shitlicious

Sabtu, Juni 17, 2017

Berbagi Buku itu Seru
Para penulis buku, pastinya berawal dari suka membaca. Begitu juga gue. Sejak SD, gue udah suka baca. Mulai dari buku pelajaran, sampai kamus bahasa Inggris gue lahap kalo udah kehabisan bahan bacaan. Waktu kecil, gue tinggal di daerah yang terpencil. Sebuah desa di kabupaten Sragen namanya. Akses buku di sana sangat terbatas. Makanya, untuk mendukung minat baca gue, setiap kali mama pulang merantau di kota besar, beliau membawakan bundle majalah Bobo beberapa edisi. Dan itu adalah oleh-oleh favorit gue dibanding makanan maupun mainan. Karena berkat majalah itu, gue jadi ngerti betapa menariknya hal-hal di dunia. Yang nggak dijelasin di buku-buku paket sekolah.

===================

Udah hampir 2 tahun terakhir, gue sibuk menekuni hobi lama gue, yaitu main motor. Gue mulai rutin bikin konten video di Youtube yang bahas motor-motor custom. Dan berkat konsisten upload 2 video per minggu, 2 bulan yang lalu channel Youtube gue udah menyentuh angka 100 ribu subscribers. Di mana itu berdampak pada banyaknya teman-teman baru buat main motor.

Dari hobi ini, akhirnya gue ngelihat fenomena di mana anak motor sering dicap sebagai orang-orang yang berandal dan suka kebut-kebutan di jalan. Padahal, gue sadar, nggak semua anak motor seperti itu. Mungkin hanya sedikit oknum yang begitu. Nah, untuk itu, gue berusaha mengubah image kurang menyenangkan itu. Dua minggu yang lalu, gue riding ke Jogja bareng temen gue, Dimas. Kami mengajak anak-anak motor di Jogja buat motoran bareng menuju Gunung Kidul. Ngapain? Balapan? Enggak.


Gue dan temen gue ngajakin rider-rider Jogja buat riding dengan syarat membawa buku bekas mereka untuk disumbangkan ke Perpustakaan daerah. Awalnya ekspektasi kami, bakal ada 20-an rider yang bergabung. Tapi ternyata, ada hampir 200 rider yang bergabung bareng kami pagi itu. Gue cukup kaget dengan fakta bahwa masih banyak rider baik yang mau bantuin kami dalam movement ini.

Sesampainya di Gunung Kidul, kami tiba di desa Semin. Sebuah desa yang letaknya 50 kilometer jauhnya dari kota. Di sana, kami ketemu Bapak Sukino, sang pendiri perpustakaan daerah itu. Beliau menangis terharu saat melihat ada ratusan orang mendatangi perpustakaan sekecil itu, lalu menyumbangkan ratusan buku.


“Ini adalah pertama kali dalam sejarah perpustakaan ini, dikunjungi oleh orang sebanyak ini. Saya terharu, masih ada generasi muda yang peduli terhadap sesama, dan ingin mencerdaskan bangsa”. Cetus beliau saat gue tanya gimana kesan beliau melihat kedatangan kami.

Buku, sebuah benda yang sudah membawakan banyak hal dalam hidup. Membawakan sejarah, membawakan ilmu, dan bahkan membawakan cerita-cerita seru. Kami sengaja memilih untuk menyumbangkan buku, karena kami sadar, akses ilmu pengetahuan via buku masih cukup susah di daerah-daerah terpencil. Berdasarkan pengalaman gue di masa kecil. Jadi, gue bisa bayangin gimana senengnya pak Sukino, saat dapat sumbangan ratusan buku itu dari kami.


Dengan buku, orang-orang di daerah bisa belajar hal-hal baru. Contohnya, masyarakat di desa Semin, Gunung Kidul tadi. Mereka bisa belajar tentang tanaman hydroponic dari Buku, mereka bisa belajar tentang berbagai kerajinan tangan dari buku, mereka bisa belajar mengakses computer juga dari buku. Dan gue, mungkin sekarang nggak jadi penulis, kalo dari kecil gue nggak punya akses buku-buku menarik dan bermanfaat. Bayangkan, betapa banyak manfaat buku bagi masyarakat Indonesia.

Nah, lo semua bisa melakukan hal yang sama kayak yang gue lakukan ini. Kabar baiknya, lo nggak perlu datang langsung ke daerah-daerah terpencil untuk menyumbangkan bukunya. Jadi, sekarang ada gerakan yang namanya #BukuUntukIndonesia yang dipelopori oleh Bank BCA. Gerakan ini bertujuan untuk menyiapkan generasi yang #LebihBaik agar seluruh lapisan masyarakat Indonesia lebih terdidik.

Caranya cukup sederhana dan praktis. Buka aja http://bit.ly/2rvlxpr, lalu pilih menu “Berbagi”. Abis itu lo bakal dialihkan ke halaman Blibli.com, karena gerakan ini juga bekerjasama dengan blibli.com. Di situ akan muncul menu pilihan paket buku yang mau lo sumbangin. Mulai dari Rp.100.000 sampai Rp.1.000.000. Lalu klik beli sekarang, dan bayar deh. Oiyah..ada Kaos Apresiasi berbahan dry-fit gratis bagi para donator yang sudah menyumbang buku melalui gerakan ini.

Oiyah.. Kalo lo mau nyumbang, gue punya kabar baik. Di mana lo bakal dapet potongan nominal sumbangan dan dapet hadiah spesial dari gue. Iya, lo nanti nggak perlu bayar nominal sepenuhnya, namun tetep diitung nominal yang lo pilih, karena dapet diskon dengan kode voucher gue. Lumayan kan? Jadi, silakan gunakan kode voucher “shitlicious” saat lo nyumbang, ya! Buruan nyumbang sekarang, hadiahnya terbatas loh!

Tuh.. Cara bikin orang bahagia, segitu mudahnya kan? So, tunggu apa lagi? Yuk kita dukung gerakan ini, biar saudara-saudara kita bisa dapet ilmu yang lebih banyak lagi.

Okay.. That’s all for today.. Makasih udah baca postingan ini. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa.

Read More 15
Kamis, Juni 15, 2017

Lebaran Bukan Ajang Pamer Kesuksesan
Hati gue hancur kemarin waktu denger berita seorang mahasiswi ditembak oleh rampok yang berusaha merampas hartanya. Gimana enggak, gue kebayang jadi orang tua korban yang membesarkan anak itu dengan penuh kasih sayang. Waktu kecil dia ditimang-timang, dicariin duit dengan memeras keringat supaya dia bisa tumbuh dewasa. Selalu dijaga kesehatannya, dan diobati setiap dia sakit. Namun semua "investasi" orang tua itu terenggut begitu saja oleh tangan perampok yang mau merampas harta yang tak sebanding dengan segala pengorbanan orang tua korban untuk membesarkannya. Semoga korban diberi tempat terbaik di sisi Tuhan, dan semoga kerabat dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Dan untuk para perampok, semoga Tuhan segera membukakan pintu taubat.

 

Gue selalu perhatiin, menjelang lebaran tingkat kriminalitas semakin meningkat. Perampokan, begal, curanmor, menjadi semakin brutal jumlahnya. Bahkan, rumah-rumah kosong yang ditinggalkan mudik pemiliknya pun pada jadi incaran maling. Itu semua beralasan. Banyak orang pengin terlihat sukses di mata teman maupun keluarganya di hari raya. Seakan-akan, hari lebaran bagi mereka adalah deadline untuk menunjukkan hasil kerja kerasnya.

Ya, hari lebaran, di kampung gue biasanya dijadikan hari di mana para perantau menunjukkan pencapaian. Mereka biasanya beli motor baru, mobil baru, baju baru, atau beli perhiasan untuk dibawa silaturahmi keliling kampung. Dengan harapan, mereka akan dianggap sukses oleh keluarga. Padahal, kalo ditarik maknanya, hari lebaran adalah hari kemenangan. Kemenangan melawan hawa nafsu sepanjang bulan ramadhan. Bukan kemenangan melawan kemiskinan sepanjang tahun. Memang hal itu tidak salah, yang salah adalah ketika haris memaksakan diri hanya agar terlihat sukses. Yang dampaknya adalah melakukan hal yang merugikan diri sendiri, maupun orang lain.

Kadang gue suka miris ngeliat ibu-ibu yang dandan heboh di hari lebaran. Memakai perhiasan emas dari pergelangan tangan sampai ke lengan. Untuk menunjukkan bahwa keluarganya sukses mengumpulkan harta. Padahal, itu sangat melenceng dari makna lebaran yang sebenarnya.

Dulu, waktu SD sampai SMP, gue emang suka ngotot harus punya baju baru kalo lebaran hampir tiba. Itu semua berkat dorongan pergaulan di kampung, di mana teman-teman suka mengejek kalo lebaran gue pake baju lama. Namun, dengan bertambahnya usia kita, kebiasaan itu semakin menghilang. Gue semakin cuek dengan apa yang gue pakai saat lebaran tiba. Selama itu masih sopan, rapih, dan wangi, kenapa harus sungkan?

Tapi hal itu tidak berlaku di sebagian orang. Masih banyak orang yang berpikir, hari lebaran semua harus baru, semua harus mewah, semua harus wah. Mungkin orang-orang itu bukan merayakan lebaran, namun mencari kesempatan di hari lebaran untuk jadi ajang pameran. Mindset itu yang pengin banget gue hapus dari diri gue dan keluarga. Lebaran bukanlah momen untuk menunjukkan pencapaian. Lebaran bukanlah momen untuk membahagiakan orang tua. Lebaran bukanlah momen untuk berfoya-foya.

Lo mau bahagiain ortu dengan cara beli perhiasan untuk ibu? Kenapa nunggu lebaran? Lakukan setiap kali lo punya kesempatan dong. Apa ortu dulu juga nunggu anaknya laper dulu, baru dibeliin makan? Nggak kan? Lo mau menunjukkan pencapaian? Kenapa harus nunggu lebaran? Pencapaian nggak perlu ditunjukkan di hari raya. Tunjukkan dengan cara lo selalu care dan bisa mengurangi beban keluarga, setiap saat, itu baru pencapaian namanya. Lo mau berfoya-foya? Lakukan saja secukupnya, di saat otak lo lagi butuh dikendorin setelah melakukan tanggung jawab kerja. As I do, gue selalu komitmen ke diri sendiri, setiap abis ngelarin satu project, gue bakal liburan, mengendurkan pikiran. Nggak perlu nunggu lebaran.

Percuma apabila demi merayakan hari kemenangan, akhirnya orang harus nekat mencoreng sucinya bulan Ramadhan. Orang-orang yang nekat melakukan hal-hal di luar kapasitasnya, untuk menunjukkan pencapaian palsunya, menurut gue nggak pantes merayakan hari lebaran. Mereka yang sibuk untuk terlihat mewah di hari lebaran, gagal meneladani kesederhanaan Rasulullah.

"Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong walaupun sebesar biji zarah (atom)” (HR. Muslim 2/89 dan At Tirmidzi 3/243)

Jadi, gue harap kita nggak lagi heboh menyambut hari raya lebaran dengan bingung ngumpulin uang untuk dihabiskan bersama keluarga. Jangan stress karena di hari raya lebaran, bokek melanda. Jalani semua dengan ikhlas, karena justru pas lebaran itu banyak makanan gratisan. Jadi, ngapain stress karena nggak ada duit pas lebaran? Jangan malu karena belum terlihat sukses seperti teman seumuran lainnya. Malulah kalau kita belum bisa berpikir sedewasa orang-orang yang mampu berbahagia dengan segala kesederhanaannya.

Demikian uneg-uneg gue menjelang waktu buka puasa ini. Semoga bisa jadi bahan renungan kita semua. Kita masih muda, kita bisa menciptakan tradisi yang berbeda. Mari rayakan hari kemenangan dengan penuh suka cita, tanpa perlu menebus semua dengan harta. Bahagia itu sederhana, yang mahal itu gengsinya.

Selamat berpuasa!
Read More 18
Jumat, Juni 09, 2017

Tulang Punggung Keluarga, Harus Kuat Tulangnya
Sejak kecil, gue udah terbiasa hidup penuh perjuangan. Gue kepisah dari ortu gue sejak gue Balita. Sejak saat itulah, gue hidup sama eyang gue. Hidup bareng eyang, tentunya tidak senyaman hidup bareng ortu. Gue nggak kenal dengan yang namanya uang jajan. Sejak SD, gue udah terbiasa dididik eyang dengan aturan: “Kalo mau punya sesuatu, harus ngelakuin sesuatu juga dulu”. Jadi, kalo gue mau suatu hal, misal sepatu baru, gue harus nyabutin singkong eyang, lalu dijual ke pasar. Atau, eyang nggak bakal ngasih uang saku sekolah, kalo bangun tidur gue nggak ngurusin kambing beliau dulu.

Waktu kecil, gue sempet mikir cara itu nggak adil buat gue. Di mana anak-anak lain bisa seenaknya minta ini-itu lalu dikasih, sedangkan gue harus kerja keras buat minta uang jajan doang. Kadang gue iri kepada teman-teman gue, yang seakan ortunya lebih peduli dan sayang kepada mereka. Sedangkan gue, selalu berat hidupnya.

Namun ternyata, background semacam itu membuat gue tumbuh menjadi cowok yang lebih tangguh. Faktanya, di antara temen-temen masa kecil gue yang sekarang juga udah seusia gue, gue termasuk yang paling maju. Bukan bermaksud pamer, cuma gue mau ngasih bukti aja bahwa didikan masa kecil sangat berpengaruh kepada sifat orang saat dewasa. Gimana tidak, teman-teman yang semasa kecilnya dimanja, selalu dikasih apa yang dia minta, akhirnya sampe gede dia selalu jadi ngandelin orang tua. Sehingga, saat dia diminta berdiri sendiri, dia tak cukup tangguh untuk melawan dunia.

Contoh sederhananya, 4 dari 5 temen gue sekarang udah nikah dengan status pengangguran dan kerja serabutan. Kenapa? Karena mereka mudah bosan untuk bekerja di tempat yang sama secara terus menerus. Kenapa mereka betah nganggur? Karena dari kecil, dia tak belajar tentang tanggung jawab. Semua tinggal minta orang tua.

Sedangkan gue, pilihan gue cuma 2:

- Berjuang sampai survive, atau
- Diem ampe mati sendiri.

Iya, eyang gue dulu setegas itu. Saat kecil, gue merasa itu semua nggak adil. Namun setelah dewasa, gue nyadar itu gede banget gunanya.

Ajaran eyang itu gue aplikasikan di dunia kerja, saat gue mulai pindah ke Jakarta. Dulu gue pindah ke Jakarta tanpa ada sanak-saudara, dan bekal duit seadanya. Sebagai anak daerah, gue cukup shock dengan harga makanan, kosan, dan gaya hidup Jakarta. Uang jajan gue sebulan di Jogja, abis dalam seminggu di Jakarta. Apakah itu membuat gue gentar dan pengin pulang lagi ke Jogja? Sempat terpikir begitu, namun akhirnya gue renungin, setiap naik kelas, pelajarannya pasti lebih susah. Begitu juga hidup. Kalo mau hidup yang lebih baik, ya harus berjuang lebih keras. Nggak boleh menikmati comfort-zone dan selalu "tinggal kelas". 


Akhirnya gue berjuang keras di Jakarta buat nyari kerja, memperbesar link, dan setelah perjalanan panjang, dari sehari-hari ngantor naik sepeda yang dipinjemin sama Bena, sekarang gue bisa pergi pake mobil atau moge milik gue sendiri. Itu semua berawal dari impian dan rasa kepepet "kalo nggak kerja, gue nggak makan". Iya, kadang potensi manusia itu baru bener-bener keluar kalo udah "kepepet". Makanya, untuk yang hidupnya santai mulu, saran gue, cobalah untuk menciptakan kondisi "kepepet", biar lo berani nekat.

Sekarang gue udah jadi tulang punggung keluarga, karena Bokap udah nggak ada, dan Nyokap sedang cidera patah tulang kakinya. Gue harus menanggung kebutuhan hidup keluarga gue. Kerja siang-malam di dunia kreatif, tak ada batas waktunya. Itu semua gue lakuin demi keluarga. Dan jangan pikir, kerja di dunia kreatif nggak membutuhkan usaha yang lebih besar. Justru, kerjaan gue mewajibkan gue untuk melakukan berbagai hal. Mulai dari kerja di depan komputer untuk nulis naskah selama berjam-jam, sampai harus mondar-mandir dari pagi sampe malem buat shooting video, atau malah harus sering pergi ke luar kota untuk mengisi seminar dan talkshow.

Dengan gaya hidup semacam itu, berbagai penyakit bisa berdatangan. Dan penyakit yang kadang kita sepelekan karena jarang kita kenali, adalah Osteoarthritis. Tuh, denger namanya aja lo udah bingung kan? Osteoarthritis adalah peradangan sendi yang bersifat kronis dan progresif disertai kerusakan tulang rawan sendi berupa disintegrasi (pecah). Simpelnya sih, itu akibat dari penipisan tulang rawan sendi yang efeknya membuat kita menderita nyeri-nyeri di persendian. Mungkin lo sekarang belum nyadar saat persendian tulang terasa nyeri-nyeri. Mungkin lo sekarang menyepelekannya karena masih belum kena. Tapi yang namanya penyesalan, selalu datang terlambat. Makanya, gue nggak mau merasakan penyesalan juga. Gue harus cukupin Nutrisi sendi, biar bebas gerak, dan tanpa kaku.

Sekarang, kalo abis shooting, atau abis duduk seharian di depan computer, gue sering ngerasa nyeri di lutut, dan pundak. Dan karena gue nggak mau kena penyakit yang aneh-aneh, gue pun mempersiapkan diri dengan Viostin DS, Nutrisi Sendi yang efektif banget. Kalo lo belom tau, Viostin DS adalah nutrisi sendi dengan kekuatan ganda. Viostin DS sangat ngebantu gue buat mengatasi rasa kaku dan nyeri sendi karena lapisan tulang rawan sendi yang menipis atau keropos. Soalnya, lapisan tulang rawan sendi ini fungsinya layaknya shock-breaker pada kendaraan. Yang membuat benturan antara tulang saat beraktivitas, jadi lebih lembut. Kalo lapisan ini rusak, tulang kita bisa langsung berbenturan, dan itu tidak sehat, dan bahkan bisa berbahaya efeknya.

Viostin DS mengandung kombinasi Glukosamin dan Kondroitin yang lebih besar, sehingga lebih cepat dan efektif dalam menstimulasi pembentukan tulang rawan sendi. Dengan rutin mengonsumsi Viostin DS, semua keluhan nyeri sendi gue lama-lama berkurang. Ngerti kan, sebalnya pulang kerja, capek banget, mau tidur, tapi nggak bisa tidur karena nyeri sendi yang berlebihan? Viostin DS lah solusinya. Pokoknya, Viostin DS ini bikin gue bisa gerak tanpa kaku, dan gue bisa lemesin tubuh sesuka gue.

Cara kerja si Viostin DS ini sangat-sangat makes sense. Kandungan glukosamin dan kondroitin dari Viostin DS bereaksi menciptakan cairan synovial yang fungsinya adalah melumasi sendi yang aus, membentuk tulang rawan baru, dan mengatasi rasa nyeri. Serunya lagi, Viostin DS ini aman dikonsumsi bahkan untuk penderita diabetes, karena tidak meningkatkan kadar gula darah bagi orang yang mengonsumsinya. Tapi, harus diinget juga, nggak boleh berlebihan dalam segala hal. Viostin DS aman dikonsumsi 3 kali per hari maksimum selama 3 bulan untuk hasil yang optimal.


Nah, dengan Viostin DS, gue sebagai tulang punggung keluarga, lebih percaya diri dengan kondisi tulang tubuh gue yang nggak digerogoti penyakit. Saran gue, kalo pun elo belum tertarik buat nyobain Viostin DS, coba deh lo beli buat orang tua atau keluarga lo. Nyeri sendi adalah keluhan berjuta-juta manusia berusia paruh baya. Dengan ngasih Viostin DS, seenggak itu itu bisa mengurangi derita mereka. Tuh, jadi anak berbakti pun bisa semudah ngasih Viostin DS ke orang yang tersayang.

Hidup cuma sekali, mending selalu jaga kesehatan diri. Oiyah, kalo lo mau tau lebih mengenai Osteoarthritis, dan minat buat beli Viostin DS, cek: http://www.solusisendi.com/I/r/shitlicious deh.

Okay.. This is the end of the post. Semoga tulisan kali ini bermanfaat buat lo. Ciao!
Read More 17
Jumat, Mei 19, 2017

Traveling Bareng Mama
Beberapa bulan yang lalu, gue traveling ke Tanjung Pinang, tepatnya di Pulau Bintan. Waktu itu gue pergi ke sana selain traveling, gue juga nemenin beberapa teman gue dari luar negeri. Mereka pengin ngelihat indahnya Indonesia, makanya gue ajak mereka ke pulau-pulau, bukan gue ajak ke Mall Senayan City.

Nah, menyadari destinasi gue adalah Tanjung Pinang, gue pun minta mama gue nyusulin gue dari tempat beliau berdomisili, yaitu Pulau Batam. Di mana, cuma perlu naik kapal feri selama kurang lebih 40 menit untuk nyusulin gue. Dan mama pun bersedia menyusul, dengan mengajak sepupu gue buat nemenin beliau sepanjang trip. Kami pun bersama-sama lagi di Bintan.














Ada satu masalah yang lupa gue perhitungkan, waktu itu gue nginep di Bintan Lagoon Resort. Nah, gue lupa belum mesenin kamar buat mama. Gue sempet panik karena waktu itu gue lagi hunting sunset di luar, dan di Bintan Lagoon Resort ini selalu ramai, gue takut nggak tersedia kamar lagi buat beliau. Terus gue iseng mesen kamar buat mama via aplikasi Traveloka. Syukurlah, mama masih kebagian kamar dan gue dapet diskon yang lumayan. Mama pun bisa beristirahat, dan gue bisa bernafas lega.

Hari kedua gue di Bintan, gue pergi menyusuri sungai Sebung untuk mengikuti tour mangrove. Gue dan mama duduk di perahu yang sama, dan kami pun memulai petualangannya. Setelah kurang lebih 20 menit kami menyusuri sungai, mama mulai berkomentar dengan menggunakan bahasa Jawa,

“Mas.. Iki jane meh nendi to? Kok isine wit-witan tok ngene? Lha iki mburi omah yo ono to. Gak perlu neng Bintan”. (Mas.. Ini sebenarnya mau ke mana sih? Kok isinya pepohonan doang gini? Ginian doang di belakang rumah sih ada, nggak perlu ke Bintan).

Dengan sabar gue jelasin ke beliau bahwa kita memang cuma ngeliat hutan konservasi Bakau. Di mana, itu gunanya untuk menjaga kestabilan air dan tanah, untuk mencegah banjir, dan bisa jadi tempat berbagai macam binatang untuk berhabitat.

Beberapa saat kemudian, mama nanya, “Emang binatang apa yang hidup di tempat kayak gini?”

Gue pun nunjuk ke arah atas beliau, dan dalam waktu kurang dari 2 detik, beliau berteriak. “Aaaa!! Ular!! PAKKK!! MAJUIN PERAHUNYA!! ULARNYA DI ATAS SAYA!! NANTI JATUH KE SAYA!! AAAA!!” 


Beliau melompat-lompat di atas perahu karena ketakutan. Perahu mulai bergoyang, semua orang ikut panik. Kang Perahu pun memajukan perahu sebelum mama gue kabur pake pelampung.

Setelah puas menyusuri Sungai Sebung, kami pun kembali ke resort. Di dekat resort, ada pantai yang panjang banget. Gue lupa namanya, tapi nggak bakal lupa indahnya.


Di pantai, gue milih buat main Kayak, beberapa temen gue milih buat main ATV, sedangkan mama gue lebih milih tiduran di ayunan sambil menikmati semilir angin pantai. Gue ajakin mama mandi di pantai, tapi mama cuma jawab, “Nggak mau!! Nggak bisa renang. Nanti tenggelam!" 



Gue pun biarin nyokap buat menikmati liburan dengan caranya sendiri. Buat beliau, tiduran di pinggir pantai adalah sebuah kemewahan. Karena sehari-hari, beliau sibuk berjualan. Jangan anggep gue sebagai anak durhaka, yang membiarkan ibunya kerja keras. Gue sudah pernah maksa beliau berhenti berjualan jamu, namun beliau menolak. Karena bukan uang yang beliau cari, melainkan kesibukan dan teman-teman ngerumpi. Ya, di usia yang mulai menua, manusia biasanya sudah tak punya banyak hal yang dimau, mereka lebih menghargai kebahagiaan-kebahagiaan yang bisa didapatkan secara sederhana.

Setelah puas main di Pantai, kami pun pergi menyusuri Tanjung Pinang untuk melihat hal yang menjadi ciri khas pulau itu. Yaitu, Vihara. Iya, Tanjung Pinang, menurut gue adalah kota dengan 1000 Vihara. Bahkan, di sana ada sebuah Vihara terbesar di Asia Tenggara.

Iya, kami berkunjung ke Vihara Avalokitesvara Graha untuk melihat megahnya tempat ibadah saudara-saudara kita yang menganut ajaran Buddha. Vihara ini ternyata luar biasa gedenya. Di halaman depan, ada ribuan meter persegi kebun Buah Naga. Di depan Vihara persis, ada patung Dewi dan Dewa yang disembah oleh penganut ajaran Buddha.


Masuk ke bagian dalam Vihara, gue langsung mangap. Ternyata bagian dalam Vihara, luar biasa megah dan menakjubkan isinya. Ada patung Buddha gede banget, semacam berlapiskan emas yang mengkilap, ada juga banyak patung-patung dewa lainnya. Bahkan, gue juga ngelihat patung menyerupai Sun Go Kong si Kera Sakti. Semua pemandangan itu membuat gue berdecak kagum, bahwa ternyata di setiap Agama, memiliki kemewahan masing-masing.

Setelah lelah berpetualang, kami pun kembali ke resort. Gue segera menuju kamar gue buat mandi dang anti baju. Namun, belum juga gue masuk kamar mandi, Mama nelpon gue.

“Ya, Ma?”

“Tolong mas..”

“Hah?! Mama kenapa?” Gue segera memakai sandal gue dan bergegas keluar kamar.

“Mama nggak bisa buka pintu kamar. Soalnya ini nggak dikasih kunci, malah dikasih kartu ATM”.

Mendengar jawaban Mama, gue lompat dari lantai 3 dan berniat untuk pingsan dulu 10 menit.

Iya, mama gue memang segitu polosnya. Dari dulu, beliau belum pernah tidur di hotel. Karena setiap kali gue ajak piknik, mama selalu nolak. Beliau berpikir, daripada piknik, mending duitnya ditabung. Namun saat itu beliau mau menyusul ke Bintan karena beliau rindu sama gue, bukan karena beliau pengin piknik. Kenapa gue bisa bilang begitu? Karena menjelang pulang ke Batam, gue sempet Tanya mama.

“Mama suka nggak, piknik ke Bintan?”

“Yah.. Suka deh.. kan ketemu Mas Alit” Jawab mama dengan nada datar.

“Loh? Nggak suka sama pikniknya?” Gue mengernyitkan dahi.

“Mama kan nggak suka piknik, Mas. Kalopun Piknik, mama cuma mau pergi ke satu tempat”.

“Ke mana, Ma?”

“Mekkah”. Nyokap tersenyum sambil menatap mata gue dalam-dalam.

Gue tertampar dengan kata beliau itu. Selama ini gue sering nyoba nyenengin beliau dengan ini-itu. Namun gue lupa, dari kecil, mama selalu bilang, beliau pengin naik haji.

Yah.. Traveling ke Tanjung Pinang kemarin, gue dapet pengalaman, keseruan, dan pelajaran. Namun yang terpenting, gue jadi termotivasi buat nabung biar mama bisa naik haji.

Okay.. This is the end of the post. Semoga apa yang gue sampaikan ini bermanfaat buat lo semua. Oiyah.. kalo lo pengin traveling juga, gue saranin lo pesan tiket pesawat maupun booking hotel jauh-jauh hari. Biar dapet harga lebih murah, dan bisa dapet harga promo juga, apalagi kalo lo pesen tiket pesawat, sepaket sama booking hotel. Makin murah deh! Coba deh, cek: http://traveloka.com/packages biar lo tau murahnya traveling bersama Traveloka.

I’ll see you around! Ciao!
Read More 36
Rabu, Maret 22, 2017

Tentang Bersyukur
"Mas.. Mama ini jualan, dari subuh keliling ampe ashar baru pulang.. tiap hari.. hidup kok kayak diperbudak sama penjajah gini.."

"Mas.. ini pompa air mati.. mama telpon om, nggak mau dateng buat benerin. Pakdhe juga nggak bisa nolongin. Punya saudara kok nggak ada yang peduli semua. Percuma!"

"Mas.. Adikmu tuh kalo dinasehatin kok sulit nurut. Mama mau mati aja kalo gini!!"

Nyokap gue adalah seorang ibu yang bijak, namun ada kalanya beliau mengeluh. Keluhan-keluhan seperti di atas itu adalah keluhan-keluhan mama kalo lagi kecapekan kerja. Gue cuma bisa menenangkan beliau dari jauh, karena beliau tinggal dan jualan jamu keliling di Batam, sedangkan gue kerja di Jakarta. Buat pembaca setia Blog ini, pastinya udah nggak asing dengan cerita gue di mana dari kecil gue dan nyokap emang hidup terpisah.

Namun sejak gue bisa nyari duit sendiri dan dianggap "sukses" dalam karier, gue selalu mengusahakan untuk meringankan hidup beliau. Segala kebutuhan beliau saya coba penuhi. Namun mama menolak saat gue tawarin untuk berhenti total jualan jamu keliling dan istirahat di rumah aja, biar soal uang gue jatah. Kata beliau, beliau sudah 20 tahun jualan jamu, dan itu sudah jadi bagian hidup beliau yang nggak mungkin beliau bisa tinggal. Apa lagi, beliau kenal dengan para pelanggannya selama bertahun-tahun. Makanya, beliau keberatan untuk meninggalkan aktivitas jualan jamu. Gue ngerti, jualan jamu buat nyokap bukanlah lagi cara untuk nyari duit, namun cara untuk mengisi kegiatan sehari-hari dan bersosialisasi. Gue nggak mau maksa beliau berhenti lagi. Yang jelas, gue cuma minta agar nyokap menjaga kondisi tubuh, agar tidak kelelahan. Nyokap setuju.

Namun keluhan-keluhan seperti di atas sering muncul di saat nyokap stress atau PMS. Kadang keluhan-keluhan beliau memang tak masuk akal. Beliau mengeluhkan bahwa beliau capek kerja kayak jadi budak penjajah, padahal beliau tidak perlu mengejar target apa-apa. Tidak ada cicilan hutang maupun harus bayar sekolah anak. Beliau mengeluhkan saudara tak ada yang peduli saat pompa air rusak atau WC mampet, padahal tinggal panggil tukang, dan nggak perlu pusing mikirin uang buat bayar tukang. Makanya, gue cuma bisa nyoba ngerti bahwa beliau memang lagi sensi dan stress aja. Semua masalah sepele itu jadi terasa berat di mata beliau.

Setiap kali nyokap ngeluhin hal-hal itu, gue cuma bisa menenangkan beliau dengan, "Sudahlah ma.. kan mama kerja gak harus ampe sore juga.. uang dicari gak ada puasnya. Lagian mama kalo kurang apa-apa, tinggal bilang aja. Kan mase siap ngebantu".

Atau, "Sabar ma.. mungkin om sibuk ngurus warungnya.. soalnya warung kan gak bisa ditinggal juga. Namanya orang minta bantuan sih, nggak boleh maksa, harus selonggarnya yang diminta bantuannya. Mending sekarang panggil tukang aja. Biar mas yang bayar biayanya".

Biasanya jawaban-jawaban itu bisa sedikit menenangkan beliau. Walau hanya sementara..

Kenyataannya, keluhan-keluhan semacam itu akan terulang lagi dan lagi setiap kali nyokap lagi sensi. Gue sih bisa ngerti. Tapi yang gue sayangkan, keluhan beliau ini kadang kurang enak didengar. Bahkan, kalo keluhannya sudah berlebihan, bikin malu sama Allah.

Dan hal yang gue takutkan pun terjadi. Bulan lalu, suatu sore, saat nyokap mau beli makan, beliau ditabrak oleh seorang pemuda hingga kaki beliau patah di bagian atas pergelangan. Gue shock mendengar kabar itu, dan gue pun segera datang ke Batam untuk menjenguk beliau.

Di sana, gue ketemu pelaku yang menabrak nyokap. Dia meminta untuk tidak memperkarakan kecelakaan itu ke polisi. Dia juga menyanggupi untuk bertanggung jawab separuh dari biaya pengobatan nyokap. Gue juga nggak mau memeras dia, karena gue tau, dia nggak pernah berniat nyakitin nyokap gue. Yang penting dia rajin jengukin nyokap gue, biar dia tau deritanya orang yang kena efek dari keteledorannya dalam berkendara.

Namun seminggu setelah kejadian, tuh orang malah kabur dari Batam, dan nggak bisa dihubungi lagi. Gue sempat mencoba mencari tuh orang, mengerahkan teman Polisi untuk mencarinya di Padang, kampung halamannya. Namun tuh anak nggak pulang ke kampungnya juga. Akhirnya gue sadar, untuk apa gue repot mencari dia dan mengemis pertanggungjawabannya. Tanggung jawab adalah sebuah hal yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang masih mau mengikuti hati nurani. Tanggung jawab bukanlah hal yang harus dituntut, karena nanti bukan tanggung jawab yang didapat, melainkan keterpaksaan sesaat. Gue nggak mau lagi ngurusin tuh orang, gue ikhlasin tindakan dia, gue serahkan kepada Allah yang Maha Kuasa. Gue yakin, apa yang ditanam, akan dituai suatu saat. Baik yang menuai itu pelaku sendiri, maupun orang-orang yang dia cintai. Gue cuma berdoa, kalopun dia dapat balasannya, semoga balasan itu mampu memperbaiki pola pikir dan mengembalikan hati nuraninya. Bukan balasan yang meninggalkan penyesalan yang berkepanjangan.

Empat puluh hari sudah berlalu sejak kecelakaan menimpa nyokap. Beliau sekarang sudah mulai membaik keadaannya. Tulangnya sudah mulai menyambung, dan beliau sudah bisa jalan pake tongkat. Gue seneng melihat beliau bisa kembali berjalan meninggalkan tempat tidur, setelah sebulan terbaring di "penjara" kamar.

Setelah melihat keadaan beliau mulai membaik, kemarin gue beraniin ngobrol sama nyokap.

"Ma.. sudah mendingan kan?"

"Iya mas.. sudah nggak bengkak kaki mama"

"Alhamdulillah.. nanti di saat pemulihan, mama istirahat dulu di tempat Om ya.. mase kan di Jakarta. Di rumah cuma ada adik aja. Biar ada yang ngurus."

"Iya.." Jawab nyokap dengan tenang dan ikhlas.

"Ma.. mama sadar nggak, Allah saat ini sedang membalas doa Mama."

"Ha? Maksudnya?" Nyokap menjawab sambil mengernyitkan dahi.

"Mama selama ini kan ngeluhin tiap hari kerja keras kayak jadi budak penjajah."

"Terus?"

"Ini Allah ngasih kesempatan mama buat istirahat cukup panjang. Jadi nggak kayak budak penjajah lagi".

"...." nyokap terdiam.

"Terus, mama sering mengeluhkan, bahwa saudara-saudara mama nggak ada yang peduli. Sekarang, selama mama dirawat, Om, budhe, semua ngurusin mama, jengukin mama tiap hari, tanpa henti kan? Nah.. doa mama dijawab lagi tuh".

"...." nyokap kembali terdiam.

"Dan satu lagi.. mama sering ngeluh bahwa mama pengin mati aja, karena hidup kayak nggak ada enaknya. Sekarang mama dikasih sakit yang luar biasa. Bisa dibilang, ini sakitnya setengah mati. Baru sakit setengah mati, Mama udah nggak kuat nahan sakitnya kan? Apalagi mati beneran?"

Nyokap mulai menangis. "Maafin mama, Mas.."

"Tidak apa-apa, mamakuuu.. mama nggak salah sama mase". Jawab gue menenangkan beliau.

Nyokap tampaknya menyadari bahwa selama ini beliau suka mengeluhkan hal-hal yang sebenarnya jauh lebih kecil dibanding hal-hal yang lebih layak untuk disyukuri. Beliau mengeluhkan capeknya kerja, di saat hidup sudah berkecukupan. Beliau mengeluhkan tentang saudara yang tak peduli kepada beliau, padahal di luar sana masih banyak orang yang hidup benar-benar sebatang kara. Beliau sering mengeluhkan ingin mati, padahal di luar sana banyak orang yang berjuang keras untuk bertahan hidup.

Tapi, di karena musibah itu, nggak cuma nyokap yang menyadari kesalahan beliau. Gue pun juga begitu. Selama ini, gue sebagai anak, terlalu mendahulukan pekerjaan gue dibanding keluarga. Gue fokus nyari duit agar gue bisa meringankan hidup nyokap. Selama ini gue lebih sering dengerin curhatan beliau lewat telepon. Kalo beliau kangen, gue cuma bisa ke Batam saat sedang nggak ada kerjaan doang. Padahal di luar sana banyak anak pengin meluk orang tua, tapi udah nggak bisa karena ortunya udah kembali ke pangkuan Yang Kuasa. Sekarang gue sadar, kehadiran gue sebenarnya lebih efektif meringankan hidup beliau. Karena beban pikiran yang paling berat itu bukan berawal dari kurangnya uang, melainkan kurangnya perhatian.

Inilah cerita awal tahun gue. Sudah ada pelajaran berharga yang gue dan keluarga dapat dari masalah ini. Apakah gue stress dengan musibah yang menimpa nyokap? Tidak. Nyokap kecelakaan, yang nabrak kabur, namun Allah tetap ngasih rezeki untuk ngobatin beliau sampai pulih. Jadi, kenapa harus ngeluh, di saat Allah ngasih masalah, bersama dengan solusi?

 
Okay.. this is the end of the post. Thanks for reading it. Gue mohon doa kalian agar nyokap gue segera pulih. Terima kasih.
Read More 105