak perlu ke Bintan).

Dengan sabar gue jelasin ke beliau bahwa kita memang cuma ngeliat hutan konservasi Bakau. Di mana, itu gunanya untuk menjaga kestabilan air dan tanah, untuk mencegah banjir, dan bisa jadi tempat berbagai macam binatang untuk berhabitat.

Beberapa saat kemudian, mama nanya, “Emang binatang apa yang hidup di tempat kayak gini?”

Gue pun nunjuk ke arah atas beliau, dan dalam waktu kurang dari 2 detik, beliau berteriak. “Aaaa!! Ular!! PAKKK!! MAJUIN PERAHUNYA!! ULARNYA DI ATAS SAYA!! NANTI JATUH KE SAYA!! AAAA!!” 


Beliau melompat-lompat di atas perahu karena ketakutan. Perahu mulai bergoyang, semua orang ikut panik. Kang Perahu pun memajukan perahu sebelum mama gue kabur pake pelampung.

Setelah puas menyusuri Sungai Sebung, kami pun kembali ke resort. Di dekat resort, ada pantai yang panjang banget. Gue lupa namanya, tapi nggak bakal lupa indahnya.


Di pantai, gue milih buat main Kayak, beberapa temen gue milih buat main ATV, sedangkan mama gue lebih milih tiduran di ayunan sambil menikmati semilir angin pantai. Gue ajakin mama mandi di pantai, tapi mama cuma jawab, “Nggak mau!! Nggak bisa renang. Nanti tenggelam!" 



Gue pun biarin nyokap buat menikmati liburan dengan caranya sendiri. Buat beliau, tiduran di pinggir pantai adalah sebuah kemewahan. Karena sehari-hari, beliau sibuk berjualan. Jangan anggep gue sebagai anak durhaka, yang membiarkan ibunya kerja keras. Gue sudah pernah maksa beliau berhenti berjualan jamu, namun beliau menolak. Karena bukan uang yang beliau cari, melainkan kesibukan dan teman-teman ngerumpi. Ya, di usia yang mulai menua, manusia biasanya sudah tak punya banyak hal yang dimau, mereka lebih menghargai kebahagiaan-kebahagiaan yang bisa didapatkan secara sederhana.

Setelah puas main di Pantai, kami pun pergi menyusuri Tanjung Pinang untuk melihat hal yang menjadi ciri khas pulau itu. Yaitu, Vihara. Iya, Tanjung Pinang, menurut gue adalah kota dengan 1000 Vihara. Bahkan, di sana ada sebuah Vihara terbesar di Asia Tenggara.

Iya, kami berkunjung ke Vihara Avalokitesvara Graha untuk melihat megahnya tempat ibadah saudara-saudara kita yang menganut ajaran Buddha. Vihara ini ternyata luar biasa gedenya. Di halaman depan, ada ribuan meter persegi kebun Buah Naga. Di depan Vihara persis, ada patung Dewi dan Dewa yang disembah oleh penganut ajaran Buddha.


Masuk ke bagian dalam Vihara, gue langsung mangap. Ternyata bagian dalam Vihara, luar biasa megah dan menakjubkan isinya. Ada patung Buddha gede banget, semacam berlapiskan emas yang mengkilap, ada juga banyak patung-patung dewa lainnya. Bahkan, gue juga ngelihat patung menyerupai Sun Go Kong si Kera Sakti. Semua pemandangan itu membuat gue berdecak kagum, bahwa ternyata di setiap Agama, memiliki kemewahan masing-masing.

Setelah lelah berpetualang, kami pun kembali ke resort. Gue segera menuju kamar gue buat mandi dang anti baju. Namun, belum juga gue masuk kamar mandi, Mama nelpon gue.

“Ya, Ma?”

“Tolong mas..”

“Hah?! Mama kenapa?” Gue segera memakai sandal gue dan bergegas keluar kamar.

“Mama nggak bisa buka pintu kamar. Soalnya ini nggak dikasih kunci, malah dikasih kartu ATM”.

Mendengar jawaban Mama, gue lompat dari lantai 3 dan berniat untuk pingsan dulu 10 menit.

Iya, mama gue memang segitu polosnya. Dari dulu, beliau belum pernah tidur di hotel. Karena setiap kali gue ajak piknik, mama selalu nolak. Beliau berpikir, daripada piknik, mending duitnya ditabung. Namun saat itu beliau mau menyusul ke Bintan karena beliau rindu sama gue, bukan karena beliau pengin piknik. Kenapa gue bisa bilang begitu? Karena menjelang pulang ke Batam, gue sempet Tanya mama.

“Mama suka nggak, piknik ke Bintan?”

“Yah.. Suka deh.. kan ketemu Mas Alit” Jawab mama dengan nada datar.

“Loh? Nggak suka sama pikniknya?” Gue mengernyitkan dahi.

“Mama kan nggak suka piknik, Mas. Kalopun Piknik, mama cuma mau pergi ke satu tempat”.

“Ke mana, Ma?”

“Mekkah”. Nyokap tersenyum sambil menatap mata gue dalam-dalam.

Gue tertampar dengan kata beliau itu. Selama ini gue sering nyoba nyenengin beliau dengan ini-itu. Namun gue lupa, dari kecil, mama selalu bilang, beliau pengin naik haji.

Yah.. Traveling ke Tanjung Pinang kemarin, gue dapet pengalaman, keseruan, dan pelajaran. Namun yang terpenting, gue jadi termotivasi buat nabung biar mama bisa naik haji.

Okay.. This is the end of the post. Semoga apa yang gue sampaikan ini bermanfaat buat lo semua. Oiyah.. kalo lo pengin traveling juga, gue saranin lo pesan tiket pesawat maupun booking hotel jauh-jauh hari. Biar dapet harga lebih murah, dan bisa dapet harga promo juga, apalagi kalo lo pesen tiket pesawat, sepaket sama booking hotel. Makin murah deh! Coba deh, cek: http://traveloka.com/packages biar lo tau murahnya traveling bersama Traveloka.

I’ll see you around! Ciao!
Read More 74