Jumat, November 25, 2016

Silakan Mengkritisi, tapi Jangan Membunuh Mimpi
Tadi gue lagi iseng menjelajahi Youtube, buat nyari-nyari video keren sebagai penghapus rasa bosan, dan nyari inspirasi buat bikin video lagi di Channel Gue. Sampai akhirnya gue nemu sebuah video yang judulnya "Film Pendek - Meteor". Gue iseng klik dan coba liat deh.

 
Memang, secara visual video itu tampak sederhana. Tidak ada pengaturan cahaya yang baik, lensa terlihat buram, dan visual effectnya tampaknya dari aplikasi hape gratisan. Dari segi cerita, video ini memang menceritakan tentang jatuhnya meteor, dan usaha si tokoh utama untuk menyelamatkan diri. Namun, secara kualitas cerita memang tidak menunjukkan struktur cerita yang baik. Tidak ada perkenalan tokoh, konflik tokoh, maupun penyelesaian masalah. Tapi gue tetap takjub sama orang yang bikin video ini, karena dia bisa membuat visual effect seakan dia bisa terbang.

Kenapa gue takjub? Karena yang bikin nih video adalah bocah. Yang usianya kira-kira 12 tahun. Gila, di usia segitu gue masih sibuk balapan keong, nih anak udah bisa bikin video. Namun ada hal yg bikin gue sedih. Saat gue obok-obok channel dia, gue nemuin banyak komen kurang pantas yang ditujukan untuk anak seusianya.

 
 

Dan masih banyak komen-komen lain yang nyelekit, sotoy, dan penuh kedengkian lain. Misal:

"Itu lightningnya kok gak ada? Kalo gak niat, gak usah upload sekalian!"
"Color grading yang bener dong. Video lo ngotor-ngotorin beranda gue aja!"
"Kok ada jemuran di dalam videonya? Buang dulu, bego!"

Duh.. gue cuma bisa geleng-geleng kepala bacain komen-komen begitu. Ada yang komen sok pinter, tapi nulis LIGHTING aja jadi LIGHTNING, ada yang pengin nunjukin dia ngerti soal grading, dengan cara ngomenin soal warna videonya. Tapi yang pasti mereka lupa adalah, si bocah yang bikin tuh video, masih anak SD! What do they expect?

Yosafat adalah salah satu contoh anak-anak generasi milenial yang kreatif, dan ingin terus belajar dan berkarya kreatif, meskipun hal yang diminatinya itu tidak diajarkan di sekolah. Di luar sana, masih buanyak lagi bocah-bocah lain yang pasti juga seperti dia. Melakukan sesuatu, dengan belajar secara otodidak dari internet.

Anak-anak ini, sekreatif apapun mereka, tetap saja mentalnya belum matang. Dalam proses pertumbuhannya, dia masih butuh bimbingan, agar bakatnya gak terbuang begitu saja. Nah, dengan komentar-komentar yang ada di video-video Yosafat (dan mungkin terjadi kepada bocah-bocah lain yang sedang belajar lainnya), gue merasa miris. Gue merasa kasihan. Gue takut, kalo sampe komen orang-orang itu membuat anak-anak seperti Yosafat itu menjadi down, dan "kapok" buat lanjut mempelajari hal yang dia minati. Gue takut, gara-gara komen-komen pedes itu, kita kehilangan salah satu calon sineas berbakat di masa depan.

So, please.. silakan mengkritisi, tapi jangan mencaci. Kalo lo nemu kekurangan atau kesalahan di karya orang, silakan tunjukkan, lalu kasih tau solusinya. Gak perlu memaki-maki. Youtube itu simpel kok. Kalo lo merasa gak suka sama videonya, tutup aja tab-nya. Gak perlu lanjut nonton tapi sambil ngomel-ngomel kayak ibu-ibu nonton sinetron pas tokoh protagonisnya mau minum racun yang dikasih sama tokoh antagonisnya.

Kalo ditanya, ngapain gue dukung bocah buat main Youtube? Kan usianya blm cukup?

Berkarya di Youtube, bisa dari usia muda kok. Nyatanya banyak Youtuber kecil di Barat juga. Kontennya? Ya sesuai dengan konten-konten usia mereka. Biasanya, mereka bikin konten dengan dibimbing oleh orang tua. Nah, itulah kenapa gue dukung bocah kayak Yosafat ini. Gue liat, dari semua karya-karyanya, nggak ada kok dia bikin video yang isinya kata-kata kotor, atau video yang berisi hal-hal jorok. Justru dia banyak berbagi tips untuk membuat video. Yah, walaupun tipsnya juga gak gitu efektif juga. Tapi, kembali diingat, dia cuma bocah. Dia cuma mau melatih skillnya dalam hal yang dia suka.

Sayangnya, sebagian orang memang lebih suka untuk mengritik bukan untuk membuat orang lain jadi lebih baik. Sebagian orang lebih suka mengritik agar terlihat lebih pintar. Sebagian orang lebih suka mengritik dengan kata-kata kasar. Tanpa sadar, efeknya bisa besar.

In the end, I just wanna remind you. Mari kita support mereka yang sedang belajar. Mengkritisi, tanpa membunuh mimpi. Mengomentari, tanpa memaki. Memberi saran yang membangun. Dan membimbing orang-orang yang belajar, bukan membuat mereka kapok untuk belajar. Setiap lo mau komen di Yutub orang, tolong diinget bahwa setiap video itu dibuat dengan proses panjang. Contohnya, setiap video gue, harus diedit selama 3-5 jam. Syutingnya juga berhari-hari. Bayangin dengan proses sepanjang itu, komennya cuma "Video sampah!", pasti yang bikin bakal kecewa.

Kalopun lo gak bisa ngeapresiasi karena videonya emang jelek, mending lo kasih tau kekurangannya apa, dan kasih tau cara benerinnya. Kalo lo males ngelakuin itu juga, mending diem aja. Setiap kali lo mau maki-maki di kolom komen, coba bayangin tuh komen yang baca adik lo, nyokap lo, atau bokap lo. Apakah mereka bakal seneng, dengan komen lo, meskipun lo pinter?

This is the end of the post. Thanks for reading it. If you have the same/different idea about this topic, please write it in the comment section below. Okay! I'll see you around. Bye!
Read More 138
Jumat, November 18, 2016

Beberapa Kerepotan Yang Hilang Berkat Teknologi
Ah.. Akhirnya ngeblog lagi.. *Fyuh! Fyuh!* *niupin sarang laba-laba di Blog*

Maaf akhir-akhir ini jadi blogger murtad karena gue sibuk parah nyiapin film baru buat awal taun depan. Tapi gue nggak bakal berenti nulis. Gue sering-sering sempetin buat update blog deh nanti. Oke.. Hari ini gue kepikiran sebuah ide buat ditulis karena tadi gue nemu bapak-bapak yang jualan jasa foto, tapi masih make kamera analog. Iya, bukan digital.

Karena hal itu, gue langsung kepikiran tentang hal-hal jadul. Sebagai orang yang sudah tumbuh berkembang sejak zaman belum ada jaringan listrik di kampung, hingga akhirnya internet masuk kampung, gue mengalami evolusi cara manusia hidup yang cukup besar. Orang sekarang mah enak, mau berkabar tinggal kirim teks via chat. Zaman dulu, gue mau nembak cewek, harus gue tulis di batu kali. Yang sekarang dikenal dengan sebutan prasasti.

Zaman gue SD kelas 1, kampung gue belum ada jaringan listrik. Jadi, zaman itu, cewek-cewek belum bisa ngecatok rambut. Kebayang nggak, gimana bentuknya? Dan saat itu di kampung gue cuma ada satu keluarga yang punya TV. Nah, pasti lo penasaran, gimana caranya bisa ada TV, tapi nggak ada listrik? Apakah TV itu dinyalakan dengan bantuan tenaga dalam? Tidak. Orang-orang di kampung gue patungan buat beli aki, dan nge-charge akinya setiap dua hari sekali. Soalnya, TV saat itu benar-benar menjadi satu-satunya hiburan yang “berbeda” bagi orang-orang kampung selain ngelihat bintang, nangkepin kunang-kunang, dan ngomongin orang. Kami semua berkumpul di rumah orang yang punya TV itu setiap selesai sholat maghrib untuk nonton dunia dalam berita, dan pulang ke rumah jam 9 malam untuk tidur.

Dengan masuknya jaringan listrik ke kampung, kebiasaan itu pelan-pelan memudar. Orang-orang jadi nggak ngumpul di satu rumah untuk nonton TV. Ada yang beli TV sendiri, ada juga yang di rumah aja nontonin lampu bohlam menyala sepanjang malam hari.

Nah, di postingan ini, gue mau ngajak nostalgia tentang beberapa kerepotan yang sudah hilang karena dimudahkan oleh teknologi.

1. Remot TV



Zaman gue kecil, TV bentuknya belum kayak sekarang. Bentuknya masih kayak lemari kotak kecil, di mana untuk nyalain, harus dibuka dulu raknya. TV-nya juga belum berwarna. Jadi acara apapun, walaupun hostnya bilang pemandangan di acara itu indah, gue cuma bias ngeliat warna hitam putih doang. Selain itu, zaman dulu kalo mau mindahin channel, gue harus nyamperin TV-nya, terus muterin tombol analog buat nyari frekuensi yang pas untuk tiap channel. Mirip-mirip sama cara lo sekarang mindahin channel radio gitu. Jadi, jaman dulu kalo lagi nonton TV, gak ada istilah males gerak. Kita harus gerak buat mindahin channel. Buat orang yang hobi mindahin channel saat iklan nongol, dijamin betisnya bakal six-packs karena sering terpaksa mondar-mandir.
Zaman sekarang, kebiasaan seperti itu sudah hilang. Semua bisa dilakukan dengan remot TV, sambil tiduran, atau gegoleran.

2. Foto
Untuk yang usianya di bawah 20 tahun dan bukan seorang hipster, mungkin bakal nggak ngerti negative film itu apa. Nih gue jelasin, negative film adalah semacam alat untuk menyimpan data gambar yang lo ambil pake kamera analog. Nah, dari negative film ini, nantinya dicuci cetak/afdruk menjadi foto yang bisa dipajang di pigura. Semua prosesnya, dari pengambilan gambar sampai ngelihat hasilnya, bisa makan waktu berjam-jam bahkan beberapa hari. Dengan segala kerepotan itu, zaman dulu orang nggak ada yang bisa komen, “Ulang dong..Pipiku keliatan cabi!”



Namun di abad 21 ini, fotografi sudah sangat dimudahkan oleh teknologi. Kamera digital, membuat proses fotografi jauhhhh lebih mudah. Tanpa perlu menunggu semenit pun, setelah foto diambil, kita bisa langsung liat hasilnya, lalu dipilih-pilih mana yang mau dicetak atau dipost di social media. Kalo zaman dulu, boro-boro bisa milih foto yang mana yang mau dicetak. Muka kita semua keliatan cemong di negative film.

3. Transaksi Keuangan
Gue jadi inget, zaman gue SMA, buat bayar listrik, gue harus datang ke kantor PLN dan ngantre beberapa jam. Buat beli pulsa hape, gue harus cabut ke kampung sebelah. Buat transfer duit, gue harus pergi ke ATM dan kadang ngantre lama di belakang ibu-ibu yang curhat ke mesin ATM karena anaknya minta duit LKS mulu.
Lagi-lagi teknologi mampu menghapus kerepotan ini.Dengan adanya aplikasi m-Banking maupun internet banking, gue bisa melakukan segala kegiatan di atas sambil tiduran, maupun kayang.
Ngomongin soal m-Banking, gue pernah mengalami sedikit kendala di mana tiba-tiba aplikasi M-BCA gue error, dan tak bisa digunakan lagi. Gue nggak deg-degan dan berprasangka buruk ada yang ngehack rekening gue, karena gue yakin, BCA adalah perusahaan besar yang sangat melindungi semua nasabahnya. Lalu, dengan santainya gue kirim tweet..iya, tweet ke customer service @HaloBCA begini:


Dan dalam waktu singkat, tuh CS bales keluhan gue:


Gue ikutin instruksi dia, dan problem solved! Aha! Gue suka CS yang gak bales keluhan customer pake jawaban template, dan benar-benar menguasai permasalahan yang dihadapi customer. Good point, BCA!

So, selain via telpon, atau hape ke 1500888 untuk nyampein keluhan, lo bisa langsung nyampein keluhan perbankan lo via social medianya BCA. Here is the further info: BCA

4. Telepon
Zaman gue SMA, kampong gue belum ada jaringan telepon. Sedangkan nyokap gue hidup di Batam yang nun jauh dari kampung gue di Jawa tengah.Nah, telepon adalah salah satu cara efektif buat mengobati kerinduan kepada nyokap. Untuk ngelakuin itu, gue harus naik motor sekitar 10 KM jauhnya buat nelpon nyokap via Wartel (WarungTelepon). Wartel adalah semacam tempat penyewaan telpon untuk umum, di mana kita nantinya akan membayar biaya telpon sesuai billing telpon yang nongol di display. Dulu sih, duit 25 ribu, Cuma bisa gue pake nelpon 15 menit. Tapi sudah cukup worth it.

Dengan meluasnya jaringan selular, akhirnya hampir setiap orang sekarang punya handphone. Jadinya, kita bisa kontek-kontekan kapan dan di mana aja. I love this era!

5. Surat-menyurat
Zaman dulu, belum ada social media, kalo kita mau temenan dengan orang jauh, istilahnya adalah “Sahabat Pena”. Di mana kita akan berkomunikasi dengan pasangan LDR kita itu via surat. Biasanya kita akan mendapat balasan seminggu kemudian, dan hubungan itu akan berlanjut bertahun-tahun, sampai pasangan kita itu sudah mendapatkan orang yang lebih peduli kepadanya nggak cuma sekedar tulisan aja.

Tapi memang, hubungan yang dilakuin via surat menyurat itu nggak bakal efektif. Mengingat butuh waktu cukup lama untuk proses pengiriman pesannya, jadinya, kita nggak akan bias nulis surat yang isinya “Udah makan, belum?” Karena jawabannya pasti akan, “Udah makan, udah minum, dan udah jadian sama orang lain”. Kelamaan sih nyampenya.

Berkat jaringan internet, komunikasi tertulis jadi makin cepat dan mudah. Kita semua bias saling berkirim kabar dan langsung bias dibalas dalam hitungan detik sekalipun. So, kerepotan surat menyurat pun selesai sudah!

Okay.. This is the end of the post. Semoga postingan ini bisa bermanfaat dan menghibur buat lo semua. Kalo lo punya pengalaman soal hal-hal yang berhubungan dengan yang gue tulisini, tulis di kolom komen, ya! Biar gue bisa baca-baca pengalaman lo juga. ☺


Read More 101