Rabu, November 13, 2013

Halloween Horror Nights di Singapura

Dikejar-kejar setan bergigi sepanjang 2 meter, mangap-mangap dengan nafas bau TPS bantar gebang, dan mulutnya penuh darah. Gue lari-larian sepanjang jalan gelap dan berkabut. Bukan.. Gue lari bukannya karena takut. Tapi karena gue abis ngejambret gantungan tas Pokemon punyanya anak TK. Abis itu gue ketemu bapak dari anak TK itu, terus gue dijewer.


Ceritanya, akhir Oktober kemarin gue main ke Resorts World Sentosa bareng @Benakribo dan Arief @poconggg karena diundang dari pihak RWS. Dan untuk pertama kalinya, gue masuk airport Changi sendirian. Soalnya gue ama anak-anak beda flight. Anak-anak dari Jakarta, gue dari Jogja. Nah, karena biasanya gue di airport itu bareng anak-anak, gue tinggal ngikutin aja ke mana mereka jalan. Biasanya si Bena sih yang udah khatam Singapura. Kemarin pas gue sendirian di Changi, gue jadi cengo, abis turun dari pesawat gue bingung kudu pergi ke mana. Sedangkan airport Changi itu gedenya nggak bisa gue jelasin pake bahasa Zimbabwe. Kalo ditelusurin seluruh bagian airport dengan jalan kaki, kayaknya begitu nyampe pintu keluar, kaki gue bakal jadi segede tiang listrik.

Akhirnya gue memberanikan diri buat nanya ke petugas bandara. Gue bilang,

"Hi.. I want to go to the biggest waterpark in Singapore. Do you know how to get there?"

Abis gue nanya gitu, petugasnya senyum, terus ngejawab pertanyaan gue dengan bahasa inggris yang logatnya chinese. Lo nggak bakal ngerti gimana absurdnya logat orang Singapore yang berbahasa inggris kalo lo belom denger sendiri. Yang jelas, kemarin yang kedengeran di telinga gue adalah,

"You want to go to what the faak? You have to go weasdfklajsdfwe asdfasdlkfnklqjwer and then, you have to take adsfadsflak ouyrtqopsdfg.. Is it clear?"

Dengan keadaan kepala agak migren, terpaksa gue jawab, "Yes.. It is clear.."

Usaha gue tadi nggak membuahkan hasil. Gue pun memutuskan untuk beli simcard Singapore dulu biar gue bisa ngontek panitia. Dan kampret.. Kartu perdana di Singapore harganya cukup banget buat bayar kost mewah sebulan di Jogja. Gue lemes. Tapi nggak ada pilihan lain, gue pun beli sebuah simcard seharga 50 dollar itu dengan menangis sesenggukan. Begitu internetnya aktif, gue pun ngehubungin panitia. Dan gue diminta buat nunggu supir jemputan hotel di Arrival. Dari info itu, tentunya gue tinggal nyari di mana letak Arrival berada. Dari situ, gue dapet ide buat ngikutin petunjuk arah yang tertempel di bandara. Dan ternyata, gue kudu naik Sky Train! Itu kereta keren banget. Bentuknya kayak gini:
Read More 44
Kamis, November 07, 2013

Hal-hal Kecil Buat Nyenengin Pacar Pas LDR
"Hal yang pertama pengin aku lakuin kalo ketemu kamu ntar adalah, meluk kamu kenceng-kenceng ampe ginjalmu remuk, sayang.. Karena aku gemes ama kamu.." Ucap Supri kepada pacarnya Ningsih yang tinggal di benua yang berbeda.

"Iiiih.. Kok jahat siiihh.." Ningsih menjawab kalimat Supri tadi sambil gigitin meja kamar.

"Hahaha.. Becanda sayang.. Aku sayang kamu.. Nggak tau kenapa, hawanya aku tuh pengin melukin kamuuuuu, terus.." Supri kembali merayu pacarnya yang mulai merajuk itu.

"Aku bosen tau.. Dari zaman kita masih SD, ampe sekarang kamu udah jadi Satpol PP, kamu cuma bilang pengin meluk mulu, tapi nggak pernah ada niat buat ketemu. Aku mulai nggak percaya sama perasaanku ke kamu." Ningsih kian menjadi.

"Tapi kan aku kudu nabung dulu.." Supri membela diri, "Dari Cilacap ke Bosnia itu nggak deket loh!!"

"NABUNG! NABUNG! UDAH 15 TAUN LEBIH TABUNGANNYA NGGAK CUKUP-CUKUP! Kayaknya sih bukan duitnya yang nggak ada, tapi niatnya yang nggak ada! Udah ah.. Aku capek!" Ningsih memencet tombol merah di hapenya.

Supri terdiam dengan tatapan kosong tanpa terganggu oleh suara "tut.tut.tut." di hapenya yang terus berbunyi karena sambungan teleponnya sudah putus. Beberapa menit kemudian, Supri memutuskan untuk tiduran di rel.

Buat lo yang udah pernah ngerasain hubungan LDR, gue yakin lo pada nggak ngerasa asing dengan dialog semacam itu. Ya, hubungan LDR itu emang sering berantem karena masalah-masalah kecil. Dan sebenernya kalo udah ketemu, pasangan LDR itu bakal nganggep masalah yang jadi alasan berantem mereka tiba-tiba nggak ada. Aneh ya? Iya.

Seperti layaknya hubungan percintaan manusia normal lainnya, hubungan LDR itu bisa diganggu oleh masalah kebosanan pasangan. Gimana enggak? Ketemu aja susah. Apalagi mau nyium, meluk, atau ngeprospek buat ikutan MLM?

Gue adalah veteran pejuang LDR yang udah tobat dan kembali ke jalan yang benar, alias milih jadi jomblo. Iya, mending jadi jomblo daripada LDR sih. Gue capek dicemburuin sama orang yang fisiknya nggak pernah ada, diomelin karena telat makan tapi dianya nggak pernah ngajakin makan, dilarang buat nongkrong ama temen-temen sedangkan dianya nggak pernah bisa nemenin. Hih! Tapi intinya sih, gue mau berbagi tips biar lo yang masih tersesat di lembah LDR yang fana itu bisa ngejalanin hubungan lo dengan lancar. So, silakan pantengin tips-tips gue berikut ini:
Read More 122
Selasa, November 05, 2013

Arti di Balik Alasan-alasan Basi Buat Putus
Supri mengayuh sepeda tuanya melewati jalur Gaza. Dia sedang dalam perjalanan untuk menemui cintanya, Ningsih. Peluru, Granat, Tissue bekas, melesat beterbangan di mana-mana, tapi Supri tak mau menghentikan laju sepedanya. Supri tak takut terhadap ancaman maut, karena suasana hatinya sedang kalut.

Sambil mengayuh sepedanya, Supri masih mengingat-ingat kalimat terakhir yang diucapkan Ningsih lewat SMS beberapa jam yang lalu.

"Aku mau, mulai hari ini kita temenan aja ya. Aku merasa, kita itu beda."

Kalimat itu menusuk hati Supri, hingga susah baginya untuk bernafas lagi. Seketika, dia meraih sepedanya dan bertekat untuk segera menemui Ningsih di Indonesia. Supri masih berharap, bila nantinya mereka bertemu dan berbicara empat mata, Ningsih masih bisa mengubah keputusannya.

Delapan bulan berlalu, kira-kira pukul 8 malam, Supri pun sampai juga di rumah Ningsih dengan keadaan kaki bengkak segede tabung elpiji. Pintu rumah Ningsih tertutup rapat. Sepertinya tidak ada orang di sana. Supri hanya bisa termenung dan menunggu di depan gerbang rumah bermotif macan tutul itu. Hingga akhirnya muncul sebuah mobil mewah berwarna biru berhenti di situ. Seorang pria keluar dari mobil, menutup resleting celana, lalu berjalan ke sisi lain dari mobil itu untuk kemudian membukakan pintu. Disusul seorang wanita keluar dari sana sambil merapikan kancing bajunya. Supri merasa tak asing dengan wajah wanita itu.

"Ningsih?!" Ucap Supri lirih karena masih memendam keraguan di hatinya.

Wanita itu menolehkan kepala, dan memarkirkan pandangannya ke arah Supri. Beberapa saat wanita itu memandangi Supri dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Errr.. Supri?" Ya, ternyata wanita itu memang Ningsih, sang pujaan hati Supri.

"Iya! Aku Supri.. Aku datang untukmu.. Untuk memperjuangkan cintaku.." Supri bergegas mendekati Ningsih, memegang kedua pundak Ningsih, lalu mencoba menarik Ningsih ke pelukannya. Tapi Ningsih menundukan kepalanya, dan mencoba mendorong dada Supri sebagai isyarat bahwa dia tak mau memberikan pelukannya juga.

"Maaf Supri.. Cerita kita sudah berakhir.. Ini cowokku yang baru." Ningsih menunjuk ke arah pria yang tadi membukakan pintu mobil untuknya. Pria itu mengacungkan jari tengah ke arah Supri. Bukan, bukan untuk mengejek Supri. Pria itu ingin melambaikan tangannya, tapi semua jari tangannya sudah diamputasi karena penyakit diabetes parah, kecuali jari tengahnya.
Read More 164