shitlicious

Senin, Juni 20, 2016

Youtube Lebih dari TV?
As a man who has been living long enough to see the evolution of social life.. Halah... Gak perlu pake bahasa Inggris. Gak nambah ganteng juga.

Jadi gini, kemarin gue kaget liat keponakan, masih TK, tiba-tiba nyeletuk, "I don't give a f*ck, Bi*ch!", sebagai seorang Om yang budiman, gue shock mendengar kalimat itu keluar dari bibir bocah yang makan bubur aja kadang ngunyahnya belum halus. Gue pun nasihatin dia,

"Dek.. Gak boleh ngomong gitu. Gak baik." Ucap gue sambil mengelus kepalanya pake tongkat baseball.

Lalu dia melompat-lompat sambil menjawab, "I d*nt give a f*ck, bi*ch! I don't-I don't give a f*ck! Boom!"



Sesaat kemudian tongkat baseball yang tadi gue pegang retak, dan kepala tuh bocah keluar darah.

Becanda ding...

Yep.. Seperti yang gue pelajari, gak ada anak nakal, yang ada adalah anak yang meniru. Begitu juga dengan keponakan gue itu. Dia tidak berniat untuk berbuat hal yang tidak baik di mata kita. Dia hanya meniru hal-hal menarik dan keren di matanya. Dan benar saja, ternyata dia meniru apa yang sering dia lihat di Youtube. Gue yakin, sebagian besar dari kalian ngerti video macam apa yang ditonton dan ditiru sama keponakan gue itu.

Gue jadi nyadar, dulu zaman muda, gue suka bikin tulisan-tulisan yang cenderung joke-nya jorok. Sering juga ditegur sama sohib gue Benakribo. Tapi waktu itu gak gue gubris. Karena gue belum liat efek nyatanya. Melihat apa yang terjadi ama keponakan gue itu, gue jadi nyadar, ternyata karya seorang idola bisa sebegitu mempengaruhinya.

Memang, zaman sudah berbeda, anak-anak sekarang banyak yang tidak lagi mengikuti anime, lagu anak, maupun sinetron lagi. Banyak yang menghabiskan waktu dan kuotanya untuk nonton Youtube. Sehingga, sifat anak-anak zaman sekarang jelas berbeda dengan sifat anak-anak generasi sebelumnya.

Bagi anak 90an, mereka bangga dengan masa kecilnya yang indah, penuh dengan lagu anak-anak dan acara anak-anak di TV. Bagi generasi 2000an, sudah banyak dipergunjingkan karena sifat mereka yang mengikuti sinetron-sinetron dan acara musik yang hostnya ngondek dan konon "tidak mendidik".


Hingga akhirnya, di 2010 ke atas, beberapa orang mulai melakukan gerakan perlawanan atas acara-acara TV yang kurang mendidik dengan cara membuat konten sendiri via Youtube, yang konon lebih mendidik.

Pada awalnya, Youtube dan Vimeo memang sebuah media yang sangat menghibur dan mendidik di mata gue sebagai user biasa. Namun dengan naiknya popularitas Youtube karena mulai lancarnya internet Indonesia dan Smartphone yang bisa mengakses Youtube semakin terjangkau harganya, akhirnya Youtube menjadi pisau bermata dua.

Youtube bisa menjadi platform yang penuh ilmu, namun juga bisa menjadi platform yang penuh dengan penyakit. Tergantung konten macam apa yang sering dinikmati oleh penontonnya. Dari video-video kucing giting, sampe tutorial menciptakan bom pun ada di sana. Nah, kalo yang nonton orang yang sudah dewasa pola pikirnya, dia kemungkinan besar bisa menyaring isinya. Kalo yang nonton anak-anak? Mereka tidak akan bisa menyaring apa yang mereka lihat, tanpa peran orang tua.

Youtube lebih dari TV?

Makes sense... Tapi hal itu berlaku untuk segmen A & B, dan mungkin sebagian segmen C+. Di mana segmen-segmen itu cukup mampu untuk memiliki gadget yang support Youtube & beli kuota internet yang cukup gendut dan biasanya tinggal di daerah perkotaan atau suburban yang jaringan internetnya nggak mengenaskan. Tapi bagi sebagian segmen C & D, terutama di daerah-daerah yang jaringan internetnya masih GPRS, mereka masih menikmati acara-acara TV.

Dan inget, manula, ibu-ibu, bapak-bapak, masih lebih suka nonton Tukang Bubur Masuk ISIS dibanding nonton web-series. Jadi, kalo dibilang Youtube lebih dari TV sih, gue pikir belum. Segmen penonton TV masih lebih luas dibanding pengguna Youtube di Indonesia, mengingat jumlah rakyat miskin di negeri ini masih luar biasa. Yah, memang tak menutup kemungkinan, Penonton Youtube semakin bertambah, dan penikmat TV semakin berkurang di masa depan.

Menurut survey yang pernah gue baca, tahun 2013, Indonesia termasuk dalam sekitar 20% pengguna Youtube dunia. Gak heran, kita emang udah masuk ke taraf kecanduan internet. Berbagai sosial media kita coba. Gak percaya? Gue yakin ada yang punya ID Path, Facebook, Twitter, IG, Line, secara bersama-sama. Tenang.. Gue juga. Dan angka 20% ini gue yakin akan membesar terus ke depannya. Betapa mengerikan kalau nantinya Youtube benar-benar lebih dari TV, namun kualitas kontennya lebih rusak dari TV? Kebayang gak, kalau sampai smartphone kelak jatuh di tangan orang-orang yang tidak smart? Ditambah lagi, penonton Youtube Indonesia mayoritas adalah ABG dan remaja. Gak percaya? Liat aja Youtube Fan Fest taun kemarin. Banyakan yang dateng anak SMP dan SMA. Ngeri loh anak-anak usia mencari jati diri ini kalo sampe tersesat oleh info yang salah.

Oke.. Udah ngalor ngidul gak jelas, sebenernya gue mau ngomongin apa?

Gini.. Gue cuma mau mengajak semua pihak, baik itu content creator di Youtube ataupun penikmat Youtube untuk menyiapkan diri atas migrasi pengguna TV ke Youtube di masa depan.

Bagi para creator, marilah kita pahami bahwa Youtube adalah platform yang sangat mudah diakses oleh siapapun dengan gadget mereka. Untuk itu, mari kita ciptakan konten yang proper agar bisa dinikmati oleh segmen yang tepat sasarannya. I know, sebagian dari creators mungkin mikir, "Gue bebas berekspresi di akun gue sendiri dong! Kenapa diatur-atur?"

Oke.. Setuju, tapi tolong kembali diingat, kita main Youtube itu berawal dari keresahan kita akan acara-acara di TV yang tak mendidik, kan? Jangan sampai kita mengulangi kekurangan TV yang pernah kita sebalkan ini di Youtube. Yang artinya, kita gagal memperbaiki apa-apa. Kalopun mau mengupload konten-konten yang vulgar, tolong.. Tolong banget seenggaknya kasih Warning bahwa konten itu bukan buat bocah. Lebih baik lagi, kalo lo set video itu dengan fitur "age-restriction". Sehingga video itu gak bisa ditonton bocah-bocah yang belum cukup umur. Ada kok menunya di Advanced setting Video Manager Youtube.

Fitur itu akan memaksa orang yang mau nonton video vulgar untuk login dan diverifikasi usianya. Kalo gak cukup umur, display ini bakal nongol.

 

I know, bocah-bocah itu bisa memalsukan usianya untuk tetap menikmati video itu. Tapi, at least, kita udah menunjukkan bahwa kita tidak berusaha menyesatkan mereka dengan konten yang tak sesuai dengan usianya. Sisanya, adalah tanggung jawab orang tua. 

Jadi, marilah kita kembali ke semangat awal kita, 

"Acara TV gak ada yang mendidik? Lalu, sudahkan konten Youtube kita mendidik?"

Yah.. Gue tau, mendidik anak orang bukanlah kewajiban kita. Tapi gue sangat berharap, kalopun kita gak bisa mendidik, setidaknya janganlah merusak anak orang deh. Apa kita siap, jika suatu saat anak kita yang masih balita, kalimat pertamanya adalah "I don't give a f*ck, b*tch"?

Untuk para orang tua, gue lihat banyak yang bebasin anak main gadget, nonton Youtube, yang penting gak rewel. Please. Jangan secuek itu. Orang tua harus memperhatikan dan mendampingi anak-anak saat menikmati konten apapun di dunia internet. Jangan sampai anak-anak menikmati konten yang tidak tepat usia.



Gue sarankan, bagi para orang tua untuk menginstall Youtube Kids/Kids Videos for Youtube di mana isinya adalah konten-konten pilihan dari Youtube yang memang untuk anak-anak. Sehingga, anak-anak bisa tumbuh dengan wajar, tanpa mengikuti hal-hal kurang baik yang mereka anggap keren. Gue yakin, gak ada orang tua yang mau anaknya bikin bom sendiri dan meledakkan kandang ayam tetangga.

Atau, kalo masih tetep mau pake aplikasi native Youtube, pakai cara lain untuk mengarahkan konten-konten yang layak ditonton anak-anak. Dalam waktu senggang orang tua, pilihlah konten-konten anak-anak di Youtube, lalu klik menu Safe Offline. Lalu, saat anak-anak memegang gadget, pastikan gadget itu berada di Airplane Mode, sehingga mereka hanya bisa mengakses video-video yang sudah anda pilihkan sebelumnya, tanpa bisa nyasar ke video-video orang dewasa.

Gue ngomong gini karena resah banget. Beberapa minggu yang lalu, ada beberapa video film dewasa Korea yang isinya semi bokep di halaman "Trending" Youtube. Di mana, siapapun bisa nonton, tanpa perlu login. Termasuk adik lo, anak lo, ponakan lo, bisa ngebokep semua. Ini creator yang upload videonya terkutuk! Mau banget Youtube beneran diblock dari Indonesia karena meresahkan? Lalu kita terpaksa nonton acara-acara yang dipilih pemerintah doang?

Yap.. That's all I can say on this post. Maaf, jempol udah pegal ngetik. Soalnya ini gue ngepost dari hape. Semoga postingan ini bermanfaat dan bisa membuat kita semua sadar, bahwa teknologi gak cuma harus diikuti, tapi juga diwaspadai. Ingat, tulisan ini adalah sebuah ajakan, bukan pemaksaan, maupun perlawanan. The choice is yours. I ain't a saint. I did mistakes as well. Yet at least I try to make things better than yesterday. Would you do it too?

Buat yang mau liat konten-konten Youtube gue, silakan subscribe channel gue yah! Isinya webseries belajar bahasa Inggris, MotoVLog tentang sepeda motor custom, gadget/apps review, cerita bergambar yang inspiratif, dan DIY mainan-mainan hobby:


*tetep promo* *fakir subscribers*

Oiyah.. Lo ada pengalaman efek Youtube buat anak-anak kecil di sekitar lo? Tulis di kolom komentar ya! :)
Read More 77
Senin, Mei 30, 2016

Tipe-tipe Teman Yang Pasti Akan Pernah Kamu Temui Dalam Hidup
 


Eyang gue pernah bilang,

"Di belakang orang sukses, akan selalu ada tiga pihak: Pembenci, Pendukung, dan Penjilat."

Dulu gue nggak  ngerti maksud eyang gue itu apa, tapi setelah gue berkarier, akhirnya gue mampu memahaminya.

Selama 17 tahun gue hidup di dunia, dari zaman masih orok hingga jadi pria tampan nan dewasa seperti sekarang, gue sudah menemukan berbagai bentuk karakter manusia. Tak bisa dipungkiri, mereka juga turut andil dalam membentuk karakter gue hingga jadi kayak begini. Nah, setelah gue analisa secara lebih mendalam, akhirnya gue bisa mengklasifikasikan beberapa tipe teman yang pernah sekedar mampir dalam hidup, atau masih eksis mengisi hidup gue.

Pembenci (Hater)
Buat sebagian orang, haters itu akan dianggep sebagai musuh. Tapi buat gue, haters itu tetep masuk ke dalam daftar teman. Teman yang cukup penting, malah. Kenapa? Karena haters adalah orang yang tak lelah mencari-cari kekurangan gue untuk dijadikan bahan hujatan. Nah, kalo dalam proses pembuatan website atau aplikasi developer aja harus bayar orang buat nyari "bugs" (masalah dalam coding web/aplikasinya), ini gue punya orang-orang yang dengan suka rela mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikirannya cuma buat nyari "bugs" di diri gue. Hal itu membuat gue berkesimpulan bahwa, haters adalah teman yang paling tulus.

Namun, ada haters yang gue kurang suka. Yaitu haters yang nggak ngasih tau kekurangan gue apa, tapi cuma ngata-ngatain aja. Biasanya haters semacam ini, gue temuin tiap pagi lagi ngaduk-ngaduk tempat sampah, atau nguras septic-tank.


Pendukung
Ini adalah tipe teman yang mungkin paling gue butuhin. Soalnya, gue adalah tipikal orang yang nggak bisa ditinggalin sendiri. Soalnya gue suka ngobrol. Apapun masalah yang gue hadapi, bisa tuntas atau minimal berkurang bebannya kalo udah ngobrol.

Teman yang supportif, bukan sportif, adalah tipe teman yang dibutuhkan oleh siapa saja. Dia bisa menemani kita, menjadi winger kita, membantu memecahkan masalah kita, atau setidaknya selalu siap minjemin telinga.

Namun, gue juga nggak suka teman yang terlalu supportif, di mana dia bakal selalu bela gue, gak peduli gue bener atau salah. Membela seseorang cuma dengan alasan solidaritas itu kadang tidak tepat. Kita tidak perlu memusuhi orang, cuma karena teman kita memusuhinya. Kita gak perlu membela teman, di saat teman kita yang membuat kesalahan. Solidaritas yang kebablasan itu adalah dorongan bagi orang-orang pengecut yang suka membuat masalah, untuk diselesaikan secara keroyokan.

Penjilat
Ini adalah tipe teman paling menakutkan. Tipe penjilat atau orang bermuka dua ini sebaiknya berteman dengan orang yang suka cari muka. Biar imbang jadinya.

Kenapa gue bilang teman penjilat itu paling menakutkan? Soalnya, teman yang suka menjilat kadang membuat kita terlena dengan segala kata dan sikap baiknya. Sehingga kita menjadi sangat percaya kepadanya. Lalu kita menitipkan masalah-masalah pribadi kepadanya. Namun endingnya masalah itu menyebar ke mana-mana.

Teman penjilat, selalu bermotivasi untuk membuat hidup kita tak lagi menyenangkan, dan mengambil sebanyak mungkin keuntungan. Di depan kita, dia akan ngomong dengan segala kelembutan, di belakang kita dia akan menyebarkan kebencian.

Teman Sekedar Kenal
Ini adalah tipe teman yang sekarang paling banyak jumlahnya. Di dunia internet ini, kita sering balapan jumlah friendlist maupun followers di sosmed. Sehingga kita merasa punya banyak teman, padahal itu semua cuma angka.

Teman ala kadarnya di sosial media ini tak akan memberikan banyak efek di kehidupan nyata. Tak akan menjenguk kita saat sedang diopname. Tak akan datang ke rumah saat kita merayakan ulang tahun. Tak akan melayat saat keluarga kita berkabung. Karena semua mereka wakilkan dengan komentar "GWS, HBD, dan Emoticon Frowned."

Teman yang seperti ini, membuat kehidupan tak bisa lepas dari belenggu sepi. Tak ada ikatan empati, maupun ikatan hati. Makanya, nggak perlu banyak-banyakan teman yang tak bisa benar-benar diajak silaturahmi. Mereka ada atau gak ada, hidup kita nggak akan terlalu terpengaruhi.

Yak.. Itu sedikit curahan hati gue mengenai pertemanan. Semoga bisa mewakili isi hati kalian juga. This is the end of the post. Thanks for reading.

Btw, lo paling banyak punya tipe teman yang kayak apa?
Read More 59
Sabtu, Mei 07, 2016

Musim Libur, Ke Bali Gratis yuk!
Bentar lagi musim libur panjang dateng. Udah ada rencana buat jalan-jalan belum? Kalo belum, gue mau ngajakin lo liburan ke bali gratis. Siapa tau, lo tertarik buat ikutan. Wahai para banci kuis, mana suaranyaaaaa? Uuuuuww.. Bali!!


Background story dulu nih, jadi ceritanya, Huawei abis ngerilis gadget baru. Namanya adalah Huawei Y6 4G, generasi baru dari Huawei Y6 sebelumnya. Nih gadget adalah smartphone dengan harga yang terjangkau buat kantong kita, para fakir warteg ini, namun support koneksi 4G. Bayangin, hape dengan harga di bawah 2 juta, bisa buat streaming Youtube HD tanpa buffering.

Koneksi 4G itu udah jadi kebutuhan vital untuk smartphone zaman sekarang. Soalnya, jaringan 3G udah penuh sesak, jadinya, speed upto 7,2 Mbps yang ditawarin oleh provider di jaringan 3G pun udah overload. Ditambah lagi, dengan kualitas multimedia contents yang semakin oke, pastinya makan bandwidth internet semakin gede juga. Bisa dibilang, jaringan 3G sudah nggak kuat melayani hasrat internetan kita di zaman sekarang.

Dengan alasan itu, Huawei Y6 4G datang dan mencoba untuk menyadarkan kita bahwa koneksi 4G adalah fitur yang wajib untuk disematkan di smartphone zaman sekarang.


Ditambah lagi, dengan harga segitu, Huawei Y6 4G udah didukung kamera yang jernih, resolusi 8 Mega-pixel dan f/2.0. Selain itu, kameranya juga udah canggih! Ada fitur face detection, panorama photo, panorama selfie, dan touch focus. Bayangkan, kurang worth it apa?!

Buat lo yang pengin ngerasain semua fitur itu sambil liburan ke Bali gratis, yuk ikutan kompetisi Huawei Y6 4Gent (baca: Huawei Y6 4G Agent). Bakal dipilih 5 orang peserta yang akan dikirim ke Bali buat liburan dan ngetest semua fitur canggih Huawei Y6 4G. Selain itu, selama 3 hari di Bali, peserta nggak perlu mikirin soal penginapan, transportasi dan makanan. Semua ditanggung Huawei plus uang sakunya loh! Terus, buat tim yang performanya paling oke sepanjang menjalani challenge-challenge seru di Bali, bakal dapet duit 10 juta/orang. Asik parah kan?

Caranya gimana, Litt?

GAMPANG BANGET! Cek aja blog temen-temen gue: Alex, ArievRahman, Ary, dan Falla, mereka nulis postingan soal Huawei Y6 4G. Di mana, ada keyword yang mereka sembunyikan dalam postingan mereka itu. Tugas lo adalah, nyari 1 keyword dalam setiap postingan. Jadi, totalnya ada 4 keyword yang harus lo temuin dalam postingan-postingan itu. Kalo bingung soal clue, boleh colek mereka di twitter. :p

Kalo udah nemu, susun dan submit keempat keyword itu ke web: http://weipossible.com


Begitu lo udah bener nyusun dan submit semua keywordnya (urutkan biar jadi frase yang masuk akal ya), lo tinggal nunggu aja pengumuman siapa aja peserta yang bakal dipilih buat diajakin main ke Bali. Simpel kan? Yuk lah, ikutan!
Read More 45
Jumat, April 08, 2016

Esensi Dari Mencintai

Kadang kita dihadapkan dengan pertanyaan dan pendapat dari lingkungan:

"Kok kamu mau sih sama dia?"
"You deserve better.."
"Kamu tuh gak bakal bahagia sama dia."
"You're nothing to him."

Lalu kita terpengaruh, lalu kita menyerah memperjuangkan perasaan kita kepada orang yang dicinta. Kita merasa, benar juga pendapat mereka. Lalu langkah kita untuk mundur, didukung oleh mereka dengan suka cita.

Namun, kita lupa esensi dari mencintai. Bukan mereka yang merasakan, bukan mereka yang menjalani. Jadi, bukan mereka yang berhak memutuskan yang terbaik untuk dijalani. Esensi dari mencinta adalah untuk merasa bahagia, bukan untuk terlihat bahagia. Memperjuangkan hati si dia, bukan hati lingkungan kita. Menikmati pengorbanan, bukan memaksakan pengorbanan.

Orang yang beneran mencinta, saat berjuang untuk orang yang tak bisa termiliki pun bisa tetap merasa bahagia. Orang yang tak benar-benar mencinta, akan kebanyakan mikir untung-ruginya, mungkin-tidaknya, matematis dan logika.

Alogaritma cinta itu unik. Kita gak bisa compare apple to apple untuk menciptakan pasangan yang harmonis & bahagia. Dua orang dengan kesetaraan level IQ & EQ, apakah menjamin langgengnya hubungan mereka? Tidak.

Orang yang lebih cerdas, kaya, cakep, banyak. Tapi apakah level kecerdasan, kekayaan, dan kecakepan setinggi itu yang selalu cocok untuk kita? Tidak.

Justru kadang kita merasa lebih nyaman dengan orang yang nggak lebih cerdas, karena kesamaan kecerdasan kadang malah membuat kita sering berdebat. Kita kadang lebih nyaman dengan orang yang hidupnya gak begitu mentereng, karena mungkin kita akan kewalahan sendiri mengikuti gaya hidupnya. Dan kadang kita lebih suka sama orang yang gak cakep-cakep amat, karena tampangnya nggak bikin insecure bakal ditaksir orang lain. 

Nah, kalo udah ngerti hal-hal semacam itu, artinya kita sudah tau yang kita butuhkan. Akan selalu ada orang yang lebih ini-itu di luar sana, tapi belum tentu mereka bisa jadi pasangan yang lebih baik dari yang kita cinta. Kadang, segala kelebihan mereka, hanya akan jadi bahan ketertarikan sesaat saja.

Mencintai berdasarkan kebutuhan itu lebih indah. Sedangkan mencintai berdasarkan kemauan itu bakal penuh tekanan, apalagi kalo mencintai berdasarkan kemauan orang lain. Segala yang kita lakukan, akan berdasarkan penilaian orang lain. Ngapain?

Mending kita mencintai orang yang kita butuhkan, dibanding mencintai orang yang kita mau. Kita bisa bosan dengan apa yg kita mau, tapi kita gak akan lepas dari orang yang kita butuh. Jadi.. Silakan mencintai siapapun, yang penting kamu bahagia dan nyaman. Jangan biarkan pendapat lingkungan, menjadi sebuah sandungan. Yang penting kamu mampu mengecap kebahagiaan.

Lebih baik patah hati karena pilihan sendiri, daripada patah hati kepada orang yang bahkan tak benar-benar kita kehendaki. Dan lebih seru lagi, kalo kita bisa mencintai orang yang kita pilih sendiri, daripada memiliki orang yang tak kita cintai.

Mencintalah sampai kamu dianggap bodoh. Cinta itu tanpa logika, semakin kamu jatuh cinta, kamu akan semakin terlihat gila. Biarkan orang lain menganggapmu tak punya malu, asal orang yang kamu cinta bisa kamu buat terharu. Karena cinta akan menciptakan refleksi pada diri sendiri. Rasa yang kamu ciptakan untuk si dia, nantinya rasa itu akan kembali kepada dirimu juga. 

Jangan kamu tanggung beban atas ambisi orang lain. Biarkan otak mereka mengomentari cara kerja hatimu. Seperti manusia yang mengecam hujan, di saat yang sama, mereka tak sadar bahwa air adalah sebuah kebutuhan.

Have a good day!
Read More 77
Kamis, Maret 10, 2016

Apakah Bilang Cinta itu Berarti Nembak?


Waktu STM, gue suka ama seorang wanita. Setiap hari kami bertemu di kantin. Sambil makan siang, kita sering ngobrol, berbagi banyak hal, dan canda tawa. Gue berbagi tentang pelajaran-pelajaran yang susah. Dia berbagi tentang berapa banyak murid yang dia cukur paksa rambutnya di ruang BP.

Segala keramahan dia, membuat gue merasa nyaman untuk bersamanya. Kebaikan dia juga satu hal yang menambah kekaguman. Kadang gue kalo balik sekolah jalan kaki, dia tawarin tebengan dengan sepedanya. Dia yang boncengin gue. Gue duduk bonceng sambil makan es krim. Sampai akhirnya, setahun kami dekat, di dada gue ada rasa yang membuncah-buncah. Gue merasa berdekatan dengannya adalah candu, sedangkan jauh darinya adalah bibit rindu. Iya, gue nyadar bahwa gue jatuh cinta kepadanya.

Pagi itu, gue beranikan diri untuk sengaja make celana jeans dan kaos oblong ke sekolah. Biar gue dipanggil ke ruang BP dan bertemu dia. Rencana itu berhasil, dan di ruangan itu akhirnya kami hanya berdua. Setelah panjang lebar dia menasehati tentang pelanggaran tata tertib sekolah, dia terdiam dan terlihat kecewa. Namun, dengan segala usaha, gue coba bikin dia ketawa. Dan akhirnya berhasil juga. Gue kembali melihat sebuah senyum indah, berkat kolaborasi gigi yang rapih dan bibir tipis yang ranum itu. Saat dia tertawa terlalu kencang, gue tempelkan jari telunjuk gue ke bibirnya. "Sssh.."

Tawanya terhenti, suasana mendadak hening sekali, sesaat terdengar suara jam dinding berdetak. Dia lalu merapihkan rambutnya yang sudah sedikit beruban itu dengan rasa canggung. Di saat itu, gue bilang, "Kamu tau kenapa aku suka membuatmu tertawa?"

Dia hanya menggeleng sambil menyembunyikan rasa malu. Gue melanjutkan omongan gue, "Karena membahagiakanmu adalah hal yang bisa membuatku merasa berguna. Sehingga, hal itu membuat aku bahagia juga."

Dia termenung. Gue lanjutin omongan gue lagi, "Mungkin ini terdengar bodoh, tapi aku hanya ingin kamu mengerti. Aku mencintaimu, sejak pertama kali kamu menawariku untuk duduk berdua di kantin dan makan bersamamu. Kesederhanaan dan keramahanmu, meluluhkan hatiku yang sempat membatu."

Yap! Gue akhirnya meluapkan semua isi hati yang sudah lama gue pikul sendiri. Dan apakah dia senang mendengarnya? Gue nggak tau. Tapi sejak hari itu, dia tak pernah makan di kantin lagi. Dia nggak pernah ngajak gue ngobrol lagi. Dan setiap pulang sekolah, dia naik Jet Pribadi, agar tidak berpapasan sama gue yang jalan kaki.

Iya, dia menghindar setelah gue mengakui bahwa gue mencintainya. Gue kecewa, ternyata sifatnya tak sedewasa umurnya. Oh.. Bu Ningsih.

***

Cerita di atas, bikin gue pengin berbagi sesuatu ke kalian. Iya, tentang ungkapan cinta dan konsekuensinya.

Jadi, menurut pemahaman gue, ungkapan cinta itu NGGAK SELALU berarti nembak. Itulah kenapa, gue suka heran kok ada aja orang yang cinta, tapi nggak berani mengakuinya. Ada yang takut ditolak, ada yang takut jadi berjarak. Padahal  sekali lagi, bilang cinta, bukan berarti nembak. Bilang "aku cinta kamu", bukan berarti "kamu mau jadi pacarku nggak?"
Karena itu pengakuan atas sebuah rasa, bukan ekspresi atas sebuah asa.

Yang lebih nyebelin lagi adalah oknum-oknum yang tukang ge'er. Gara-gara ada orang yang nggak dia suka bilang cinta ke dia, lalu dia ngabur gitu aja. Oknum-oknum yang kayak gini yang bikin orang jatuh cinta, memilih untuk diam saja.

Mari kita berpikir secara lebih dewasa. Coba kita ubah sudut pandang kita mengenai orang yang mengucapkan kata cinta. Jangan anggap sebuah ungkapan cinta itu sebagai tembakan, tapi sebuah pujian.

Kenapa dia cinta ke elo? Pasti dia melihat hal-hal yang menarik dari elo. Itu pujian.
Kenapa dia cinta ke elo? Pasti dia menilai elo bisa membuat dia nyaman. Itu pujian.
Kenapa dia cinta ke elo? Pasti dia berpikir elo spesial. Itu pujian.

Nah, dari fakta-fakta di atas, bagian manakah dari ungkapan cinta yang membuat lo tersinggung? Gak ada. Lalu kenapa lo harus menghindar kalo orang yang gak lo suka memberi sebuah pujian ke elo? Jangan jadi makhluk yang sok terlalu berharga, di mana cuma mau menerima pujian dari orang yang elo suka aja.

Cinta itu adalah anugerah Tuhan yang nggak bisa diatur oleh pikiran. Kalo ada orang yang cinta, itu bukan manusia yang menghendaki. Hatinya yang terjatuh sendiri. Dia jatuh cinta kepada orang yang kadang tak dia duga. Dan buat lo yang belum pernah jatuh cinta, gue kasih tau: Cinta itu bisa jadi beban di hati, kalo belum pernah diakui. Itulah kenapa, orang yang jatuh cinta, cenderung ingin mengungkapkan perasaannya. Bukan.. Bukan untuk memilikimu, tapi cuma ingin merasa lega aja dulu.

Nah, terus gimana kalo abis ada orang yang bilang cinta ke kita?

Ya ucapin makasih aja. Gak ada tendensi untuk bilang "aku juga cinta" atau "maaf, aku gak merasakan hal yang serupa" kok.

Setiap orang berhak untuk mencintai, lalu mengakui. Nah, untuk urusan memiliki, baru butuh sebuah kesepakatan. Lalu bagaimana agar kesepakatan itu terwujud? Ya kalian berdua harus punya perasaan serupa. Kalo tidak ada perasaan serupa? Ya lanjutkan hidup, tanpa perlu terbebani oleh ungkapan cintanya. Anggap saja itu sebuah pujian yang bisa kamu terima, tanpa perlu respon spesial juga.

Gue kasih tau serunya kalo ada orang yang ngungkapin cintanya. Nikmati aja.. Biarkan dia membuktikan apa yang dia ucapkan, dengan perbuatan yang nyata. Tanpa perlu lo minta. Kalo emang dia cinta, dia akan terus berjuang ke depannya. Tapi kalo cintanya di bibir saja, nanti dia juga akan lelah dan bosan berjuang. Wajar.. (Baca: Kadang orang juga salah mengartikan perasaannya.) Orang yang beneran cinta, tak akan lelah untuk berjuang, karena kebahagiaan orang yang dicinta, merupakan sumber energinya.

Lalu, apakah kita harus terus membiarkan orang yang kita cinta itu terus berjuang? Di saat segala perjuangannya benar-benar tak bisa membuat hati kita luluh?

Jawaban gue, iya.. Kalo dia berjuang untuk selalu membahagiakan kita. Jangan ditolak kebaikan-kebaikannya. Tapi, kalo dia meminta kita untuk menjadi miliknya, di saat kita gak merasa cinta, silakan tolak dia, dan minta dia berhenti saja. Toh, dia harus sadar bahwa MENCINTAI dan MEMILIKI adalah dua misi yang berbeda. Mencintai adalah ekspresi hati, sedangkan memiliki adalah ekspektasi ego.

Cinta memang tak bisa dipaksakan. Tak bisa dipaksakan untuk mati, dan tak bisa dipaksakan untuk tumbuh. Jangan menerima dia cuma karena kasihan saja. Karena, nantinya lo akan menyakitinya juga, dengan perasaan palsu yang lo berikan ke dia.

"Bang.. Kalo nanti aku baikin dia padahal aku gak suka, nanti aku dicap tukang PHP gimana?"

Jangan takut. Orang-orang yang suka nuduh lo PHP di saat dia gagal memiliki elo, itu bukan salah elo. Itu salah mereka,  yang berharap untuk memiliki elo. Sehingga, saat mereka gagal memiliki elo, mereka kecewa ke elo. Lalu nuduh elo jahat, karena tak bisa menerima mereka setelah sekian banyak perjuangan yang mereka kasih. (Baca: Dia PHP, atau Lo Yang Ngarep?)

Biarin aja orang kayak gitu pergi, dengan apapun yang mereka pikirkan tentang lo untuk menghibur diri. Salah sendiri selalu mencoba untuk ngasih, tapi berakhir dengan pamrih.

Oke.. This is the end of the post. Semoga mencerahkan. Bagi yang jatuh cinta, jangan takut buat mengakui. Bagi yang abis dikasih ucapan cinta, jangan buru-buru menjauhi.

Btw, lo pernah bilang cinta terus dijauhi juga? Share dong ceritanya!


Read More 107