Halo teman-teman..
Sebelumnya gue mau ngucapin minnal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir batin. Maafkan gue yang update blognya ngikutin mood doang ini. Padahal, bukan begitu, akhir-akhir ini gue lagi fokus nulis di platform lain, yaitu scenario. Tapi gue selalu mengusahakan untuk tetap mengupdate blog ini, biar nggak disebut sebagai blogger murtad.

Oke, lebaran 2017 ini nuansanya cukup berbeda dibanding lebaran-lebaran sebelumnya buat gue. Biasanya gue mudik naik pesawat terbang atau mobil. Namun lebaran kali ini, gue pengin nantang diri sendiri untuk mudik naik sepeda motor. Kenapa? Karena setahun terakhir gue kebanyakan ngabisin waktu di kantor, maupun di bengkel. Di mana, gue pengin nyari tantangan, dan cerita baru buat nambahin pengalaman.

Hari gini, melakukan sebuah perjalanan itu memang semakin praktis. Zaman gue kecil, dari kampung ke Jakarta naik bus perlu waktu 2 hari 1 malam. Zaman sekarang, naik pesawat cuma 1 jam doang. Hal itu memang bisa memberi keuntungan, yaitu memangkas banyak waktu dan menghemat tenaga kita. Namun, hal itu juga berdampak bagi kita yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan cerita-cerita menarik yang mungkin bisa didapatkan dari perjalanan darat. That’s why, musim mudik taun ini, gue milih buat jalan dari Jakarta ke Jogja naik motor. Dan gue mudik naik motor sendirian, karena teman-teman gue nggak mau ngikutin ide gila gue. Buat mereka, mudik bareng anak istri pake pesawat itu lebih menyenangkan dibanding mudik berdua sama gue motoran. Hih!


Gue mudik di H-4 lebaran, karena gue trauma, taun 2014 gue mudik H-2, ternyata gue malah ngabisin waktu 48 jam perjalanan darat pake mobil. Waktu itu tol Cipali belum aktif, terus jembatan comal pas putus. Jadinya, para pemudik jalurnya dipindahin ke jalur selatan Jawa semua. Efeknya, macet parah terjadi di sepanjang perjalanan mudik. Bahkan, gue sempat tidur di mobil semalam karena mobil-mobil sama sekali nggak bergerak di daerah Bumi Ayu. Keluar dari mobil, bau badan gue sama kayak bau pewangi mobil.

Gue berangkat dari Jakarta pukul 2 siang, karena gue harus ngelarin kerjaan dulu biar klien nggak minta revisi-revisi pas gue lagi jalan. Menurut GPS, diperkirakan perjalanan gue bakal menempuh waktu sekitar 13 jam. Itu kalo nggak istirahat makan, tidur, pipis. Endingnya, kalo gitu sesampainya di rumah, gue bakal kena tifus.


Makanya gue berkomitmen untuk berkendara secara santai aja selama mudik itu, sambil menikmati perjalanan. Jadi, kalo capek ya istirahat, nginep dulu di hotel. Yang penting selamat, karena tujuan mudik adalah bertemu keluarga. Seperti kata nyokap gue, “Saat Lebaran, orang tua itu bukan mengharapkan harta, tapi mengharapkan kehadiran anaknya”.


Sepanjang perjalanan, ada beberapa titik rute yang bikin gue cukup kelelahan. Yang pertama adalah jalanan Jakarta yang memang selalu macet, dan yang kedua adalah jalanan Bekasi yang nggak mau kalah prestasi macetnya sama jalanan Jakarta. Dari Jakarta, sampe keluar bekasi, yang sebenarnya cuma sekitar 30an KM itu, gue ngabisin waktu 5 jam. Di mana, kalo di jalanan Jogja, jarak 30 KM itu bisa ditempuh dalam waktu 1 jam saja. Sepanjang perjalanan Jakarta-Bekasi, gue nggak berasa naik motor, melainkan dorong motor, karena macet parah.

Keluar dari Bekasi, jalanan relatif lancar. Gue istirahat di Karawang buat makan malam dan meluruskan kaki. Lalu gue ngecek GPS, memperkirakan jam 11 malam, kira-kira gue sampai mana. Karena, gue udah berencana, jam 11 gue bakal istirahat untuk tidur, mengingat pagi sebelumnya gue masih sibuk kerja. Menurut GPS, jam 11 malam gue bakal sampai area Cirebon. Akhirnya, sejak dari Karawang, gue coba buat booking hotel, biar nanti sesampainya di Cirebon, gue tinggal check-in, tanpa takut kehabisan kamar, mengingat ini musim mudik.


Iya, gue selalu pake aplikasi Traveloka buat booking hotel maupun pesawat saat last minutes. Daripada harus nelponin satu-satu buat make sure hotelnya udah penuh atau belum, pake Traveloka jadi lebih praktis. Ini contoh pengalaman lain gue pake Traveloka. Akhirnya, pilihan gue jatuh pada hotel Swissbel-hotel Cirebon karena lokasinya cukup dekat dengan rute mudik gue.

Lalu gue melanjutkan perjalanan, dan tepat pukul 11 malam, gue sampai daerah Cirebon. GPS ini punya ilmu hitam macam apa sih? Pinter banget meramalkan masa depan. Sesampainya di Cirebon, gue pun langsung menuju ke hotel yang ternyata nempel sama Mall CSB. Di hotel, gue langsung tidur, dan menikmati istirahat setelah berjuang di jalan seharian.


Paginya, gue udah semangat lagi karena istirahat yang cukup dan sarapan yang nikmat di hotel. Gue pun melanjutkan perjalanan dengan santai di jalur Pantura. Di sepanjang perjalanan siang itu, gue istirahat beberapa kali di mini market untuk numpang buang air kecil dan beli minuman. Iya, gue nggak puasa karena kondisi sedang jadi musafir. Kalo dipaksain puasa, takutnya malah nggak fokus berkendara. Bahaya.

Di setiap perhentian, gue nemu orang-orang yang mudik juga, dan kami sempat berbagi cerita. Salah satu cerita menarik yang gue temukan adalah gue kenalan sama seorang biker bernama Bagus, dia adalah seorang karyawan di salah satu pabrik area Tangerang. Di musim mudik ini, dia naik motor dari Tangerang ke… LOMBOK. Iya, naik motor. Gue sempet kepikiran, apa bokongnya nggak kapalan, naik motor sejauh itu? Hal yang menarik dari cerita Bagus ini adalah, dia udah nggak mudik ke rumah kalo lebaran, gue nggak berani tanya kenapa, tapi yang jelas, kata dia yang gue kutip, begini, “Saya kerja di Pabrik, susah mas buat nyari waktu untuk liburan. Libur paling hari minggu, udah males ke mana-mana karena udah capek kerja seminggu. Momen cuti bersama lebaran gini deh yang bisa saya manfaatin untuk pergi liburan, bareng motor kesayangan. Kapan lagi? Ye gak? Hehe”

Jawaban Bagus ini bikin gue kembali bersyukur, bahwa selama ini gue kerja kantoran, masih bisa ngambil cuti buat liburan, tapi nggak pernah kepikiran buat liburan, malah terlalu fokus ngumpulin duit. Endingnya, kecapekan sendiri, stress sendiri. Jadi, berkat ketemu Bro Bagus itu, gue jadi sadar berharganya sebuah liburan.

Gue pun melanjutkan perjalanan lagi menuju Limpung, daerah kecil di kabupaten Batang, dekat Pekalongan. Gue berniat mau mampir ke rumah rekan kerja gue yang udah mudik duluan. Soalnya, cuaca hari itu random banget. Kadang hujan, kadang cerah. Sesampainya di Limpung, gue dijamu keluarga Seto, sahabat gue. Mereka juga menawarkan gue untuk menginap dulu semalam, biar besoknya fit melanjutkan perjalanan hingga ke Jogja. Namun, gue gemes ngebayangin jarak dari Batang ke Jogja itu udah deket banget. Jadi, dengan sopan gue menolak tawaran keluarga Seto dan memilih melanjutkan perjalanan gue malam itu juga, sambil diiringi doa mereka.

Pukul 11 malam, gue melanjutkan perjalanan dari Limpung ke Jogja. Awalnya gue pengin lewat Semarang, namun karena laporan GPS konon Semarang macet parah, gue milih jalur alternatif Limpung – Parakan – Temanggung – Magelang – Jogja. Di mana jalur itu lebih dekat 2 jam dibandingkan bila gue lewat Semarang. Tentunya jalur alternatif itu nggak semulus jalur Semarang-Jogja.


Jalur alternatif yang gue pilih ini adalah jalur membelah hutan. Di mana kanan-kiri jalanan cuma ada pepohonan, nggak ada lampu penerangan. Perkampungan juga sangat jarang ditemukan. Dan jalanan semacam itu, harus gue tempuh sepanjang 40 Kilometer jauhnya. Sepanjang jalan itu, gue berasa masuk ke masa lalu, di mana peradaban manusia belum secanggih sekarang. Gue khawatir, di ujung jalan, gue nemu Dinosaurus.

Gue nggak takut sama hal-hal mistis yang diceritakan oleh orang-orang yang sering lewat situ. Gue lebih takut sama begal yang bisa aja ngerampas motor dan segala barang yang gue bawa. Yang lebih menantang lagi, ternyata jalanan itu emang sepi banget. Gue naik motor sendirian, tanpa ada orang di belakang maupun depan gue. Sebalnya lagi, gue nggak bisa ngebut di jalanan itu karena jalanan sempit, serta kadang ada tikungan tajam serta jurang tanpa marka jalan. Dengan kondisi mata gue yang rabun senja ini, gue cuma bisa baca surat Al-baqarah di sepanjang perjalanan. Mungkin sesampainya Jogja, gue bakal khatam Al-qur’an.

Syukurlah, setelah kurang lebih 20 Kilometer gue berkendara, gue nemu seorang pengendara motor dengan plat nomor AB, yang artinya itu adalah kendaraan yang berasal dari area Jogja. Gue pun deketin pemotor itu, lalu minta izin buat bareng sampai Jogja. Kenapa gue minta izin? Soalnya kalo gue langsung ngikutin dia mulu, bisa-bisa dia ngira gue berniat jahat, dan dia bisa aja nendang motor gue dengan alasan membela diri. Gue nggak mau mengalami kecelakaan, dengan alasan “dikira begal”.

Sesampainya di Temanggung, kami ngisi bensin. Di sana, gue buka helm, dan uniknya, si pemotor yang bernama Sigit itu ternyata kenal gue. Dia ternyata suka nontonin video-video motor gue di Youtube. Dunia kecil sekali. Akhirnya kami pun barengan sampai ke Magelang, karena Sigit mudiknya cuma ke Magelang, nggak sampai Jogja.

Gue melanjutkan perjalanan sendirian dari Magelang ke Jogja. Syukurlah jalanan di sana sudah ramai orang mudik juga. Sehingga perjalanan gue lancar sampai rumah, tanpa kendala apa-apa.

Sesampainya di Jogja, gue buka masker untuk menghirup udara dini hari di sana. Banyak hal menyenangkan yang gue rasakan saat itu. Perasaan lega karena akhirnya gue sampai di Jogja, udara yang sejuk tanpa polusi layaknya ibu kota Jakarta, and the most important thing.. I’m home.

Hampir 3 hari perjalanan gue jalani, dan banyak hal yang gue dapetin. Mulai dari senangnya berkendara sepeda motor, senangnya ngebut di jalan antar provinsi, stressnya bensin tipis saat jauh dari SPBU, atau seramnya jalan sendirian di hutan belantara. Tapi ya itulah makna dari berpetualang. Merasakan banyak jenis sensasi, yang nggak bisa lo rasain di dalam rumah, atau di ruang kantor doang. Gue nggak bakal kapok untuk motoran ke mana-mana. Karena buat gue, motoran udah jadi bagian hidup gue. Karena setiap gue motoran, gue inget almarhum bokap yang dulu ngasih tau, jangan pernah takut jatuh. Nggak ada orang sukses tanpa terjatuh-jatuh lebih dahulu.

Itulah cerita gue sepanjang perjalanan mudik sendirian kemarin dari Jakarta ke Jogja naik motor. Semoga cerita ini bisa menginspirasi kalian yang pengin melakukan petualangan sederhana, namun besar dampaknya. Oiyah, kalo lo mau liat cerita ini versi video, gue udah bikin videonya juga. Check this out:



See you on another post! Ciao!
Read More