Senin, April 28, 2014

Kisah Saudagar dan Anak Kembar
Malem ini gue mau berbagi sebuah cerita yang pernah didongengin almarhum eyang gue zaman kami masih sama-sama kelas 1 SD dulu. Menurut gue ceritanya itu seru. Sangking serunya, gue masih inget detail ceritanya ampe sekarang. Penasaran? Oke.. Silakan naik ke kasur, masuk ke dalam selimut, dan puter lagu-lagu damai kayak punyanya Hadad Alwi.


Zaman dahulu kala, tepatnya pada tahun 2060, ada seorang saudagar yang sangat kaya raya. Nama saudagar itu adalah Harno. Harno punya bisnis ojek antar provinsi dan karyawannya sudah ada lebih dari 1000 orang. Harno punya rumah sebesar pulau Jawa. Sangking besarnya, setiap dia mau pipis, dari kamar tidur dia harus naik pesawat Cesna dulu agar bisa sampai ke toilet. Hidup Harno terasa sangat sempurna, dengan uangnya yang tak terhingga, dia bisa membeli segalanya. Banyak orang yang dengki pada kehidupan mewahnya. Tapi, di sudut hatinya, Harno merasakan keresahan yang menyiksa.

Di usianya yang hampir 50 tahun, Harno belum memiliki pacar, apalagi istri. Sejak dulu dia selalu sibuk bekerja dan mengumpulkan harta, hingga dia lupa mencari wanita. Harno resah dengan kehidupannya yang tanpa istri, namun dia lebih resah di saat dia menyadari dia juga tak punya anak. Dengan keadaan itu, Harno kepikiran tentang siapa yang nantinya akan melanjutkan bisnis ojek antar provinsinya itu.

Suatu hari, saat Harno sedang kebelet boker, dia berhenti di pom bensin dan boker di toilet umumnya. Di kloset, Harno menemukan dua anak bayi yang lupa belum disiram oleh orang tuanya. Iya, di tahun 2060 dulu, manusia masih belum banyak yang sadar tentang cinta dan susila. Akhirnya Harno bawa dua anak yang ternyata kembar itu pulang. Anak-anak itu sangat lucu, dua-duanya laki-laki, dan mereka kembar identik. Perbedaannya cuma sedikit. Yang satu punya rambut hitam, kulit gelap, dan mata cokelat. Yang satunya berambut pirang, kulitnya terang, dan mata berwarna biru. Harno menamai mereka Supri dan Irpus.

Harno merawat Supri dan Irpus dengan penuh cinta. Untuk pertama kalinya, Harno bisa merasakan rindu kepada orang lain saat dia harus pergi cukup lama ke luar kota. Untuk pertama kalinya, ada yang menanti Harno di rumah dengan penuh antusias setiap waktunya pulang kerja. Ya, Harno mulai berbahagia dengan hidupnya. Di titik itu, Harno menyadari bahwa indahnya hidup bisa dirasakan saat punya apa-apa, tapi hal itu juga bisa menyiksa saat tidak punya siapa-siapa.

Tanpa terasa, seminggu kemudian Supri dan Irpus sudah tumbuh dewasa layaknya anak-anak remaja biasanya. Mereka sudah punya kumis, jenggot dan mulai suka belanja online. Di saat yang sama, Harno mulai merasa tua. Dia merasa raganya sudah tak mampu lagi untuk menjalani pekerjaannya. Mulai terpikirkan oleh Harno untuk meminta anak-anak menggantikan dirinya. Harno juga merasa waktunya sudah tepat untuk membagikan warisan kepada anak-anaknya. Namun Harno bimbang, kursi kepemimpinan perusahaan tidak bisa diduduki oleh dua orang sekaligus. Harno harus memilih salah satu dari anak kembarnya.

Setelah rutin berdoa dan menyembah biji salak selama beberapa minggu, akhirnya Harno mendapatkan petunjuk cara untuk memilih siapa yang layak mendapatkan kursi kekuasaan di perusahaannya. Hari itu juga Harno memanggil kedua anaknya.

"Supri.. Irpus.." Harno duduk di kursi goyang favoritnya di rumah. Kursi goyang Harno ini beda. Kalo di zaman kita kursi goyang itu geraknya maju mundur, kursi goyang Harno ini geraknya ke kanan dan kiri. Biasanya kalo duduk di kursi itu selama satu jam, Harno harus diinfus make Antimo biar nggak muntah-muntah.

"Iya, papa." Jawab si kembar serempak.

"Hari ini, papa ingin mengatakan pada kalian, bahwa kalian sudah dewasa." Harno menghisap pipa rokok yang terhubung dengan knalpot jet pribadi di belakang rumahnya.

"Betul, papa." si kembar kembali menjawab dengan kompak.

"Nah.. Papa ingin salah satu di antara kalian mewarisi tahta papa. Papa ingin salah satu dari kalian jadi boss di perusahaan ojek antar provinsi papa. Yang mengurusi kesejahteraan karyawan, dan mengurus biaya rumah sakit setiap kali mereka pulang kerja dan terserang paru-paru basah."

"Lalu, bagaimana keputusan papa? Saya kah yang akan papa pilih?" Irpus yang tadinya sibuk main catur dengan diri sendiri, mendadak terlihat antusias dan bergelantungan di plafon rumah.

"Tidak.. Tidak sesederhana itu, anakku." Harno menepuk pundak Irpus agar Irpus kembali duduk.

"Apapun keputusan papa, saya siap menerimanya." Supri menjawab pernyataan Harno dengan tenang dan santun.

"Jadi begini.. Papa akan meminta kalian untuk berlomba. Jadi, papa baru saja memesan Tongsis di pulau seberang, tapi karena pemilik toko minta ongkos kirim, papa tidak setuju. Papa memutuskan untuk meminta kalian mengambil Tongsis pesanan papa itu. Nah, siapapun yang bisa lebih dulu membawakan Tongsis itu sampai di rumah, dia berhak untuk menjadi bos baru di perusahaan papa." Asap tebal berbau Avtur mengepul dari mulut Harno.

"Semudah itu, Papa?" Irpus terlihat sangat bersemangat.

"Iya, tapi ada peraturannya."

"Apapun peraturan yang papa buat, kami pasti bersedia untuk mengikutinya." Supri duduk bersujud di depan Harno.

"Peraturannya adalah, kalian tidak akan papa beri uang sepeserpun selama perjalanan. Yang kedua, kalian cuma akan papa bekali makanan yang bisa kalian pilih sendiri untuk dikonsumsi selama perjalanan."

"Baiklah pa! Kami siap!" Supri dan Irpus mengucapkan kalimat itu secara kompak dengan nada mayor dan minor.

Si kembar segera bergegas untuk mengambil bekal mereka masing-masing. Irpus mengambil roti, selai dan meses cukup banyak dan memasukannya ke dalam tas punggung. Sedangkan Supri mengambil ikan asin, beras dan alat masak. Setelah mereka bersiap-siap, mereka pun memulai perjalanan ke barat untuk mengambil Tongsis.

Di minggu pertama perjalanan mereka, Irpus memimpin jauh. Soalnya, setiap waktunya makan, Irpus tinggal mengambil roti tawarnya, lalu mengoleskan selai dan langsung memakannya. Sedangkan Supri harus mencuci beras, menanaknya, dan menunjukkan foto mantan si ikan asin dengan tujuan untuk manasin ikan asinnya tanpa perlu make api.

Namun di minggu kedua, Supri bisa menyusul Irpus dan bahkan bisa membalapnya. Kenapa? Karena Irpus mulai kelaparan. Rotinya habis? Tidak. Roti Irpus mulai jamuran semua. Sedangkan ikan asin dan beras Supri, tidak bisa basi. Namun, Supri tak tega meninggalkan saudaranya kelaparan di jalan. Di saat Supri beristirahat untuk memasak, Supri memanggil Irpus untuk makan bareng. Irpus memakan nasi dengan lauk ikan asin itu dengan lahap. Setelah makan, mereka pun mencoba tidur karena hari sudah menjelang siang. Di saat Supri tidur nyenyak, Irpus diam-diam mengambil tas berisi bekal Supri dan segera kabur melanjutkan perjalanannya. Iya, Supri ditinggalkan di sana tanpa apa-apa.

Singkat cerita, Irpus sudah kembali ke rumah sambil membawakan Tongsis yang diinginkan papanya.

"Bagus, anakku. Kamu datang jauh lebih cepat dibanding yang aku bayangkan. Pasti kelak saat kamu memimpin perusahaan, kamu juga akan cekatan." Saudagar memeluk anaknya dengan penuh rasa bangga.

"Jadi, kapan saya boleh mulai bekerja, papa?" Irpus terlihat sudah tidak sabar untuk menjadi boss di perusahaan ayahnya.

"Mulai besok kamu sudah boleh bekerja, Nak. Papa mau istirahat di rumah saja."

Irpus mengepalkan tangannya ke udara, menandakan bahwa dia merasa menang. Namun seminggu kemudian, Harno bertanya, "Oiyah.. Supri di mana, Pus?"

"Err.. Anu.. Saya tidak tahu, Papa. Saya tidak bertemu dengannya. Saya sudah memimpin jauh di perjalanan itu sejak hari pertama." Irpus terlihat sedikit panik.

"Hmm.. Aneh.. Harusnya dia sudah pulang. Tapi sudahlah, dia kan sudah dewasa." Harno kembali menghisap pipa rokok kesayangannya.

Irpus menikmati pekerjaan barunya sebagai boss perusahaan. Setiap hari pekerjaannya hanya menandatangani slip gaji dan slip pembayaran pajak. Malamnya, dia pergi ke konser-konser dangdut di kampung-kampung sebelah untuk berfoya-foya. Sebulan kemudian, Irpus dikagetkan dengan kedatangan Supri di rumah.

"Anakku! Kenapa kamu baru nyampe, nak?" Harno memeluk Supri erat-erat.

"Maaf papa, kemarin bekalku dicuri orang saat dalam perjalanan. Sehingga aku terlunta-lunta dan kelaparan di kota orang." Supri menjawab pertanyaan papanya sambil melirik tajam ke arah Irpus. Irpus salah tingkah, Irpus pura-pura main futsal untuk mengalihkan perhatian.

"Wah.. Malang sekali nasibmu, Nak.." Harno kembali memeluk Supri.

"Maaf papa, saya gagal untuk meneruskan tanggung jawab papa kepada perusahaan. Tapi saya pikir, Irpus cocok untuk menjalani profesi itu." Supri mengatakan kalimat itu tanpa ekspresi kecewa sama sekali.

Irpus segera menyambar kalimat Supri, "Kamu sih, teledor banget! Perusahaan ini bisa bangkrut kalo dipegang orang teledor kayak kamu!"

"Kamu tidak kecewa, Nak?" Harno memastikan bahwa salah Supri tidak menyimpan kekecewaan keputusannya.

"Ayahanda, saya hendak bercerita tentang apa yang saya alami dalam perjalanan saya." Supri kembali membuka mulutnya, Irpus kembali terlihat panik dan segera main Karapan Sapi.

"Apa anakku? Ceritakanlah.. Papa mau mendengarkanmu."

Supri menghela nafas, lalu berbicara, "Jadi begini.. Saya mengaku saya teledor sehingga saya kalah dalam perlombaan antara saya dan Irpus. Tapi saya tidak kecewa sedikitpun, karena saya sudah merasa menang dengan cara yang lain."

"Apa maksud dari perkataanmu, Supri?" Harno mengernyitkan dahi sambil menatap mata Supri dalam-dalam.

"Di perjalanan kemarin, setelah saya kehilangan bekal saya, saya kelaparan di kampung orang. Di sana, saya bertemu seorang wanita yang sangat cantik. Wajahnya ada di bagian depan kepalanya."

"Lalu?" Harno jalan mondar-mandir di depan Supri sambil memegangi dagunya sendiri.

Supri menolehkan wajahnya ke arah pintu rumahnya, "Ningsih, kemarilah.."

Muncul seorang wanita dari balik pintu. Wajahnya sungguh menawan, giginya rapi bak paving block taman, rambutnya hitam panjang berkilauan. Supri menggandeng tangan Ningsih, "Di saat saya kritis dan hampir memakan paha saya sendiri, saya bertemu Ningsih. Dia menolong saya, memberikan makanan kepada saya, dan merawat saya, papa."

"Hmm.." Harno menunjukkan ekspresi penasaran.

"Selama saya bersama Ningsih, saya mengalami indahnya waktu bersama. Saya jadi sadar, ternyata ada yang lebih menyenangkan di dunia ini selain harta. Yaitu cinta, Papa." Supri menyatakan isi hatinya dengan penuh keyakinan. Supri melanjutkan, "Sejak bertemu dia, saya sengaja mengulur perjalanan saya untuk menikmati waktu yang selalu terasa cepat saat bersamanya. Ntah kenapa, setiap detik bersamanya, saya merasa lebih bahagia daripada menghabiskan waktu untuk belanja hal-hal yang saya suka."

Supri kemudian berlutut di depan papanya, Ningsih juga ikut berlutut. "Begitulah papa.. Maaf saya tidak memilih untuk menjadi pemimpin di perusahaan papa. Saya lebih memilih untuk menjadi pemimpin di hidup Ningsih."

Harno memegang lengan Supri dan Ningsih, lalu menyuruh mereka untuk berdiri. Harno segera memeluk Supri dan Ningsih dengan perasaan haru. Irpus merasa lega karena kelicikannya tidak terbongkar, dia segera bersyukur dengan cara menyembah tower selular.

"Nak.. Yang kamu butuhkan untuk menikmati hidup itu bukan harta, tapi cinta. Saat kamu sudah menemukan orang yang kamu cinta, hidup akan indah dengan sendirinya. Aku bangga, akhirnya kamu bisa menyadari itu." Harno menepuk pundak Supri dan Ningsih, serta menatap mereka dengan penuh rasa bangga.

"Baiklah.. karena kamu juga anakku, aku tak akan membiarkanmu kelaparan lagi, Nak. Meski kamu gagal untuk mendapatkan perusahaanku, aku akan menyerahkan seluruh tabunganku padamu. Maaf jumlahnya tidak seberapa. Cuma sekitar 10 trilyun doang di bank Swiss. Semoga uang itu bisa berguna untukmu dan rumah tanggamu kelak, nak." Senyum terlukis di bibir Harno. Dia tak pernah sebahagia itu dalam hidupnya. Karena bahagia yang Harno rasakan kali ini bukanlah tentang kesuksesan meraup harta, namun kebanggaan karena sukses mendidik anaknya.

Akhirnya, Supri dan Ningsih menikah serta dengan uang yang diberikan papanya, mereka membuka bisnis delivery pacar di seluruh pelosok negeri. Supri hidup bahagia dengan Ningsih dan anaknya untuk seterusnya, sedangkan Irpus hidup sendiri untuk memenuhi sifat serakahnya. Tidak lama kemudian, Irpus meninggal karena kolesterol tinggi.

TAMAT

Okay.. That was the story. Semoga cerita tadi bisa membuat kalian merasa terhibur dan lupa sama pacar masing-masing. Btw, apa aja yang bisa kalian pelajari dari cerita itu? Share di comment box ya!
Read More 86
Jumat, April 11, 2014

Belajar Nulis Di Malam Mistis
Jadi semalem, di malam jumat yang harusnya jadi malam party-nya para setan itu, gue kedatengan teman-teman dari Stand up Kompas TV dan teman-teman yang sering nongkrong bareng gue di depan pasar Cipete, bantuin mobil nyeberang. Ada @Ficocacola @Nuelandreas @Bene_dion @Prstyokh dan @Falenpratama. Awalnya gue iseng aja ngajakin anak-anak main PS di rumah rame-rame. Gue ajakin mereka taruhan, yang kalah kudu bakar ijazah. Nah, pas udah pada ngumpul, tiba-tiba Fico dateng. Buat yang belum tau siapa itu Fico, gue kasih tau ya. Dia itu runner up Stand up Comedy Kompas TV season 3. Dia itu kocak banget karena tiap dia ngomong, random abis. Mulai dari suka ngobrol sama tangan sendiri, sampai suka bercinta dengan botol kecap.

Semalem dia tiba-tiba nanya soal menulis. Dia bilang, "Nulis itu susah.. Nggak ada waktu". Mungkin sebagian penulis yang baru belajar, juga mengalami masalah yang sama. Tapi buat gue, itu semua cuma self-excuse, karena menulis adalah kegiatan yang membutuhkan kedisiplinan juga. Pas gue jelasin ke Fico, tau-tau si Benedion dan anak-anak lain pada ikut ngedengerin. Nah, di situ akhirnya gue tantangin mereka buat bikin cerpen. Tapi mereka ngeluhin gimana cara nyari ide buat bikin cerpen. Terus gue kasih cara praktis buat bikin cerpen berdasarkan ilmu yang gue dapet dari mas AS Laksana. Gue bikin list kata-kata: Kata kerja, Kata sifat, dan Kata benda.

Gue tulisin semua kata-kata itu di potongan-potongan kertas, terus gue lipat-lipat kayak arisan. Nah, masing-masing dari mereka gue minta ngambil tiga potongan kertas yang berisi kata kerja, kata sifat dan kata benda. Saat mereka membuka potongan-potongan kertas itu, mereka gue minta ngerangkai tiga kata itu menjadi sebuah premis. (Premis: Ide dasar dari sebuah cerita). Misalnya nih, lo dapet tiga kata yang kayak gini: Motor, rindu, kejar. Nah, dari tiga kata itu, kalo disatuin jadi premis bisa jadi banyak banget. Kayak: "Mengejar rindu dengan motor. (rela nyusulin pacar LDR beda provinsi pake motor)", Atau "Mengejar motor yang dirindukan. (Perjuangan buat bisa beli motornya yang dulu pernah dijual.), dan masih banyak lagi. Tuh, kata siapa susah nyari ide?

Abis anak-anak dapetin premisnya, yang gue minta kepada mereka adalah, pikirin ending. Dengan kita tau endingnya mau kayak apa, setidaknya kita sudah punya tujuan mau dibawa ke mana tulisannya. Tentunya, setelah mereka tau endingnya mau kayak gimana, gue minta mereka buat bikin outline. Outline itu apa? Outline itu adalah semacam kerangka karangan. Catatan-catatan sederhana dari alur cerita dari awal sampai akhir sebelum kontennya ditulis total. Dengan membuat outline lebih dulu, misal kita mau ngubah alur cerita, yang kita ubah cuma poin-poin di outline aja. Jadinya, nggak seribet misal kita mau ngubah cerita di saat seluruh konten udah ditulis. Lebih enak ngehapus poin-poin kan, daripada ngehapus paragraf? :D

Kurang lebih sejam, anak-anak sangat serius menulis cerita masing-masing. Gue seneng, karena mereka sangat antusias mengikuti kegiatan iseng ini. Dan hasil dari tulisan mereka nggak ada yang mengecewakan. Dan yang paling penting, endingnya mereka sadar bahwa menulis itu bisa di mana aja, kapan aja dan ide itu bukan hal yang langka. Bahkan kita bisa menemukan ide dari cara-cara paling sederhana. Yang jelas, semalem anak-anak jadi nyadar bahwa: Manusia kadang tidak sadar akan potensinya  sebelum mereka mau mencoba. Mungkin ada beberapa kekurangan seperti "ceritanya terlalu terburu-buru", dan lebih banyak menggunakan cara "telling", dan jarang atau tidak pernah menggunakan cara "showing".

Telling itu apa? Showing itu apa?

Telling itu, seperti terjemahannya, berarti "Mengatakan". Dan Showing itu, seperti terjemahannya, berarti "Menunjukkan". Ini adalah contoh menceritakan sesuatu dengan cara telling:

"Ayahku galak sekali. Kalau marah, beliau menakutkan sekali."

Nah, mari kita bandingkan dengan showing:

"Aku tidak pernah berani melawan ayahku. Dia suka berteriak-teriak dan ngemil kaca setiap kali aku berbuat kesalahan. Tidak jarang, bila beliau sedang marah, aku dilempar ke genteng tetangga."

Menurut kalian, mana yang lebih enak buat dibayangin kejadiannya? Dan menurut kalian, mana yang lebih menyenangkan buat dibaca?

Intinya, telling itu banyak menggunakan kata sifat untuk menjelaskan sesuatu. Sedangkan showing itu tidak menggunakan kata sifat untuk menjelaskan sesuatu. Ya, showing adalah cara paling ampuh untuk menggiring pembaca masuk ke dalam imajinasi penulisnya. Sedangkan telling, akan menciptakan interpretasi yang berbeda-beda dari penulis dan pembaca-pembacanya. Namun tidak semua deskripsi harus menggunakan showing, cukup detail-detail yang dirasa perlu aja. Karena kalo semua dijelasin dengan cara showing, pembaca akan cepat merasa kelelahan. Sedangkan kalo semua dijelasin dengan cara telling, cerita itu akan terasa terburu-buru dan banyak detail yang hilang, padahal mungkin perlu. Kalo banyak detail yang hilang, jadinya ceritanya akan kurang "bernyawa".

Nah, berikut gue mau ngasih apa yang gue tulis semalem pas ngelakuin tantangan bareng anak-anak.

Agar Cintaku Abadi

"Ningsih.. Ingatkah kamu saat kamu pulang sekolah dan jalan kaki itu? Aku menawarimu untuk nebeng di motor Tossa roda tigaku, tapi kamu nggak mau. Waktu aku paksa kamu untuk menaiki baknya, kamu teriak-teriak dan aku dipukuli massa. Gara-gara kamu, gigiku rontok tiga, tapi hatiku rontok semua." Ucap Supri kepada wanita berambut panjang setumit kaki yang berbaring bersamanya di kebun penuh ilalang. Angin sore itu berhembus kencang, ilalang bergoyang layaknya penyanyi yang sedang berdendang.

"Aku masih ingat juga, waktu ulang tahunmu, aku bawain kamu kue tart tepat pukul 12 malam. Tapi ayahmu meneriakiku karena dia pikir, aku ini maling. Memang salahku sih, malem itu aku datang sambil menutupi mukaku dengan sarung layaknya ninja. Soalnya aku malu kalo kamu tau aku menyiapkan kejutan semacam itu. Akhirnya, lagi-lagi aku dipukuli massa. Mukaku lebam semua, tapi hatiku remuk redam rasanya." Supri mengusap-usap rambut Ningsih. Ningsih hanya terdiam mendengarkan kalimat Supri. Tampaknya, Ningsih tidak terkesan dengan cerita Supri.

"Saat aku mengikutimu pulang malam-malam itu, sebenarnya niatku cuma untuk memastikan nggak ada yang ngegangguin kamu. Tapi kamu malah teriak-teriak ketakutan dan berlari bagai rusa. Lagi-lagi aku dianiaya, dan dicemplungin ke kali oleh massa." Supri mencoba untuk mencubit hidung Ningsih yang hanya terlihat sebagai dua lubang yang rata itu. Cubitannya meleset, karena hidung Ningsih nyaris tak bisa dilihat dengan kasat mata. Tampaknya sejak kecil, hidung Ningsih kekurangan asupan kalsium. Lalu Supri melanjutkan ceritanya, seolah-olah tak peduli Ningsih mau mendengarkannya atau tidak.

"Sejak TK, aku selalu menganggapmu sebagai pusat dunia, tapi sayang kamu nggak pernah tau kalo aku pernah terlahir di dunia. Ini semua salah orang tuaku! Aku pengin masuk di TK kamu, tapi mereka melarangku. Soalnya, mereka sudah dipanggil yang Kuasa, jadinya mereka nggak bisa nyekolahin aku di sana. Jadinya, aku nggak sekolah dari TK." Supri mencabut satu batang ilalang, dia patahkan dengan perasaan penuh amarah. Tapi dia tidak melihat, di ilalang itu ada ulat bulu. Lima menit kemudian, jempol tangan Supri bengkak sebesar jempol kakinya sendiri.

"Sejak TK, SD, SMP, SMA, sebenarnya kita selalu dekat. Kamu di dalam sekolah, aku di luar pagar sekolah, menunggu pembeli batagorku datang di jam istirahat. Tapi sayang, kamu tak pernah membeli batagorku. Batagor yang selalu aku ciptakan sambil ngebayangin senyum kamu. Batagor yang selalu aku usahakan agar bentuk dan rasanya sempurna, biar kalo kamu merasakannya, kamu tidak akan trauma." Supri mengusap dedaunan ilalang yang rontok dan menempel di pundak Ningsih. Ningsih tidak mengucapkan terima kasih untuk hal itu, dan tetap bergeming.

"Kamu tau tidak? Setiap hari aku sisakan 10 biji batagorku, karena aku selalu berharap, batagor itu akan berakhir di tanganmu? Tapi sampai sekarang, mungkin ada seratus ribu batagor yang membusuk di rumahku, yang kelelahan menanti sambutan tanganmu. Seperti hatiku, yang mulai ambigu. Tak bisa membedakan ini benar-benar cinta atau cuma ambisiku, karena sudah terlalu lama melawan kecuekanmu." Supri mengucapkan kalimat itu dengan nada tinggi, dan menatap kesal ke arah Ningsih.

"Aku masih sabar menanti hari di mana kamu akan menganggap aku ada. Sampai akhirnya aku sadar hari itu tidak akan pernah tiba, saat aku mengetahui, kamu berpacaran dengan Harno. Ya, Harno si penjual siomay itu. Aku tau, siomay Harno itu enak, tapi batagorku ini tidak mengandung bahan pengawet. Justru batagorku ini aku ciptakan dengan bumbu cinta dan harapan. Sedangkan siomay si Harno? Dia sengaja memasukkan formalin dan jamu awet muda biar siomaynya selalu terlihat segar meski nggak laku sebulan lamanya. Tapi kenapa kamu malah memilih dia?!" Nada Supri kian meninggi. Supri mendekati Ningsih, dia genggam kerah baju Ningsih, lalu mengguncang-guncangkan tubuh Ningsih. Ningsih pasrah, dan tidak melawan.

"Kian hari, aku lihat kamu dan Harno semakin dekat. Bahkan, kamu mau diboncengin Harno setiap pulang sekolah. Iya, melihat kamu duduk di atas gerobak siomaynya, hatiku serasa dibakar oleh kompor batagorku sendiri. Panas, berapi-api. Aku benci!" Supri menampar pipi Ningsih, darah mengalir keluar dari mulut Ningsih. Namun Ningsih tidak mengeluh kesakitan.

"Tapi sekarang, kamu bukan lagi milik Harno. Kamu cuma milikku! Tidak ada lagi yang bisa, ataupun ingin memilikimu! Hahahahaha! Aku lakukan ini, karena aku mencintaimu, Ningsih." Supri menarik tubuh Ningsih yang tadinya terbaring. Dia satukan bibirnya dan bibir Ningsih. Lalu, Supri mengambil sebilah parang berlumuran darah yang tergeletak di sampingnya. Dia usap parang itu di depan muka Ningsih dengan dua jarinya.

"Ternyata kesabaran dan cinta bukanlah cara yang tepat untuk membuat matamu terbuka. Ternyata kasih sayang dan harapan, bukanlah hal yang harus kulakukan agar kamu bisa aku dapatkan. Ternyata parang ini lah jalan paling tepat agar kamu bisa aku dapat." Tubuh Ningsih yang mulai dingin dan kaku, Supri letakkan kembali ke tanah. Supri usap wajah Ningsih untuk membersihkan darah.

"Aku akan menemanimu di sini. Aku akan bertahan bersamamu di sini. Jauh lebih sabar daripada saat aku dulu selalu menanti. Tenang Ningsih, aku ingin memilikimu dengan cara apapun itu, karena aku suka kamu, sejak dulu. Akulah satu-satunya pria yang menemanimu sampai akhir hayatmu. Dan sekarang, aku akan membuktikan sumpahku." Supri kemudian meletakan parang tadi di atas dada Ningsih yang terbaring. Dia tancapkan ujung parang itu ke dadanya sendiri, lalu dia tekan tubuhnya sendiri ke arah Ningsih.

Sesaat kemudian, terdengar suara rintihan "Aaaahkkk.. Ekkkk.." dan suara "Prett!!". Parang itu menembus tubuh Supri, dan dia pun tergeletak dengan lemas di atas jasad Ningsih. Supri menutup mata sambil tersenyum penuh makna.

The End.

Gimana menurut kalian? Kebayang nggak itu cerita kondisi settingnya gimana, bentuknya Ningsih kayak apa? Maaf kalo kesannya thriller, soalnya semalem gue dapet tiga kata yang super absurd: "Suka, Kamu, Bunuh".

Oke, this is the end of the post. Kalo ada pertanyaan soal sharing menulis yang gue bahas hari ini, silakan tulis di comment box ya! Nanti gue bales satu-satu. Terima kasih. :D
Read More 95
Selasa, April 08, 2014

Tentang Passion
Sejak kecil gue doyan curhat. Mungkin lebih tepatnya, gue doyan cerita. Soalnya zaman kecil gue nggak punya teman di rumah. Nyokap merantau, dan pas kecil, gue nggak punya saudara. Jadi, bercerita adalah cara gue menumbangkan rasa sepi. Bahkan, kadang-kadang gue tergiur untuk menelpon premium call (0809-CLUB-JANDA) cuma biar ada teman ngobrol aja. Setiap gue nyeritain kepada teman-teman tentang cerita lucu kodian yang gue dapet dari majalah atau koran, dan mereka ketawa, gue ngerasa ada orang peduli sama gue. Ada kebahagiaan sederhana di sana. Tapi cuma cerita-cerita lucu yang berani gue ceritain kepada teman-teman. Untuk isi hati dan masalah hidup, gue ceritain kepada buku diary. Iya, zaman SD, gue punya diary yang ada gemboknya gitu. Cuman, anehnya meski itu diary ada gemboknya, gue dulu suka tukeran diary sama teman-teman sekolah gue. Lebih tepatnya gue tukeran diary sama teman-teman sekolah yang cewek. Soalnya teman-teman sekolah gue yang cowok, nggak ada yang main diary. Mereka mainin mainan cowok yang nggak wajar kayak yoyo, layangan, atau perasaan. Gue adalah cowok yang paling normal di antara teman-teman gue, karena gue main diary, miara Barbie, dan nangis kalo nonton kartun Honey Bee Hutch.

Hal yang ngangenin dari main diary adalah, tukeran diary sama teman-teman. Terus di sana, kita ngisi biodata kita. Mulai dari nama, tempat tanggal lahir, makanan favorit, minuman favorit, sampai kesan-kesan kita kepada teman yang punya diary ini. Agak aneh memang, kita disuruh untuk nulisin perasaan kita kepada orang, di buku orang itu sendiri. Mungkin aktivitas itu bisa disebut sebagai main social media secara offline.

Dan kebiasaan curhat kepada diary itu masih gue lanjutin sampe gue dewasa. Gue suka curhat dengan cara menulis, karena itu salah satu cara gue untuk mensyukuri hidup. Setiap detail kejadian dalam hidup, gue ceritain ke dalam tulisan dengan sudut pandang yang unik. Biar kelak, bisa gue baca lagi cerita-cerita itu di saat hidup gue terasa membosankan. Sehingga gue bakal kembali bersyukur dan mengerti bahwa hidup itu akan selalu menarik, tergantung dari sudut mana gue melihatnya. Lagian, kalo gue rajin nulisin kisah hidup gue sejak kecil, kelak kalo gue punya anak atau cucu, gue nggak perlu nyeritain kisah masa muda gue kepada mereka secara lisan. Jadi, kalo anak gue kelak nanya, 

"Pa.. Papa dulu gimana bisa jatuh cinta sama mama?"

Gue bakal jawab dengan bangga, "Baca aja buku papa."

Nah, karena pas gue udah mulai remaja teknologi kian maju pesat, gue pun nggak make diary lagi buat curhat. Gue makenya blog, alias diary online. Soalnya gue pernah trauma make diary konvensional karena dulu diary gue pernah hilang. Gue nggak takut ceritanya diketawain sama yang nemu diary-nya sih. Tapi gue sedih karena cerita yang pernah gue tumpahin di sana itu nggak ternilai harganya. Setelah gue punya blog, hampir setiap hari kerjaan gue ke warnet buat numpahin isi hati dan cerita hidup gue sehari-hari. Dan setiap akhir bulan, gue baca ulang cerita-cerita yang gue tulis sepanjang bulan itu, sebagai bahan introspeksi sudah setangguh apa gue untuk bertahan hidup.

Kira-kira 6 tahun yang lalu, gue masih bertahan untuk terus ngeblog meski sudah 2 tahun gue rutin ngeblog seminggu sekali dan nggak pernah ada yang ngasih komentar di blog gue. Sekalinya ada yang komen, paling tukang bakso di kantin kampus. Itu juga gara-gara dia gue ancem, kalo nggak ngasih komen di blog, gue nggak mau bayar utang jajan bakso gue. Di titik itu gue hampir males ngelanjutin blog gue lagi. Sebagai manusia, tentunya gue butuh yang namanya apresiasi dari sesuatu yang gue lakuin. Setidaknya pertanyaan semacam, "Kapan blognya update lagi?" bisa jadi cambuk kreativitas gue di masa gersangnya motivasi itu.

Akhirnya gue emang sempat berhenti ngeblog selama kurang lebih sebulan. Gue nyoba menjalani hidup tanpa pernah curhat lagi di blog. Gue milih buat curhat kepada pohon mangga. Karena hobby ini, gue sempat dibawa ke paranormal, karena gue dikira kesurupan kuntilanak penunggu pohon mangga. Tapi selama sebulan itu, gue ngerasa kosong. Karena gue nggak punya tulisan untuk bahan introspeksi diri lagi. Gue ngerasa hidup gue sebulan terakhir udah sia-sia. Karena perasaan hambar itu, akhirnya gue nyoba nulis lagi di blog, nggak peduli tuh tulisan nggak ada yang baca. Setidaknya gue punya cerita yang nggak bakal terlupakan gitu aja. Saat itu gue nggak pernah kepikiran kalo gue bakal jadi penulis buku. Apalagi mikirin kalo menulis itu bisa ngasilin duit.

Sampai akhirnya di tahun 2009, ada penerbit khilaf yang mau nerbitin blog gue jadi sebuah buku. Untuk cerita lengkap gue mengejar karier sebagai penulis buku, bisa cek di SINI  Ya, di tahun itu, gue resmi menyandang gelar penulis buku. Tapi apakah gue bisa dianggap sukses secara finansial setelah buku pertama gue rilis? Jawabannya, enggak. Kalo misal niat gue nulis buku waktu itu adalah demi jadi jutawan, pasti gue nggak bakal ngelanjutin profesi gue sebagai penulis buku. Gue inget banget royalti pertama yang gue terima setelah 6 bulan buku gue terbit itu adalah, Rp.1.500,000an. Bukan jumlah yang sepadan untuk penantian selama 6 bulan dan kerja keras menembus penerbit beberapa taun sebelumnya. Tapi gue saat itu benar-benar tidak kecewa dengan penghasilan segitu. Malah gue sempet mikir, "Wah.. Ternyata ada yang mau beli tulisan gue ya?"


Gue pun terus mencoba berkarya dalam bidang tulisan. Bahkan di saat banyak orang sekitar yang nggak begitu peduli dengan usaha gue ini. Saat buku kedua gue rilis, ada perubahan besar terjadi. SKRIPSHIT merupakan karya "balas dendam" gue kepada mereka yang dulu mengatakan buku pertama gue alay, buku pertama gue sampah, atau, buku pertama gue cuma cocok buat dijadiin ganjel meja. Tapi kritik mereka nggak membuat gue untuk berhenti berkarya. Masukan dari pembaca yang berbentuk saran demi kemajuan skill gue, gue terima dengan lapang dada. Kritikan pedas yang cuma bertujuan menghina, gue cuekin aja. Gimana caranya gue bisa cuek sama omongan pedas orang? Caranya simpel, gue kasih tau kepada diri gue sendiri, "Jangan down sama kata-kata mereka, setidaknya lo selalu berusaha dan punya karya. Ngapain ngedengerin omongan mereka yang tiap hari ongkang-ongkang sambil megangin hape aja?"

Iya, berkat kritikan pembaca, gue jadi belajar lebih tekun buat mengaktualisasikan diri dan menciptakan gaya tulisan yang unik. Gue baca banyak buku dari berbagai genre untuk gue jadiin referensi. Gue juga nggak malu buat bertanya kepada penulis-penulis yang lebih senior bila ada hal yang belum gue pahami. Dan semua usaha gue terbayar, buku gue SKRIPSHIT cukup meledak di pasar. Alhamdulillah saat ini SKRIPSHIT sudah memasuki cetakan ke delapan. Kembali lagi, ini bukan tentang uang, ini adalah tentang passion. Tentang melakukan apa yang membuat gue bahagia. Buat yang belum paham, gue kasih sedikit pengertian, ya.. Passion adalah sesuatu yang terus dilakukan, tapi tak pernah terasa membosankan. Justru kalo nggak dilakukan, hidup malah terasa membosankan. Nah, bukankah indah kalo kita bisa melanjutkan hidup sambil melakukan hal yang kita suka? Dan hal tersebut dapat menghidupi, pula. :p 

Dari dulu gue nggak pernah bercita-cita untuk jadi karyawan di kantor-kantor besar, dengan pakaian rapi, sepatu mengkilap, dan dasi. Gue udah sempat mikir, sejak SD, SMP, SMA, Kuliah, hidup gue udah dijadwal. Hampir setiap hari gue kudu ngelakuin hal yang sama, bangun jam 6 pagi, terus kudu pulang di sore hari. Mau liburan, kudu nunggu tanggal merah, mau di rumah aja seharian, ntar boss marah. Gue nggak mau gaya hidup yang kayak gitu. Makanya gue milih untuk jadi penulis, yang bisa kerja di mana aja, kapan aja. Kerja sambil molor, atau cuma pake kolor. Ini hidup gue, yang boleh ngatur ya gue. Kalo saat muda gue lebih suka ngikutin jadwal daripada kemauan keluarga, apa kelak gue nggak bakal ditinggalin sama mereka juga di hari tua?

Setelah sekarang gue udah punya beberapa karya baru, dengan gaya hidup sesuai yang gue mau, pelan-pelan teman-teman yang dulu menyepelekan apa yang gue lakukan, mendadak berusaha untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang udah pernah gue lakukan. Mereka mulai ngeblog, mulai nulis, mulai minta buat diajarin soal nulis. Gue, sebagai orang yang pernah merasakan susahnya berjuang untuk jadi penulis, tentunya merasa antusias untuk membantu mereka. Berdasarkan pengalaman yang pernah gue punya, gue kasih tip dan materi soal nulis yang gue punya.

Tapi sayang, rata-rata setelah kurang lebih sebulan sampai tiga bulan mereka ngeblog, mereka akhirnya menyerah dengan alasan tidak ada respon dari siapapun. Tidak ada yang membaca tulisan mereka, apalagi berkomentar. Hal-hal semacam itu bisa membuat mereka berhenti nulis begitu aja dan nggak mau lagi untuk melanjutkannya. Saat gue tanya kenapa nggak dilanjut, mereka biasanya jawab,

"Udah lah.. Lo mah emang beruntung bisa jadi penulis. Dan mungkin gue nggak bisa seberuntung elo."

Mendengar jawaban semacam itu, gue sebenarnya lumayan kesal. Mereka menyimpulkan kesuksesan yang mereka tidak ketahui prosesnya itu sebagai keberuntungan. Padahal tidak.. Kalo mereka mau membuka mata, apa yang mereka perjuangin itu belum ada apa-apanya dibandingin apa yang udah gue perjuangin beberapa tahun sebelumnya. Jadi, gue nggak setuju kalo yang gue dapetin itu adalah semata-mata hasil keberuntungan. Apa yang gue dapetin itu adalah buah dari ketekunan dan kesabaran dalam menjalani passion. Sejak dulu, gue selalu yakin bahwa Tuhan nggak bakal nyuekin orang yang bener-bener tekun.

Nah, untuk problema teman-teman gue yang menyerah untuk jadi penulis tadi, gue jadi bisa mempelajari bahwa menulis bukanlah passion mereka. Mereka ikut-ikutan nulis, karena mereka menganggap gue sukses karena nulis, dan mereka berharap untuk bisa mendapatkan jalan yang sama dengan cara mengikuti jejak langkah yang pernah gue buat sebelumnya. Padahal, kalo passion mereka bukan menulis, dengan mengikuti jejak langkah yang ada pun mereka bakal cepat merasa jenuh dan lelah untuk memperjuangkannya. Kenapa? Karena mereka tidak pernah merasa bahagia saat melakukannya. Jadi, sebenarnya yang sebaiknya mereka lakukan bukanlah ikut-ikutan jadi penulis kalo memang mereka tidak suka menulis. Harusnya mereka mengejar passion mereka sendiri. Lakukan apa yang mereka sukai. Sehingga mereka tidak akan merasa letih untuk menjalani. Tekuni, tekuni dan yakini, niscaya Tuhan bakal ngasih hasil di luar ekspektasi.

Yap, sekian curhatan gue hari ini. Semoga post ini bisa memberi manfaat untuk kalian semua yang pengin menjalani hidup dengan bahagia. Kalo ada yang mau ditanyain mengenai passion, silakan share di comment box ya! Thank you!

Ketekunan itu pasti ada hasilnya. Kalo lo udah berjuang tapi ngerasa belum ada hasilnya, artinya lo masih kurang tekun. ;)
Read More 132
Jumat, April 04, 2014

Aplikasi-aplikasi iOS dan Android Favorit Gue
Kira-kira bulan Desember tahun kemarin, gue kehilangan hape gue, HTC One, waktu lagi dalam perjalanan ke luar kota. Gue sendiri nggak tau gimana bisa hilang, soalnya gue baru inget tuh hape udah nggak ada pas gue udah sampe di tempat tujuan. Mungkin hape itu jatuh, mungkin hape itu dicopet, atau mungkin hape itu nggak sengaja gue kasih ke pengamen yang make parang buat pengganti gitar. Setelah nyadar hape gue ilang, gue sempet telepon untuk minta secara baik-baik kepada orang yang nemuin hape gue agar dibalikin. Tapi telepon gue selalu di-reject. Akhirnya gue SMS dia ngerayu-rayu buat dibalikin dengan iming-iming imbalan sepantasnya. Gue penasaran aja sih, dia bakal milih rezeki halal yang seadanya, atau rezeki yang lebih gede tapi haram. Dan, SMS itu berbalas kalo yang nemuin hape gue itu minta tebusan uang sebesar 1 juta.

Gue nggak kesal sama sekali pas gue baca SMS orang yang nemuin hape gue itu. Gue justru senang karena dia masih ada itikad baik buat ngebalikin hapenya. Akhirnya gue bales SMSnya tanpa mikir panjang:


Abis gue bales kayak gitu, dia nggak bales lagi SMS gue. Gue tungguin dari malem ampe pagi. Hingga gue ketiduran pun, SMS itu nggak berbalas. Pas gue bangun tidur, gue cek hape gue. Dan gue senang, ada SMS masuk dari hape gue yang hilang. Tapi isinya,


“Saya boleh minta tolong nggak?”

“Minta tolong apa? Tempat ketemuan di mana?” Balas gue.

“Saya pengin punya sepeda motor. Mau beliin saya motor nggak?”

SMS orang ini mendadak bikin gue pengin ngunyah hape gue sendiri pake saos tomat dan bon cabe. Ya kali, hape minta dituker motor. Ntar kalo gue iya-in pasti tuh orang bakal ngelunjak lagi, minta mobil, rumah, atau minta dijodohin sama Aura Kasih.

“Ya mana bisa mas.. Hape saya aja nggak seharga motor, masak minta tebusan motor. Gini aja deh.. Saya lipatkan tebusannya jadi 2 juta. Anggep aja itu buat nambahin anda beli motor. Gimana?” Gue juga takut kalo hape itu nggak balik. Soalnya di sana ada data-data penting banget yang menyangkut kerjaan gue. Ada banyak foto dokumentasi event yang kudu gue kasih ke klien.

“Oke. Nanti saya kabarin. Ketemuan di mananya.”

“Baiklah mas. Saya siapin dulu uangnya.”

Sorenya, orang yang nemuin hape gue itu ngajakin gue ketemuan di Stadion Manahan Solo pukul 19:00. Gue bergegas ke sana dari jam 18:00 biar gue nggak telat dan bikin dia berubah pikiran. Hari itu hujan gerimis mengguyur kota Solo. Gue duduk di dalam mobil yang gue parkirin di pinggir jalan depan stadion. Sendiri.

Jam tangan gue udah nunjukin pukul 21:05, tapi orang yang ngajak gue ketemuan itu nggak dateng-dateng juga. Gue coba telepon dia, seperti biasa, direject. Gue coba SMS, nggak berbalas. Sampai akhirnya gue menyerah buat nunggu pas udah pukul 23:00. Gue kudu balik ke Jogja karena malam sudah mulai larut. Sampai akhirnya gue berniat ngeblok nomor lama gue itu buat gue ganti nomor baru pun, orang itu tetap nggak ngabarin gue lagi. Gila, gue di-PHP-in sama maling hape. Bersyukurlah kalian yang di-PHP-in sama orang yang kalian suka. Setidaknya kalian pernah ngerasain baik-baiknya dia, pernah ngerasa jadi orang spesialnya dia.

Gue cuma bisa ngeikhlasin hape gue digondondol orang yang lebih milih jalan haram dibandingkan jalan halal itu. Gue doain hape itu bisa bermanfaat buat keluarganya. Gue yakin, pilihan Tuhan nggak pernah salah. Kalo hape gue nggak bisa balik lagi, pastinya Tuhan udah nentuin itu demi kebaikan gue maupun kebaikan orang lain juga.

Yang sempat gue sesali adalah, gue matiin internet hape itu tepat sebelum dia hilang. Padahal, biasanya gue nggak pernah matiin internet hape itu. Kalo misal internetnya masih hidup, gue yakin gue bakal punya petunjuk tentang siapa yang ngegondol hape gue itu dengan bantuan aplikasi-aplikasi yang udah gue instal di sana. Tapi kalo kebetulan seaneh itu pun bisa terjadi, waktu itu gue yakin artinya Tuhan memang benar-benar menghendaki.

Dan benar saja. Dengan gue ngeikhlasin tuh hape digondol maling, kurang lebih dua minggu kemudian gue dapet hape yang sama tipenya, cuma beda warnanya. Yang ilang dulu warna item, yang baru ini warna silver. FYI, dari dulu sebenarnya gue emang pengin beli HTC One yang silver, tapi pas gue keliling-keliling toko handphone, gue cuma nemu yang item. Tapi Tuhan emang maha keren. Hape item gue dituker sama hape yang silver sesuai keinginan gue dulu. Gue jadi makin yakin, orang yang selalu ikhlas, hidupnya nggak bakal dibikin melas.

Oke, selalu ada pelajaran di balik setiap kejadian. Hari ini gue mau ngeshare beberapa aplikasi keren yang gue saranin buat lo install di hape lo. Here they are:
Read More 67