shitlicious

Selasa, Januari 20, 2015

MLM dan Money Game itu Beda loh!
Haloh kawan-kawan pembaca blog gue yang semuanya cakep, dan kawan-kawan pembeli buku gue yang semuanya lebih cakep.

Kembali gue mau sharing di blog gue ini berkat sebuah pengalaman menyebalkan beberapa hari yang lalu. Jadi awalnya hari itu gue lagi sibuk banget nangkep-nangkepin Pokemon di Nintendo. Terus hape gue berdering. Ternyata gue ditelpon temen zaman STM dulu. Namanya..... Supri.

Berikut kira-kira transkrip obrolan gue sama Supri:

Gue: Halo.
Supri: Alit! Alit! Wah.. Sudah jadi penulis buku nih ya!
Gue: Alhamdulillah, Pri.. Berkat doa kalian.
Supri: Haha! Gak pernah berubah lo ya! Eh.. Gue lagi di Jakarta nih! Ketemuan yuk! Kangen.
Gue: Eh? O.. Oke.

Awalnya gue agak ragu karena setau gue, Supri pas STM tuh orangnya berandal banget. Dulu dia suka ngintipin isi rok guru pake cermin yang dia tempel di sepatu. Gue takut kalo-kalo nanti pas gue ketemu sama Supri, dia juga bakal bawa cermin di kakinya buat ngintipin isi rok gue. Tapi Alhamdulillah gue inget kalo gue ternyata cowok.

Berbekal dengan keyakinan bahwa Supri sekarang sudah dewasa, pastinya Supri nggak bakal nakal kayak dulu. Gue pun menyanggupi ajakan dia buat ketemuan. Dan di hari yang sudah ditentukan, gue pun ketemuan sama Supri. Waktu gue dateng, gue agak telat karena Jakarta memang sering macet. Kita janjian pukul 9 pagi, gue dateng pukul 8 malam. Tapi syukurlah, Supri masih menunggu gue di Cafe sekitaran Kemang itu.

Begitu gue dateng, Supri terlihat sumringah. Dia langsung antusias melukin gue sambil sesekali menjilat telinga gue. Gue jadi agak canggung sekaligus seneng. Mungkin kita sama-sama saling merindu. Soalnya sudah nyaris 10 tahun nggak ketemu. Kami pun mengobrol panjang lebar dan tertawa-tawa saat membahas kehidupan zaman STM dulu. Sampai akhirnya kami membahas tentang kehidupan masa kini.

"Jadi, penghasilan sebagai penulis buku gimana? Cukup banyak dong ya?" Supri bertanya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.

Gue menjawab dengan malu-malu, "Halah.. Cukup buat hidup deh. Nggak gede banget juga lah."

"Terus, masih mau nulis terus?"

"Masih lah.. Gue masih bakal nulis sampe nggak bisa ngetik lagi pokoknya." Jawab gue antusias.

"Hmm.. Kalo gitu, duitnya nggak bakal cukup dong kalo kelak lo punya anak-bini. Kalo sekarang aja cuma cukup buat hidup sendiri." Supri kembali menimpali jawaban gue sambil mengaduk-aduk kotoran ayam di lantai yang entah gimana caranya bisa tergeletak di situ.

"Yah, nanti sambil ikhtiar lah.. Ini kan gue juga masih sambil kerja kantoran." Jawab gue pasrah.

"Nah itu! Kerja kantoran itu ngebosenin sob! Gue nggak kerja kantoran loh! Tapi soal gaji, boleh diadu!"

"He?" Gue bingung sama jawaban Supri.

"Iya, gue sekarang nggak kerja kantoran, tapi gue punya bisnis yang prospeknya gede!" Jawab Supri.

"Bisnis apaan?" Gue penasaran. Jangan-jangan Supri ikut sindikat penjual organ tubuh Anoa.

"Nah.. Ini gue ngajak ketemuan elo buat bantuin elo! Biar penghasilan lo per bulan bisa puluhan juta kayak gue!" Supri tampak semangat sekali saat menjelaskan soal gajinya. Dia sampai berdiri di kursi, dan membuat orang-orang di sekitar kami memperhatikannya.

Gue ikut antusias mendengar kalimat Supri itu, "Bisnis apa sih? Gue penasaran!"

"Gini.. Gue mau ngajak elo bisnis MLM." Jawab Supri.

"Oh.. MLM ya? Produknya apa?" Gue nggak alergi sama kata MLM, karena setau gue MLM itu bisnis sehat, tapi kadang ada oknum yang mengatasnamakan MLM untuk bisnis yang sebenarnya bukan MLM.

"Nggak perlu lo pikirin produknya apa. Yang penting elo bisa ngerekrut orang sebanyak-banyaknya, dan jadikan mereka downline lo. Dengan begitu, duit lah yang bakal bekerja buat elo, lo nggak perlu kerja lagi." Supri menjelaskan dengan penuh antusias sambil menunjukan diagram yang mirip piramida.

Sampe di titik itu, gue nyadar, Supri bukan berbisnis MLM, melainkan bisnis Money Game. Gue pun menolak secara halus, tapi Supri tetap memaksa gue buat ikutan. Karena risih sama paksaan dia, gue pun menjawab, "Oke.. Gue mau gabung."

"Serius?" Supri terlihat bahagia mendengar jawaban gue.

"Iya, dengan satu syarat."

"Apa itu?"

"Pinjemin gue modal. Kata lo kan nggak sampe sebulan modal gue bakal balik berlipat-lipat. Nah, kalo udah balik modal, gue balikin deh modalnya." Gue menjawab dengan santai.

"Nggak bisa. Nggak ada duit, Litt."

"Loh? Katanya penghasilan lo udah puluhan juta?" Gue coba untuk memojokkan Supri.

"....."

Supri tak menjawab, beberapa saat kemudian gue pamit ke toilet, namun gue nggak balik lagi. Gue takut kalo gue disugesti terus-terusan dan terpengaruh. Ditambah lagi, dia selalu menekankan bahwa dengan jadi downline dia, gue nggak perlu ngantor lagi dan nggak perlu nulis buku lagi. Lha? Emangnya gue mau makan apa? Betis gue sendiri?

Terus pas kemarin gue ngeliat foto ini, emosi gue membuncah. Soalnya gue nggak tega adik-adik sekolah yang polos ini di-brainwash juga buat ikut bisnis yang make skema piramida terkutuk itu.



So, sebelum semakin banyak orang yang terjerumus di bisnis yang salah, gue mau ngejelasin bahwa MLM itu bukan bisnis yang merugikan. Yang merugikan adalah bisnis Money Game yang menggunakan Skema piramida. Emang bedanya MLM sama money game apa? Yuk kita bahas.

MLM itu Fokus Utamanya Menjual Produk
Kembali gue tekankan bahwa bisnin MLM sebenarnya adalah bisnis yang potensial, tapi sayang banyak orang yang menjalankan Money Game dengan berkedok MLM. Padahal, MLM memiliki misi yang berbeda, meskipun secara struktur memang mirip dengan Skema Piramida.

Pada prakteknya, MLM fokus pada penjualan produk. Sehingga penghasilan yang didapatkan membernya adalah murni dari hasil penjualan produk, bukan dari perekrutan downline baru. Logika simpelnya begini:

Lo daftar untuk jadi member MLM, terus elo dapet beberapa produk, nah.. Lo jual deh produk-produk elo itu kepada konsumen. Dari hasil penjualan itu, elo dapet pembagian poin deh! Poin-poin itu yang nantinya dikonversi jadi duit bonus elo.


Yang bikin mirip sama skema piramida adalah MLM memperbolehkan elo untuk merekrut member lain untuk bekerjasama bareng elo. Nah, dengan member-member elo itu, elo bisa menciptakan sebuah grup yang misinya menjual produk dengan jumlah lebih besar. Tapi di MLM, jumlah member (downline) dibatasi. Sehingga nggak sama dengan bisnis money game yang bercabang terus dan terus di mana member yang paling bawah adalah member yang paling teraniaya. Di MLM, semua member harus bekerjasama menjual produknya sehingga bisa tercapai target penjualan yang berujung pada bonus yang akan didapat.

Kenapa bikin grup lebih direkomendasikan di MLM? Karena perusahaan bakal ngasih bonus jika hasil penjualan produknya mencapai target yang sudah ditentukan. Dan untuk mencapai target itu, tampaknya agak susah bila dilakukan sendiri. Tapi kembali diingat, lo nggak dapet penghasilan dari merekrut member, melainkan dari hasil pembagian keuntungan produk yang lo jual bareng member-member lo. Have you got the idea?

Money Game itu Menjual Mimpi
Nah, si kampret Money Game ini yang merugikan orang-orang awam. Karena mereka biasanya memberikan iming-iming hal-hal besar, mewah dan cepat didapat. Pastinya lo nggak asing dengan kalimat, "Mau punya kapal pesiar? Mau punya rumah seharga milyaran? Mau punya istri 20?"

Yak.. Mimpi-mimpi besar yang seakan-akan mudah tercapai itulah yang jadi amunisi para pelaku money game untuk menjebak para calon member (down-line)nya. Bagi mereka yang mudah terpengaruh, pastinya akan segera tergiur dan menjadi member. Tapi apakah prakteknya semudah itu? TIDAK!

Seperti gue bilang, Money Game tidak benar-benar menjual produk. Mereka lebih fokus menjual mimpi, di mana produknya itu hanya jadi formalitas belaka. karena member hanya akan mendapatkan keuntungan jika dia mampu merekrut member baru (harus membayar biaya registrasi yang tidak sedikit), bukan menjual produk doang.

Yang gue sayangkan, banyak pelaku money game yang menjual mimpi dan terkesan mencuci otak para calon member mereka. Sehingga orang yang terpengaruh malah jadi kayak orang yang terlalu optimis hingga mendekati sakit jiwa. Coba lihat contoh-contoh berikut:






Photoshop aja dulu, punyanya mah belakangan.


Ini mobil, apa Hajar Aswad? Banyak banget yang pengin nyentuh!


Tiap liat mobil, langsung pada rame-rame poto di sana. Seakan-akan mobil itu menjadi tempat berwisata.

Kasian kan, mereka punya semangat yang berkobar-kobar, tapi terjebak di bisnis yang sebenarnya tidak semudah yang mereka bayangkan.


Ini bibit penipuan namanya!

Kenapa tidak mudah? Karena jangankan untuk beli mobil mewah, untuk mengembalikan modal saja perlu perjuangan yang keras dan panjang. Apakah ada jaminan bahwa semua member akan sukses ataupun balik modal? TIDAK! Dengan skema piramida ini, bahkan bila orang di seluruh dunia jadi member perusahaan Money Game ini pun, nggak bakal cukup buat balikin modal seluruh membernya. Silakan cek skema berikut ini untuk penjelasan lebih lanjut.


Nah loh.. Paham kan? Misal pun orang di seluruh dunia sudah bergabung di bisnis Money Game, untuk mengembalikan modal seluruh member, kita masih kekurangan berpuluh-puluh milyar member lagi. Padahal jumlah penduduk bumi tidak sampai 10 milyar. Yang mau nombokin siapa? Penduduk akhirat?

Legalitas
Mengenai legalitas dari bisnis ini, untungnya pemerintah sudah mencetuskan sebuah undang-undang yang mengatur mengenai bisnis Money Game. Yak! Money Game, atau bisnis yang menggunakan skema piramida ataupun bisnis yang tidak fokus pada menjual produk melainkan fokus pada perekrutan member untuk mendapatkan hasil adalah bisnis ilegal.


Sanksinya juga nggak main-main loh.. 10 tahun penjara, dan/atau denda paling banyak Rp. 10 milyar. Hayoloh~

So.. Dengan menuliskan postingan ini, gue harap adek-adek yang masih lugu dan mau mencoba bisnis sendiri, bisa lebih jeli jika mendapatkan tawaran bisnis dari teman maupun saudara. Atau kalo perlu, silakan tunjukan tulisan ini kepada mereka yang sudah terlanjur terjebak agar mereka sadar bahwa yang mereka lakukan bukanlah cara yang benar untuk berbisnis.


Pokoknya, jangan mudah tergiur dengan mimpi-mimpi besar yang katanya bisa dengan mudah lo capai. Karena semua hasil itu akan setimpal sama usahanya. Nggak ada usaha yang mudah dengan hasil yang mewah. Kerja keraslah yang menghasilkan sesuatu yang "wah!".

Lo ada pengalaman tentang MLM atau Money Game? Silakan share di comment box biar temen-temen lain pada paham ya!

Ciao!

References:
- Images from kaskus
- Idekerjadirumah.com
- roda2blog.com
Read More 55
Kamis, Januari 01, 2015

Beberapa Penyebab Pembajakan Marak di Indonesia
“Males bikin album ah! Males berkarya lagi.”

Itu yang diucapkan temen gue yang berprofesi jadi penyanyi. Dia merasa malas berkarya karena hasil usahanya selama berbulan-bulan, tidak dihargai oleh sebagian besar penikmat karyanya. Iya, temen gue ini jadi korban pembajakan. Hal itu membuat dia malas untuk berkarya, karena setiap dia berkarya, dia hampir nggak dapet apa-apa. Bayangin suramnya hidup kita kalo nggak ada lagi musisi yang mau menciptakan lagu. Tiap lagi galau, nggak ada lagi lagu-lagu melankolis yang mau menemani kita nangis di bawah shower.

Anehnya, pembajakan karya cipta di Indonesia malah terlihat sangat “lumrah”. Bahkan nggak jarang gue liat ada orang-orang yang mention ke penyanyi di twitter dengan kalimat, “Bang! Aku lagi dengerin lagu kamu~” kemudian dia ngasih screenshoot music playernya yang lagi mainin lagu penyanyi itu dengan album cover ini:


Kalo lo muter mp3 di hape, tapi cover albumnya begini, artinya lagu lo bajakan.

Tentu saja hal itu menyakiti sanubari si penyanyi yang dimention dong.

Nah, gue sendiri zaman sekolah dulu juga penikmat karya-karya hasil bajakan. Meskipun begitu, gue juga tetep beli album-album asli dari musisi yang emang gue sukai lagu-lagunya. Soalnya di cover album asli, ada lirik lagunya.


Adek-adek yang masih unyu pasti nggak tau kotak-kotak itu benda apa.

Gue mengakui dulu sering beli kaset bajakan, tapi saat itu gue sama sekali belum tau kalo pembajakan itu perbuatan yang jahat. Yang gue tau artis-artis yang lagu bajakannya gue nikmatin itu, hidupnya bahagia-bahagia aja. Dan semua pemikiran itu berubah saat gue sendiri punya karya.

Suatu hari, di bilangan Blok M, gue disamperin oleh seorang dedek-dedek unyu yang ingusnya mengalir dari hidung sampai leher. Di tangannya, dia menggenggam sebuah buku bercover krem dan bergambar gue.

“Bang.. Minta tanda tangan di bukuku dong!”

“Boleh..Boleh..” Gue segera meraih buku SKRIPSHIT itu.

Saat gue pegang, ternyata bentuk fisiknya beda. Kertasnya lebih tipis, cover dan tulisannya juga agak buram.

“Dek..Beli di mana ini bukunya?” Tanya gue sambil nangis guling-gulingan di trotoar.

“Ituh di bawah..Lagi diskon loh kak! Cuma 20 ribu!!” Dedek Unyu itu menjawab dengan antusias.

Dalam hati gue terpukul. Sudah bisa dipastikan kalo yang dia beli ini adalah buku bajakan. Nggak masuk logika banget kalo buku asli yang terbitnya belum lama, didiskon lebih dari 50%.

Akhirnya dilema pun muncul. Kalo gue tanda tanganin, artinya gue mendukung pembajakan karya gue sendiri. Kalo nggak gue tandatanganin, gue ntar bikin nih anak sedih. Akhirnya gue jelasin ke dia kalo buku itu adalah buku bajakan. Gue kasih pengertian bahwa membeli buku bajakan, artinya dia nggak menghargai gue yang butuh waktu berbulan-bulan buat menulisnya. Gue pun menolak untuk menandatangani buku itu. Dan untuk mengobati kekecewaannya, gue minta alamat dia untuk gue kirim buku asli beserta tanda tangan gue. Dengan catatan, dia nggak boleh beli buku bajakan lagi. Win-win solution!


Sejak saat itu, gue mulai mengerti betapa sakitnya kalo usaha gue nggak dihargai. Di titik itu juga, akhirnya gue komit untuk berusaha sebisa mungkin menghindari produk-produk bajakan. Bukan.. Bukan buat gaya-gayaan. Tapi gue nyadar bahwa menikmati barang bajakan itu sama hinanya dengan menikmati barang hasil curian yang tidak diridhoi oleh pemiliknya. Nggak berkah.

Nah, dari yang udah gue pelajari, maraknya kasus pembajakan karya di Indonesia itu ada beberapa penyebabnya. Here they are:

Murah
Nggak bisa dipungkiri, banyak orang memilih untuk make barang bajakan karena harganya jauh lebih murah atau bahkan gratis. Tapi, apakah mereka nggak nyadar kalo hal yang dilakukan itu sama jahatnya dengan mencuri? Dan pastinya, dengan harga yang murah, konsumen produk bajakan sudah siap dengan kualitas produk yang jauh lebih jelek dibandingkan produk aslinya. Dan yang jelas, nggak ada kebanggaannya.

Distribusi
Untuk produk yang berbentuk fisik, banyak orang khususnya di daerah-daerah terpencil memilih untuk memakai produk bajakan karena produk yang original belum terdistribusikan ke daerahnya. Zaman gue SMP dulu kan masih tinggal di Sragentina. Kalo mau beli album musik asli, gue kudu ke Solo dulu, kota yang jaraknya 30 KM dari tempat gue tinggal. Nah, karena zaman itu gue belum berani pergi ke luar kota sendiri, akhirnya gue terpaksa ke pasar terdekat buat beli kaset bajakannya.

Kurangnya Kesadaran konsumen Tentang Proses Kreatif
Dalam setiap karya kreatif, pastinya ada proses panjang untuk menciptakannya. Misal untuk membuat aplikasi atau game di smartphone, seorang programmer harus berkutat di depan komputer selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan demi menyusun kode demi kodenya untuk menemukan logika yang tepat.


Jadi inilah bentuk asli dari setiap aplikasi/game yang lo pakai sehari-hari.
Pusing nggak lo?

Atau, liat deh proses terciptanya sebuah album musik ini. Temen-temen gue dari band Festivalist udah bikin listnya. Kira-kira setiap album musik mengalami proses yang sama seperti ini:


Ngerti kan kenapa musisi sangat membenci pembajakan?

Nah, sebagian dari kita mungkin nggak sadar betapa beratnya melakukan aktivitas kreatif gitu. Mungkin kita juga nggak sadar udah berapa banyak hal dari hidup seorang programmer/musisi/seniman yang harus dikorbankan untuk menciptakan aplikasi, karya seni, atau lagu-lagu itu. Nah, sakit nggak kira-kira kalo orang yang udah susah payah gini, nggak ngedapetin haknya setelah karyanya kita nikmati? Yang dapet keuntungan malah mas-mas tukang ngegandain CD-nya.

Lemahnya Perlindungan Hukum
Pembajakan memang diatur dalam hukum, di mana hal itu termasuk hal yang ilegal. Tapi sayangnya, masih terlihat sangat kurang upaya pemerintah untuk memerangi pembajakan. Bisa diliat di pasar-pasar, atau pusat perbelanjaan, ada kios-kios penjual DVD film, musik, atau game bajakan yang berjualan dengan rasa ceria. Padahal para seniman ini juga bayar pajak yang nggak sedikit untuk penjualan album-albumnya. Tapi kenapa pemerintah terkesan malas mendukung jualan mereka?

Susah Transaksinya
Ini salah satu kendala yang gue alamin dulu. Niatan mau beli aplikasi berbayar di smartphone, tapi gue kepentok sama cara pembayarannya yang mengharuskan gue untuk memakai kartu kredit. Sedangkan gue nggak punya kartu kredit. Hal ini yang akhirnya bikin sebagian orang beralih untuk mendownload aplikasi versi bajakannya aja. Ya mau gimana, pengin aplikasinya, ada duitnya, tapi nggak bisa bayarnya.

Tapi sekarang ada kabar baik!

Beli aplikasi, majalah, atau buku di Google Play Store atau Google Book, nggak seribet dulu lagi! Kita bisa membeli semua items di Google Play Store dengan cara potong pulsa seluler! Nah, kalo gini, nggak ada alasan lagi buat download aplikasi bajakan dong!



Eh seriusanLitt? Gimana caranya?!

Oke, gue jelasin dulu apa aja serunya program ini ya.. Indosat baru aja ngeluarin 2 tipe kartu perdana Mentari Smart Voucher.

Yang pertama seharga 600 ribu, dan yang kedua seharga 1,2 juta. Mahal? Enggak! Liat dulu bonus-bonusnya!


Tuh! Kalo diitung-itung jadinya malah murah banget kan? Dapet pulsa 50 ribu setiap bulan SELAMA 2 TAHUN, terus dapet diskon gede buat pembelian smartphone dan gratis internet buat aplikasi-aplikasi seru pula. Indosat nggak takut rugi ya? Nggak lah.. Indosat pengin bikin hidup kita semakin seru! Untuk info lebih lanjut tentang program ini, silakan cek: bit.ly/1AEIB3I

Yang udah lama make kartu Indosat gimana, Litt? Bisa beli aplikasi juga nggak? 

Bisa! Pemakai kartu iM3, Mentari (prabayar) dan Matrix (pascabayar) tetep bisa beli aplikasi di google play dengan pulsa.

Caranya simpel, pastiin kartu yang lo pakai di hape android lo adalah kartu Indosat (iM3, Mentari, Matrix), terus buka aplikasi Google Play Store. Abis itu, masuk menu "My Account", dan pilih "payment methods". Lalu pilih "Add payment method" dan pilih "Bill my Indosat account".


Abis itu Google Play Store bakal melakukan verifikasi via SMS, tunggu aja sampai proses sukses, dan kelar deh!


Berkat program baru Indosat ini, akhirnya gue jadi kalap belanja aplikasi-aplikasi yang dari dulu pengin banget gue beli tapi gagal karena nggak punya kartu kredit. Makasih Indosat! :D

Yap.. This is the end of the post. Semoga info ini berguna buat kalian. Btw, Kalian ada alasan lain kenapa orang-orang masih suka make produk bajakan? Share di comment box ya! Makasih~
Read More 66
Sabtu, Desember 27, 2014

Tentang Pasangan


Menurut lo, pasangan yang bakal awet itu yang kayak apa?

Yang banyak persamaan?
Yang banyak kecocokan?
Yang bisa menerima apa-adanya?
Yang bisa mengubah kita jadi orang yang lebih baik?

Kemarin gue lagi ngobrol-ngobrol sama Raditya Dika di sela-sela ngedit skenario film gue, Relationshit. Awalnya, gue nanya Radit, "Lo bakal nikah nggak sih, Bang?"




Pertanyaan itu membuat Radit melirik sinis ke arah gue. Mungkin di dalam hatinya dia mikir kalo gue beranggapan bahwa dia bisa bereproduksi dengan cara membelah diri. Lalu Radit menjawab, "Ya bakal nikah lah.."

"Emang abang udah dapet pasangan yang sempurna?" Gue mengernyitkan dahi.

"Ngapain nyari pasangan yang sempurna? Emang pasangan yang sempurna itu kayak apa sih?" Dia malah balik nanya sambil mengunyah kue cubit dan kue tetek yang baru dikasih sama OB kantor.

Gue menggaruk-garuk kepala seolah-olah di kulit kepala gue ada ulat bulu. "Ya yang punya banyak kesamaan minat, kesamaan tingkat kecerdasan, jadinya kalo ngobrol bisa nyambung mulu."

Radit tertawa mendengar jawaban gue. Lalu dia bilang, "Nggak perlu pasangan yang model begitu. Itu bukan jaminan lo bakal punya hubungan yang langgeng."

"Kok gak bisa? Bukannya kalo obrolan nyambung mulu artinya kita bakal ngerasa betah sama pasangan ya?!" Gue mencoba untuk menguatkan opini gue.

"Nggak ada jaminan kita bakal selalu betah dengan pasangan, Lit.. Karena kita ini manusia. Kita bisa bosan dengan apapun yang kita punya di dunia. Sekeren apapun itu."

Jawaban Radit bikin gue terdiam sesaat dan merenung. Selama ini gue mikir, untuk mendapatkan pasangan sempurna itu gue harus memiliki kriterianya dulu. Gue harus punya cetak biru pasangan seperti apa yang gue mau. Sehingga saat kriteria itu terpenuhi, gue bakal dapet pasangan yang sempurna. Tapi ternyata dengan mengaplikasikan teori itu, gue malah nggak dapet-dapet pasangan juga.

Terus Radit melanjutkan, "Hidup itu akan selalu berwarna. Akan ada banyak masalah yang bakal kita hadapi. Nah, nggak perlu kita tambah dengan pasangan yang sering ngajakin berantem. Cari pasangan yang kalem aja. Yang bisa menghormati apa yang kita suka. Pasangan yang punya level kecerdasan sama itu biasanya nggak selalu nyambung dan nyaman ngobrolnya, tapi malah akan sering berantem karena sama-sama ngerasa opininya benar."

Kalimat itu lagi-lagi nabok gue. Gue jadi inget zaman sekolah gue punya gebetan anak IPA. Tiap hari bukannya kita bisa ngobrol enak, tapi malah saling debat tentang teori siapa penemu bola lampu yang sebenarnya, Thomas Alva Edison atau Joseph Wilson Swan. Iya, dalam hubungan kami itu, akhirnya kami jarang ngomongin tentang pacaran itu sendiri. Tapi malah sering debatin teori-teori yang kami sukai.

Dari obrolan sama Radit itu, gue jadi bisa nyimpulin beberapa hal:

1. Bahwa pasangan yang sempurna itu bukan jaminan untuk mendapatkan hubungan yang bahagia. Justru pasangan yang sama-sama punya kekurangan itu bakal bisa menjalani hubungan dengan lancar karena mereka akan saling mencoba untuk melengkapi.

2. Kadang gue mikir, pasangan yang bakal bikin gue bahagia itu adalah pasangan yang sesuai kriteria. Tapi ternyata kalo cinta sudah bicara, pasangan itu bisa datang dari luar kriteria. Sial, ternyata bener kata orang-orang. Cinta itu nggak bisa dirumusin teori pastinya.

3. Seindah apapun pasangan kita, kalo setiap hari yang kita temui adalah dia, pastinya bakal ada rasa bosan juga. Gue jadi nyadar, nggak ada pertengkaran yang berawal dari ketidakcocokan, atau perbedaan. Pertengkaran dalam hubungan itu biasanya didorong oleh kebosanan.

Nggak percaya? Saat kita sedang dimabuk cinta, apakah kita akan mempermasalahkan perbedaan? TIDAK. Mau si gebetan bau ketek kek, jarang ganti kaos kaki kek, suka kentut dengan efek vibra kek, pasti bakal kita maklumi. Kenapa? Karena orang yang sedang dimabuk cinta itu toleransinya luar biasa. Sedangkan orang yang bosan sama pasangan, masalah-masalah kecil akan dijadikan keluhan dan tumbuhlah bibit pertengkaran.

Ditambah lagi, rasa bosan itu bisa menciptakan ilusi seakan-akan kita menemukan "orang-yang-lebih-baik" di tengah-tengah hubungan. Padahal, kalo akhirnya kita bubar sama pasangan lalu milih 'orang yang lebih baik" ini, nantinya juga bakal bosan lagi, lalu sadar bahwa orang itu adalah orang yang sama aja. Jadi, kalo udah nemu pasangan yang oke, jangan tergiur dengan ilusi "orang yang lebih baik". Karena faktanya, dia bukan lebih baik dari pasangan kita, cuma lebih baru aja.

Jadi, selama kita dengan pasangan selalu mampu untuk menjaga antusiasme dalam menjalani hubungan dan mampu melawan kebosanan, kita bakal merasa punya pasangan yang tepat, meski bukan pasangan yang sempurna, tapi itu adalah tipe pasangan yang paling kita butuhkan. 

Dan catatan terakhir gue tentang topik pasangan ini adalah, Bisa bikin banyak orang jatuh cinta di waktu yang sama itu hal biasa. Tapi bisa berkali-kali bikin jatuh cinta orang yang sama itu baru luar biasa.

Yap.. This is the end of the post. Semoga lo bisa mendapatkan pengertian baru tentang pasangan dari postingan ini. Btw, menurut lo, pasangan yang bakal awet itu yang kayak apa sih? Share di comment box ya!
Read More 79
Jumat, Desember 26, 2014

Apa Makna Tahun Baru?
Halo teman-teman..
Maaf akhir-akhir ini agak malas ngeblog. Pasalnya waktu gue bener-bener habis buat ngantor di weekdays, dan ngerjain scenario film di weekend. Praktis, kepala gue keperes abis-abisan buat nulis. So, ide buat ngeblog kadang numpang lewat doang, karena stamina buat nulis udah keburu abis.

By the way, taun baru udah mau dateng nih..  Kalian udah nyiapin apa aja? Kembang api? Kendaraan pribadi? Minyak wangi? Atau nggak nyiapin apa-apa karena nggak punya pasangan sehati? Oke.. Mari kita renungkan dulu makna tahun baru.


Setiap pergantian tahun, selalu ramai suara ledakan kembang api, pawai kendaraan bermotor, maupun pesta terompet. Kira-kira kenapa orang-orang melakukan hal itu ya?

Dari pengamatan gue, ada 2 tipe orang yang merayakan tahun baru:
A. Orang yang merasa layak merayakan pergantian tahun karena dia merasa cukup sukses menjalani tahun sebelumnya.
B. Orang yang merasa mendapatkan harapan baru di tahun yang baru, setelah banyak kegagalan yang dia terima di tahun sebelumnya.

Nah, lo masuk yang mana?

Saran gue, kalo bisa kita semua termasuk dalam golongan orang "A" di atas. Di mana setiap kita merayakan tahun baru, artinya kita merayakan sebuah kesuksesan. Bukan cuma mencari pengharapan tanpa menyesali kegagalan yang sudah kita ciptakan.

Kalo gue, lebih suka menyikapi tahun baru sebagai batas dari target hidup tahunan yang gue ciptakan setiap tahun. Sudah berapa banyak yang gue wujudin, dan berapa banyak yang masih susah buat didapetin. Dengan kata lain, event tahun baru adalah waktu yang pas buat mengintrospeksi diri, agar nggak lupa diri. Zaman gue remaja, tahun baru hanya berarti sebagai waktu yang tepat untuk hura-hura, merayakan sesuatu yang belum gue tahu gunanya apa.

Nah, untuk orang-orang di golongan "B", buat gue mereka adalah laskar pemimpi. Setiap tahun mereka bikin target baru, tapi semangat berjuangnya cuma bertahan seminggu. Misal, targetnya tahun depan harus langsing. Minggu pertama rajin fitness dan diet, minggu kedua udah males fitness dan masih nyoba diet, di minggu ketiga mereka udah berenti fitness dan diet, lalu mikir "Aku mau tampil apa adanya ah~". Iya, resolusi tahunannya bertahan kurang dari sebulan. Dan sayangnya, hal itu terulang setiap tahun.

Kadang tanpa sadar, kita ini jadi manusia yang terlalu sering berharap, tapi jarang berusaha. Akhirnya yang kita petik cuma kecewa. Lalu menyalahkan nasib karena tak pernah memberi apa yang kita minta. Padahal, gue percaya bahwa nggak ada mimpi yang terlalu muluk, yang ada cuma usaha yang kurang keras. Kita kadang haus motivasi, tapi terlalu malas untuk beraksi. Itulah kenapa, om Mario Teguh masih laris di negeri ini. Mimpi tanpa aksi, namanya angan-angan. Nggak bakal jadi kenyataan.

Oke.. Kenapa gue mendadak ngomongin soal motivasi dan mimpi? Soalnya gue mau memotivasi kalian buat meraih mimpi! Tepatnya, mimpi dapet iPhone 6 GRATIS! Muahahaha! Seru kan, tahun baru bisa punya hape baru~



Yap! Ada iPhone 6 gratis buat lo yang bisa mencetak skor paling tinggi di game YogSanta.

Caranya gimana, Litt?

Donlot dulu aplikasi Yogrt di sini -> DOWNLOAD (Android only)

Gue kasih tau dulu apa itu Yogrt. Ini adalah aplikasi sakti yang bakal bantuin elo buat nyari kenalan baru berdasarkan orang-orang yang tinggal di sekitar elo. 


Jadi, begitu elo buka nih aplikasi, lo bakal nemuin daftar orang-orang yang tinggal di sekitar lo. Tinggal lo pilih deh, mana yang orangnya cukup menarik buat elo.


Kalo udah nemu, tinggal pencet symbol joystick, di situ artinya elo nantangin orang itu buat main game bareng. Nah, kalo dia juga tertarik sama elo, dia bakal mau mainin game bareng elo. Abis itu jadi temenan deh~


Nah, agar lo bisa dapetin iPhone 6 gratis ini, elo kudu make Yogrt buat nyari temen, dan pilih game YogSanta buat nantangin temen-temen baru elo. YogSanta ini gamenya juga simpel banget. Cukup saingan ama temen baru lo buat ngumpulin koin sebanyak-banyaknya dalam waktu yang udah disediakan. Gampang banget kan? Selain dapet temen baru, berpeluang juga dapet iPhone baru.

Oiyah, di game #YogSanta lo cuma dikasih kesempatan main 5 kali. Nah, biar lo bisa main lebih dari itu, lo harus share result game lo di Facebook untuk mendapatkan bonus nyawa agar bisa main lagi. 

Buat yang ngerasa minder buat ngedapetin iPhone 6, tenang. Selain iPhone, Yogrt juga bagi-bagi 5 voucher belanja Zalora/hari setiap senin sampai jumat. Ditambah lagi, tanggal 30 Desember 2014 besok, bakal ada event #SuperYogSurprise yang berhadiah 1 unit JBL Bluetooth Speaker. Banyak banget kan kesempatan menangnya?! So, sekarang nggak usah bermimpi lagi. Ayo beraksi. Usaha sekecil ikutan kuis ini pun, lebih baik daripada cuma bermimpi tanpa aksi.

Good luck! :D

Btw, apa makna tahun baru buat elo? Share di comment box ya! 
Read More 21
Senin, November 24, 2014

Tanda-tanda Bahwa Ortu Pacar Tidak Suka Sama Elo Pas Ngapel
Sejak pukul 4 sore di hari sabtu yang cerah, Supri sudah mencuci motornya. Setelah dia mencuci motornya, dia pun mengelapnya dengan sabun pencuci piring. Motor Jepang produksi tahun 1975 itu pun terlihat mirip seperti baru. Supri terlihat puas sama penampilan motornya. Dia pun bergegas pergi masuk ke dalam rumah dan menuju kamar mandi. Supri mandi dan keramas, lalu dilanjutkan dengan memakai parfum yang terbuat dari perasan kembang desa.

Supri memilih-milih koleksi bajunya yang ada di lemari. Lima belas menit berlalu, Supri masih bingung mau pake baju yang mana. Dia sudah mengeluarkan semua bajunya dari lemari. Padahal, pakaian Supri sama semua, seperti Nobita. Setelah Sholat istiqarah, Supri pun mendapatkan petunjuk, baju mana yang bakal dia pake malam itu. Dan setelah ganti baju, Supri pun terlihat tampan seperti biasanya. Rambut disisir belah tiga. 

Setelah sholat maghrib, Supri segera menyalakan motor bututnya. Supri segera meluncur ke rumah Ningsih, pacarnya. Satu jam perjalanan, dia tempuh untuk mencapai rumah Ningsih yang berjarak 500 meter dari rumahnya. Tubuhnya yang tadinya wangi parfum, berubah menjadi wangi bensin. Supri memarkirkan motor bututnya di halaman rumah Ningsih. Dia pasang gembok di jeruji motornya, dikunci stangnya, dan dia copot busi serta piston motor itu untuk dikantongi, agar motornya tidak dicuri orang.

Halaman rumah Ningsih, tidak begitu luas, namun tampak sangat gelap karena di sana ada banyak pohon jati dan pohon-pohon lain yang usianya sudah ratusan tahun. Supri melewati pepohonan itu dengan lincah sambil beberapa kali terpaksa bertarung dengan cheetah, lalu Supri menyeberangi sungai kecil di depan teras rumah Ningsih. Terlihat di sungai itu ada beberapa buaya yang sedang menunggu korbannya. Selepas menyeberangi sungai, Supri pun tiba juga di teras rumah Ningsih.

"Tok! Tok! Tok!" Supri memukul-mukul pintu rumah Ningsih menggunakan kaki.

Beberapa saat kemudian, terdengar langkah yang berat mendekat dan pintu rumah itu dibuka. Muncul sebuah sosok hitam, besar dan berbulu. Supri terdiam sesaat, namun saat menyadari itu adalah ayah Ningsih, Supri pun angkat bicara.

"Mmm.. Maaf pak.. Ningsihnya ada?"

"Ada. Kamu siapa?" Suara serak dan berat terdengar dari mulut bapak Ningsih yang letaknya di bawah dadanya.

"Sa.. Saya Supri.. Pacarnya Ningsih.. Boleh saya ketemu?"

"Tidak! Kamu tau ini jam berapa?" Nada bicara bapak Ningsih mulai tidak bersahabat.

"Ba-baru pukul 7:30 pak.."

"NAH! Itu jam belajarnya Ningsih. Jangan diganggu. Emang kamu nggak belajar juga? Kamu nggak sekolah? Kamu pasti pengangguran ya?" Mata ayah Ningsih menatap tajam ke arah Supri. Air liur menetes dari mulutnya dan meluncur ke kakinya sendiri.

"Ti-tidak pak.. Saya satu sekolah sama Ningsih kok." Supri mulai ketakutan karena mata ayah Ningsih terlihat merah menyala.

"Ya sudah! Sana! Pulang. Belajar! Masih kecil kok udah pacaran!"

"Tap-tapi pak.. Ini kan malam minggu.." Supri memberanikan diri untuk menolak pulang.

"Belajar itu nggak ada jadwalnya! Selama ada waktu, bagusnya dipake untuk belajar!" Suara ayah Ningsih mulai mirip knalpot Harley Davidson. Membuat dada Supri bergetar-getar.

"Tap..."

"PULANG SANA!" Ayah Ningsih mulai mengamuk. Dia mencabut sebuah pohon besar dari depan terasnya, lalu dia kibas-kibaskan ke arah Supri. Supri pun ketakutan dan lari tunggang-langgang.

Malam itu, Supri gagal ngapelin pacarnya karena orang tua sang pacar tidak setuju dengan hubungan mereka. Supri tampak sedih, namun dia bersyukur setidaknya dia masih bisa pulang tanpa kehilangan satupun organ tubuhnya.

Yap! Mungkin sebagian dari kalian udah pernah ngalamin kejadian semacam itu. Gue sendiri juga pernah kok ngalamin hal yang lebih ekstrim daripada yang dialami Supri. Pas STM, gue dateng ke rumah pacar di malam minggu dan disambut ayah pacar di depan pintu. Ayahnya tidak melarang kami bertemu, tapi dia ngetes gue dulu. Gue disuruh baca sebuah surat di Al-qur'an.. Kalo gak bisa baca ampe habis, gue nggak boleh ketemu. Akhirnya, sebagai jebolan santri, gue terima tantangan itu. Dan lima menit kemudian, gue nangis sesenggukan karena gue salah paham. Gue kira, gue cuma disuruh baca Al-fatihah, tapi ternyata gue disuruh baca surat Al-baqarah, di mana mungkin kelar bacanya bakal besok lusa. Gue pun pulang dan nggak mau ngapelin pacar gue lagi.

Buat gue, mending sih ketemu orang tua yang to-the-point kalo gak suka gitu. Daripada sok ramah, tapi aslinya nggak suka sama gue. Nah, gue yakin, di luar sana banyak banget orang tua yang nggak suka kalo anaknya diapelin. Mungkin lo belum nyadar kalo ortu pacar lo itu nggak suka setiap kali lo ngapelin anaknya. So, kode-kode macam apa sih yang suka mereka lakukan buat nunjukin kalo mereka nggak suka sama lo? Let's cekidot!


Pic by: @olderplus - nyunyu.com

1. Pacar disuruh-suruh
"Kamu tahu nggak, siapa pria yang paling beruntung di dunia?" Supri mengucapkan kalimat itu sambil menggenggam tangan Ningsih. Mereka sedang duduk di sofa teras rumah.

"Siapa emang?" Ningsih tersenyum najis sambil berharap dia bakal digombalin.

"Aku.."

"Kamu? Kok bisa?" Ningsih mengernyitkan dahi.

"Soalnya, aku punya segalanya. Karena buat aku, kamulah segalanya. Hihihihi!" Supri menggenggam tangan Ningsih lebih erat, lalu mendekatkan bibirnya ke arah dada Ningsih. Saat bibir Supri hampir bersentuhan dengan tubuh Ningsih, terdengar suara kencang dari dalam rumah.

"NINGSIH!! SINI!!" Suara ayah Ningsih memanggil-manggil dengan penuh semangat. Supri dan Ningsih panik, Supri segera memakai celananya, dan Ningsih segera memakai kostum astronot.

Ningsih pun segera masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, Ningsih keluar rumah lagi sambil menggenggam duit sepuluh ribu.

"Maaf, aku tinggal bentar ya.. Disuruh beli obat nyamuk.. Hehe" Ningsih pamit ke Supri.

"I-iya.."

Lima belas menit kemudian, Ningsih sudah kembali ke rumah. Mereka kembali duduk bersama. Dan siklusnya terulang lagi. Setiap kali Supri dan Ningsih hampir bersentuhan, Ningsih disuruh keluar untuk beli gula, cabe, sayur, sampe disuruh jihad di Palestina.

Dengan siklus yang seperti itu, Supri pun tidak nyaman sama kondisi apel dia. Menyadari Ningsih yang sangat sibuk, Supri pun berpamitan untuk pulang. Misi ortu Ningsih buat bubarin apel itu pun sukses!

2. Disuruh masuk
Di minggu berikutnya, Supri kembali ke rumah Ningsih. Kali ini dia punya strategi baru, yaitu setiap kali Ningsih disuruh belanja keluar, Supri mau nemenin. Jadinya, malam minggu mereka malah lebih seru. Namun ortu Ningsih tidak kehabisan ide. Di saat mereka sudah merasa malam mulai larut, Ningsih dipanggil masuk ke dalam rumah dan disuruh tidur. Supri? Disuruh pulang dengan dalih bahwa sudah terlalu malam untuk bertamu. Padahal, jam baru menunjukkan pukul 19:45. Supri pun pulang dan merasa tak berdaya.

3. Lampu dimatiin
Di minggu berikutnya, Supri datang lagi dengan strategi baru. Supri sengaja datang dari pukul 5 sore, sehingga setidaknya dia bisa ngobrol sama Ningsih lebih dari dua jam. Namun, di saat mereka baru asik-asiknya ngobrol, dan jam baru menunjukkan pukul 6:30, lampu teras sudah dimatikan oleh ortu Ningsih. Karena keadaan sangat gelap dan mereka tak bisa melihat wajah masing-masing, Supri dan Ningsih pun merasa tak nyaman. Supri pun pulang lagi dengan luka di hati.

4. Disindir-sindir
Lagi-lagi Supri tak menyerah. Di minggu berikutnya, Supri membawa nasi bungkus dan lilin. Jadi saat ortu Ningsih mematikan lampu teras, Supri langsung menyalakan lilin yang dia bawa. Akhirnya dia malah bisa melakukan candle light dinner bareng Ningsih di teras rumah.

Baru juga mereka mau suap-suapan, terdengar obrolan kencang dari ruang tamu. Obrolan itu dilakukan oleh Ayah dan Ibu Ningsih.

"Anak jaman sekarang kok ndak ada sopan-sopannya ya pak! Jaman kita dulu, kalo mau nemuin anak perawan, pria itu ya harus kenalan dan izin ke orang tuanya dulu." Suara ibu Ningsih terdengar sengaja dibuat kencang agar terdengar hingga teras.

"Iyo.. Aku dulu mau kenalan sama kamu aja disuruh bantuin bapakmu garap sawah dulu. Anak sekarang mana mau kayak gitu. Mereka nggak ada yang mutu!" Ayah Ningsih menjawab pertanyaan ibu Ningsih dengan suara yang tak kalah lantang.

Obrolan lantang itu berlanjut dan berisi sindiran-sindiran yang membuat Supri merasa semakin tidak nyaman. Supri pun pamit pulang sambil berharap di jalan dia ditabrak oleh Boeing 737.

5. Gangguin obrolan
Tak mau kehilangan Ningsih, kali ini Supri menjalankan strategi baru. Dia membawa beberapa hasil kebun seperti singkong, jagung, dan emas batangan ke rumah Ningsih. Begitu tiba di rumah Ningsih, dia serahkan semua barang-barang yang dia bawa itu kepada ortu Ningsih sambil bilang kalo itu titipan dari ortu Supri. Akhirnya, sikap ortu Ningsih pun berubah. Mereka tidak menyindir-nyindir Supri lagi. Justru, ayah Ningsih malah mau mengakrabkan diri.

Tapi, jadinya saat Supri ngapel, Ayah dan Ibu Ningsih malah menemani mereka berdua ngobrol di teras. Ibunya Ningsih duduk di sebelah Ningsih sambil menonton sinetron di hapenya. Sedangkan ayah Ningsih sibuk membajak tanah di depan teras rumah memakai traktor diesel yang berisik.

Dengan keadaan yang seperti itu, Supri tak bisa menggombali Ningsih. Keadaan canggung terjadi. Supri pun tidak tahan lagi. Supri pulang dan berjanji bahwa dia tak akan pernah kembali. Yap.. Akhirnya ortu Ningsih menang lagi.

Okay.. Kayaknya itu aja dulu yang bisa gue bahas mengenai ortu pacar yang rese. Lo pernah ngalamin yang poin mana? Atau, lo pernah ngalamin poin lain yang nggak gue sebut di atas? Share di comment box yah.. Biar temen-temen yang belum nyadar jadi lebih peka. Ciao! :D
Read More 47