shitlicious

Rabu, September 28, 2016

Internet Membuka Sisi Gelap Manusia
Jadi ceritanya tadi gue iseng buka Youtube, lalu ngecekin komen yang masuk di video-video channel gue. Lalu, gue nemu sebuah komen yang isinya begini:
 

Nih komen nongol di video Draw My Life gue, yang nyeritain sejarah gue dari nol sampe gue punya karier seperti sekarang. Dengan harapan, video ini bisa membuat anak-anak muda di luar sana, nggak mengulangi kesalahan gue di masa lalu, dan fokus mengejar impian mereka sehingga mereka mendapatkan kehidupan yang selayaknya mereka impikan. Namun, apakah niat baik selalu mendapat respon yang baik? Tidak. Komen di atas adalah salah satunya. Dan sebenarnya masih banyak komen-komen pedas lain yang gue baca di channel Youtube gue, maupun di sosial media. Ada yang ngatain "Ngapain sok eksis bikin video? Mata jereng gitu!", ada yang ngatain "Muka lo kampungan", dan berbagai komentar yang jelas niatnya cuma mau nyakitin hati, bukan mengomentari isi dari karya gue.

Tentu hal semacam ini, tidak cuma terjadi ke gue. Liat aja sosial media dan kolom komentar Youtube. Kata-kata penuh kengerian muncul di sana. Terutama di video-video yang berhubungan dengan politik atau agama.

Jujur, gue pernah sakit hati dengan kelakuan orang yang begini. Gue jadi inget kira-kira taun 2012, gue nyamperin "preman keyboard" yang suka ngata-ngatain orang begini. Tapi itu bukan karena gue yang dihina, melainkan nyokap gue yang dihina. Gue Alhamdulillah udah cukup kebal dengan komen hinaan soal tampang dan lain-lain. Main sosmed selama satu dekade sudah bikin gue terbiasa. Toh, gue sadar, gue gak ganteng dan gak sempurna. Ngapain sakit hati saat ada yang menghina? Dia gak ngehina gue, tapi ngehina salah satu karya Tuhan. Long story short, dengan keahlian kepo gue yang super, layaknya seorang cewek yang pacarnya tiba-tiba ngilang 3 hari, gue cari siapa orang di balik akun itu.

Gue ubek-ubek akunnya, sampai akhirnya dia check-in di sebuah lokasi yang dia publish di aplikasi 4square. Waktu itu gue langsung cabut ke lokasi dia berada yang kebetulan adalah sebuah cafe. Gue dateng, gue perhatiin cafe itu, sambil mencari-cari orang itu dengan bekal foto-foto dari akun Facebooknya.

Beberapa menit kemudian, gue melihat seorang bocah tanggung lagi duduk dan ngopi sendirian di pojokan. Penampilannya sangat biasa, bahkan terlalu ironis bila dengan tubuhnya yang mungil itu, dia mampu bertindak layaknya preman di internet. Gue buang rasa kasian jauh-jauh, gue samperin dia, dan dia terlihat sangat kaget dengan kehadiran gue di depan mukanya.

"Coba.. ulangin apa yg kamu bilang soal mamaku tadi di twitter. Secara langsung, di depanku." Gue ucapin kalimat itu di depannya, sambil gue buka plester yang nempel di mata gue. Mata gue yang penuh bekas jahitan itu pun terlihat menganga. "Siapa tau matamu bisa aku bikin jadi kayak mataku~" Lanjut gue.

 

Bocah itu diem, tegang, dan ntah ngaceng atau tidak, tapi tangan dia taruh di bawah meja terus.

"Ayo.. bilang langsung dong. Biar kamu tau, gimana ekspresiku waktu denger kamu ngehina ibuku." Pelan-pelan gue pegang dan remas belakang lehernya. Anak itu semakin panik. Wajahnya merah padam.

"Eng.. enggak, Bang.. tadi itu.. itu tadi.. itu.."

"Wah.. kamu aslinya gagap ya? Pantes lebih pede kalo nulis." Sindir gue. Gue tau dia gagap cuma karena ketakutan.

"Maaf Bang.. saya cuma bercanda. Sumpah, Bang! Sumpah!"

"Oh.. Jadi menggunakan ibu orang sebagai bahan bercandaan itu menurutmu adalah sebuah hal yang lucu, ya? Wah.. berarti aku boleh becandain ibumu dong ya? Coba aku tanyain ibumu langsung ya? Nanti kamu pulang sama aku. Aku mau liat betapa bangganya ibumu dengan opinimu."

Bocah itu semakin panik. "Enggak Bang.. enggak! Ampun bang. Jangan. Abang boleh hukum saya apaaa aja Bang. Tapi jangan lakuin itu Bang."

Dengan tenang, gue pun menjawab. "Oke.. karena kamu minta, aku bakal ngasih satu hukuman."

"Iya Bang.. saya siap."

Gue celupin telunjuk tangan gue ke gelas kopi yang sisa ampas doang di hadapan tuh bocah. Gue ambil ampasnya, lalu gue coretin ke dahi, pipi, dagu dan hidungnya. Bocah itu pasrah.

"Aku bakal mesen kopi, lalu duduk di seberang. Kamu gak boleh hapus semua ampas kopi itu dari wajahmu, sampe aku pergi dari tempat ini."

"Oke Bang.. Saya terima."

"Good.."

Gue pun duduk di meja lain, sambil minum kopi dan menikmati makan malam. Pengunjung lain berdatangan, dan memperhatikan muka bocah itu. Dia hanya tertunduk malu.

Ya.. itu adalah salah satu kejadian yang pernah gue alamin dalam menghadapi orang-orang berjari tajam di internet. Dan sampai hari ini pun, orang-orang semacam itu masih berkeliaran di luar sana. Bahkan, yang gue liat justru makin banyak preman keyboard di seantero internet. Gue cuma penasaran, kenapa sih harus sekejam itu saat ngomenin orang di internet?

Internet, sebuah teknologi yang memudahkan manusia untuk berkomunikasi dan berekspresi, ternyata memiliki efek samping yang kurang baik juga. Internet menyediakan "topeng" bagi mereka yang ciut nyalinya di dunia nyata, dan bisa bertingkah layaknya algojo di dunia maya. Mereka mengeluarkan sisi jahat dari diri mereka, seperti mencacimaki orang, membully orang, dan bahkan menipu orang dengan bantuan "topeng" di internet.

Gue sangat menyayangkan hal seperti ini malah banyak dinikmati. Yang menandakan bahwa sebenarnya banyak orang "sakit" di luar sana yang akhirnya punya media buat berekspresi. Mereka berani melakukan apapun yang tak pernah mereka berani lakukan di dunia nyata. Ada yang aslinya cupu, di internet jadi playboy. Ada yang aslinya pengecut, di internet jadi jagoan. Ada yang aslinya cowok, di internet jadi cewek.

Yang mereka kadang lupa sadari adalah, mereka itu "sakit". Suka menyakiti orang, agar bisa merasa senang, adalah ciri-ciri psikopat. Mungkin menghina orang, dianggap hal sepele. Tapi, bukankah bola salju raksasa yang longsor menjadi bencana juga dimulai dari butiran-butiran kecil yang dibiarkan menggelinding dan membesar?

Selain itu, internet juga kadang dijadikan sebagai tempat melampiaskan kekecewaan, masalah, dan kemarahan yang didapat di dunia nyata. Larinya ke kirim komen atau tweet pedas kepada orang-orang yang niatnya menghibur mereka di internet. Kenapa mereka nggak berani melampiaskan di dunia nyata juga? Ya karena mereka pengecut aslinya. Mereka tak mampu menghadapi ketakutan dalam realita, itulah kenapa mereka membutuhkan topeng agar terlihat jagoan di dunia maya, lalu merasa berani dan bangga. Tolong.. tolong akhiri kebiasaan itu. Jangan pelihara sifat seperti itu, kalo lo gak mau pelan-pelan jadi pecandu menyakiti orang lain beneran. Psikopat lebih bahaya dari penjahat. Penjahat sadar yang dia lakukan itu salah, psikopat tak pernah merasa bersalah.

Guys.. Mari kita kembalikan hakikat internet. Di mana fungsinya untuk memudahkan hidup, bukan menambah masalah hidup orang lain. Selalu ada manusia yang punya perasaan di balik setiap akun sosial media di internet. Maka, hati-hatilah saat mengomentari mereka. Bayangkan, apabila saudara atau keluarga membaca apa yang lo tulis di sosial media untuk menjatuhkan orang lain. Apakah mereka bangga melihat "pencapaian" itu?

Bila internet memberi kita "topeng", maka jadilah superhero. Manfaatkan topeng itu untuk berbuat baik tanpa pamrih. Membuat seseorang menjadi senang, mungkin dengan hal sesimpel memuji "waw.. kamu keliatan cakep hari ini. Semangat dalam beraktivitas, ya!"

Hal sesimpel itu bisa mengubah hari seseorang. Percayalah.. Banyak orang suka dipuji dan disupport oleh orang lain, dibandingkan tiba-tiba dihina orang lain.

So, in the end of the post. Gue cuma mau ngajakin untuk behave di internet. Mari kita ciptakan lingkungan yang nyaman di internet. Jangan jadikan internet sebagai tempat yang menakutkan bagi mereka yang tidak siap dicacimaki oleh orang yang tak mereka ketahui. Apapun di internet itu simpel. Kalo lo gak suka, close tab, jangan dilanjutin ngeliatnya. Jangan jadi orang bodoh, tidak suka dengan apa yang dilihat, ngomel-ngomel, namun sambil terus-terusan ngeliat. Are you trying to rape your eyes?! Udah gitu, ada juga tipe orang yang gak suka dengan video alay, tapi malah ngeshare videonya sambil ngomel-ngomel. Lah.. Malah bikin orang alay terkenal dong. Dan alay itu akan menginspirasi alay lain buat bikin video alay. Jadinya semua V1d30 y0utub3 b4k4L b3g1n1 judulny4. Gak mau kan? So, just ignore any content that you don't like.

This is the end of the post. Ini cuma opini menjelang tidur. Maaf kalo ada yang tersakiti waktu baca tulisan ini. Dan melanjutkan cerita gue nyamperin hater di atas, sejak saat itu, gue gak peduliin orang-orang yang komen menghina gue lagi. I simply press delete button and block them. Gue gak mau nyia-nyiain waktu dan tenaga gue buat nanggepin preman keyboard kurang perhatian di internet. Kenapa? Karena pasca gue nyamperin bocah itu, gue kepoin sosial medianya, dia malah update status: "Hore.. gue disamperin idola gue!"


Read More 41
Rabu, Agustus 31, 2016

Pertemanan itu Nggak Harus Mahal
"Eh.. Lo abis jadian ya? Makan-makan bisa, kali!"
"Eh.. Lo bikin resto ya? Makan gratis bisa, kali!"
"Eh.. Denger-denger nenek lo meninggal? Traktirannya dong!"

Gue yakin sebagian besar dari lo pernah denger kalimat-kalimat seperti di atas. Dan mungkin, elo sendiri pelakunya. Kalo emang lo adalah tipe teman seperti di atas, maka di postingan ini, gue mau ngajak lo buat berhenti ngelakuin kebiasaan di atas.

Oke, cerita ini berawal saat gue punya temen dari Australia, namanya Suprii. Iya, itu nama samaran. Supri ini hidup di Indonesia selama beberapa tahun, untuk menjalani kuliahnya. Di mata temen-temen gue, Supri dicap sebagai "Bule Pelit". Kenapa begitu? Soalnya setiap kali Supri ngajak anak-anak nongkrong di apartemennya buat nonton film rame-rame, dia minta anak-anak buat bawa snack dan softdrink sendiri-sendiri. Selain itu, Supri juga nggak mau buat nraktir anak-anak di hari ulang tahunnya.

Gara-gara sifat itu, anak-anak nggak mau lagi nongkrong sama Supri. Sedangkan gue, masih suka nongkrong sama dia biar ketularan ganteng. Karena masih sering nongkrong sama Supri, gue jadi tau sifat-sifat Supri. Ternyata, dia nggak pelit. Justru pas gue ultah, dia ngasih gue kado. Terus pas gue jualan kaos, dia jadi pembeli pertama. Supri tidak pelit, dia hanya bergaul dengan orang-orang yang salah.

Nah, dari pengalaman di atas, gue dapet beberapa pemahaman yang menarik dari sifat Supri. Dan gue pengin berbagi ke elo, bahwa pertemanan itu nggak harus mahal.

Ngerayain Ultah
Gue inget waktu adik gue ultah, pas dia masih SMA. Dia seharian nggak keluar rumah, mengurung diri di kamar, ngadu keong. Gue penasaran, apa yang membuat dia murung di hari spesialnya. Ternyata, dia takut bertemu teman-temannya (maupun bertemu orang-orang yang mendadak sok akrab dan ngaku teman). Soalnya, di hari ulang tahun, biasanya dia akan dikerjain, lalu diminta buat nraktir teman-temannya di restoran. Pernah terjadi di tahun sebelumnya, di mana adik gue harus ninggalin motor di restoran buat jaminan, karena teman-temannya mendadak cabut setelah makan. Ini adalah salah satu budaya orang Indonesia yang menurut gue perlu dihapuskan.


Sebaiknya, orang yang merayakan ulang tahunnya itu malah disempurnakan harinya. Buat hari spesial dia itu jadi makin spesial. Bukan malah diiket, badannya diolesi darah, lalu dicemplungin ke sarang Komodo. Hari ulang tahun, harusnya jadi hari yang ditunggu, bukan hari yang dihindari karena takut dikerjain dan diporotin.

Bayangkan indahnya, kalo pas temen ulang tahun, kita patungan beliin kado, terus ngasih surprise kue tart tanpa menyiksanya, apalagi lanjut ajak dia jalan rame-rame ke tempat yang dia suka. Bukankah itu bakal bikin hubungan pertemanan jadi lebih indah dan berkesan?

Pajak Jadian
Gue masih nggak nemuin korelasi antara orang yang abis jadian, terus teman-temannya menuntut untuk dikasih traktiran. Mereka bilang, itu sebagai PJ (Pajak Jadian). Sedangkan konsep pajak adalah, kita harus memotong penghasilan kita, untuk diberikan kepada negara, agar negara bisa membangun infrastruktur yang mempermudah kehidupan kita. Nah, apakah orang-orang yang minta PJ itu, mau nganterin tuh orang pacaran ke mana-mana? Mau bangun bangku taman kalo temennya lagi pengin kencan di taman? Atau, mau minjemin kasur, kalo temennya mau berkembang biak?

Gue lebih bingung lagi, kalo orang yang abis jadian diminta buat nraktir makan-makan, terus nanti kalo dia putus, apakah teman-temannya bakal gantian nraktir makan rame-rame? Mungkin nama kerennya adalah "Santunan Patah Hati". Nah, kalo kayak gitu, lebih fair deh.

Mulai Bisnis
Saat teman nyoba bikin tempat usaha, lo minta gratisan dari dagangannya? Gue nggak setuju. Sebagai teman, sebaiknya lo mendukung bisnisnya dengan cara menjadi pembeli dari dagangannya, tanpa diskon. Malah kalo bisa, lo borong dagangannya, biar dia makin semangat buat ngejalanin usaha.

Meminta diskonan, apalagi gratisan dari teman yang sedang merintis usaha adalah perilaku yang kejam. Gue yakin, orang yang pernah merintis usaha, bakal setuju sama pendapat gue. Tapi buat orang yang belum pernah berusaha merintis usaha, bakal bilang "Halah.. Gitu doang perhitungan". Padahal, orang yang baru merintis usaha itu sangat mengharapkan segera kembali modalnya. Mereka belum punya profit yang tetap. Di bagian awal dari sebuah usaha, justru masih banyak banget rintangannya. Belum punya pelanggan, belum punya pemasukan yang bisa diandalkan, dan belum bisa meraup banyak keuntungan.

Emang, kalo temen lo bangkrut usahanya, lo bisa gantian modalin dia biar bisa ngelanjutin usahanya?

Promosi Jabatan
Melihat teman naik jabatan di pekerjaannya, biasanya ada aja orang yang mengucapkan selamat dengan embel-embel, "Makan-makan bisa, kali!" Atas dasar apa, request semacam itu muncul ya? Apakah orang itu sangat berpengaruh dan sangat membantu sampai temannya bisa naik jabatan? Ataukah orang itu cuma menganggap segala kebahagiaan teman, adalah kesempatan untuk minta traktiran? Please. Traktiran itu nggak perlu jadi tuntutan, biar dikasih kalo emang dia punya keikhlasan.

Intinya, gue mau ngajak lo buat berenti jadi teman benalu. Mari kita jadi teman yang supportif, yang bisa bikin teman kita bersyukur memiliki kita. Jangan sampai kehadiran kita, malah mengurangi kebahagiaan di momen-momen spesial dia. Masalah traktiran, semua akan lebih nikmat kalo dia yang ngundang karena kesadarannya sendiri, dibanding kita paksa buat bayarin. Semoga lo setuju sama gue.

Jadi, kalo ada orang yang ngaku teman dan bilang kalimat-kalimat ini,

"Wah.. Jadian ya? Makan-makan dong!"
"Wah.. Lo jualan bakso ya? Minta gratisannya dong!"
"Wah.. Lo jualan sianida ya? Icip-icip dong!"

Jawab aja, "Pertemanan lo itu terlalu mahal".

Sekali lagi gue tekankan:
Jangan membayar terlalu berlebihan, untuk teman yang murahan.
Read More 77
Rabu, Juli 20, 2016

Jangan Memilih Pasangan yang Pengangguran
"Aku akan meninggalkan segala urusan di dunia, untuk membahagiakanmu saja."

"Aku cuma ingin selalu bersamamu, bukan bersama siapa-siapa."

"Cuma kamu yang ada di hati dan pikiranku."

Mungkin kalimat itu terdengar sangat manis, hingga orang yang diberi kalimat seperti ini harus segera disuntik insulin. Tapi kalo sudut pandangnya kita ubah, dengan membayangkan bahwa apa yang dia katakan benar-benar dilakukan, that's creepy.

Pasangan yang rela meninggalkan segala urusannya, yang selalu ingin bersamamu, yang selalu memikirkanmu, bukanlah pasangan yang romantis. Justru itu adalah pasangan gila. Ujung-ujungnya dia akan jadi overly-attached lover, alias Posesif parah. Yang mungkin malah akan membuat kita risih. Memiliki pasangan yang perhatian, selalu ada saat dibutuhkan, selalu peduli saat kita dalam masalah, memang menyenangkan, namun apapun yang berlebihan, akan menghilangkan kesenangan.

Gue abis nemu sesuatu yang hits akhir-akhir ini. Buat yang sering mantengin IG maupun Youtube, pasti nggak bakal asing sama yang namanya Awkarin. Seorang cewek yang mengumbar percintaannya di Media Sosial. Dia punya gimmick yang unik sama pacarnya, seperti cupang, cium kecil, cium sedang, dan cium besar. (Oh God.. Why did I watch it?!) Buat sebagian remaja, cara pacaran Awkarin dianggap sweet. Namun bagi orang dewasa yang udah bisa mikirin realita, mereka ini menjalani hubungan secara lebay. Tapi, pola pikir remaja dan orang dewasa emang nggak bakal bisa sejalan. Jadi, ya biarin aja mereka menikmati moment sweet mereka itu. Lima tahun dari sekarang, kalo mereka inget atau liat videonya, paling juga muntah tai kuda.


Yang mau gue highlight adalah, kemarin gue nonton video Awkarin yang curhat karena abis diputusin pacarnya, Gaga. Di video itu, dia menunjukkan bahwa dia udah ngasih segalanya ke Gaga, bahkan dia rela meninggalkan cita-citanya agar selalu bisa menemani Gaga. God.. That's a sweet thing (if it's a movie, and if Gaga is paralyzed).

Tapi, buat gue, mungkin keputusan Karin itu yang membuat Gaga ingin hengkang dari dia. Kenapa? Di usia Gaga yang masih muda, dia masih ingin bergaul dan nongkrong di sana-sini. Dan kegiatan semacam itu nggak bakalan nyaman dijalani kalo si pacar selalu mengikuti. Manusia itu makhluk sosial, manusia memang tak bisa hidup sendiri, namun manusia juga tak bisa selalu berduaan ke mana-mana. Karena kadang, manusia juga butuh me-time. Hanya untuk sekedar menikmati, bebasnya hidup sendiri.

Jadi, di postingan ini, gue mau ngejelasin bahwa kita sebaiknya tidak memilih pasangan pengangguran. Bukan, "pengangguran" yang gue maksud di sini, bukanlah tentang karier/duit. Tapi tentang mereka yang kurang kegiatan dan sering kesepian. Iya, jangan macarin orang yang sering kesepian. Here's why:

Dia Sering Kesepian
Pasangan yang nganggur, akan sering kesepian. Efeknya, dia bakal sering ngehubungin lo, ngajak ketemu lo, dan sering ngajakin ngobrol elo. Untuk orang yang sama-sama sedang dimabuk cinta, hal itu akan terasa menyenangkan. Namun saat pikiran sudah terbagi fokusnya dengan pekerjaan, pasangan yang selalu ngehubungin, bisa aja malah terasa mengganggu. Bayangkan, lo lagi meeting, lo ditelponin mulu? Bayangkan, lo lagi kerja, si dia ngajak chat melulu? Produktivitas lo bakal jeblok. Kerjaan lo bakal kacau.

Sedangkan kalo lo nggak ngerespon dia saat lo lagi sibuk kerja, dia bakal ngerasa hidupnya hampa. Dia bisa ngambek ke elo juga. Soalnya dia juga berharap lo selalu ada buat dia.

Dia Selalu Mikirin Lo
Karena dia nggak punya kesibukan lain, dia bakal selalu mikirin pasangannya. Kalo pasangan nggak bisa dihubungi karena sibuk, dia akan mencari-cari informasi sendiri. Dia bakal kepoin sosmed lo, dia bakal merhatiin apapun kegiatan lo, dan dia akan terlalu mikirin hal-hal kecil yang tidak dia suka dari hubungan lo dan dia. Kenapa? Karena dia punya banyak waktu untuk hal itu. Ujung-ujungnya, masalah-masalah kecil itu bisa jadi topik buat ngajak berantem elo.

Lo Bakal Cepet Bosen Sama dia
Futsal, ditemenin. Jalan ke mall, ditemenin. Jumatan, ditemenin. Hampir setiap hari dia selalu ada di samping lo, bukanlah hal yang bakal bikin lo bahagia. Ada kalanya kita juga ingin bergaul dengan teman-teman kita, ngomongin apa aja, tanpa ada si dia. Iya, privasi juga masih berlaku bahkan untuk pasangan yang sudah menikah.

Dengan frekuensi bertemu sesering itu (karena dia selalu bisa nemenin lo), nggak menutup kemungkinan lo bakal cepet bosen sama dia. Kenapa? Karena lo nggak pernah ngerasa kangen sama dia. Karena lo nggak pernah semenitpun kehilangan dia, sehingga lo nggak nyadar lagi bahwa dia berharga. Dengan frekuensi bertemu sesering itu, nggak menutup kemungkinan lo yang bakal risih karena dia selalu nempel melulu.

Itulah kenapa, kalo lo tipe orang yang sibuk (punya kerjaan atau kegiatan rutin), carilah pasangan yang sibuk juga. Soalnya, pasangan yang sama-sama sibuk, cenderung tak akan mempermasalahkan masalah-masalah kecil, karena pikirannya nggak cuma fokus ke hubungan, melainkan kepada kerjaan juga. Pasangan yang sama-sama sibuk, akan menghargai setiap moment mereka bisa bertemu, karena moment-moment itu langka.

Dengan kesibukan masing-masing, tentunya untuk menemukan jadwal yang pas buat ketemu itu nggak mudah. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali. Dengan frekuensi ketemu sejarang itu, maka akan tercipta rasa rindu, sehingga muncul kebahagiaan setiap kali bisa ketemu. Yep.. That's called quality-time! Beda sama orang yang tiap hari ketemu, ya paling ngerasa gitu-gitu melulu. Jadinya, setiap pertemuan, tak lagi ada keistimewaan. Inget.. Kualitas dan kuantitas itu susah untuk selalu berjalan secara beriringan. Bila kuantitasnya dominan, kualitasnya pasti terkorbankan. Begitu pula sebaliknya.

Selain kesepian yang bisa bikin masalah, kalo lo nganggur soal kerjaan, terus pacar lo nganggur juga, ya sono cari kerja. Pasangan yang sama-sama nganggur itu bakal susah ke depannya. Selain bosan, kalian juga nggak akan ngerti mau dibawa ke mana hubungannya, tanpa ada modal untuk nikah. Lagian, apa sih bangganya ngebahagiain anak orang dengan subsidi dari orang tua? Kalo lo masih pelajar, ya pacaran sewajarnya. Nggak perlu ikut-ikutan Awkarin lah. Romantis itu nggak selalu tentang ciuman dan cupang-cupangan. Romantisme itu adalah lo berdua MERASA BAHAGIA, bukan TERLIHAT BAHAGIA.

So, in the end of the post, gue cuma mau nyaranin. Carilah pasangan yang bisa membahagiakan dirinya sendiri juga. Jangan sampai punya pasangan yang menggantungkan kebahagiaannya di diri lo. Jangan sampai dia menjadikan lo sebagai pusat dunia. Karena kalo sampe itu terjadi, lo bakal repot sendiri. Bahkan misalpun kelak lo nggak kuat untuk berhubungan lagi, dia bisa aja mikir buat bunuh diri. Karena dia merasa hidupnya tak ada tujuan lagi. Makanya, cari pasangan yang sama-sama sibuk mengejar cita-cita. Jadikan cinta sebagai motivasi untuk saling mendukung pasangan. Jangan cuma jadi orang yang melengkapi hidup pasangan. Berikan hidup lo sendiri sebuah arti. Jangan hanya menumpang kebahagiaan di kehidupan orang lain.

Lo pernah pacaran sama pengangguran? Ceritain di kolom komen dong.
Read More 119
Selasa, Juli 12, 2016

Cara Main Pokemon Go Buat Pemula Banget
Jadi, sejak minggu kemarin, gue heran ngeliat banyak orang-orang udah tua bangka pada megangin hape, jalan kaki ke trotoar, ngumpul di masjid, dan tiba-tiba berenti ngubek-ngubek tempat sampah sambil liatin layar hape. Gue penasaran dong, mereka lagi ngapain, gue kira mereka sudah terkena hipnotis yang dipancarkan oleh sinyal hape yang disebarkan oleh Megatron. Ternyata.. Mereka main game Pokemon Go.

Denger kata Pokemon, pikiran gue langsung melanglang buana, bernostalgia mengingat-ingat di zaman gue SD, gue suka mainin game ini di Gameboy Advance yang disewain sama mas-mas di sekolah gue. Game yang bikin uang jajan gue ludes dan bikin lambung gue terserang maag ini emang seru gila. Gamenya simpel, intinya gue jadi seorang bocah yang punya keahlian melatih monster-monster kecil yang gue temuin di alam bebas. Abis itu, gue adu tuh monster dengan monster lain.


Nah, game Pokemon ini direproduce berpuluh-puluh kali dalam berbagai judul. Dan yang terakhir gue mainin adalah game Pokemon X & Y di konsol Nintendo 3DS. Gameplaynya sama persis, di mana gue harus berpetualang dari kota ke kota mencari monster-monster mini buat gue piara, latih, dan adu. Seru parah.


Setahun kemudian, gue mendengar desas-desus bahwa game Pokemon yang legendaris itu bakal rilis di smartphone. Awalnya gue skeptis, karena gue nggak gitu suka main game di touch screen. You know, nothing is better than joystick for gaming. Tapi ternyata, apa yang gue duga salah total! Game Pokemon Go yang rilis di Android dan iOS ini interfacenya beda total dari yang gue duga. Gue nggak lagi mengendalikan seorang bocah pelatih monster, tapi, gue jadi bocah itu sendiri di dunia nyata! Iya! Pokemon Go, bukanlah game untuk orang-orang yang suka ngegame sambil duduk atau tiduran di sofa, tapi buat lo yang mau pergi keluar rumah dan melihat dunia!


Nih game menggunakan teknologi GPS di hape lo, buat nunjukin maps, menggunakan kamera hape lo buat menggabungkan animasi Monster yang lo tangkap dan lokasi lo nemu monsternya, serta menggunakan internet untuk menyambungkan ke servernya.


Oke.. Itu aja dulu perkenalan buat lo yang penasaran sama game ngehits ini. Kalo lo mau kenal lebih jauh mengenai Pokemon, gue rekomendasiin banget lo buat main game Pokemon di GBA atau Nintendo 2DS, atau 3DS. Dari situ bakal ketauan lo demen game ini atau nggak, dan lo bakal ngerti sejarahnya kenapa game ini segitu hebohnya bagi anak 90'an yang sudah mulai renta sekarang.

Sekarang gue mau ngejelasin tentang panduan game Pokemon Go bagi pemula banget. Jadi, yang udah jago, mending gak usah baca, atau syukur-syukur mau nambahin tips & trick di kolom komen, monggo.

Tutorial ini bakal gue bagi jadi 3 bagian:

1. Installing
2. Gameplay
3. Features

Yuk, kita mulai!

Installing
FYI, Pokemon Go untuk saat ini (Juli 2016), masih belum rilis di Indonesia. Baru rilis di US, Australia, New Zealand, dan beberapa negara lain akan menyusul. Oleh karena itu, kalo lo nyari Pokemon Go di Google Playstore maupun Appstore ampe jenggot lo gimbal, juga nggak bakal nemu. 

Cara pertama adalah dengan membuat akun Apple ID atau Google Playstore US, di mana kadang itu ribet. Dan gue terlalu males jelasin caranya di sini, googling aja.

Jadinya, gue bakal ngasih cara lain untuk install Pokemon Go di hape lo yang lebih praktis dibanding bikin akun-akunan. Tapi, gue nggak bilang ini cara yang aman, karena cara yang paling aman adalah menunggu Pokemon Go rilis secara resmi di Indonesia.

Gue kasih tau dulu resikonya kalo lo donlot aplikasi di luar Playstore ataupun Appstore. Aplikasinya bisa aja mengandung spyware ataupun malware. Jadi, kalo lo insecure, mending lo nunggu versi resminya. Tapi kalo lo udah nggak sabar buat ikut seru-seruan main, silakan ikuti step berikut ini. Ingat! Segala resiko dalam menginstall aplikasi ini, ditanggung sendiri, ya!

Yuk ah, kita mulai..

Untuk menginstall aplikasi Pokemon Go di iOS maupun di Android, silakan download dulu aplikasi Hipstore di:
- iOS (buka pake safari, bukan browser lain)
Khusus pengguna iOS, karena masalah security iOS sangat rapat, ada step lanjutan yang harus lo jalanin setelah app Hipstore terinstall. Yaitu, buka settings -> General -> Device Management.



Lalu lo klik dah certificatenya Hipstore, dan trust.


Kalo udah keinstall, silakan cari aplikasi Pokemon Go dari Hipstore market. Lalu install deh! Untuk pengguna iPhone, silakan "Trust" developer Pokemon Go dari settings -> General -> Device Management, seperti pas lo install aplikasi Hipstore tadi.


Setelah selesai install, buka deh aplikasinya! Voila! Aplikasinya pun udah bisa dijalankan! Gampang to~

Gameplay
Cara main nih game kalo dari awal, lo harus login dulu pake Google account, alias email lo yang gmail. Bukan buat apa-apa, tapi buat nge-save profile dan progress game lo di cloud. Abis itu, lo bakal diajak ngobrol ama profesor yang ngenalin lo ke Pokemon. Tapi sebelumnya, lo disuruh dandan. Yak.. Tinggal pilih gaya avatar Pokemon Trainer yang sesuai selera lo.


Setelah itu, lo bakal diajarin buat nangkap monster. Biasanya bakal nongol monster di sekitar lo, dan lo cuma tinggal milih salah satu monster yang nongol itu untuk ditangkap. 


Cara nangkapnya gimana? Tinggal "lempar" Pokeball (bola merah putih) dari ujung bawah layar hape lo ke arah monsternya. Scroll aja dengan cepat bolanya ke arah monsternnya. Untuk akurasi yang oke, tekan tahan dulu bolanya, tunggu sampai lingkaran hijau di monsternya mengecil, baru deh dilempar bolanya. Nah, itu basic dari cara menangkap Pokemon.

Pokemonnya buat apa, Litt?

Yang jelas, bukan buat dijadiin hewan qurban. Tuh monster bakal kita piara, kita gedein, sampai berevolusi jadi bentuk paling sangar. Endingnya? Ya bakal kita adu. Di mana? Di Gym. Ntar gue jelasin lagi di bagian features.


Abis lo nangkep Pokemon pertama lo, lo bakal disuruh profesor buat mencari PokeStop. PokeStop adalah lokasi yang ditandai dengan kubus biru di map lo. Mapnya bisa lo liat di layar hape. Cara mendekati PokeStop-nya gimana? Ya lo harus jalan ke sana. IYA, JALAN KAKI. Udah dibilang, nih game nggak bisa lo mainin sambil tiduran di kasur, atau di pangkuan pacar. Lo harus keliling kampung, komplek, ataupun kota.


Setelah sampai di PokeStop, lo nggak harus duduk di tempat yang ada di PokeStop itu sih, lo bisa berdiri di deket-deket situ aja, yang penting jaraknya nggak lebih dari 5 meter. Nah, di situ, silakan liat layar hape, terus lo scroll lingkaran PokeStop itu ke samping dengan cepat, logonya bakal muter. Ntar dari situ bakal nongol beberapa item bonus seperti PokeBall, Potion, dll. PokeStop bisa lo scroll setiap +/- 5 menit sekali. Jadi, baiknya kalo lo abis ngambil bonus di satu PokeStop, mending lo keliling cari PokeStop lain di area situ buat dapetin bonus lain dulu sembari nunggu PokeStop yang sebelumnya pulih kembali.


Di sepanjang perjalanan lo nyari PokeStop lain, lo bakal nemuin monster-monster yang bisa lo tangkep-tangkepin tuh. Dan monster-monster di berbagai wilayah bakal beda-beda jenisnya. Misal wilayah yang banyak pepohonan, monsternya bakal berbentuk ulat, ataupun burung. Wilayah yang dekat sungai, monsternya bakal berbentuk ikan, dsb.


Intinya, nih game mengharuskan lo nyari monster sebanyak-banyaknya, biar level lo naik terus. Jadi, kalo nemu monster di jalan, tangkep aja dulu. Kalo nemu monster yang jenisnya sama dengan yang pernah ditangkep? Ya nggak apa-apa, itu ntar berguna buat evolve. Ntar gue jelasin lagi.

Untuk sekarang, yang penting lo coba mainin aja dulu gamenya dengan cara di atas. Dan gue bakal ngejelasin beberapa fitur dasar yang perlu lo tau biar nggak bingung pas main.

Features
Di sesi ini, gue bakal ngejelasin beberapa fitur yang ada di game ini, biar lo paham fungsi dari setiap item yang ada.

Pokeball:


Bola berwarna merah, hitam, dan putih. Gunanya buat nangkepin Pokemon yang lo temuin di jalan. Kalo abis, lo bisa dapet gratis di PokeStop, atau beli pake Gold Coin.

PokeStop:


Seperti yang gue jelasin di atas, ini adalah tempat yang ditandai dengan simbol kubus berwarna biru di map lo. Gunanya untuk mencari bonusan Pokeball, potion, dll. Selain itu, bisa juga buat mengaktifkan Lure Module.


Gym:


Ini adalah tempat di mana lo bisa ngadu maupun ngelatih Pokemon koleksi lo. Biasanya, Gym ini dikuasai oleh tim yang punya Pokemon dengan CP (Combat Power) tinggi. Tapi kalo lo bisa ngalahin Pokemon mereka, Gym ini bisa lo kuasai juga. Yah, gym ini semacam kayak singgasana yang diperebutkan gitu lah. Untuk bisa mengakses dan bertarung di Gym, minimal lo harus ada di level 5.

Lure Module:


Gunanya untuk memancing para Pokemon liar di sekitar daerah situ buat mendekat ke PokeStop. Dengan begitu, Pokemon-pokemon bakal berdatangan ke PokeStop, terus lo bisa tangkep-tangkepin deh. Kalo pake Lure Module, semua pemain yang lagi nongkrong di deket PokeStop, bakal bisa ngeliat monster-monster yang datang juga, jadinya mereka juga bisa nangkepin monster-monster itu. Lure Module bertahan selama 30 menit di PokeStop.

Incence:


Fungsinya mirip sama Lure Module, tapi ini semacam parfum yang lo semprotin di tubuh lo sendiri. Jadi, Pokemon-pokemonnya bakal mendekati lo, bukan mendekati PokeStop lagi. Jadi, ke mana pun lo pergi, selama Incence ini aktif, Monster-monster liar bakal mendekati lo, dan bisa lo tangkep. Selain itu, kalo lo pake Incence, pemain lain yang di deket lo, nggak bakal kena efek apa-apa. Mereka nggak bakal ngelihat monster yang datang juga. Incence ini, sekali diaktifkan, bakal bertahan selama 30 menit.

Potion:

Ini semacam ramuan yang gunanya buat ngobatin Pokemon lo yang cidera setelah berantem. 


Revive:

Kalo Pokemon lo pingsan karena KO dibantai lawan, nih ramuan yang bisa bikin dia siuman.

Razz Berry:
Pernah nyoba nangkep monster yang CP tinggi, udah masuk Pokeball tapi bisa kabur lagi? Nah, sebelum lo lempar PokeBall, lempar dulu Razz Berry, biar monsternya sibuk makan Razz Berry, baru deh lo tangkep pake PokeBall. Dijamin nggak ngabur lagi.

Eggs:
Inih adalah telor Pokemon yang bisa menetas. Isinya random, kadang Pokemon yang langka, kadang Pokemon yang biasa aja.

Egg Incubator:
Ini adalah alat buat menetaskan telor Pokemon lo. Caranya simpel, klik telor yang mau lo inkubasi, terus klik gambar tabung inkubator. Telor akan menetas sesuai dari keterangan yang ada di bawah logo telurnya. Misal keterangannya 5.0 KM, maka telur itu akan menetas setelah lo berjalan 5 KM jauhnya sejak si telur masuk inkubator.

Gold Coin:
Intinya ini duit di dunia Pokemon. Gunanya buat beli Razz Berry, Egg Incubator, Pokeball, Insence, Lure Modul, dll. Beli Gold Coin kalo di android bisa pake pulsa, disetting dari payment setting goggle playstore. Kalo di iOS, ya harus pakai kartu kredit. Tapi, nih game bukan tipe pay to win kok. Selama lo rajin keliling nangkepin monster dan mampir ke PokeStop, semua items yang lo butuhin bakal terpenuhi tanpa perlu beli Gold Coin.

Q & A
Ini game bisa diinstall di hape apa aja?
Untuk android, minimal OS Kitkat ke atas. Untuk iOS, kayaknya iphone 5 ke atas lancar jaya.

Kok di daerahku nggak ada PokeStop dan Gym kak?
Nih developer game Pokemon Go adalah developer dari aplikasi INGRESS, yang dulu fungsinya adalah nge-tag lokasi-lokasi gitu. Nah, Pokemon Go menggunakan portal-portal checkpoint INGRESS untuk penempatan PokeStop dan Gym. Kalo daerah lo nggak pernah ada yang main INGRESS, ya PokeStop dan Gym-nya juga nggak ada. Tapi, monsternya tetep bakal ada di sekitar lo kok. Biasanya, untuk daerah-daerah terpencil emang susah nyari PokeStop maupun Gym.

Kok di Hapeku nggak bisa pake fitur AR kak?
Biasanya itu karena hape lo nggak support gyro-nya. So, matiin aja fitur AR-nya. Malah gampang buat nangkepin monsternya. Nggak goyang-goyang. Hehe..

GPS Signal Not Found. What the hell?
Sering kejadian kayak gini gara-gara lo pernah pake aplikasi Fake GPS, yang mengharuskan lo untuk Allow Mock Location. So, harus lo balikin ke settingan standar. Karena game Pokemon Go, nggak bisa dicurangin pake Fake GPS. Kalo udah lo balikin ke settingan standar, dan masih GPS Not Found, mungkin koneksi di daerah lo emang terkutuk.

Apa itu Evolve?
Evolve adalah sebuah proses di mana monster lo bakal menjadi lebih sangar, dan lebih kuat. Biasanya untuk melakukan Evolve, lo perlu item bernama candy. Candy didapat dari mana? Dari monster-monster yang lo transfer ke profesor. Setiap satu monster yang lo transfer ke profesor, bakal ditukar sama satu candy.

Cara Transfer Monster ke Profesor gimana, Kak?
Klik menu utama di bagian bawah tengah layar yang berlogo Pokeball, terus klik menu Pokemon, lalu pilih monster mana yang mau lo transfer, terus scroll ke bawah mentok, nanti ada tombol Transfer. Klik deh!

So.. That's all I can say untuk perkenalan game ini. Semoga bisa membantu kalian untuk lebih mengerti dalam memainkan game Pokemon Go. Nih game emang dinanti-nanti oleh para pecinta Pokemon jadul. Buat adik-adik yang nyoba main, stay safe ya. Jangan motoran sambil megang hape, jangan masuk pekarangan rumah orang tanpa izin, dan jangan ngebobol kartu kredit ortu buat beli Gold Coin. 

Yap.. Sampe sini dulu postingan gue kali ini. Udah capek 2 jam ngetik beginian. Sudah waktunya jari gue direbonding. Besok-besok kalo ada yang perlu ditambahin, bakal gue update nih postingan. Dan kalo ada pertanyaan, silakan tulis di kolom komentar, ya! Ciao!


Read More 74
Jumat, Juli 01, 2016

Gue Pernah Dipukul Guru
"MAU JADI APA KALIAN?!" Teriak Pak Slamet, guru berbadan tegap dan suara menggelegar itu kepada kami, 6 siswa STM yang ketauan judi kartu di WC sekolah.

Kami semua terdiam, badan bergetar, keringat menetes-netes. Pak Slamet kembali berteriak, "TARUH TANGAN KALIAN DI MEJA SAYA! SEKARANG!"

Kami hanya bisa mengikuti perintah beliau. Kami takut, kalo kami nggak nurut, Pak Slamet berubah jadi Megatron. Kami pun meletakkan tangan kami di meja guru kelas secara sejajar dengan perasaan was-was. Semua anak-anak di kelas baca Surat Yasin secara berjamaah.

Pak Slamet kemudian mengambil sebuah penggaris kayu sepanjang satu meter yang biasa dipakai untuk mengajar. Tak memberi aba-aba, beliau langsung memukulkan kayu itu ke tangan kami yang tergeletak di meja itu. Kami berteriak kesakitan dan memohon ampun. Singkat cerita, pulang sekolah, gue dan 5 teman lain kesulitan untuk naik sepeda motor karena jari tangan kami memar semua.


Kejadian seperti di atas, bukanlah hal yang asing lagi buat gue. Hukuman fisik seperti lari keliling lapangan, push up, dan dicukur pake pisau sama guru ampe pitak-pitak kayak anjing jamuran pun udah pernah gue alamin. Memang, gue ada sebalnya juga kalo abis kena hukum. Pengin rasanya ngebales kelakuan guru itu. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, gue juga nggak bakal dihukum kalo gue nggak salah. Ya kali, gue lagi enak-enak boker di toilet sekolah, tau-tau disuruh push-up, ntar berceceran dong.

Zaman muda, saat darah masih bergelora, gue kadang pengin ngadu ke orang tua. Tapi jangankan nyamperin guru yang ngehukum gue, ortu gue aja nggak pernah ngambilin rapor gue. Jadi, gue pikir keputusan itu nggak bakal berpengaruh.

Nah, abis kejadian jari digebuk pake mistar kayu itu, Supri, salah satu temen gue judi, ngaduin ke ortunya. Dia berharap agar ortunya datang ke sekolah, lalu memarahi guru yang melukainya. Gue tau, karena waktu dia ngaduin ke ortunya, persis pasca kejadian, gue lagi mampir di rumahnya.

"Loh? Tanganmu ngopo?" Tanya Bokap Supri.

"Anu Pak.. Tadi digebuk pak guru, kejam banget dia Pak.. Suka semena-mena sama murid." Jawab Supri provokatif.

Bokap Supri mengecek tangan anaknya, "Wah?! Ampe biru gini.. Digebuk atau diinjak?"

"Digebuk pake mistar kayu, Pak.. Kejam banget to?" Supri menjawab dengan nada memelas.

"Lha kok bisa? Kamu salah apa?" Bokap Supri kaget mendengar anaknya dianiaya.

"Nganu Pak.. Ketauan judi di sekolah."

"...."

Bokap Supri menghela nafas sebentar, lalu, "PLAK!"

Terdengar suara tamparan nan perih yang mendarat di pipi Supri. "LHA KOK TADI CUMA DIGEBUK PAKE MISTAR KAYU? KAMU DIGILES PAKE MOBIL JUGA BAPAK TERIMA!"

Bokap Supri mendadak jadi bengis. Dia berdiri, dan kembali memukuli Supri. "BIKIN MALU! UDAH BISA NYARI DUIT SENDIRI KAMU?! DUIT YANG KAMU MAKAN TIAP HARI ITU MASIH HASIL KERINGATKU! SEMENA-MENA!" "PLAK! PLAK! PLAK!"

Suasana semakin awkward, gue sembunyiin tangan gue yang juga membiru, lalu buru-buru pamit pulang.

Iya, itulah cerminan pendidikan yang gue dapat waktu itu. Guru killer, selalu gue temui sejak zaman SD, SMP, STM, dan bahkan, kuliah pun gue ketemu dosen killer. Tapi apakah guru-guru semacam itu membuat gue membenci figur pendidik? Tidak sama sekali. Bahkan sampe sekarang gue masih respect sama mereka berkat segala ilmu yang diberikannya.

Momen itu gue sadari waktu gue perpisahan zaman STM. Waktu itu sudah waktunya kami bersalaman dengan para guru. Pak Slamet memeluk gue, sambil... nangis. Iya, dia nangis sambil meminta maaf atas segala hukuman yang pernah dia lakukan kepada gue. Waktu itu gue ikut nangis, dan minta maaf karena sudah membuat beliau terpaksa menyakiti gue gara-gara kenakalan gue. Tangannya yang harusnya digunakan untuk mendidik, jadi digunakan untuk menghajar gara-gara kenakalan gue yang nggak wajar. Gue yakin, setelah ngehukum gue, sebagai pendidik, beliau juga guilty karena profesinya jadi ternodai. Itulah salah satu wujud dari cinta, diikuti penyesalan setiap kali orang yang dicintai tersakiti.

Sejak saat itu, gue jadi nyadar bahwa kita sebenarnya nggak takut kepada guru killer. Kita hanya takut kepada ketidakdisiplinan diri kita sendiri di sekolah. Kalo kita tidak melanggar peraturan apapun, ya kita nggak akan dihukum. Guru nggak akan punya alasan untuk menghukum kita. Segalak apapun dia.

Ditambah lagi, saat semester akhir kuliah gue, karena gue kuliah di FKIP, gue ada PPL. Di mana, gue harus ngajar di sebuah SMK selama beberapa bulan. Di SMK itu, murid gue bandel-bandel. Bahkan, gue pernah ngalamin pas pulang ngajar, motor gue digembosin murid cuma gara-gara dia dapet nilai jelek pas test. Gue jadi ngerti gimana rasanya jadi guru yang punya murid bengal.

Jadi, dari pengalaman masa lalu, buat gue, hukuman fisik (cubit, sit-up, push-up) di sekolah itu masih wajar dilakukan oleh guru, untuk anak yang sudah mulai remaja. Itu pun kalo si anak keterlaluan kelakuannya. Untuk bocah yang masih TK atau SD, kalo bisa cukup teguran halus secara lisan saja, biar gak trauma atau malah takut bersekolah. Hukuman fisik bagi remaja, menurut gue boleh, asal tidak berlebihan, dan tidak memakai kata-kata kotor sebagai makian. Karena luka fisik bisa sembuh sendiri, tapi luka hati kadang kebawa mati. Gue tau, ada juga anak yang tumbuh bersama orang tua, dan tak pernah merasakan hukuman fisik dari ortunya. Jadi, ketika bertemu dengan guru yang memberi hukuman fisik, mereka bisa trauma.

Tapi, sepengalaman gue, gue BELUM PERNAH nemu guru yang ngegampar, apabila kesalahan yang dilakukan murid tidak fatal. Kalo cuma karena lupa ngerjain PR, biasanya ya hukumannya cuma disuruh lari keliling lapangan. Biasanya, murid yang digampar itu ya level kurang ajarnya udah nggak wajar. 

Untuk orang tua, sudah sepantasnya saat menitipkan anak di sekolah, artinya sudah memindahkan tugas mendidik anak selama di sekolah kepada guru. Apabila tidak mau gurunya mendidik anaknya dengan caranya, ya sekolahkan secara private saja. Di mana selalu bisa diawasi cara mendidiknya. Atau, setidaknya ciptakan perjanjian dulu antara ortu dan guru, hal-hal apa saja yang tak boleh dilakukan kepada si anak. Orang tua berhak protes kepada sekolah, apabila hukuman yang diterima si murid sudah tidak wajar. Misal, digampar sampe ompong, atau dipukul hingga hidung patah, nah, itu sudah masuk pasal penganiayaan. 

Jadi, buat gue kalo cubitan, sentilan, atau lari di lapangan, itu hukuman yang masih wajar dilakukan guru kepada murid, di zaman gue. Kadang, anak-anak harus mengerti bahwa hidup itu keras. Jadi, mendidik jangan selalu lembek. Baru dicubit aja udah ngadu orang tua, apa kabar nanti kalo ditinggalkan kekasih saat sedang cinta-cintanya? Tapi guru juga jangan lupa, kalo berani ngasih punishment, mereka juga harus bisa ngasih reward kepada murid-murid yang baik. Sehingga hal itu bisa jadi motivasi, bukan rajin belajar cuma karena ditakut-takuti. Mendidik memang tak harus keras, tapi harus tegas. Tegas dalam menghadapi kesalahan murid, dan juga tegas menghargai usaha keras murid.

Tapi semua yang gue sebutin di atas kan "buat gue", atau mungkin buat anak-anak generasi gue, di mana gue lahir, tumbuh di zaman yang berbeda. Cara bergaul gue dulu dan anak-anak sekarang udah beda. Jadinya, kualitas mental dan psikologis pun beda. Untuk anak-anak zaman sekarang, akan lebih baik lagi kalo mereka mendapatkan sistem pendidikan yang tanpa kekerasan. Misal, memberlakukan sistem poin di sekolah. Jadi, setiap pelanggaran yang dilakukan murid, akan berbuah poin. Besarnya poin juga diatur sesuai dengan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan. Di mana, poin-poin itu berpengaruh dalam proses kenaikan kelas si murid. Hal seperti itu wajib disosialisasikan ke ortu murid saat daftar ulang. Sehingga ortu juga bisa ikut mengawasi sistem ini dan mengingatkan anak-anak mereka. Di zaman ini, tindakan kekerasan fisik sudah tidak relevan. Gue gak kebayang aja, kalo kelak anak-anak yang gue sayang, jaga, dan besarkan, disakiti orang saat mereka jauh dari orang tuanya. It's sad.

Bagaimanapun juga, menghasilkan generasi baru yang lebih baik, adalah kewajiban bagi ortu maupun guru. Jadi, lebih baik guru dan ortu selalu bekerjasama. Tidak asal menyerahkan tanggungjawabnya. 

Oke.. This is the end of this post. Gue cuma mau berbagi opini gue tentang guru killer yang menghukum murid. Semoga bisa menambah sudut pandang baru dalam melihat masalah ini. Thanks for reading!

Oiyah.. Lo pernah dihukum guru di sekolah? Dihukum apa? Jangan lupa share ceritanya di kolom komen, ya! :D
Read More 81