Minggu, 16 Juni 2013

Melawan Mental Block Yuk!

Haloh.. Haloh..
Sesuai janji gue tadi siang, jam segini gue ngeblog.. Kenapa? Karena lelaki sejati, tak pernah ingkar janji.. Dan lelaki sejati, tak pernah menge-tril-kan jari..

Karena postingan ini bakal panjang dan lebar, gue saranin kalian buat siap-siap obat tetes mata selama ngebacanya. Ya udah.. Langsung aja ya, jadi hari ini gue mau sharing soal MENTAL BLOCK di postingan ini. Mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya, Mental Block itu apanya Paving Block?!

Mental Block itu simpelnya adalah bisikan-bisikan hati kita yang mengajak kita untuk meragukan kemampuan diri sendiri. As we've known. Otak manusia kan ada dua bagian. Kiri dan Kanan. Otak bagian kanan itu imajinatif, suka bikin gagasan-gagasan kreatif. Sedangkan otak bagian kiri itu logis, sangat perhitungan dan suka ilmu pasti. Nah, otak bagian kiri ini lah yang kadang memperhitungkan gagasan-gagasan yang muncul dari otak kanan. Di mana, kalo menurut otak kiri gagasan si otak kanan ini gak masuk logika, otak kiri bakal ngasih masukan penyangkalan, yang kita sebut dengan Mental Block.

Contoh Mental Block itu yang kayak gimana Litt?!

Jumat, 14 Juni 2013

Cara Ngungkapin Perasaan Diem-diem

"Aku lagi suka sama seseorang loh.." Ucap Supri kepada Ningsih yang saat itu duduk di sampingnya. Mereka sedang menikmati sejuknya hembusan angin di bawah pohon beringin besar yang ada di belakang kelas mereka. Di hadapan mereka, ada sebongkah e'ek ayam yang masih empuk dan hangat.

"Suka sama siapa, Pri?" Ningsih mengerutkan dahinya.

"Iya.. Dia itu sohib baik aku.. Dia baik, cantik, dan kalo lagi bingung, mukanya lucu.." Kata Supri seraya ngasih kode.

"Hah? Siapa namanya? Kok kamu gak pernah cerita kalo kamu punya sohib selain aku?! Bukannya yang mau deketan sama kamu di sekolah ini cuma aku dan mas tukang kebun ngondek itu?" Ningsih semakin tergiring oleh rasa penasaran. Dia menggaruk-garuk rambutnya sambil sesekali menyeka ketombe yang berguguran di pundak cewek belia itu.

"Hehehe.. Ada dehh.. inisialnya 'N'.." Supri kembali melempar kode yang lebih jelas, dengan harapan Ningsih bisa mengerti.

"OOooOOh.. Jadi kamu lagi jatuh cinta sama Nardi?! Tukang kebun sekolah ini?! OKE! FINE!" Ningsih pun berlalu.. Supri hanya bisa tertunduk lesu sambil mengaduk-ngaduk e'ek ayam di hadapannya dengan penuh rasa kesal.

Mungkin kalian pernah ngalamin dialog kayak di atas. Banyak juga yang udah ngalamin kejadian serupa, dan mungkin terlalu malu untuk mengakuinya. Gue juga kok.. Dan itu wajar banget dilakuin sama orang-orang yang udah terlanjur suka sama seseorang, tapi terlalu takut untuk ngungkapinnya. Dan buat gue, ngungkapin perasaan diem-diem dengan menggunakan inisial itu udah kuno banget. Terus, ngungkapin perasaan pake NoMention di twitter itu juga udah basi. Karena NoMention itu nggak bakal ngebawa kita ke mana-mana, justru malah bikin banyak orang salah sangka.

Kamis, 06 Juni 2013

ENGLITT [Easy English With Alitt]

Mungkin ini adalah sebuah "jawaban" dari gue, kenapa gue kuliah di jurusan bahasa Inggris, tapi gue nggak berminat jadi guru bahasa Inggris. Yup, gue nggak mau jadi guru yang berseragam, alias "Pahlawan tanpa tanda jasa". Gue cukup puas jadi teman yang ngasih pelajaran, alias "Pahlawan tanpa tanda toga". :p


Yup, sebuah project web series yang mulai hari ini gue rilis (dan insyaallah terbit setiap minggu atau 2 mingguan at maximum) ini adalah project "balas dendam" gue sama sebuah benda terkutuk bernama Skripsi! Bertahun-tahun gue berjuang untuk mengalahkan Skripsi, tapi yang gue dapet cuma revisi, revisi dan revisi. Bukan.. Bukannya gue nyerah untuk ngalahin Skripsi, tapi gue lagi nyari cara lain yang lebih asik buat "ngalahin" skripsi.

Jumat, 31 Mei 2013

Nunggu Jodoh, Apa Pura-Pura Bodoh?

A beautiful past I've wasted

Gue inget seorang pria yang tinggal di dekat rumah gue. Dia sudah cukup berumur. Dalam hal karier dia sukses. Segala urusan hidup dia juga keliatan beres. Tapi ada satu hal yang selalu bikin pria ini kelihatan murung terus. Dia tak punya siapa-siapa di rumahnya.

Kalian kebayang nggak, gimana rasanya punya apa-apa, tapi nggak punya siapa-siapa? Duit banyak, tapi nggak tau mau dipake buat nyenengin siapa. Bisa beli apa-apa, tapi nggak tau tuh barang bakal dikasih ke siapa. Impian tercapai, tapi dirayain tanpa siapa-siapa. Hambar rasanya. Hidup tanpa rasa? Ya saat hidup tanpa punya siapa-siapa.

Sekarang pria itu masih sendiri. Nggak punya teman untuk berbagi. Dia sempat bilang ke gue mengenai hal yang berhubungan dengan "jodoh". Dia bilang,

"Mumpung kamu masih muda, masih punya banyak teman sebaya yang belum memiliki pria, segeralah pilih salah satu di antara mereka. Belajarlah untuk hidup bahagia berdua sedari usia muda. Jangan seperti saya.. Semakin tua umur manusia, pilihan pasangan semakin sedikit rasanya.. Karena orang-orang yang umurnya sebaya, sudah menikah semua.. Yang ada, akhirnya saya menyesali segala keputusan bodoh di masa muda.. karena saya selalu mencari yang sempurna.."

"Dulu setiap kali saya mencoba untuk serius sama wanita, saya selalu berfikir 'Emangnya siapa dia? Saya terlalu bagus untuk dia!', atau 'Dia nggak boleh semudah ini untuk mendapatkan saya, dia harus tau siapa saya!' Sekarang, saya hanya bisa berfikir, 'Saya tak peduli siapa saya, saya mau dengan siapa saja'.. "

Ngeliat hal itu, gue jadi kepikiran sama beberapa kata orang mengenai jodoh. Apakah itu semua benar? Apakah itu semua pantas untuk jadi pedoman? Berikut adalah opini gue menanggapi beberapa quotes tentang jodoh: