shitlicious

Jumat, Februari 10, 2017

Menebar Benci, Menuai Emosi
Ada tukang bakso yang jualan deket rumah, sebut aja Pak Supri. Pak Supri ini biasanya ngambil air buat nyuci piring pake ember ke rumah Pak Harno. Mereka udah kenal lama, karena Pak Supri udah jualan bakso di sini selama puluhan taun. Namun akhir-akhir ini Pak Supri bela-belain ngambil air ke rumahnya sendiri yang berjarak 800 meteran. Padahal Pak Supri jualan di trotoar depan rumah Pak Harno.

Sesekali gue liat, saat Pak Harno lewat, dia menyapa Pak Supri. Namun Pak Supri cuma menjawab secara basa-basi. Gue penasaran, apa yang membuat Pak Supri terlihat bete ama Pak Harno. Apakah Pak Harno merebut istri dan anak cucu Pak Supri? Gue pun beraniin nanya kepada Pak Supri.

"Pak.. maaf, emang ada masalah apa sama Pak Harno? Kok kayaknya Bapak bete gitu?" Gue lalu mengunyah bakso gue dengan santai.

"Males saya ngobrol sama pendukung calon gubernur yang "itu". Banyak dosa!" Jawab Pak Supri sambil memainkan rambutnya sendiri.

"Oh.. Tapi emang Pak Harno pernah maksa Bapak buat dukung idola dia juga?"

"Nggak sih.. cuma malas aja kalo lama-lama saya ketularan dukung dia. Takut dosa euy!" Pak Supri menggigit-gigit bibirnya sendiri sambil sesekali mengedipkan sebelah mata.

"Oh.."

"Saya cuma mau menghindari dosa, Mas. Jadi mending saya putusin silaturahmi sama orang-orang yang bisa menjauhkan saya dari Agama." Pak Supri meneruskan omongannya sambil menarik kerah kaosnya hingga ke lengan. Pundaknya terbuka.

Melihat situasi semakin tak lazim, gue pun segera cabut dari warung bakso. Tanpa bayar. Bodo amat!

Tiga bulan terakhir, lingkungan gue lagi berisik banget. Ada yang ngomongin SARA, ada yang ngomongin Politik. Moment PILKADA menjadi gara-gara atas ini semua. Orang-orang yang dulu suka nongkrong rame-rame di depan rumah, mendadak pada saling marah, suasana juga selalu gerah.

Ini yang kurang gue suka dari momen-momen pemilihan umum. Zaman Pilpres, banyak orang gontok-gontokan. Zaman Pilkada, semua terulang kembali. Padahal, faktanya gini loh, siapapun pemimpin yang terpilih, dalam waktu seminggu, sebulan atau bahkan 5 taun, hidup kita gak akan langsung berubah 180 derajat. Misalnya Pak Supri, yang biasa jualan Bakso, setelah pemimpin idolanya terpilih, Pak Supri gak mendadak jadi Anggota DPR juga. Pemimpin itu bukan pembawa perubahan besar. Yang membawa perubahan besar itu rakyatnya. Jadi, mind-set "pilih pemimpin terbaik, lalu kita hidup seenaknya", gak bakal bisa majuin negara.

 

Negara/wilayah gak bakal bisa maju tanpa persatuan dari rakyatnya. Pemimpin itu cuma pembuat kebijakan, sedangkan rakyatnya adalah pelaku dan pengawas kebijakan. Kalo kita gak awasin dan laksanain kebijakan dari pemimpin, ya sama juga bodong. Oke, sampe sini, gue rasa udah cukup jelas gimana konsep pemimpin wilayah ya.

Sekarang gue mau ngomongin tentang politik adu domba yang secara gak sadar sudah sukses dijalankan oknum-oknum timses paslon cagub yang mau ikut Pilkada. Ada yang menebar kebencian kepada pasangan calon lain dengan membawa isu SARA, ada juga yang menyebarkan kabar-kabar buruk tentang paslon lawan yang belum tentu benar.

Cara seperti ini amat sangat gue benci. Kenapa? Karena kalo semua paslon berkampanye dengan saling menyebar kebencian, efek buruknya bakal dalam dan awet. Kenapa begitu? Karena dengan menyebarkan kebencian, dan banyak orang percaya dengan fitnah-fitnah itu, orang-orang akan seterusnya membenci korban. Bahkan sampai nanti si paslon terpilih jadi pemimpin, dia akan tetap dibenci dan tidak dipercaya oleh sebagian rakyatnya yang dulu mendukung paslon lain. Kalo mereka benci secara permanen kepada pemimpin yang terpilih, mereka tak akan mengikuti kebijakan yang dibuat pemimpin itu. Kalo udah begitu, seperti yang tadi gue sampein, si pemimpin bakal gagal membawa perubahan besar, karena sebagian rakyatnya tak percaya dan tak mau menjalankan kebijakannya. Bukankah ini celaka namanya?

Kalo politik adu domba dan menebar kebencian selalu dijalankan, bisa-bisa kita gonta-ganti pemimpin setiap bulan. Kalo itu kejadian, kita gak bakal sempat kerja. Semua kebijakan yang dibuat, belum diaplikasikan, udah dipaksa digantikan. Apa itu yang dimau?

Gue sih percaya, demokrasi itu bisa berjalan baik bukan di saat si pemimpin yang paling banyak pendukungnya menang. Tapi demokrasi akan berjalan baik, di saat pemimpin sudah terpilih, semua pendukung dan non-pendukungnya bersatu lalu menjadi pengawas dan pelaku kebijakannya. Bukan terus membenci dan merecoki segala kebijakannya, tanpa mau peduli apa dampak baik/buruknya.

Buat lo yang jelas berpendidikan, gue pesenin.. jangannnn.. sekali lagi, jangaaaaan mudah percaya kabar negatif tentang paslon. Selalu cari info buat klarifikasi kabarnya. Zaman sekarang siapa saja bisa bikin portal berita. Cara mengenali berita hoax/gak itu mudah. Saat berita itu cuma dari satu sumber, tanpa ada klarifikasi dari yang diberitakan, bisa dimungkinkan itu kabar yang kurang benar. Zaman dulu, unsur berita itu ada 5W1H (What, Where, When, Who, Why & How). Zaman sekarang banyak berita yang unsurnya 5W1H (Wow! Wow! Wow! Wow! Wow! & Hoax), alias judul dan isinya sensasional, tapi kebenarannya belum bisa dibuktikan. Jadi, hati-hatilah dalam menerima informasi. Apalagi informasi yang cuma bersumber "katanya". Di zaman internet ini, kita harus cerdas dan dewasa. Coba mengerti sebelum membenci. Karena kalo udah duluan membenci, biasanya nggak bakal mau mengerti.

So guys.. I think that's all I can say on this post. I just hope that this election will give us the best leader, to make our town gets better. How to make our own life gets better? Just work harder. :)
Read More 29
Jumat, November 25, 2016

Silakan Mengkritisi, tapi Jangan Membunuh Mimpi
Tadi gue lagi iseng menjelajahi Youtube, buat nyari-nyari video keren sebagai penghapus rasa bosan, dan nyari inspirasi buat bikin video lagi di Channel Gue. Sampai akhirnya gue nemu sebuah video yang judulnya "Film Pendek - Meteor". Gue iseng klik dan coba liat deh.

 
Memang, secara visual video itu tampak sederhana. Tidak ada pengaturan cahaya yang baik, lensa terlihat buram, dan visual effectnya tampaknya dari aplikasi hape gratisan. Dari segi cerita, video ini memang menceritakan tentang jatuhnya meteor, dan usaha si tokoh utama untuk menyelamatkan diri. Namun, secara kualitas cerita memang tidak menunjukkan struktur cerita yang baik. Tidak ada perkenalan tokoh, konflik tokoh, maupun penyelesaian masalah. Tapi gue tetap takjub sama orang yang bikin video ini, karena dia bisa membuat visual effect seakan dia bisa terbang.

Kenapa gue takjub? Karena yang bikin nih video adalah bocah. Yang usianya kira-kira 12 tahun. Gila, di usia segitu gue masih sibuk balapan keong, nih anak udah bisa bikin video. Namun ada hal yg bikin gue sedih. Saat gue obok-obok channel dia, gue nemuin banyak komen kurang pantas yang ditujukan untuk anak seusianya.

 
 

Dan masih banyak komen-komen lain yang nyelekit, sotoy, dan penuh kedengkian lain. Misal:

"Itu lightningnya kok gak ada? Kalo gak niat, gak usah upload sekalian!"
"Color grading yang bener dong. Video lo ngotor-ngotorin beranda gue aja!"
"Kok ada jemuran di dalam videonya? Buang dulu, bego!"

Duh.. gue cuma bisa geleng-geleng kepala bacain komen-komen begitu. Ada yang komen sok pinter, tapi nulis LIGHTING aja jadi LIGHTNING, ada yang pengin nunjukin dia ngerti soal grading, dengan cara ngomenin soal warna videonya. Tapi yang pasti mereka lupa adalah, si bocah yang bikin tuh video, masih anak SD! What do they expect?

Yosafat adalah salah satu contoh anak-anak generasi milenial yang kreatif, dan ingin terus belajar dan berkarya kreatif, meskipun hal yang diminatinya itu tidak diajarkan di sekolah. Di luar sana, masih buanyak lagi bocah-bocah lain yang pasti juga seperti dia. Melakukan sesuatu, dengan belajar secara otodidak dari internet.

Anak-anak ini, sekreatif apapun mereka, tetap saja mentalnya belum matang. Dalam proses pertumbuhannya, dia masih butuh bimbingan, agar bakatnya gak terbuang begitu saja. Nah, dengan komentar-komentar yang ada di video-video Yosafat (dan mungkin terjadi kepada bocah-bocah lain yang sedang belajar lainnya), gue merasa miris. Gue merasa kasihan. Gue takut, kalo sampe komen orang-orang itu membuat anak-anak seperti Yosafat itu menjadi down, dan "kapok" buat lanjut mempelajari hal yang dia minati. Gue takut, gara-gara komen-komen pedes itu, kita kehilangan salah satu calon sineas berbakat di masa depan.

So, please.. silakan mengkritisi, tapi jangan mencaci. Kalo lo nemu kekurangan atau kesalahan di karya orang, silakan tunjukkan, lalu kasih tau solusinya. Gak perlu memaki-maki. Youtube itu simpel kok. Kalo lo merasa gak suka sama videonya, tutup aja tab-nya. Gak perlu lanjut nonton tapi sambil ngomel-ngomel kayak ibu-ibu nonton sinetron pas tokoh protagonisnya mau minum racun yang dikasih sama tokoh antagonisnya.

Kalo ditanya, ngapain gue dukung bocah buat main Youtube? Kan usianya blm cukup?

Berkarya di Youtube, bisa dari usia muda kok. Nyatanya banyak Youtuber kecil di Barat juga. Kontennya? Ya sesuai dengan konten-konten usia mereka. Biasanya, mereka bikin konten dengan dibimbing oleh orang tua. Nah, itulah kenapa gue dukung bocah kayak Yosafat ini. Gue liat, dari semua karya-karyanya, nggak ada kok dia bikin video yang isinya kata-kata kotor, atau video yang berisi hal-hal jorok. Justru dia banyak berbagi tips untuk membuat video. Yah, walaupun tipsnya juga gak gitu efektif juga. Tapi, kembali diingat, dia cuma bocah. Dia cuma mau melatih skillnya dalam hal yang dia suka.

Sayangnya, sebagian orang memang lebih suka untuk mengritik bukan untuk membuat orang lain jadi lebih baik. Sebagian orang lebih suka mengritik agar terlihat lebih pintar. Sebagian orang lebih suka mengritik dengan kata-kata kasar. Tanpa sadar, efeknya bisa besar.

In the end, I just wanna remind you. Mari kita support mereka yang sedang belajar. Mengkritisi, tanpa membunuh mimpi. Mengomentari, tanpa memaki. Memberi saran yang membangun. Dan membimbing orang-orang yang belajar, bukan membuat mereka kapok untuk belajar. Setiap lo mau komen di Yutub orang, tolong diinget bahwa setiap video itu dibuat dengan proses panjang. Contohnya, setiap video gue, harus diedit selama 3-5 jam. Syutingnya juga berhari-hari. Bayangin dengan proses sepanjang itu, komennya cuma "Video sampah!", pasti yang bikin bakal kecewa.

Kalopun lo gak bisa ngeapresiasi karena videonya emang jelek, mending lo kasih tau kekurangannya apa, dan kasih tau cara benerinnya. Kalo lo males ngelakuin itu juga, mending diem aja. Setiap kali lo mau maki-maki di kolom komen, coba bayangin tuh komen yang baca adik lo, nyokap lo, atau bokap lo. Apakah mereka bakal seneng, dengan komen lo, meskipun lo pinter?

This is the end of the post. Thanks for reading it. If you have the same/different idea about this topic, please write it in the comment section below. Okay! I'll see you around. Bye!
Read More 86
Jumat, November 18, 2016

Beberapa Kerepotan Yang Hilang Berkat Teknologi
Ah.. Akhirnya ngeblog lagi.. *Fyuh! Fyuh!* *niupin sarang laba-laba di Blog*

Maaf akhir-akhir ini jadi blogger murtad karena gue sibuk parah nyiapin film baru buat awal taun depan. Tapi gue nggak bakal berenti nulis. Gue sering-sering sempetin buat update blog deh nanti. Oke.. Hari ini gue kepikiran sebuah ide buat ditulis karena tadi gue nemu bapak-bapak yang jualan jasa foto, tapi masih make kamera analog. Iya, bukan digital.

Karena hal itu, gue langsung kepikiran tentang hal-hal jadul. Sebagai orang yang sudah tumbuh berkembang sejak zaman belum ada jaringan listrik di kampung, hingga akhirnya internet masuk kampung, gue mengalami evolusi cara manusia hidup yang cukup besar. Orang sekarang mah enak, mau berkabar tinggal kirim teks via chat. Zaman dulu, gue mau nembak cewek, harus gue tulis di batu kali. Yang sekarang dikenal dengan sebutan prasasti.

Zaman gue SD kelas 1, kampung gue belum ada jaringan listrik. Jadi, zaman itu, cewek-cewek belum bisa ngecatok rambut. Kebayang nggak, gimana bentuknya? Dan saat itu di kampung gue cuma ada satu keluarga yang punya TV. Nah, pasti lo penasaran, gimana caranya bisa ada TV, tapi nggak ada listrik? Apakah TV itu dinyalakan dengan bantuan tenaga dalam? Tidak. Orang-orang di kampung gue patungan buat beli aki, dan nge-charge akinya setiap dua hari sekali. Soalnya, TV saat itu benar-benar menjadi satu-satunya hiburan yang “berbeda” bagi orang-orang kampung selain ngelihat bintang, nangkepin kunang-kunang, dan ngomongin orang. Kami semua berkumpul di rumah orang yang punya TV itu setiap selesai sholat maghrib untuk nonton dunia dalam berita, dan pulang ke rumah jam 9 malam untuk tidur.

Dengan masuknya jaringan listrik ke kampung, kebiasaan itu pelan-pelan memudar. Orang-orang jadi nggak ngumpul di satu rumah untuk nonton TV. Ada yang beli TV sendiri, ada juga yang di rumah aja nontonin lampu bohlam menyala sepanjang malam hari.

Nah, di postingan ini, gue mau ngajak nostalgia tentang beberapa kerepotan yang sudah hilang karena dimudahkan oleh teknologi.

1. Remot TV



Zaman gue kecil, TV bentuknya belum kayak sekarang. Bentuknya masih kayak lemari kotak kecil, di mana untuk nyalain, harus dibuka dulu raknya. TV-nya juga belum berwarna. Jadi acara apapun, walaupun hostnya bilang pemandangan di acara itu indah, gue cuma bias ngeliat warna hitam putih doang. Selain itu, zaman dulu kalo mau mindahin channel, gue harus nyamperin TV-nya, terus muterin tombol analog buat nyari frekuensi yang pas untuk tiap channel. Mirip-mirip sama cara lo sekarang mindahin channel radio gitu. Jadi, jaman dulu kalo lagi nonton TV, gak ada istilah males gerak. Kita harus gerak buat mindahin channel. Buat orang yang hobi mindahin channel saat iklan nongol, dijamin betisnya bakal six-packs karena sering terpaksa mondar-mandir.
Zaman sekarang, kebiasaan seperti itu sudah hilang. Semua bisa dilakukan dengan remot TV, sambil tiduran, atau gegoleran.

2. Foto
Untuk yang usianya di bawah 20 tahun dan bukan seorang hipster, mungkin bakal nggak ngerti negative film itu apa. Nih gue jelasin, negative film adalah semacam alat untuk menyimpan data gambar yang lo ambil pake kamera analog. Nah, dari negative film ini, nantinya dicuci cetak/afdruk menjadi foto yang bisa dipajang di pigura. Semua prosesnya, dari pengambilan gambar sampai ngelihat hasilnya, bisa makan waktu berjam-jam bahkan beberapa hari. Dengan segala kerepotan itu, zaman dulu orang nggak ada yang bisa komen, “Ulang dong..Pipiku keliatan cabi!”



Namun di abad 21 ini, fotografi sudah sangat dimudahkan oleh teknologi. Kamera digital, membuat proses fotografi jauhhhh lebih mudah. Tanpa perlu menunggu semenit pun, setelah foto diambil, kita bisa langsung liat hasilnya, lalu dipilih-pilih mana yang mau dicetak atau dipost di social media. Kalo zaman dulu, boro-boro bisa milih foto yang mana yang mau dicetak. Muka kita semua keliatan cemong di negative film.

3. Transaksi Keuangan
Gue jadi inget, zaman gue SMA, buat bayar listrik, gue harus datang ke kantor PLN dan ngantre beberapa jam. Buat beli pulsa hape, gue harus cabut ke kampung sebelah. Buat transfer duit, gue harus pergi ke ATM dan kadang ngantre lama di belakang ibu-ibu yang curhat ke mesin ATM karena anaknya minta duit LKS mulu.
Lagi-lagi teknologi mampu menghapus kerepotan ini.Dengan adanya aplikasi m-Banking maupun internet banking, gue bisa melakukan segala kegiatan di atas sambil tiduran, maupun kayang.
Ngomongin soal m-Banking, gue pernah mengalami sedikit kendala di mana tiba-tiba aplikasi M-BCA gue error, dan tak bisa digunakan lagi. Gue nggak deg-degan dan berprasangka buruk ada yang ngehack rekening gue, karena gue yakin, BCA adalah perusahaan besar yang sangat melindungi semua nasabahnya. Lalu, dengan santainya gue kirim tweet..iya, tweet ke customer service @HaloBCA begini:


Dan dalam waktu singkat, tuh CS bales keluhan gue:


Gue ikutin instruksi dia, dan problem solved! Aha! Gue suka CS yang gak bales keluhan customer pake jawaban template, dan benar-benar menguasai permasalahan yang dihadapi customer. Good point, BCA!

So, selain via telpon, atau hape ke 1500888 untuk nyampein keluhan, lo bisa langsung nyampein keluhan perbankan lo via social medianya BCA. Here is the further info: BCA

4. Telepon
Zaman gue SMA, kampong gue belum ada jaringan telepon. Sedangkan nyokap gue hidup di Batam yang nun jauh dari kampung gue di Jawa tengah.Nah, telepon adalah salah satu cara efektif buat mengobati kerinduan kepada nyokap. Untuk ngelakuin itu, gue harus naik motor sekitar 10 KM jauhnya buat nelpon nyokap via Wartel (WarungTelepon). Wartel adalah semacam tempat penyewaan telpon untuk umum, di mana kita nantinya akan membayar biaya telpon sesuai billing telpon yang nongol di display. Dulu sih, duit 25 ribu, Cuma bisa gue pake nelpon 15 menit. Tapi sudah cukup worth it.

Dengan meluasnya jaringan selular, akhirnya hampir setiap orang sekarang punya handphone. Jadinya, kita bisa kontek-kontekan kapan dan di mana aja. I love this era!

5. Surat-menyurat
Zaman dulu, belum ada social media, kalo kita mau temenan dengan orang jauh, istilahnya adalah “Sahabat Pena”. Di mana kita akan berkomunikasi dengan pasangan LDR kita itu via surat. Biasanya kita akan mendapat balasan seminggu kemudian, dan hubungan itu akan berlanjut bertahun-tahun, sampai pasangan kita itu sudah mendapatkan orang yang lebih peduli kepadanya nggak cuma sekedar tulisan aja.

Tapi memang, hubungan yang dilakuin via surat menyurat itu nggak bakal efektif. Mengingat butuh waktu cukup lama untuk proses pengiriman pesannya, jadinya, kita nggak akan bias nulis surat yang isinya “Udah makan, belum?” Karena jawabannya pasti akan, “Udah makan, udah minum, dan udah jadian sama orang lain”. Kelamaan sih nyampenya.

Berkat jaringan internet, komunikasi tertulis jadi makin cepat dan mudah. Kita semua bias saling berkirim kabar dan langsung bias dibalas dalam hitungan detik sekalipun. So, kerepotan surat menyurat pun selesai sudah!

Okay.. This is the end of the post. Semoga postingan ini bisa bermanfaat dan menghibur buat lo semua. Kalo lo punya pengalaman soal hal-hal yang berhubungan dengan yang gue tulisini, tulis di kolom komen, ya! Biar gue bisa baca-baca pengalaman lo juga. ☺


Read More 65
Rabu, September 28, 2016

Internet Membuka Sisi Gelap Manusia
Jadi ceritanya tadi gue iseng buka Youtube, lalu ngecekin komen yang masuk di video-video channel gue. Lalu, gue nemu sebuah komen yang isinya begini:
 

Nih komen nongol di video Draw My Life gue, yang nyeritain sejarah gue dari nol sampe gue punya karier seperti sekarang. Dengan harapan, video ini bisa membuat anak-anak muda di luar sana, nggak mengulangi kesalahan gue di masa lalu, dan fokus mengejar impian mereka sehingga mereka mendapatkan kehidupan yang selayaknya mereka impikan. Namun, apakah niat baik selalu mendapat respon yang baik? Tidak. Komen di atas adalah salah satunya. Dan sebenarnya masih banyak komen-komen pedas lain yang gue baca di channel Youtube gue, maupun di sosial media. Ada yang ngatain "Ngapain sok eksis bikin video? Mata jereng gitu!", ada yang ngatain "Muka lo kampungan", dan berbagai komentar yang jelas niatnya cuma mau nyakitin hati, bukan mengomentari isi dari karya gue.

Tentu hal semacam ini, tidak cuma terjadi ke gue. Liat aja sosial media dan kolom komentar Youtube. Kata-kata penuh kengerian muncul di sana. Terutama di video-video yang berhubungan dengan politik atau agama.

Jujur, gue pernah sakit hati dengan kelakuan orang yang begini. Gue jadi inget kira-kira taun 2012, gue nyamperin "preman keyboard" yang suka ngata-ngatain orang begini. Tapi itu bukan karena gue yang dihina, melainkan nyokap gue yang dihina. Gue Alhamdulillah udah cukup kebal dengan komen hinaan soal tampang dan lain-lain. Main sosmed selama satu dekade sudah bikin gue terbiasa. Toh, gue sadar, gue gak ganteng dan gak sempurna. Ngapain sakit hati saat ada yang menghina? Dia gak ngehina gue, tapi ngehina salah satu karya Tuhan. Long story short, dengan keahlian kepo gue yang super, layaknya seorang cewek yang pacarnya tiba-tiba ngilang 3 hari, gue cari siapa orang di balik akun itu.

Gue ubek-ubek akunnya, sampai akhirnya dia check-in di sebuah lokasi yang dia publish di aplikasi 4square. Waktu itu gue langsung cabut ke lokasi dia berada yang kebetulan adalah sebuah cafe. Gue dateng, gue perhatiin cafe itu, sambil mencari-cari orang itu dengan bekal foto-foto dari akun Facebooknya.

Beberapa menit kemudian, gue melihat seorang bocah tanggung lagi duduk dan ngopi sendirian di pojokan. Penampilannya sangat biasa, bahkan terlalu ironis bila dengan tubuhnya yang mungil itu, dia mampu bertindak layaknya preman di internet. Gue buang rasa kasian jauh-jauh, gue samperin dia, dan dia terlihat sangat kaget dengan kehadiran gue di depan mukanya.

"Coba.. ulangin apa yg kamu bilang soal mamaku tadi di twitter. Secara langsung, di depanku." Gue ucapin kalimat itu di depannya, sambil gue buka plester yang nempel di mata gue. Mata gue yang penuh bekas jahitan itu pun terlihat menganga. "Siapa tau matamu bisa aku bikin jadi kayak mataku~" Lanjut gue.

 

Bocah itu diem, tegang, dan ntah ngaceng atau tidak, tapi tangan dia taruh di bawah meja terus.

"Ayo.. bilang langsung dong. Biar kamu tau, gimana ekspresiku waktu denger kamu ngehina ibuku." Pelan-pelan gue pegang dan remas belakang lehernya. Anak itu semakin panik. Wajahnya merah padam.

"Eng.. enggak, Bang.. tadi itu.. itu tadi.. itu.."

"Wah.. kamu aslinya gagap ya? Pantes lebih pede kalo nulis." Sindir gue. Gue tau dia gagap cuma karena ketakutan.

"Maaf Bang.. saya cuma bercanda. Sumpah, Bang! Sumpah!"

"Oh.. Jadi menggunakan ibu orang sebagai bahan bercandaan itu menurutmu adalah sebuah hal yang lucu, ya? Wah.. berarti aku boleh becandain ibumu dong ya? Coba aku tanyain ibumu langsung ya? Nanti kamu pulang sama aku. Aku mau liat betapa bangganya ibumu dengan opinimu."

Bocah itu semakin panik. "Enggak Bang.. enggak! Ampun bang. Jangan. Abang boleh hukum saya apaaa aja Bang. Tapi jangan lakuin itu Bang."

Dengan tenang, gue pun menjawab. "Oke.. karena kamu minta, aku bakal ngasih satu hukuman."

"Iya Bang.. saya siap."

Gue celupin telunjuk tangan gue ke gelas kopi yang sisa ampas doang di hadapan tuh bocah. Gue ambil ampasnya, lalu gue coretin ke dahi, pipi, dagu dan hidungnya. Bocah itu pasrah.

"Aku bakal mesen kopi, lalu duduk di seberang. Kamu gak boleh hapus semua ampas kopi itu dari wajahmu, sampe aku pergi dari tempat ini."

"Oke Bang.. Saya terima."

"Good.."

Gue pun duduk di meja lain, sambil minum kopi dan menikmati makan malam. Pengunjung lain berdatangan, dan memperhatikan muka bocah itu. Dia hanya tertunduk malu.

Ya.. itu adalah salah satu kejadian yang pernah gue alamin dalam menghadapi orang-orang berjari tajam di internet. Dan sampai hari ini pun, orang-orang semacam itu masih berkeliaran di luar sana. Bahkan, yang gue liat justru makin banyak preman keyboard di seantero internet. Gue cuma penasaran, kenapa sih harus sekejam itu saat ngomenin orang di internet?

Internet, sebuah teknologi yang memudahkan manusia untuk berkomunikasi dan berekspresi, ternyata memiliki efek samping yang kurang baik juga. Internet menyediakan "topeng" bagi mereka yang ciut nyalinya di dunia nyata, dan bisa bertingkah layaknya algojo di dunia maya. Mereka mengeluarkan sisi jahat dari diri mereka, seperti mencacimaki orang, membully orang, dan bahkan menipu orang dengan bantuan "topeng" di internet.

Gue sangat menyayangkan hal seperti ini malah banyak dinikmati. Yang menandakan bahwa sebenarnya banyak orang "sakit" di luar sana yang akhirnya punya media buat berekspresi. Mereka berani melakukan apapun yang tak pernah mereka berani lakukan di dunia nyata. Ada yang aslinya cupu, di internet jadi playboy. Ada yang aslinya pengecut, di internet jadi jagoan. Ada yang aslinya cowok, di internet jadi cewek.

Yang mereka kadang lupa sadari adalah, mereka itu "sakit". Suka menyakiti orang, agar bisa merasa senang, adalah ciri-ciri psikopat. Mungkin menghina orang, dianggap hal sepele. Tapi, bukankah bola salju raksasa yang longsor menjadi bencana juga dimulai dari butiran-butiran kecil yang dibiarkan menggelinding dan membesar?

Selain itu, internet juga kadang dijadikan sebagai tempat melampiaskan kekecewaan, masalah, dan kemarahan yang didapat di dunia nyata. Larinya ke kirim komen atau tweet pedas kepada orang-orang yang niatnya menghibur mereka di internet. Kenapa mereka nggak berani melampiaskan di dunia nyata juga? Ya karena mereka pengecut aslinya. Mereka tak mampu menghadapi ketakutan dalam realita, itulah kenapa mereka membutuhkan topeng agar terlihat jagoan di dunia maya, lalu merasa berani dan bangga. Tolong.. tolong akhiri kebiasaan itu. Jangan pelihara sifat seperti itu, kalo lo gak mau pelan-pelan jadi pecandu menyakiti orang lain beneran. Psikopat lebih bahaya dari penjahat. Penjahat sadar yang dia lakukan itu salah, psikopat tak pernah merasa bersalah.

Guys.. Mari kita kembalikan hakikat internet. Di mana fungsinya untuk memudahkan hidup, bukan menambah masalah hidup orang lain. Selalu ada manusia yang punya perasaan di balik setiap akun sosial media di internet. Maka, hati-hatilah saat mengomentari mereka. Bayangkan, apabila saudara atau keluarga membaca apa yang lo tulis di sosial media untuk menjatuhkan orang lain. Apakah mereka bangga melihat "pencapaian" itu?

Bila internet memberi kita "topeng", maka jadilah superhero. Manfaatkan topeng itu untuk berbuat baik tanpa pamrih. Membuat seseorang menjadi senang, mungkin dengan hal sesimpel memuji "waw.. kamu keliatan cakep hari ini. Semangat dalam beraktivitas, ya!"

Hal sesimpel itu bisa mengubah hari seseorang. Percayalah.. Banyak orang suka dipuji dan disupport oleh orang lain, dibandingkan tiba-tiba dihina orang lain.

So, in the end of the post. Gue cuma mau ngajakin untuk behave di internet. Mari kita ciptakan lingkungan yang nyaman di internet. Jangan jadikan internet sebagai tempat yang menakutkan bagi mereka yang tidak siap dicacimaki oleh orang yang tak mereka ketahui. Apapun di internet itu simpel. Kalo lo gak suka, close tab, jangan dilanjutin ngeliatnya. Jangan jadi orang bodoh, tidak suka dengan apa yang dilihat, ngomel-ngomel, namun sambil terus-terusan ngeliat. Are you trying to rape your eyes?! Udah gitu, ada juga tipe orang yang gak suka dengan video alay, tapi malah ngeshare videonya sambil ngomel-ngomel. Lah.. Malah bikin orang alay terkenal dong. Dan alay itu akan menginspirasi alay lain buat bikin video alay. Jadinya semua V1d30 y0utub3 b4k4L b3g1n1 judulny4. Gak mau kan? So, just ignore any content that you don't like.

This is the end of the post. Ini cuma opini menjelang tidur. Maaf kalo ada yang tersakiti waktu baca tulisan ini. Dan melanjutkan cerita gue nyamperin hater di atas, sejak saat itu, gue gak peduliin orang-orang yang komen menghina gue lagi. I simply press delete button and block them. Gue gak mau nyia-nyiain waktu dan tenaga gue buat nanggepin preman keyboard kurang perhatian di internet. Kenapa? Karena pasca gue nyamperin bocah itu, gue kepoin sosial medianya, dia malah update status: "Hore.. gue disamperin idola gue!"


Read More 121
Rabu, Agustus 31, 2016

Pertemanan itu Nggak Harus Mahal
"Eh.. Lo abis jadian ya? Makan-makan bisa, kali!"
"Eh.. Lo bikin resto ya? Makan gratis bisa, kali!"
"Eh.. Denger-denger nenek lo meninggal? Traktirannya dong!"

Gue yakin sebagian besar dari lo pernah denger kalimat-kalimat seperti di atas. Dan mungkin, elo sendiri pelakunya. Kalo emang lo adalah tipe teman seperti di atas, maka di postingan ini, gue mau ngajak lo buat berhenti ngelakuin kebiasaan di atas.

Oke, cerita ini berawal saat gue punya temen dari Australia, namanya Suprii. Iya, itu nama samaran. Supri ini hidup di Indonesia selama beberapa tahun, untuk menjalani kuliahnya. Di mata temen-temen gue, Supri dicap sebagai "Bule Pelit". Kenapa begitu? Soalnya setiap kali Supri ngajak anak-anak nongkrong di apartemennya buat nonton film rame-rame, dia minta anak-anak buat bawa snack dan softdrink sendiri-sendiri. Selain itu, Supri juga nggak mau buat nraktir anak-anak di hari ulang tahunnya.

Gara-gara sifat itu, anak-anak nggak mau lagi nongkrong sama Supri. Sedangkan gue, masih suka nongkrong sama dia biar ketularan ganteng. Karena masih sering nongkrong sama Supri, gue jadi tau sifat-sifat Supri. Ternyata, dia nggak pelit. Justru pas gue ultah, dia ngasih gue kado. Terus pas gue jualan kaos, dia jadi pembeli pertama. Supri tidak pelit, dia hanya bergaul dengan orang-orang yang salah.

Nah, dari pengalaman di atas, gue dapet beberapa pemahaman yang menarik dari sifat Supri. Dan gue pengin berbagi ke elo, bahwa pertemanan itu nggak harus mahal.

Ngerayain Ultah
Gue inget waktu adik gue ultah, pas dia masih SMA. Dia seharian nggak keluar rumah, mengurung diri di kamar, ngadu keong. Gue penasaran, apa yang membuat dia murung di hari spesialnya. Ternyata, dia takut bertemu teman-temannya (maupun bertemu orang-orang yang mendadak sok akrab dan ngaku teman). Soalnya, di hari ulang tahun, biasanya dia akan dikerjain, lalu diminta buat nraktir teman-temannya di restoran. Pernah terjadi di tahun sebelumnya, di mana adik gue harus ninggalin motor di restoran buat jaminan, karena teman-temannya mendadak cabut setelah makan. Ini adalah salah satu budaya orang Indonesia yang menurut gue perlu dihapuskan.


Sebaiknya, orang yang merayakan ulang tahunnya itu malah disempurnakan harinya. Buat hari spesial dia itu jadi makin spesial. Bukan malah diiket, badannya diolesi darah, lalu dicemplungin ke sarang Komodo. Hari ulang tahun, harusnya jadi hari yang ditunggu, bukan hari yang dihindari karena takut dikerjain dan diporotin.

Bayangkan indahnya, kalo pas temen ulang tahun, kita patungan beliin kado, terus ngasih surprise kue tart tanpa menyiksanya, apalagi lanjut ajak dia jalan rame-rame ke tempat yang dia suka. Bukankah itu bakal bikin hubungan pertemanan jadi lebih indah dan berkesan?

Pajak Jadian
Gue masih nggak nemuin korelasi antara orang yang abis jadian, terus teman-temannya menuntut untuk dikasih traktiran. Mereka bilang, itu sebagai PJ (Pajak Jadian). Sedangkan konsep pajak adalah, kita harus memotong penghasilan kita, untuk diberikan kepada negara, agar negara bisa membangun infrastruktur yang mempermudah kehidupan kita. Nah, apakah orang-orang yang minta PJ itu, mau nganterin tuh orang pacaran ke mana-mana? Mau bangun bangku taman kalo temennya lagi pengin kencan di taman? Atau, mau minjemin kasur, kalo temennya mau berkembang biak?

Gue lebih bingung lagi, kalo orang yang abis jadian diminta buat nraktir makan-makan, terus nanti kalo dia putus, apakah teman-temannya bakal gantian nraktir makan rame-rame? Mungkin nama kerennya adalah "Santunan Patah Hati". Nah, kalo kayak gitu, lebih fair deh.

Mulai Bisnis
Saat teman nyoba bikin tempat usaha, lo minta gratisan dari dagangannya? Gue nggak setuju. Sebagai teman, sebaiknya lo mendukung bisnisnya dengan cara menjadi pembeli dari dagangannya, tanpa diskon. Malah kalo bisa, lo borong dagangannya, biar dia makin semangat buat ngejalanin usaha.

Meminta diskonan, apalagi gratisan dari teman yang sedang merintis usaha adalah perilaku yang kejam. Gue yakin, orang yang pernah merintis usaha, bakal setuju sama pendapat gue. Tapi buat orang yang belum pernah berusaha merintis usaha, bakal bilang "Halah.. Gitu doang perhitungan". Padahal, orang yang baru merintis usaha itu sangat mengharapkan segera kembali modalnya. Mereka belum punya profit yang tetap. Di bagian awal dari sebuah usaha, justru masih banyak banget rintangannya. Belum punya pelanggan, belum punya pemasukan yang bisa diandalkan, dan belum bisa meraup banyak keuntungan.

Emang, kalo temen lo bangkrut usahanya, lo bisa gantian modalin dia biar bisa ngelanjutin usahanya?

Promosi Jabatan
Melihat teman naik jabatan di pekerjaannya, biasanya ada aja orang yang mengucapkan selamat dengan embel-embel, "Makan-makan bisa, kali!" Atas dasar apa, request semacam itu muncul ya? Apakah orang itu sangat berpengaruh dan sangat membantu sampai temannya bisa naik jabatan? Ataukah orang itu cuma menganggap segala kebahagiaan teman, adalah kesempatan untuk minta traktiran? Please. Traktiran itu nggak perlu jadi tuntutan, biar dikasih kalo emang dia punya keikhlasan.

Intinya, gue mau ngajak lo buat berenti jadi teman benalu. Mari kita jadi teman yang supportif, yang bisa bikin teman kita bersyukur memiliki kita. Jangan sampai kehadiran kita, malah mengurangi kebahagiaan di momen-momen spesial dia. Masalah traktiran, semua akan lebih nikmat kalo dia yang ngundang karena kesadarannya sendiri, dibanding kita paksa buat bayarin. Semoga lo setuju sama gue.

Jadi, kalo ada orang yang ngaku teman dan bilang kalimat-kalimat ini,

"Wah.. Jadian ya? Makan-makan dong!"
"Wah.. Lo jualan bakso ya? Minta gratisannya dong!"
"Wah.. Lo jualan sianida ya? Icip-icip dong!"

Jawab aja, "Pertemanan lo itu terlalu mahal".

Sekali lagi gue tekankan:
Jangan membayar terlalu berlebihan, untuk teman yang murahan.
Read More 114